Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/evaluasi-interaksi-obat-pada-pasien-multimorbid  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid - SumberAjar.com

Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid

Pendahuluan

Pasien dengan kondisi multimorbid, yaitu mereka yang memiliki dua penyakit kronis atau lebih secara bersamaan, telah menjadi fenomena klinis yang semakin umum di layanan kesehatan modern. Kondisi ini sering berujung pada penggunaan banyak obat sekaligus (polifarmasi), yang pada gilirannya meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat-obat yang dapat berdampak negatif pada keselamatan pasien. Interaksi obat bisa menyebabkan efek terapeutik berkurang, toksisitas meningkat, atau timbulnya reaksi merugikan yang tidak terduga. Risiko ini sangat relevan dalam praktik klinik sehari-hari, terutama pada pasien lanjut usia atau pasien dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya yang biasanya membutuhkan regimen obat kompleks. Evaluasi interaksi obat menjadi aspek penting dalam upaya meningkatkan hasil terapi dan mengurangi kejadian efek samping yang tidak diinginkan.


Definisi Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid

Definisi Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Secara Umum

Evaluasi interaksi obat pada pasien multimorbid dapat dipahami sebagai proses sistematis untuk menilai dan mengidentifikasi potensi interaksi antara berbagai obat yang digunakan oleh pasien yang memiliki lebih dari satu kondisi medis kronis. Evaluasi ini melibatkan penelaahan seluruh obat yang diberikan, termasuk kombinasi obat resep, obat bebas, suplemen, maupun jamu, untuk menentukan kemungkinan perubahan efek farmakologis yang merugikan atau berbahaya serta merencanakan strategi pencegahan yang tepat. Hal ini penting karena setiap tambahan obat dalam regimen terapi meningkatkan kemungkinan terjadinya drug-drug interaction (DDI) yang potensial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah interaksi obat didefinisikan sebagai perubahan efek suatu obat oleh keberadaan obat lain atau zat lainnya yang dikonsumsi bersamaan dalam tubuh pasien. Proses evaluasi dalam konteks ini mencakup identifikasi, penilaian, dan tindak lanjut atas kemungkinan perubahan efek obat akibat interaksi, dengan tujuan menjaga efektivitas serta keamanan terapi. (Catatan: definisi ini bersesuaian dengan konsep umum interaksi obat di sumber-sumber farmasi dan medis).

Definisi Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Menurut Para Ahli

Menurut studi klinis Rachmayanti et al. (2024), interaksi obat terjadi ketika efek suatu obat dapat berubah karena adanya obat lain yang dikonsumsi sekaligus, dan evaluasi interaksi obat dilakukan dengan menggunakan alat penilaian berbasis basis data klinis seperti Medscape, Drugs.com, dan Stockley’s Drug Interaction untuk mengidentifikasi tingkat keparahan interaksi yang mungkin terjadi, mulai dari moderat hingga mayor pada pasien berpolifarmasi. Studi ini mengevaluasi potensi interaksi obat pada resep polifarmasi pasien lansia di rumah sakit, menunjukkan prevalensi interaksi mayor dan moderat yang cukup tinggi serta pentingnya pemantauan secara klinis untuk mencegah dampak merugikan. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

Sebuah penelitian retrospektif oleh Herdaningsih et al. (2016) memaparkan bahwa interaksi obat-obat (drug-drug interactions) adalah perubahan efek terapi karena adanya kombinasi obat dalam regimen pasien, dan alat pemeriksa mutu interaksi obat seperti Drugs.com cache menjadi komponen penting dalam mengukur potensi DDI pada resep polifarmasi. Selain itu, hasil studi ini menegaskan bahwa polifarmasi sangat terkait dengan tingginya risiko terjadinya interaksi obat yang merugikan dalam praktik klinik. [Lihat sumber Disini - academia.edu]

Dalam kajian penelitian Sari et al. (2023), identifikasi interaksi obat di poliklinik rumah sakit menggunakan checker interaksi seperti Drugs.com menunjukkan bahwa semakin banyak obat yang diberikan dalam satu resep, semakin besar kemungkinan timbulnya interaksi obat dengan tingkat keparahan yang beragam, termasuk interaksi farmakodinamik dan farmakokinetik. Temuan tersebut menegaskan bahwa penggunaan basis data klinis merupakan komponen penting dalam evaluasi interaksi obat untuk membantu tenaga kesehatan menilai risiko DDI pada pasien yang menerima banyak obat. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]

Penelitian Permadi (2025) juga menjelaskan bahwa interaksi obat dapat terjadi melalui mekanisme farmakodinamik dan farmakokinetik, sehingga evaluasi yang ketat terhadap kombinasi obat dan pemantauan pasien sangat diperlukan untuk mengelola risiko interaksi berbahaya. Hasil penelitian ini menyoroti bahwa polifarmasi oleh pasien meningkatkan peluang terjadinya interaksi obat jenis moderat dan mayor. [Lihat sumber Disini - ejournal.baleliterasi.org]

Berdasarkan bukti penelitian ilmiah yang tersedia, evaluasi interaksi obat pada pasien multimorbid merupakan langkah sistematis yang memanfaatkan basis data klinis dan alat penilaian interaksi obat untuk mengidentifikasi potensi kombinasi obat yang berisiko merugikan secara klinis. Evaluasi ini tidak hanya meninjau pasangan obat untuk menentukan tingkat interaksinya, tetapi juga mempertimbangkan mekanisme farmakodinamik dan farmakokinetik, sehingga memungkinkan tenaga kesehatan untuk merencanakan pengelolaan terapi yang lebih aman. Polifarmasi, penggunaan banyak obat dalam satu waktu, secara konsisten dikaitkan dengan meningkatnya prevalensi interaksi obat, yang menegaskan perlunya evaluasi yang berkelanjutan dan penggunaan sumber informasi yang valid serta terpercaya dalam praktik klinik sehari-hari. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]


Faktor Risiko Interaksi pada Pasien dengan Multi Penyakit

Evaluasi terhadap faktor risiko interaksi obat pada pasien multimorbid mengungkap sejumlah determinan klinis yang memperbesar peluang terjadinya efek obat-obat merugikan.

Salah satu faktor utama adalah polifarmasi itu sendiri, yang umumnya didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat bersamaan secara teratur. Polifarmasi meningkatkan eksposur pasien terhadap kombinasi obat yang berpotensi saling berinteraksi secara farmakodinamik maupun farmakokinetik, terutama bila obat-obat tersebut memiliki indeks terapeutik sempit atau metabolisme yang bersinggungan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Penelitian di Indonesia menemukan bahwa pada pasien dengan polifarmasi, kejadian potensi interaksi obat dengan tingkat keparahan moderat mendominasi, menunjukkan bahwa sebagian besar interaksi memiliki kemungkinan nyata untuk mempengaruhi hasil terapi secara klinis. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

Selain jumlah obat, usia lanjut merupakan faktor risiko penting karena perubahan fisiologis yang terjadi seiring penuaan, seperti penurunan fungsi ginjal, hati, dan perubahan volume distribusi, mempengaruhi metabolisme dan eliminasi obat, sehingga memperbesar dampak interaksi farmakokinetik. Kondisi komorbid seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular juga meningkatkan kompleksitas terapi karena banyaknya obat yang diperlukan untuk mengontrol masing-masing kondisi tersebut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Faktor lainnya termasuk ketidaktahuan pasien mengenai obat yang dikonsumsi, ketidakpatuhan terhadap regimen terapi, serta kurangnya koordinasi antar penyedia layanan kesehatan, dimana setiap profesi mungkin meresepkan obat tanpa memperhatikan potensi interaksi obat yang telah ada. Pengenalan faktor-faktor ini sangat penting untuk perencanaan strategi pencegahan yang efektif.


Dampak Polifarmasi terhadap Keamanan Terapi

Polifarmasi pada pasien multimorbid seringkali dikaitkan dengan peningkatan kejadian interaksi obat yang merugikan, yang dapat berdampak serius terhadap keamanan terapi. Banyak penelitian menjelaskan bahwa kombinasi penggunaan banyak obat meningkatkan risiko adverse drug reactions (ADR) dan DDI, yang dapat menurunkan efektivitas pengobatan, memperburuk kondisi klinis pasien, bahkan meningkatkan angka rawat inap. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]

Hasil penelitian retrospektif di Indonesia menunjukkan dominasi interaksi obat dengan tingkat keparahan moderat pada resep polifarmasi pasien lanjut usia, seperti pasien lansia di Rumah Sakit Batam, dimana lebih dari 80 % interaksi yang teridentifikasi termasuk moderat. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

Efek dari interaksi obat juga bervariasi secara klinis: beberapa interaksi dapat meningkatkan efek obat tertentu, seperti penguatan efek antihipertensi atau antikoagulan, sehingga berpotensi menyebabkan hipotensi atau perdarahan; sedangkan interaksi lain dapat menurunkan efektivitas obat, seperti penurunan konsentrasi obat di plasma yang seharusnya bekerja untuk mengendalikan kadar glukosa darah atau lipid. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]

Dampak terhadap keamanan terapi mencakup peningkatan risiko kejadian merugikan, kebutuhan pengobatan tambahan untuk menanggulangi efek samping, dan beban finansial lebih besar akibat manajemen komplikasi. Oleh karena itu, intervensi klinis yang tepat diperlukan untuk meminimalkan risiko ini.


Teknik Identifikasi Interaksi Obat

Identifikasi interaksi obat dalam praktik klinik modern memanfaatkan berbagai teknik yang membantu tenaga kesehatan dalam menilai kemungkinan adanya DDI sebelum kejadian merugikan terjadi.

Salah satu teknik yang sangat umum digunakan adalah peninjauan obat secara menyeluruh menggunakan basis data kliniK interaksi obat seperti Drugs.com, Medscape Interaction Checker, dan Stockley’s Drug Interaction. Basis data ini menilai pasangan obat untuk menentukan jenis interaksi, mekanisme yang terlibat (farmakokinetik atau farmakodinamik), serta tingkat keparahan (mayor, moderat, minor), dan rekomendasi klinis untuk tindak lanjut. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

Selain itu, rekonsiliasi obat, yaitu verifikasi daftar obat yang dikonsumsi pasien pada setiap perpindahan antar layanan atau fasilitas, merupakan langkah penting untuk mendeteksi perubahan obat yang tidak tepat dan risiko interaksi.

Pendekatan lain yang semakin berkembang adalah penggunaan sistem penunjang keputusan klinis elektronik (Clinical Decision Support Systems) yang terintegrasi dengan resep elektronik dan catatan kesehatan elektronik pasien untuk menandai potensi interaksi obat secara otomatis sebelum obat diberikan.

Evaluasi laboratorium berkala dan pemantauan tanda vital serta fungsi organ (mis. renal, hati) juga digunakan sebagai teknik untuk mendeteksi dampak nyata dari interaksi obat yang mungkin tidak terprediksi hanya dari basis data interaksi.


Peran Farmasis dalam Monitoring Terapi

Farmasis memiliki peran sentral dalam monitoring terapi pasien multimorbid, khususnya dalam konteks polifarmasi dan interaksi obat.

Literatur baru menunjukkan bahwa intervensi farmasis, termasuk reconciliasi obat, penilaian kesesuaian terapi, edukasi pasien, serta kolaborasi interprofesional, dapat secara signifikan mengurangi jumlah obat yang tidak tepat, potensi obat yang tidak sesuai, serta menurunkan kejadian DDI. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

Farmasis dapat berkolaborasi dengan dokter dan perawat untuk mengevaluasi daftar obat pasien secara berkala, mengoptimalkan regimen terapi, dan memberikan rekomendasi deprescribing jika dianggap aman dan tepat. Intervensi semacam ini terbukti menurunkan jumlah obat, mengurangi potensi interaksi obat, dan meningkatkan kepatuhan terhadap panduan terapi. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

Edukasi pasien juga merupakan bagian penting dari peran farmasis, karena pasien yang memahami fungsi dan risiko obat yang mereka konsumsi cenderung lebih patuh terhadap terapi dan lebih cepat melaporkan gejala yang mencurigakan.


Strategi Pencegahan Interaksi Berbahaya

Strategi pencegahan interaksi obat pada pasien multimorbid meliputi beberapa pendekatan klinik dan organisasi pelayanan kesehatan, antara lain:

  • Rekonsiliasi obat secara rutin pada setiap tahap perawatan pasien untuk memastikan daftar obat akurat dan terbarui.

  • Penggunaan alat penunjang keputusan klinis elektronik untuk secara otomatis menandai potensi DDI berdasarkan data pasien dan daftar obat mereka.

  • Kolaborasi tim kesehatan interprofesional, khususnya antara dokter, farmasis, dan perawat untuk mengevaluasi dan menyesuaikan terapi pasien.

  • Deprescribing obat-obat yang tidak lagi diperlukan atau berisiko tinggi bagi pasien berdasarkan kondisi terkini mereka.

  • Edukasi pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda interaksi obat dan melaporkannya secepat mungkin. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Kesimpulan

Evaluasi interaksi obat pada pasien multimorbid adalah proses penting dalam praktik medis untuk mengidentifikasi dan menangani potensi risiko dari penggunaan regimen terapi yang kompleks. Pasien dengan multimorbiditas sering kali terpapar polifarmasi, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat dengan berbagai dampak klinis yang merugikan. Evaluasi ini mencakup identifikasi faktor risiko, penggunaan alat penilaian interaksi obat, serta pemantauan yang ketat terhadap keseluruhan terapi pasien. Farmasis memainkan peran penting dalam monitoring dan pencegahan interaksi obat melalui intervensi klinik, edukasi pasien, dan kerja kolaboratif dengan penyedia layanan kesehatan lain. Penerapan strategi pencegahan seperti rekonsiliasi obat, penggunaan sistem penunjang keputusan klinis, dan deprescribing dapat secara signifikan meningkatkan keamanan terapi untuk pasien dengan multimorbiditas. Dengan memperkuat praktik evaluasi interaksi obat dan strategi pencegahannya, kualitas layanan kesehatan dapat meningkat dan risiko efek samping yang tidak diinginkan dapat diminimalkan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Interaksi obat pada pasien multimorbid terjadi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan memengaruhi efek satu sama lain, baik meningkatkan risiko efek samping maupun menurunkan efektivitas terapi.

Polifarmasi meningkatkan jumlah kombinasi obat yang berpotensi berinteraksi. Semakin banyak obat yang digunakan, semakin besar kemungkinan terjadinya interaksi farmakodinamik atau farmakokinetik yang dapat menimbulkan efek merugikan.

Identifikasi potensi interaksi obat dilakukan melalui peninjauan daftar obat, penggunaan basis data interaksi obat, rekonsiliasi obat, sistem penunjang keputusan klinis, dan pemantauan kondisi klinis pasien secara berkala.

Farmasis berperan dalam memantau terapi, menilai potensi interaksi, memberikan edukasi kepada pasien, melakukan rekonsiliasi obat, serta merekomendasikan penyesuaian terapi untuk meningkatkan keamanan pengobatan.

Strategi pencegahan mencakup rekonsiliasi obat, penggunaan sistem penunjang keputusan klinis, edukasi pasien, deprescribing obat yang tidak diperlukan, serta kolaborasi antar tenaga kesehatan dalam evaluasi rutin terapi pasien.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Identifikasi Pasien yang Tepat Identifikasi Pasien yang Tepat Konseling Obat di Apotek Konseling Obat di Apotek
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…