
Perubahan Pola Komunikasi Pasien
Pendahuluan
Komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan merupakan aspek fundamental dalam proses asuhan keperawatan. Pola komunikasi yang efektif memungkinkan pertukaran informasi, pemahaman kondisi, serta pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, dan emosional pasien. Namun dalam praktik keperawatan, sering terjadi perubahan pola komunikasi pasien, baik dari sisi verbal, nonverbal, maupun interaksi psikososial, yang dapat dipengaruhi berbagai faktor. Perubahan ini tidak sekadar fenomena alami, tetapi membawa dampak signifikan terhadap kualitas perawatan, kepuasan pasien, dan hasil klinis. Oleh karena itu, penting untuk memahami definisi komunikasi pasien, faktor penyebab perubahan pola komunikasi, dampak yang timbul, penilaian kemampuan komunikasi, intervensi keperawatan untuk memperbaikinya, serta peran keluarga dan lingkungan sekitar. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif aspek-aspek tersebut disertai contoh kasus dan rekomendasi bagi tenaga kesehatan.
Definisi Pola Komunikasi Pasien
Definisi Pola Komunikasi Pasien Secara Umum
Secara umum, “pola komunikasi pasien” merujuk pada cara, gaya, dan karakteristik komunikasi yang dilakukan oleh pasien, baik dengan tenaga kesehatan (perawat, dokter), keluarga, maupun lingkungan sosial sekitar, dalam konteks asuhan kesehatan. Ini mencakup aspek verbal (kata-kata, kalimat), nonverbal (bahasa tubuh, ekspresi, kontak mata), serta komunikasi emosional (ungkapan kekhawatiran, kecemasan, harapan). Pola komunikasi ini mempengaruhi seberapa baik pasien dapat menyampaikan kebutuhan, pemahaman terhadap instruksi medis, serta kerjasama dalam proses perawatan.
Definisi Pola Komunikasi Pasien dalam KBBI
Berdasarkan terminologi komunikasi dan definisi umum dalam literatur keperawatan dan ilmu komunikasi, komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media tertentu dengan tujuan tercapainya pengertian bersama. Dalam konteks pasien, komunikator bisa pasien sendiri atau tenaga kesehatan, dan komunikan bisa tenaga kesehatan, pasien lain, atau keluarga. Oleh karena itu, pola komunikasi pasien merujuk pada bentuk spesifik dari proses komunikasi tersebut, yaitu bagaimana pasien menyampaikan pesan dan merespon dalam konteks perawatan. (Merujuk pada definisi umum komunikasi dalam literatur komunikasi/keperawatan) [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Definisi Pola Komunikasi Pasien Menurut Para Ahli
Berikut definisi dari beberapa ahli mengenai komunikasi/pola komunikasi dalam konteks keperawatan dan pelayanan kesehatan:
-
Menurut penulis di buku ajar komunikasi keperawatan, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan, sadar, dan bertujuan membantu kesembuhan pasien serta membina hubungan perawat, pasien. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Dalam penelitian oleh Assessment of Therapeutic Communication and Patients Satisfaction toward Nursing Care (2025), komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien diidentifikasi sebagai faktor utama dalam menentukan kepuasan pasien terhadap asuhan keperawatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
A literature‑based study of patient‑centered care and communication in nurse‑patient interactions (2021) menekankan bahwa pola komunikasi pasien, perawat harus berpusat pada pasien (patient-centered), mencakup empati, keterlibatan pasien, dan komunikasi yang jelas agar tercapai hasil yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sedangkan dalam konteks budaya dan keragaman latar belakang pasien, studi Barriers and Factors Affecting Nursing Communication in Multicultural Context (2025) menunjukkan bahwa perbedaan budaya, bahasa, pemahaman, dan persepsi dapat mengubah pola komunikasi dan mempengaruhi efektivitas interaksi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi pasien mencakup aspek verbal, nonverbal, emosional, konteks sosial dan budaya, serta sifat komunikasi (terapeutik, efektif, empatik) dalam lingkungan perawatan.
Faktor Penyebab Perubahan Komunikasi
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan pola komunikasi pasien berubah selama proses perawatan. Berikut beberapa faktor penting:
1. Kondisi klinis dan psikologis pasien
Perubahan kondisi fisik seperti nyeri, kelemahan, efek obat, atau gangguan kesadaran dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk berkomunikasi. Demikian pula kondisi psikologis seperti kecemasan, depresi, kebingungan, stres, atau trauma menyebabkan pasien menutup diri, sulit memahami instruksi, atau mengekspresikan perasaannya. Dalam studi di RS Ibnu Sina, ketidaknormalan fisik atau mental pasien jadi salah satu hambatan komunikasi terapeutik. [Lihat sumber Disini - jurnal.ilkom.fs.umi.ac.id]
2. Perbedaan budaya, bahasa, dan latar belakang sosial
Perbedaan bahasa, dialek, budaya, atau latar belakang sosial antara pasien dan tenaga kesehatan bisa menjadi penghambat komunikasi. Studi internasional menunjukkan bahwa kekurangan kompetensi budaya dan perbedaan bahasa menyeret efisiensi komunikasi keperawatan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
3. Kompetensi dan keterampilan komunikasi tenaga kesehatan
Jika perawat atau tenaga medis tidak memiliki keterampilan interpersonal dan komunikasi yang baik, seperti kemampuan empati, mendengarkan aktif, bahasa yang sederhana dan jelas, maka interaksi dengan pasien bisa kurang efektif. Studi penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara keterampilan komunikasi interpersonal perawat dengan kualitas perawatan dan kepuasan pasien. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
4. Beban kerja, waktu dan sistem pelayanan kesehatan
Dalam praktik rumah sakit, perawat sering memiliki banyak pasien, shift padat, dan waktu terbatas. Tekanan ini dapat menyebabkan komunikasi menjadi terburu-buru, kurang mendalam, atau bahkan terlewat, yang mempengaruhi pola komunikasi pasien. Misalnya, penelitian di rumah sakit menunjukkan bahwa kurangnya waktu menjadi faktor penghambat komunikasi terapeutik. [Lihat sumber Disini - jurnal.ilkom.fs.umi.ac.id]
5. Lingkungan sosial dan dukungan keluarga/lingkungan
Ketidakhadiran keluarga, dukungan emosional yang minim, atau lingkungan rumah sakit yang kurang mendukung kenyamanan (ruang sempit, kurang privasi) bisa membuat pasien enggan atau kesulitan berkomunikasi secara terbuka. Faktor lingkungan ini bisa memperburuk isolasi sosial dan mengubah pola komunikasi. Beberapa literatur menyebutkan pentingnya konteks sosial-kultural dalam komunikasi keperawatan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dampak Perubahan Komunikasi terhadap Perawatan
Perubahan pada pola komunikasi pasien dapat membawa berbagai dampak, baik terhadap proses perawatan, hasil klinis, maupun kepuasan pasien. Berikut beberapa dampak utama:
-
Menurunnya pemahaman pasien terhadap instruksi dan rencana perawatan
Bila komunikasi tidak jelas, pasien bisa salah mengerti dosis obat, instruksi pasca rawat, rehabilitasi, atau tindakan medis. Hal ini berpotensi menyebabkan kesalahan obat, tidak patuh terapi, atau komplikasi.
-
Menghambat asuhan keperawatan yang holistik dan berpusat pada pasien
Pola komunikasi yang rusak atau berubah menyebabkan perawat sulit menggali kebutuhan emosional, psikologis, dan sosial pasien. Ini mengganggu pendekatan “patient-centered care” seperti yang disorot oleh literatur. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurunnya kepuasan pasien dan kualitas layanan
Dalam studi Effect of nurses interpersonal communication skills on quality of care in hospitals (2022), ditemukan bahwa kualitas komunikasi berhubungan dengan persepsi pasien terhadap mutu layanan, komunikasi buruk → persepsi buruk terhadap pelayanan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Selain itu, penelitian di 2025 pada beberapa unit rawat menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik yang baik secara signifikan berkorelasi dengan kepuasan pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net] -
Peningkatan risiko kesalahan medis dan insiden patient safety
Dalam konteks tim keperawatan dan transisi shift, gangguan komunikasi, misalnya informasi tidak tersampaikan secara baik, dapat menyebabkan kesalahan penanganan pasien, atau kegagalan koordinasi. Studi di Ghana menunjukkan bahwa “communication gaps” dalam handover shift berkaitan dengan dampak negatif terhadap keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Menurunnya kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan
Jika pasien merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau merasa komunkasi seadanya, mereka cenderung kurang percaya, kurang terbuka, atau pasif dalam proses perawatan, yang pada gilirannya menghambat hasil optimal.
Penilaian Kemampuan Komunikasi Pasien
Menilai kemampuan komunikasi pasien adalah langkah penting untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau gangguan pola komunikasi, sekaligus sebagai basis merancang intervensi. Berikut beberapa pendekatan/indikator penilaian:
-
Observasi interaksi verbal dan nonverbal: Memperhatikan apakah pasien mampu menjawab pertanyaan dengan jelas, mengungkapkan keluhan, menunjukkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, kontak mata, respons emosional, atau menunjukkan kebingungan/ketidakpahaman. Literatur komunikasi keperawatan menekankan pentingnya komunikasi nonverbal selain verbal. [Lihat sumber Disini - staff.universitaspahlawan.ac.id]
-
Pengukuran kepuasan dan persepsi pasien terhadap komunikasi: Menggunakan instrumen seperti lembar komunikasi terapeutik dan skala kepuasan pasien, misalnya pada studi 2025 ditemukan korelasi signifikan antara skor komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penilaian kemampuan kognitif dan kondisi psikologis pasien: Menilai apakah gangguan kognitif, stres, kecemasan, atau depresi mempengaruhi komunikasi; apakah pasien bisa memahami instruksi, merespon dengan wajar, serta mengungkapkan kebutuhan.
-
Evaluasi konteks sosial-budaya dan bahasa: Menilai apakah ada hambatan budaya, bahasa, atau perbedaan latar belakang yang menghalangi komunikasi efektif, misalnya bahasa asing, dialek, atau perbedaan nilai budaya. Studi tentang hambatan komunikasi dalam konteks multikultural menyoroti hal ini. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Penilaian ini harus dilakukan secara berkala, terutama pada pasien rawat inap, pasca operasi, lansia, atau pasien dengan kondisi kronis, agar perubahan pola komunikasi cepat terdeteksi dan direspon.
Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Komunikasi
Berdasarkan identifikasi perubahan atau hambatan pola komunikasi, berikut beberapa strategi/intervensi keperawatan yang efektif:
-
Mengimplementasikan komunikasi terapeutik: Tenaga keperawatan harus mengedepankan empati, mendengarkan aktif, bahasa sederhana dan jelas, serta komunikasi nonverbal yang mendukung (kontak mata, ekspresi, intonasi lembut). Komunikasi terapeutik membantu membangun kepercayaan dan kenyamanan pasien. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Memberi pelatihan keterampilan komunikasi bagi perawat: Pelatihan interpersonal, komunikasi terapeutik, kesadaran budaya, dan teknik mendengarkan dapat meningkatkan kompetensi komunikasi perawat, yang secara langsung mempengaruhi pola komunikasi pasien. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Penggunaan metode komunikasi terstruktur saat peralihan shift atau transfer pasien: Misalnya kerangka komunikasi seperti ISBAR3 (Identity, Situation, Background, Assessment, Recommendation, Readback), meski ini lebih ke komunikasi antarkedokter/perawat, prinsip struktur dan kejelasan tetap bisa diadaptasi dalam komunikasi dengan pasien untuk mengurangi kesalahan informasi. [Lihat sumber Disini - risetpress.com]
-
Menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan individu (patient-centered care): Memahami kondisi fisik, psikologis, latar belakang budaya, bahasa, serta preferensi pasien, lalu menyesuaikan cara komunikasi agar sesuai dengan karakteristik pasien. Literatur “patient-centered communication” merekomendasikan pendekatan fleksibel dan adaptif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menciptakan lingkungan dukungan: libatkan keluarga dan lingkungan sekitar: Dengan melibatkan keluarga dalam komunikasi, perawat dapat membantu pasien merasa didengar dan dipahami, terutama bagi pasien lansia atau dengan keterbatasan, serta memfasilitasi komunikasi emosional dan dukungan sosial. Beberapa penelitian menegaskan pentingnya konteks lingkungan dan dukungan sosial dalam komunikasi keperawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unusultra.ac.id]
Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Komunikasi
Pola komunikasi pasien tidak terjadi dalam ruang hampa. Keluarga dan lingkungan, baik fisik maupun sosial, berperan besar dalam mendukung atau justru menghambat komunikasi. Berikut beberapa peran penting:
-
Sumber dukungan emosional dan psikologis: Kehadiran keluarga membuat pasien merasa aman, didengar, dan dihargai, mendorong pasien lebih terbuka dalam menyampaikan keluhan, perasaan, ketakutan, atau kebutuhan. Ini penting terutama untuk pasien lansia atau pasien dengan kondisi kronis.
-
Jembatan komunikasi budaya atau bahasa: Jika ada perbedaan bahasa atau dialek antara pasien dan tenaga medis, keluarga terkadang berperan sebagai mediator atau penerjemah, membantu menjembatani pemahaman.
-
Menguatkan informasi dan instruksi perawatan: Keluarga bisa membantu mengingat instruksi dari tenaga kesehatan, mendampingi pasien setelah pulang, dan memastikan kepatuhan pasien terhadap rencana perawatan.
-
Lingkungan fisik yang kondusif: Ruang rawat yang nyaman, area privat, waktu yang cukup untuk komunikasi, serta suasana mendukung (tenang, bersahabat) membantu pasien berkomunikasi dengan lebih baik.
-
Advokasi dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan: Keluarga yang terlibat aktif dapat menyampaikan preferensi pasien, membantu mengklarifikasi kebutuhan, serta mendukung proses pengambilan keputusan bersama tenaga kesehatan, mendukung prinsip perawatan berpusat pada pasien.
Contoh Kasus Perubahan Pola Komunikasi
Kasus 1: Pasien lansia dengan gejala kebingungan pasca rawat inap
Seorang pasien lansia dirawat di bangsal umum. Awalnya, pasien komunikatif, menjawab pertanyaan perawat dan keluarga, terlibat aktif dalam diskusi perawatan. Namun setelah beberapa hari, pasien menunjukkan penurunan kemampuan berkomunikasi: sering diam, kesulitan mengungkapkan kebutuhan, menatap kosong, dan tampak bingung. Dugaan: efek obat, dehidrasi, stres, dan kurang tidur. Tenaga keperawatan dan keluarga perlu menilai kondisi kognitif dan emosional, memberikan waktu dan lingkungan yang nyaman untuk berkomunikasi, serta melibatkan keluarga dalam mendampingi dan menerjemahkan kebutuhan pasien.
Kasus 2: Pasien dengan latar belakang budaya/lingkungan berbeda
Pasien dari daerah terpencil dengan dialek lokal dirawat di RS di kota besar. Perawat menggunakan bahasa baku/medis sehingga pasien sering nampak bingung, malu bertanya, atau hanya mengangguk tanpa benar-benar paham. Komunikasi nonverbal minimal, dan tidak ada penerjemah. Akibatnya, pasien salah menjalankan instruksi pasca perawatan, mengurangi kepatuhan, dan akhirnya hasil perawatan kurang optimal. Intervensi: melibatkan anggota keluarga sebagai mediator bahasa, menggunakan bahasa sederhana, bersikap empatik, dan memberi penjelasan ulang dengan metode “teach-back”.
Kasus 3: Pasien pre-operasi dengan kecemasan tinggi
Dalam penelitian di RS Ibnu Sina Makassar (2025), ditemukan bahwa komunikasi terapeutik perawat membantu pasien pre-operasi mengurangi kecemasan dan meningkatkan motivasi melalui empati, informasi jelas, dan positive reinforcement. [Lihat sumber Disini - jurnal.ilkom.fs.umi.ac.id] Namun jika komunikasi tidak dilakukan dengan baik, misalnya waktu terbatas, perawat kurang empatik, atau informasi kurang jelas, pasien dapat menjadi lebih cemas, tidak patuh, atau bahkan menolak prosedur.
Kesimpulan
Pola komunikasi pasien adalah kombinasi kompleks dari aspek verbal, nonverbal, emosional, budaya, dan konteks sosial yang muncul dalam interaksi pasien dengan tenaga kesehatan, keluarga, dan lingkungan. Perubahan pola komunikasi, yang bisa disebabkan oleh kondisi klinis, psikologis, perbedaan budaya, kompetensi tenaga kesehatan, atau beban sistem, membawa dampak serius terhadap kualitas perawatan, kepuasan pasien, keselamatan, dan hasil kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk rutin menilai kemampuan komunikasi pasien dan secara aktif menerapkan intervensi keperawatan seperti komunikasi terapeutik, pelatihan keterampilan komunikasi, pendekatan berpusat pada pasien, serta melibatkan keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, proses perawatan bisa lebih efektif, manusiawi, dan menghasilkan hasil yang optimal.