Logo SumberAjar.com

Data Citation untuk Mendeley

Gunakan data berikut untuk menambahkan entri manual di Mendeley (Type: Web Page).

Type Web Page
Title Safety Culture dalam Rumah Sakit
Authors Davacom
Publication SumberAjar
Year 2025
Abstract Safety Culture dalam Rumah Sakit Pendahuluan Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Rumah sakit sebagai organisasi yang kompleks menghadapi berbagai tantangan risiko yang dapat mengancam keselamatan pasien, termasuk kesalahan medis, infeksi nosokomial, dan insiden lainnya yang berpotensi menyebabkan cedera atau kematian. Fokus pada budaya keselamatan pasien (safety culture) merupakan strategi penting untuk meminimalkan risiko-risiko tersebut melalui pendekatan sistematis yang melibatkan seluruh unsur organisasi, dari pimpinan hingga tenaga kesehatan di garda terdepan layanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penguatan budaya keselamatan pasien secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan pelaporan insiden, peningkatan kerjasama tim, serta kemampuan organisasi untuk belajar dari kesalahan dan mencegah terulangnya kejadian tak diinginkan. Hal ini menjadikan safety culture bukan sekadar konsep manajerial, tetapi sebagai fondasi utama dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit modern. Jurnal Universitas Padjadjaran +1 <strong>Definisi Safety Culture dalam Rumah Sakit</strong> Definisi Safety Culture Secara Umum Secara umum, safety culture atau budaya keselamatan adalah bagian dari budaya organisasi yang berfokus pada bagaimana nilai, sikap, perilaku, dan praktik yang berkaitan dengan keselamatan dipahami, diprioritaskan, dan dilaksanakan di seluruh tingkat organisasi. Budaya keselamatan mencerminkan komitmen kolektif untuk mengidentifikasi risiko, melaporkan dan menganalisis kejadian keselamatan, serta belajar dari insiden untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. Dalam konteks layanan kesehatan, safety culture menjadi instrumen esensial untuk memastikan lingkungan pelayanan yang aman bagi pasien, staf, dan masyarakat luas. Wikipedia Definisi Safety Culture dalam KBBI Istilah safety culture belum ditetapkan sebagai entri tersendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena merupakan istilah teknis dalam manajemen risiko. Namun, penggabungan konsep budaya dan keselamatan mengarah pada pemahaman sebuah sistem nilai dalam organisasi yang mendukung tindakan pencegahan terhadap bahaya yang dapat menyebabkan kerugian atau cedera. Budaya dalam arti KBBI berarti cara atau kebiasaan berpikir dan bertindak yang berkembang dan diwariskan dalam suatu kelompok, sementara keselamatan berarti keadaan bebas dari bahaya atau risiko yang mengancam. Penggabungan keduanya dalam konteks safety culture berarti suatu pola perilaku kolektif yang memprioritaskan keselamatan sebagai landasan operasional. Wikipedia Definisi Safety Culture Menurut Para Ahli Sorra et al. (2018) – Safety culture adalah sekumpulan keyakinan, nilai, persepsi, kompetensi, serta pola perilaku individu dan kelompok yang menentukan komitmen organisasi terhadap keselamatan pasien. Definisi ini diadopsi dalam instrumen Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) untuk mengukur budaya keselamatan di rumah sakit. repositori.ubs-ppni.ac.id Zakiyah et al. (2023) – Budaya keselamatan pasien mencakup keyakinan, sikap, nilai, dan norma yang ditunjukkan oleh seluruh praktisi pelayanan kesehatan, yang mempengaruhi cara mereka bertindak terkait keselamatan pasien dalam organisasi. Universitas Airlangga Repository European Society for Quality in Health Care – Safety culture merupakan manifestasi nyata dari bagaimana standar keselamatan diterapkan dan dipatuhi di seluruh organisasi, termasuk dalam komunikasi terbuka, pelaporan kejadian, dan pembelajaran berkelanjutan. Jurnal UMJ Churruca et al. (2021) – Budaya keselamatan adalah metode yang menilai bagaimana aspek-aspek keselamatan diintegrasikan dalam sistem nilai organisasi, dijalankan melalui praktik sehari-hari, serta dievaluasi secara terukur untuk peningkatan berkelanjutan. BMJ Open Dimensi Safety Culture di Rumah Sakit Budaya keselamatan pasien bukan hanya ide abstrak, tetapi terdiri dari dimensi-dimensi konkret yang dapat diukur dan dikembangkan dalam praktik rumah sakit. Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) yang dikembangkan oleh Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) merupakan salah satu instrumen paling banyak digunakan untuk menilai dimensi budaya keselamatan pasien di rumah sakit di berbagai negara. Dimensi-dimensi ini mencerminkan elemen kunci yang harus ada dalam sistem keselamatan organisasi rumah sakit: Jurnal Universitas Padjadjaran +1 Kerja sama tim dalam unit – Mencerminkan sejauh mana tenaga kesehatan saling mendukung dan bekerja sebagai satu tim dalam unit kerja masing-masing. repositori.ubs-ppni.ac.id Harapan manajer dan tindakan yang mendukung keselamatan pasien – Skor ini menunjukkan kejelasan dan dukungan yang diberikan oleh manajemen terhadap kebijakan keselamatan. repositori.ubs-ppni.ac.id Pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan – Organisasi yang baik mempelajari kesalahan untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan. repositori.ubs-ppni.ac.id Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien – Keterlibatan dan komitmen pimpinan rumah sakit dalam menciptakan lingkungan yang aman. repositori.ubs-ppni.ac.id Persepsi keseluruhan tentang keselamatan pasien – Pandangan staf terhadap bagaimana organisasi menangani keselamatan pasien secara keseluruhan. repositori.ubs-ppni.ac.id Umpan balik dan komunikasi terkait kesalahan – Kemampuan organisasi memberikan informasi ulang dan mendiskusikan kesalahan untuk pembelajaran. repositori.ubs-ppni.ac.id Komunikasi terbuka – Tingkat keterbukaan dalam berbagi informasi terkait potensi risiko dan kesalahan. repositori.ubs-ppni.ac.id Frekuensi pelaporan insiden – Seberapa sering tenaga kesehatan melaporkan kejadian keselamatan yang terjadi atau nyaris terjadi. repositori.ubs-ppni.ac.id Kerja sama antar-unit – Kolaborasi lintas unit yang efektif juga menentukan kualitas keselamatan pasien. repositori.ubs-ppni.ac.id Pengaturan staf – Ketersediaan tenaga yang memadai dan sesuai kebutuhan layanan. repositori.ubs-ppni.ac.id Serah terima dan transfer pasien – Proses komunikasi saat perpindahan pasien antar unit yang aman dan efisien. repositori.ubs-ppni.ac.id Respons tidak menghukum terhadap kesalahan – Budaya yang meminimalkan penghukuman dan lebih menekankan pembelajaran atas kesalahan. repositori.ubs-ppni.ac.id Dimensi-dimensi ini saling terkait dan membentuk sebuah sistem keselamatan yang utuh. Penelitian menunjukkan bahwa dimensi seperti terbukanya komunikasi, dukungan manajemen, serta respon tidak menghukum memiliki peran penting dalam peningkatan pelaporan insiden dan keseluruhan budaya keselamatan pasien di rumah sakit. ScienceDirect Faktor yang Mempengaruhi Budaya Keselamatan Budaya keselamatan pasien tidak muncul begitu saja; ia dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari tingkat individu, tim, hingga organisasi. Beberapa faktor yang telah diidentifikasi dalam penelitian ilmiah antara lain: Universitas Airlangga Repository Kepemimpinan dan dukungan manajemen – Komitmen dari pimpinan rumah sakit sangat krusial dalam memprioritaskan keselamatan dan menyediakan sumber daya untuk program keselamatan. Universitas Airlangga Repository Komunikasi efektif antar staf – Komunikasi yang terbuka dan jujur membuat insiden dapat dilaporkan dan dianalisis tanpa adanya rasa takut dihukum. Universitas Airlangga Repository Pengembangan kompetensi dan pendidikan – Pelatihan yang berkelanjutan meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam menghadapi risiko keselamatan. Universitas Airlangga Repository Organisasi pembelajaran – Kemampuan organisasi untuk belajar dari kesalahan dan menerapkan perbaikan sistem membuat budaya keselamatan menjadi lebih matang. Universitas Airlangga Repository Struktur organisasi dan sumber daya staf – Ketersediaan staf yang memadai serta struktur organisasi yang mendukung kolaborasi tim memiliki pengaruh langsung terhadap budaya keselamatan. Universitas Airlangga Repository Norma dan nilai organisasi – Perilaku kolektif yang menekankan kepedulian terhadap keselamatan dan dukungan terhadap pelaporan insiden meningkatkan kualitas keselamatan pasien secara keseluruhan. Universitas Airlangga Repository Hubungan Safety Culture dengan Insiden Keselamatan Budaya keselamatan pasien memiliki hubungan erat dengan kejadian insiden keselamatan di rumah sakit. Insiden keselamatan, seperti kesalahan pemberian obat, infeksi nosokomial, atau kesalahan prosedural, sering kali mencerminkan kelemahan dalam budaya keselamatan organisasi. Penelitian literatur menunjukkan bahwa budaya keselamatan yang kuat: SSBFNet Meningkatkan pelaporan insiden – Organisasi yang menerapkan budaya tanpa penghukuman memiliki tingkat pelaporan insiden yang lebih tinggi, yang memungkinkan analisis lebih baik dan perbaikan sistematis. SSBFNet Mengurangi kejadian tidak diinginkan – Budaya yang terbuka dan suportif membantu mengidentifikasi potensi risiko lebih dini, sehingga pencegahan kejadian bencana medis menjadi lebih efektif. SSBFNet Meningkatkan pembelajaran organisasi – Insiden yang dilaporkan menjadi sumber pembelajaran untuk perbaikan prosedur, kebijakan, dan pelatihan, sehingga menekan kemungkinan terulangnya kesalahan. SSBFNet Oleh karena itu, budaya keselamatan bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga mekanisme pencegahan yang aktif dalam sistem pelayanan kesehatan. Upaya Peningkatan Budaya Keselamatan Upaya peningkatan budaya keselamatan pasien di rumah sakit harus bersifat komprehensif, melibatkan berbagai strategi yang saling mendukung, antara lain: Universitas Airlangga Repository Pemimpin rumah sakit menegaskan komitmen terhadap keselamatan – Manajemen perlu menciptakan visi strategis yang jelas tentang keselamatan pasien dan menerapkannya ke seluruh unit layanan. Universitas Airlangga Repository Pelatihan berkelanjutan bagi staf – Program pelatihan dan edukasi yang rutin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif terhadap keselamatan pasien. Universitas Airlangga Repository Sistem pelaporan insiden tanpa hukuman – Mendorong pelaporan insiden dengan pendekatan just culture membuat staf merasa aman untuk melaporkan kejadian tanpa takut dihukum. Universitas Airlangga Repository Evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan – Analisis insiden harus diikuti dengan implementasi tindakan perbaikan yang sistematis dan evaluasi efektivitasnya secara periodik. Universitas Airlangga Repository Kolaborasi lintas unit dan komunikasi terbuka – Mendorong kerja sama tim dan komunikasi lintas unit untuk mengantisipasi risiko keselamatan pasien secara lebih efektif. Universitas Airlangga Repository Kesimpulan Budaya keselamatan pasien atau safety culture di rumah sakit merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas tinggi. Konsep ini mencakup nilai, sikap, perilaku, serta praktik kolektif yang memprioritaskan pencegahan risiko terhadap pasien dan tenaga kesehatan. Budaya keselamatan terdiri dari dimensi-dimensi konkrit seperti kerja sama tim, komunikasi terbuka, dukungan manajemen, serta respon tidak menghukum yang dapat diukur dan dikembangkan melalui berbagai instrumen survei ilmiah seperti HSOPSC. Faktor utama yang mempengaruhi terbentuknya budaya keselamatan meliputi kepemimpinan strategis, komunikasi efektif, sumber daya manusia, serta norma organisasi yang mendukung pelaporan insiden. Hubungan antara budaya keselamatan dengan kejadian insiden keselamatan sangat eratβ€”budaya yang kuat terbukti meningkatkan pelaporan insiden serta mendorong pembelajaran organisasi untuk mencegah kejadian tak diinginkan di masa depan. Upaya peningkatan budaya keselamatan pasien harus melibatkan strategi komprehensif dari level organisasi hingga unit layanan, termasuk pelatihan berkelanjutan, sistem pelaporan yang aman, serta evaluasi dan pembelajaran terstruktur. Dengan demikian, manajemen keselamatan pasien bukanlah beban tambahan, tetapi investasi penting dalam mutu pelayanan kesehatan rumah sakit yang berkelanjutan.
Author Keywords safety culture rumah sakit, budaya keselamatan pasien, patient safety culture, keselamatan pasien di rumah sakit, dimensi safety culture, faktor budaya keselamatan pasien, insiden keselamatan pasien, manajemen keselamatan pasien, budaya keselamatan tenaga kesehatan, mutu pelayanan rumah sakit, keselamatan pasien jurnal, safety culture kesehatan
Date Accessed 31 January 2026
URL https://sumberajar.com/kamus/safety-culture-dalam-rumah-sakit
Download File Citation

Pilih format citation untuk diunduh ke aplikasi manajemen referensi Anda.

Format Citation (Multi Style)
Davacom. (2025). Safety Culture dalam Rumah Sakit. SumberAjar.com. https://sumberajar.com/kamus/safety-culture-dalam-rumah-sakit