Terakhir diperbarui: 16 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 16 December). Safety Culture dalam Rumah Sakit. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/safety-culture-dalam-rumah-sakit  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Safety Culture dalam Rumah Sakit - SumberAjar.com

Safety Culture dalam Rumah Sakit

Pendahuluan

Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Rumah sakit sebagai organisasi yang kompleks menghadapi berbagai tantangan risiko yang dapat mengancam keselamatan pasien, termasuk kesalahan medis, infeksi nosokomial, dan insiden lainnya yang berpotensi menyebabkan cedera atau kematian. Fokus pada budaya keselamatan pasien (safety culture) merupakan strategi penting untuk meminimalkan risiko-risiko tersebut melalui pendekatan sistematis yang melibatkan seluruh unsur organisasi, dari pimpinan hingga tenaga kesehatan di garda terdepan layanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penguatan budaya keselamatan pasien secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan pelaporan insiden, peningkatan kerjasama tim, serta kemampuan organisasi untuk belajar dari kesalahan dan mencegah terulangnya kejadian tak diinginkan. Hal ini menjadikan safety culture bukan sekadar konsep manajerial, tetapi sebagai fondasi utama dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit modern. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]


Definisi Safety Culture dalam Rumah Sakit

Definisi Safety Culture Secara Umum

Secara umum, safety culture atau budaya keselamatan adalah bagian dari budaya organisasi yang berfokus pada bagaimana nilai, sikap, perilaku, dan praktik yang berkaitan dengan keselamatan dipahami, diprioritaskan, dan dilaksanakan di seluruh tingkat organisasi. Budaya keselamatan mencerminkan komitmen kolektif untuk mengidentifikasi risiko, melaporkan dan menganalisis kejadian keselamatan, serta belajar dari insiden untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. Dalam konteks layanan kesehatan, safety culture menjadi instrumen esensial untuk memastikan lingkungan pelayanan yang aman bagi pasien, staf, dan masyarakat luas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Safety Culture dalam KBBI

Istilah safety culture belum ditetapkan sebagai entri tersendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena merupakan istilah teknis dalam manajemen risiko. Namun, penggabungan konsep budaya dan keselamatan mengarah pada pemahaman sebuah sistem nilai dalam organisasi yang mendukung tindakan pencegahan terhadap bahaya yang dapat menyebabkan kerugian atau cedera. Budaya dalam arti KBBI berarti cara atau kebiasaan berpikir dan bertindak yang berkembang dan diwariskan dalam suatu kelompok, sementara keselamatan berarti keadaan bebas dari bahaya atau risiko yang mengancam. Penggabungan keduanya dalam konteks safety culture berarti suatu pola perilaku kolektif yang memprioritaskan keselamatan sebagai landasan operasional. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Safety Culture Menurut Para Ahli

  1. Sorra et al. (2018), Safety culture adalah sekumpulan keyakinan, nilai, persepsi, kompetensi, serta pola perilaku individu dan kelompok yang menentukan komitmen organisasi terhadap keselamatan pasien. Definisi ini diadopsi dalam instrumen Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) untuk mengukur budaya keselamatan di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  2. Zakiyah et al. (2023), Budaya keselamatan pasien mencakup keyakinan, sikap, nilai, dan norma yang ditunjukkan oleh seluruh praktisi pelayanan kesehatan, yang mempengaruhi cara mereka bertindak terkait keselamatan pasien dalam organisasi. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  3. European Society for Quality in Health Care, Safety culture merupakan manifestasi nyata dari bagaimana standar keselamatan diterapkan dan dipatuhi di seluruh organisasi, termasuk dalam komunikasi terbuka, pelaporan kejadian, dan pembelajaran berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]

  4. Churruca et al. (2021), Budaya keselamatan adalah metode yang menilai bagaimana aspek-aspek keselamatan diintegrasikan dalam sistem nilai organisasi, dijalankan melalui praktik sehari-hari, serta dievaluasi secara terukur untuk peningkatan berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - bmjopen.bmj.com]


Dimensi Safety Culture di Rumah Sakit

Budaya keselamatan pasien bukan hanya ide abstrak, tetapi terdiri dari dimensi-dimensi konkret yang dapat diukur dan dikembangkan dalam praktik rumah sakit. Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) yang dikembangkan oleh Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) merupakan salah satu instrumen paling banyak digunakan untuk menilai dimensi budaya keselamatan pasien di rumah sakit di berbagai negara. Dimensi-dimensi ini mencerminkan elemen kunci yang harus ada dalam sistem keselamatan organisasi rumah sakit: [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

  1. Kerja sama tim dalam unit, Mencerminkan sejauh mana tenaga kesehatan saling mendukung dan bekerja sebagai satu tim dalam unit kerja masing-masing. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  2. Harapan manajer dan tindakan yang mendukung keselamatan pasien, Skor ini menunjukkan kejelasan dan dukungan yang diberikan oleh manajemen terhadap kebijakan keselamatan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  3. Pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan, Organisasi yang baik mempelajari kesalahan untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  4. Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien, Keterlibatan dan komitmen pimpinan rumah sakit dalam menciptakan lingkungan yang aman. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  5. Persepsi keseluruhan tentang keselamatan pasien, Pandangan staf terhadap bagaimana organisasi menangani keselamatan pasien secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  6. Umpan balik dan komunikasi terkait kesalahan, Kemampuan organisasi memberikan informasi ulang dan mendiskusikan kesalahan untuk pembelajaran. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  7. Komunikasi terbuka, Tingkat keterbukaan dalam berbagi informasi terkait potensi risiko dan kesalahan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  8. Frekuensi pelaporan insiden, Seberapa sering tenaga kesehatan melaporkan kejadian keselamatan yang terjadi atau nyaris terjadi. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  9. Kerja sama antar-unit, Kolaborasi lintas unit yang efektif juga menentukan kualitas keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  10. Pengaturan staf, Ketersediaan tenaga yang memadai dan sesuai kebutuhan layanan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  11. Serah terima dan transfer pasien, Proses komunikasi saat perpindahan pasien antar unit yang aman dan efisien. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

  12. Respons tidak menghukum terhadap kesalahan, Budaya yang meminimalkan penghukuman dan lebih menekankan pembelajaran atas kesalahan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]

Dimensi-dimensi ini saling terkait dan membentuk sebuah sistem keselamatan yang utuh. Penelitian menunjukkan bahwa dimensi seperti terbukanya komunikasi, dukungan manajemen, serta respon tidak menghukum memiliki peran penting dalam peningkatan pelaporan insiden dan keseluruhan budaya keselamatan pasien di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Faktor yang Mempengaruhi Budaya Keselamatan

Budaya keselamatan pasien tidak muncul begitu saja; ia dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari tingkat individu, tim, hingga organisasi. Beberapa faktor yang telah diidentifikasi dalam penelitian ilmiah antara lain: [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  1. Kepemimpinan dan dukungan manajemen, Komitmen dari pimpinan rumah sakit sangat krusial dalam memprioritaskan keselamatan dan menyediakan sumber daya untuk program keselamatan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  2. Komunikasi efektif antar staf, Komunikasi yang terbuka dan jujur membuat insiden dapat dilaporkan dan dianalisis tanpa adanya rasa takut dihukum. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  3. Pengembangan kompetensi dan pendidikan, Pelatihan yang berkelanjutan meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam menghadapi risiko keselamatan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  4. Organisasi pembelajaran, Kemampuan organisasi untuk belajar dari kesalahan dan menerapkan perbaikan sistem membuat budaya keselamatan menjadi lebih matang. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  5. Struktur organisasi dan sumber daya staf, Ketersediaan staf yang memadai serta struktur organisasi yang mendukung kolaborasi tim memiliki pengaruh langsung terhadap budaya keselamatan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  6. Norma dan nilai organisasi, Perilaku kolektif yang menekankan kepedulian terhadap keselamatan dan dukungan terhadap pelaporan insiden meningkatkan kualitas keselamatan pasien secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]


Hubungan Safety Culture dengan Insiden Keselamatan

Budaya keselamatan pasien memiliki hubungan erat dengan kejadian insiden keselamatan di rumah sakit. Insiden keselamatan, seperti kesalahan pemberian obat, infeksi nosokomial, atau kesalahan prosedural, sering kali mencerminkan kelemahan dalam budaya keselamatan organisasi. Penelitian literatur menunjukkan bahwa budaya keselamatan yang kuat: [Lihat sumber Disini - ssbfnet.com]

  • Meningkatkan pelaporan insiden, Organisasi yang menerapkan budaya tanpa penghukuman memiliki tingkat pelaporan insiden yang lebih tinggi, yang memungkinkan analisis lebih baik dan perbaikan sistematis. [Lihat sumber Disini - ssbfnet.com]

  • Mengurangi kejadian tidak diinginkan, Budaya yang terbuka dan suportif membantu mengidentifikasi potensi risiko lebih dini, sehingga pencegahan kejadian bencana medis menjadi lebih efektif. [Lihat sumber Disini - ssbfnet.com]

  • Meningkatkan pembelajaran organisasi, Insiden yang dilaporkan menjadi sumber pembelajaran untuk perbaikan prosedur, kebijakan, dan pelatihan, sehingga menekan kemungkinan terulangnya kesalahan. [Lihat sumber Disini - ssbfnet.com]

Oleh karena itu, budaya keselamatan bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga mekanisme pencegahan yang aktif dalam sistem pelayanan kesehatan.


Upaya Peningkatan Budaya Keselamatan

Upaya peningkatan budaya keselamatan pasien di rumah sakit harus bersifat komprehensif, melibatkan berbagai strategi yang saling mendukung, antara lain: [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  1. Pemimpin rumah sakit menegaskan komitmen terhadap keselamatan, Manajemen perlu menciptakan visi strategis yang jelas tentang keselamatan pasien dan menerapkannya ke seluruh unit layanan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  2. Pelatihan berkelanjutan bagi staf, Program pelatihan dan edukasi yang rutin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif terhadap keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  3. Sistem pelaporan insiden tanpa hukuman, Mendorong pelaporan insiden dengan pendekatan just culture membuat staf merasa aman untuk melaporkan kejadian tanpa takut dihukum. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  4. Evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan, Analisis insiden harus diikuti dengan implementasi tindakan perbaikan yang sistematis dan evaluasi efektivitasnya secara periodik. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]

  5. Kolaborasi lintas unit dan komunikasi terbuka, Mendorong kerja sama tim dan komunikasi lintas unit untuk mengantisipasi risiko keselamatan pasien secara lebih efektif. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]


Kesimpulan

Budaya keselamatan pasien atau safety culture di rumah sakit merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas tinggi. Konsep ini mencakup nilai, sikap, perilaku, serta praktik kolektif yang memprioritaskan pencegahan risiko terhadap pasien dan tenaga kesehatan. Budaya keselamatan terdiri dari dimensi-dimensi konkrit seperti kerja sama tim, komunikasi terbuka, dukungan manajemen, serta respon tidak menghukum yang dapat diukur dan dikembangkan melalui berbagai instrumen survei ilmiah seperti HSOPSC. Faktor utama yang mempengaruhi terbentuknya budaya keselamatan meliputi kepemimpinan strategis, komunikasi efektif, sumber daya manusia, serta norma organisasi yang mendukung pelaporan insiden. Hubungan antara budaya keselamatan dengan kejadian insiden keselamatan sangat erat, budaya yang kuat terbukti meningkatkan pelaporan insiden serta mendorong pembelajaran organisasi untuk mencegah kejadian tak diinginkan di masa depan. Upaya peningkatan budaya keselamatan pasien harus melibatkan strategi komprehensif dari level organisasi hingga unit layanan, termasuk pelatihan berkelanjutan, sistem pelaporan yang aman, serta evaluasi dan pembelajaran terstruktur. Dengan demikian, manajemen keselamatan pasien bukanlah beban tambahan, tetapi investasi penting dalam mutu pelayanan kesehatan rumah sakit yang berkelanjutan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Safety culture dalam rumah sakit adalah budaya organisasi yang mencerminkan nilai, sikap, persepsi, dan perilaku seluruh tenaga kesehatan serta manajemen dalam memprioritaskan keselamatan pasien sebagai bagian utama dari pelayanan kesehatan.

Safety culture penting karena berperan dalam mencegah insiden keselamatan pasien, meningkatkan pelaporan kesalahan, memperkuat kerja sama tim, serta mendukung pembelajaran organisasi untuk meningkatkan mutu dan keamanan pelayanan kesehatan.

Dimensi safety culture meliputi kerja sama tim, komunikasi terbuka, dukungan manajemen, pembelajaran organisasi, pelaporan insiden, respon tidak menghukum terhadap kesalahan, kecukupan staf, serta proses serah terima pasien yang aman.

Budaya keselamatan pasien dipengaruhi oleh kepemimpinan rumah sakit, komunikasi antar tenaga kesehatan, pelatihan dan kompetensi staf, ketersediaan sumber daya, serta nilai dan norma yang berkembang dalam organisasi.

Safety culture yang kuat berhubungan dengan penurunan insiden keselamatan pasien karena mendorong pelaporan kejadian, analisis kesalahan secara sistematis, dan penerapan perbaikan berkelanjutan dalam pelayanan rumah sakit.

Upaya peningkatan safety culture meliputi penguatan komitmen pimpinan, pelatihan keselamatan pasien secara berkelanjutan, penerapan sistem pelaporan insiden tanpa hukuman, komunikasi terbuka, serta evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan dari setiap kejadian keselamatan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial SPK Penentuan Stok Aman Gudang SPK Penentuan Stok Aman Gudang Food Safety Awareness Food Safety Awareness Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan Sistem Informasi Rumah Sakit: Fungsi dan Penerapannya Sistem Informasi Rumah Sakit: Fungsi dan Penerapannya Sistem Informasi Ketersediaan Kamar Rumah Sakit Sistem Informasi Ketersediaan Kamar Rumah Sakit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Budaya Populer: Konsep dan Konstruksi Sosial Budaya Populer: Konsep dan Konstruksi Sosial Identifikasi Pasien yang Tepat Identifikasi Pasien yang Tepat Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Digital Literacy: Definisi, Tingkatan, dan Contohnya Digital Literacy: Definisi, Tingkatan, dan Contohnya Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Risiko Infeksi Nosokomial: Faktor dan Pencegahannya Risiko Infeksi Nosokomial: Faktor dan Pencegahannya Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Keamanan Terapi Farmakologis: Konsep, Prinsip, dan Implementasi Keamanan Terapi Farmakologis: Konsep, Prinsip, dan Implementasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…