
Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil
Pendahuluan
Kehamilan merupakan periode perubahan besar, fisik, hormonal, dan psikologis, yang dialami oleh perempuan. Salah satu aspek penting yang banyak dipengaruhi selama kehamilan adalah kesehatan mental, terutama tingkat stres. Stres pada ibu hamil tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis ibu, tetapi juga bisa mempengaruhi kebiasaan sehari-hari, termasuk pola makan. Pola makan yang berubah akibat stres atau kondisi psikologis dapat memengaruhi kecukupan nutrisi, yang pada gilirannya berpotensi berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu penting untuk memahami bagaimana stres kehamilan dan pola makan saling berkaitan, faktor penyebab, mekanisme pengaruhnya, serta upaya untuk meminimalkan dampak negatif melalui manajemen stres dan dukungan keluarga. Artikel ini menelaah hubungan stres kehamilan dengan pola makan ibu hamil, serta dampaknya terhadap kesehatan kehamilan dan janin.
Definisi Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil
Definisi secara umum
“Stres kehamilan” merujuk pada kondisi di mana ibu hamil mengalami tekanan psikologis, kecemasan, ketakutan, perasaan tertekan atau beban emosional selama masa kehamilan. “Pola makan ibu hamil” merujuk pada kebiasaan konsumsi makanan harian ibu, frekuensi makan, jenis makanan, kuantitas, kualitas nutrisi, dan perubahan asupan makanan selama kehamilan. Hubungan antara keduanya menggambarkan bagaimana keadaan psikologis ibu hamil (stres) dapat mempengaruhi pola makan, baik dari segi perubahan selera, keinginan makan, maupun asupan nutrisi, dan bagaimana pola makan ini dapat berdampak pada kesehatan kehamilan.
Definisi menurut Kamus (KBBI)
-
“Stres”: dalam pengertian psikologis umumnya merujuk pada tekanan mental atau emosional yang dirasakan seseorang akibat beban pikiran, masalah, atau perubahan hidup.
-
“Pola makan”: cara atau kebiasaan makan (jenis makanan, waktu, frekuensi, jumlah) seseorang dalam jangka lama.
Penggabungan istilah ini, “stres kehamilan dan pola makan ibu hamil”, mengindikasikan bahwa kondisi stres dapat memengaruhi kebiasaan makan seorang ibu selama masa kehamilan.
Definisi menurut Para Ahli
Beberapa penelitian dan literatur memberikan definisi atau penjelasan terkait stres kehamilan, pola makan, dan hubungan keduanya:
-
Menurut RWR Taslim dkk., stres pada ibu hamil meliputi perasaan cemas, takut, dan tertekan; perubahan fisik selama kehamilan meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi, dan perubahan nafsu makan serta pola makan sering muncul selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Studi AH Sholihah dkk. (2025) menunjukkan bahwa stres pada ibu hamil sering dikaitkan dengan peningkatan konsumsi makanan tinggi lemak sebagai koping terhadap stres. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Penelitian A Kartini (2024) menemukan bahwa ibu hamil yang mengalami prenatal distress cenderung memiliki perilaku kesehatan yang buruk, termasuk pola makan yang tidak sehat. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Studi Putri Nurmariani dkk. (2023) menunjukkan bahwa kadar stres berhubungan dengan kecukupan gizi pada ibu hamil, stres dapat mengganggu asupan nutrisi sehingga status gizi ibu bisa terganggu. [Lihat sumber Disini - repository.umgo.ac.id]
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa “hubungan stres kehamilan dengan pola makan ibu hamil” bukan hanya sekadar korelasi antara stres dan pola makan, tetapi sering melibatkan perubahan perilaku makan, asupan gizi, dan pilihan makanan sebagai respons terhadap kondisi psikologis ibu.
Faktor Penyebab Stres Selama Kehamilan
Kehamilan bisa membawa berbagai stresor, baik internal maupun eksternal, yang mempengaruhi kondisi psikologis ibu hamil. Faktor-faktor tersebut meliputi:
-
Perubahan fisik dan hormonal, peningkatan metabolisme, perubahan bentuk tubuh, mual, kelelahan, dan gejala kehamilan lainnya. Banyak ibu merasa tidak nyaman dengan perubahan ini, sehingga dapat memicu stres.
-
Kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan sendiri dan janin, komplikasi kehamilan, risiko persalinan, kesehatan janin, dan persiapan menjadi orang tua.
-
Faktor sosial dan ekonomi, kondisi finansial, pekerjaan, dukungan keluarga atau pasangan, beban rumah tangga, serta lingkungan sosial dapat menambah tekanan psikologis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehamilan di masa krisis atau pandemi meningkatkan tingkat stres ibu hamil. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Kurangnya dukungan emosional dan praktis, jika ibu merasa kurang dukungan dari pasangan, keluarga, atau lingkungan, hal ini dapat memperburuk stres kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Ketidakpastian dan kecemasan terhadap persalinan dan kelahiran, terutama pada ibu hamil pertama kali (primigravida), rasa takut tentang persalinan, asuhan bayi, dan tanggung jawab baru dapat menyebabkan stres tinggi. Studi menunjukkan bahwa manajemen stres bisa sangat membantu mengurangi stres pada ibu hamil trimester akhir. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa stres kehamilan bersifat multifaktorial, tidak hanya kondisi medis, tetapi juga psikologis, sosial, dan lingkungan, sehingga penting mendapatkan dukungan multidimensional.
Perubahan Pola Makan akibat Kondisi Psikologis
Stres dan kondisi psikologis ibu hamil dapat memicu berbagai perubahan pada pola makan, di antaranya:
-
Perubahan nafsu makan: Sebagian ibu mengalami peningkatan nafsu makan, craves makanan tertentu (misalnya tinggi lemak, manis, asin), sementara sebagian lain bisa kehilangan nafsu makan atau mengalami mual. Hal ini sering disebabkan oleh perubahan hormon plus kondisi emosional. Studi oleh Taslim dkk. menunjukkan bahwa kehamilan umumnya disertai perubahan selera makan dan pola makan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
“Emotional eating” atau makan sebagai respons terhadap stres: Ibu hamil stres cenderung lebih memilih makanan mudah diakses yang tinggi lemak, gula, atau garam, terutama jika mereka mencari kenyamanan atau pelarian dari stres. Penelitian terbaru di Bondowoso (2025) menemukan bahwa stres dikaitkan dengan konsumsi makanan tinggi lemak. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Pola makan tidak teratur: Stres bisa menyebabkan perubahan kebiasaan makan, misalnya makan tidak terjadwal, melewatkan makan, atau makan berlebihan di waktu tertentu. Hal ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas asupan gizi. Penelitian oleh Kartini (2024) menunjukkan bahwa ibu dengan prenatal distress cenderung punya perilaku kesehatan yang buruk, termasuk pola makan yang tidak sehat. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Penurunan kecukupan asupan nutrisi: Stres dapat mengganggu kemampuan ibu untuk mempertahankan pola makan sehat, misalnya kurang sayur/buah, kurang protein baik, atau asupan kalori serta mikronutrien jadi tidak memadai. Hal ini dibuktikan dalam studi Putri Nurmariani dkk. (2023). [Lihat sumber Disini - repository.umgo.ac.id]
Karena itu, kondisi psikologis ibu hamil, terutama stres, berpengaruh besar terhadap bagaimana ibu mengkonsumsi makanan: baik dari pilihan jenis makanan, keseimbangan gizi, maupun jumlah makanan harian.
Pengaruh Stres terhadap Kualitas dan Kuantitas Nutrisi
Perubahan pola makan akibat stres dapat memengaruhi bukan hanya kuantitas (berapa banyak ibu makan), tetapi juga kualitas nutrisi yang diterima ibu dan janin. Beberapa dampak penting:
-
Konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak/jenuh, gula, dan garam, sebagai coping terhadap stres, dapat menurunkan keseimbangan gizi. Studi terbaru menunjukkan bahwa stres pada ibu hamil berkorelasi dengan asupan tinggi lemak. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Penurunan konsumsi makanan bergizi (sayur, buah, protein sedang, mikronutrien), terutama jika ibu kehilangan nafsu makan atau sering mual/ muntah, dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa stres berhubungan dengan kecukupan gizi ibu hamil. [Lihat sumber Disini - repository.umgo.ac.id]
-
Risiko asupan tidak memadai terhadap kebutuhan energi dan zat gizi meningkat selama kehamilan, padahal kebutuhan energi dan nutrisi ibu hamil secara fisiologis meningkat dibanding normal. Bila stres dan pola makan buruk dibiarkan, dapat mempengaruhi status gizi ibu dan janin. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Potensi komplikasi kehamilan, misalnya hipertensi kehamilan, meningkat jika pola makan tidak sehat dan stres tinggi bersamaan. Studi di Palu menunjukkan hubungan antara kombinasi stres + pola makan dengan kejadian hipertensi grade 1 dan 2 pada ibu hamil. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan demikian, stres berperan penting dalam mengganggu kecukupan dan keseimbangan nutrisi ibu hamil, yang seharusnya dijaga agar ibu dan janin tetap sehat.
Dampak Pola Makan Tidak Seimbang pada Janin dan Kehamilan
Perubahan pola makan dan stres selama kehamilan, bila mengakibatkan pola makan tidak seimbang, dapat memberi dampak negatif pada ibu dan janin. Beberapa potensi dampak:
-
Risiko hipertensi kehamilan dan komplikasi, misalnya preeklampsia atau tekanan darah tinggi, terutama jika ibu mengonsumsi banyak lemak/asal lemak/minyak serta pola makan buruk. Pelbagai literatur menyimpulkan bahwa pola makan buruk berhubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gangguan pertumbuhan janin, mencakup berat badan lahir rendah, pertumbuhan janin terhambat, atau malnutrisi janin, jika asupan nutrisi ibu tidak mencukupi nutrisi mikro maupun makro selama trimester awal dan pertengahan. Penelitian juga menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi asupan nutrisi sehingga kesejahteraan janin bisa terpengaruh. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Potensi risiko kelahiran prematur, stres prenatal dan pola makan buruk bisa meningkatkan kemungkinan komplikasi kehamilan, termasuk kelahiran prematur. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Kondisi kesehatan ibu memburuk, kekurangan gizi, peningkatan tekanan darah, kelelahan, gangguan metabolik, yang bisa mempengaruhi persalinan dan adaptasi setelah melahirkan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan demikian, menjaga pola makan yang seimbang dan mengendalikan stres selama kehamilan bukan semata untuk ibu, tapi sangat krusial untuk pertumbuhan dan kesehatan janin.
Peran Dukungan Keluarga dalam Mengurangi Stres Ibu Hamil
Dukungan keluarga, baik emosional maupun praktis, memiliki peranan besar dalam membantu ibu hamil menghadapi stres dan menjaga pola makan serta kesehatan secara keseluruhan. Beberapa poin penting:
-
Keberadaan anggota keluarga atau pasangan yang peduli, memberi rasa aman, membantu menjalani kehamilan, mengurangi kecemasan, serta membangun rasa nyaman, dapat menurunkan tingkat stres ibu. Studi menunjukkan bahwa dukungan sosial dan keluarga membantu dalam menurunkan stres, dan ibu dengan dukungan baik cenderung mempertahankan pola makan sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Dukungan dalam hal praktis: membantu dalam belanja bahan makanan bergizi, memasak makanan sehat, mendampingi antenatal care, serta membantu menjaga istirahat, semua ini membantu ibu menjaga asupan nutrisi optimal.
-
Edukasi dan komunikasi dalam keluarga: suami/keluarga dapat membantu dengan memberi informasi penting tentang kebutuhan nutrisi kehamilan, pantangan makanan, dan pentingnya diet seimbang serta manajemen stres. Hal ini mendukung ibu untuk lebih sadar menjaga pola makan dan kesehatan emosional. Studi literatur menyarankan agar program antenatal memasukkan aspek edukasi nutrisi dan manajemen stres. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Menciptakan lingkungan emosional positif: suasana rumah yang nyaman, suportif, tanpa konflik, serta tersedia sumber daya (dukungan moral, finansial) dapat membantu ibu mengurangi stres dan fokus pada kesehatan serta pola makan.
Dengan demikian, dukungan keluarga menjadi faktor protektif penting terhadap dampak negatif stres terhadap pola makan dan kesehatan kehamilan.
Teknik Manajemen Stres bagi Ibu Hamil
Agar stres tidak mengganggu pola makan dan kesehatan selama kehamilan, ada beberapa strategi dan teknik manajemen stres yang bisa diterapkan:
-
Konseling psikologis dan dukungan emosional, ibu bisa berbicara dengan pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, atau konselor untuk berbagi kekhawatiran dan mengurangi beban emosional.
-
Relaksasi, istirahat cukup, tidur berkualitas, menjaga waktu istirahat dan tidur dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan menjaga suasana hati.
-
Aktivitas ringan atau sesuai rekomendasi, meskipun olahraga berat tidak dianjurkan, aktivitas ringan seperti jalan santai, peregangan, atau yoga prenatal bisa membantu mengurangi stres dan menjaga kesehatan tubuh (catatan: disesuaikan dengan kondisi kehamilan).
-
Edukasi gizi dan perencanaan makan sehat, dengan pengetahuan yang baik tentang kebutuhan gizi selama kehamilan (energi, protein, vitamin, mineral), ibu bisa merencanakan pola makan seimbang dan menghindari konsumsi berlebihan makanan tidak sehat.
-
Dukungan keluarga dan lingkungan, melibatkan pasangan atau keluarga dalam perencanaan makanan, belanja, dan dukungan emosional membantu ibu merasa aman dan nyaman, mengurangi stres, serta menjaga asupan gizi.
-
Skrining rutin oleh tenaga kesehatan (bidan/dokter), selama antenatal care, penting untuk mengevaluasi kondisi psikologis ibu, asupan makanan, tekanan darah, dan status gizi, agar potensi risiko bisa diantisipasi. Studi terbaru menunjukkan efektivitas manajemen stres dalam menurunkan tingkat stres ibu hamil trimester III menghadapi persalinan. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]
Dengan menerapkan teknik manajemen stres dan dukungan sistemik, diharapkan ibu hamil bisa mempertahankan pola makan sehat dan menurunkan risiko komplikasi.
Hubungan Stres dan Pola Makan terhadap Kesehatan Kehamilan
Berdasarkan ulasan di atas, terlihat bahwa stres kehamilan dan pola makan ibu saling berkaitan erat, dan bersama-sama dapat memengaruhi hasil kehamilan dan kesehatan ibu serta janin. Ringkasan hubungan ini:
-
Stres dapat mengubah pola makan, baik dari nafsu makan, jenis makanan, maupun asupan nutrisi, berpotensi menyebabkan pola makan tidak seimbang.
-
Pola makan yang tidak sehat (tinggi lemak, gula, garam; kurang makanan bergizi) selama kehamilan dapat meningkatkan risiko hipertensi kehamilan, preeklampsia, gangguan pertumbuhan janin, berat lahir rendah, atau kelahiran prematur.
-
Dukungan keluarga dan manajemen stres yang baik bisa menjadi penyangga penting agar ibu tetap menjaga pola makan sehat, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menjaga kesehatan emosional, sehingga mengurangi risiko komplikasi.
-
Intervensi kehamilan yang komprehensif, mencakup screening stres, konseling gizi, edukasi keluarga, berpotensi meningkatkan hasil kehamilan dan kesehatan jangka panjang ibu, anak.
Semua ini menunjukkan bahwa aspek psikologis selama kehamilan tidak bisa diabaikan, pengelolaan stres sama pentingnya dengan asupan nutrisi dan perawatan medis.
Kesimpulan
Stres selama kehamilan dan pola makan ibu hamil memiliki hubungan yang kompleks dan signifikan. Kondisi psikologis seperti stres dapat mempengaruhi nafsu makan, pilihan makanan, serta asupan nutrisi ibu. Bila stres tinggi dan pola makan kurang sehat, risiko komplikasi kehamilan, seperti hipertensi, preeklampsia, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, meningkat. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental ibu melalui dukungan keluarga, manajemen stres, dan edukasi gizi merupakan hal krusial. Intervensi kehamilan sebaiknya tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan psikologis dan pola makan agar hasil kehamilan optimal, serta mendukung kesehatan ibu dan janin dalam jangka panjang.