
Kesalahan Pemberian Obat: Konsep, Risiko, dan Pencegahan
Pendahuluan
Keselamatan pasien adalah pilar utama dalam pelayanan kesehatan modern. Di tengah kompleksitas pelayanan medis, pemberian obat yang tepat dan aman menjadi salah satu aspek yang paling kritis untuk menjamin hasil terapi yang optimal dan meminimalkan dampak buruk bagi pasien. Namun, kesalahan dalam proses pemberian obat (medication error) masih menjadi tantangan global yang signifikan dalam praktik klinis di berbagai fasilitas kesehatan, bahkan di era modern ini kelompok peneliti menyebutnya sebagai salah satu penyebab utama insiden keselamatan pasien yang dapat dicegah. Kejadian tersebut dapat terjadi dalam berbagai fase pelayanan obat, mulai dari peresepan oleh dokter hingga pemberian obat oleh perawat atau pasien sendiri, dan berpotensi menimbulkan konsekuensi klinis yang serius termasuk cedera atau bahkan kematian pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Kesalahan Pemberian Obat
Definisi Kesalahan Pemberian Obat Secara Umum
Kesalahan pemberian obat, secara umum, merujuk pada setiap kejadian yang dapat dihindari, yang menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat atau berpotensi membahayakan pasien. Istilah ini mencakup berbagai situasi seperti memberikan obat yang salah, dosis yang tidak tepat, atau pada waktu atau rute pemberian yang tidak sesuai standar klinis. Dalam literatur medis, fenomena ini bukan hanya tentang error teknis, tetapi juga mencakup kesalahan sistemik yang muncul selama proses rantai penggunaan obat tersebut. [Lihat sumber Disini - cdn.who.int]
Definisi Kesalahan Pemberian Obat dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “kesalahan” didefinisikan sebagai ketidaktepatan, kekeliruan atau perilaku yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sementara itu “pemberian obat” merujuk pada kegiatan memberikan sediaan obat kepada pasien sesuai dengan resep atau indikasi yang telah ditetapkan oleh tenaga kesehatan. Dengan demikian “kesalahan pemberian obat” dapat ditafsirkan sebagai suatu tindakan yang tidak tepat dalam rangka menyerahkan atau mengadministrasikan obat kepada pasien sesuai dengan kaidah klinis dan aturan farmakoterapi yang berlaku. (KBBI Online).
Definisi Kesalahan Pemberian Obat Menurut Para Ahli
-
Menurut World Health Organization (WHO), medication error adalah setiap kejadian yang dapat dicegah yang dapat menyebabkan atau mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat atau melukai pasien ketika obat itu berada di bawah kontrol tenaga kesehatan, pasien, atau konsumen. [Lihat sumber Disini - cdn.who.int]
-
Aronson & Ferner menjelaskan bahwa kesalahan pengobatan mencakup kegagalan dalam proses terapi yang memiliki potensi sangat besar menyebabkan kerugian atau bahaya bagi pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Dalam review ilmiah lainnya, kesalahan pemberian obat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diinginkan dalam siklus penggunaan obat yang melibatkan tahap penulisan resep, pengumpulan, penyiapan, pemberian, dan pemantauan yang tidak sesuai dengan standar perawatan klinis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Menurut publikasi medis dari National Institutes of Health (NCBI), medication error merupakan salah satu sumber utama cedera pasien yang dapat dicegah di setting kesehatan karena sering kali berkaitan dengan aktivitas manusia atau kegagalan sistem. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Jenis Kesalahan Pemberian Obat
Kesalahan pemberian obat dapat terjadi pada tiap tahap proses penggunaan obat di fasilitas layanan kesehatan atau bahkan di tingkat pasien sendiri. Menurut berbagai studi dan narasi ilmiah, kesalahan tersebut dibagi menjadi beberapa kategori utama: [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]
-
Prescribing Error
Jenis ini terjadi ketika ada kesalahan saat dokter atau penyedia layanan menuliskan resep. Kesalahan dapat berupa dosis yang salah, frekuensi pemberian yang tidak sesuai, penggunaan obat yang tidak tepat indikasi, atau penulisan resep yang tidak jelas sehingga berpotensi disalahartikan oleh petugas berikutnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Transcribing Error
Kesalahan ini muncul ketika informasi obat diolah atau dipindahkan ke sistem lain, seperti saat petugas kesehatan menyalin resep ke catatan medis atau sistem komputer. Ketidakjelasan tulisan atau kekeliruan dalam memasukkan informasi dosis dan nama obat menjadi ciri utama transcribing error. [Lihat sumber Disini - nusantarahasanajournal.com]
-
Dispensing Error
Kesalahan ini terjadi di apotek atau instalasi farmasi ketika obat disiapkan atau diserahkan kepada pasien. Kesalahan ini dapat berupa pemberian obat yang salah, label yang keliru, atau instruksi penggunaan yang tidak tepat pada kemasan obat. [Lihat sumber Disini - nusantarahasanajournal.com]
-
Administration Error
Kesalahan terjadi saat obat diberikan kepada pasien oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Contohnya termasuk pemberian obat yang salah pada pasien yang salah, dosis yang tidak tepat, waktu pemberian yang tertunda atau rute yang tidak sesuai. [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]
-
Monitoring Error
Kesalahan yang terjadi setelah pemberian obat saat pasien tidak ditindaklanjuti atau pemantauan efek obat tidak dilakukan dengan cukup ketat sehingga potensi efek buruk tidak terdeteksi atau direspon dengan tepat. [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]
Faktor Risiko Terjadinya Kesalahan Obat
Berbagai penelitian dan review jurnal telah mengidentifikasi beragam faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kesalahan pemberian obat. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari tenaga kesehatan, sistem pelayanan, hingga karakteristik pasien itu sendiri: [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan yang kurang berpengalaman, kelelahan, beban kerja tinggi, kurangnya pengetahuan klinis obat, serta masalah komunikasi dengan tim lintas profesi menjadi penyebab utama kesalahan, terutama pada tahap prescribing dan administration. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor Sistem dan Lingkungan Kerja
Ketidakteraturan dalam sistem kerja seperti dokumentasi yang buruk, kurangnya penggunaan teknologi informasi, gangguan di lingkungan kerja, serta tidak adanya sistem rekonsiliasi obat yang memadai dapat meningkatkan risiko terjadinya kesalahan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Faktor Obat itu Sendiri
Obat dengan nama atau kemasan yang mirip, instruksi yang kompleks atau kurang jelas, serta obat high-alert yang memiliki rentang dosis sempit menambah kemungkinan terjadi error saat penyimpanan atau pemberian obat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor Pasien
Pasien dengan usia lanjut, polifarmasi (mengonsumsi banyak obat sekaligus), dan pasien dengan kondisi komorbiditas yang kompleks memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesalahan obat karena kebutuhan terapinya yang rumit dan pengawasan yang intensif diperlukan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Kesalahan Obat terhadap Keselamatan Pasien
Kesalahan pemberian obat tidak hanya berdampak secara klinis terhadap pasien, tetapi juga memberikan efek negatif terhadap sistem kesehatan secara keseluruhan: [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dampak Klinis Langsung
Kesalahan pemberian obat dapat menyebabkan reaksi obat yang serius, perforasi organ, gagal terapi, atau efek samping berat yang bahkan bisa berujung pada kematian pasien jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Krisis Kepercayaan Pasien
Pasien yang mengalami kesalahan obat sering kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan, yang selanjutnya dapat menghambat keterlibatan pasien dalam proses perawatan mereka sendiri. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beban Ekonomi
Kesalahan pemberian obat menyebabkan biaya kesehatan meningkat akibat perawatan lanjutan, rawat inap yang diperpanjang, pemeriksaan tambahan, serta tuntutan hukum yang mungkin terjadi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beban Sistem Kesehatan
Insiden kesalahan obat menciptakan kebutuhan terhadap sumber daya tambahan untuk investigasi, pelaporan insiden, serta strategi pencegahan ulang yang mendesak, sementara waktu dan biaya harus dialokasikan dari sumber daya yang terbatas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Sistem Pelaporan Kesalahan Pemberian Obat
Sistem pelaporan kesalahan obat memainkan peran penting dalam meningkatkan keselamatan pasien karena dapat menjadi sumber data untuk analisis penyebab dan perbaikan sistem: [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Pelaporan Insiden serta Analisis
Sistem pelaporan insiden standar memungkinkan profesional kesehatan melaporkan kejadian kesalahan tanpa takut represiasi dan kemudian dianalisis untuk menemukan akar penyebab. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Database Nasional atau Institusi
Beberapa fasilitas memiliki database insiden keselamatan yang mencatat setiap kejadian medication error untuk dianalisis tren dan risiko yang berulang. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Checklist dan Sistem Pemberitahuan
Penggunaan checklists dan sistem pemberitahuan yang mendukung transparansi insiden serta mendorong pelaporan kesalahan sehingga dapat dilakukan pendidikan ulang atau perbaikan SOP. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Strategi Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat
Pencegahan kesalahan pemberian obat membutuhkan pendekatan multidisipliner yang terintegrasi di seluruh proses layanan kesehatan: [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Penggunaan Teknologi Informasi
Mengimplementasikan sistem e-prescribing atau clinical decision support dapat mengurangi risiko prescribing dan transcribing errors dengan menyediakan panduan dosis dan peringatan otomatis. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Pelatihan dan Pendidikan Berkelanjutan
Pelatihan rutin terkait prinsip pemberian obat yang tepat, komunikasi antar profesional, dan prosedur keselamatan pasien akan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengurangi kejadian error. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Implementasi Prinsip ‘Enam / Tujuh Benar’
Prinsip 6/7 benar (benar pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi, dan alasan terapi yang benar) membantu memastikan setiap tahap pemberian obat dilakukan sesuai standar klinis. [Lihat sumber Disini - jki.ui.ac.id]
-
Kolaborasi Interprofesional
Kolaborasi antara dokter, perawat, apoteker, dan profesional kesehatan lainnya dalam rekonsiliasi obat serta review medik dapat mengurangi risiko kesalahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Analisis Risiko dan Manajemen Kegagalan
Pendekatan seperti Healthcare Failure Mode and Effect Analysis (HFMEA) digunakan untuk mengidentifikasi potensi risk points dan merancang tindakan pencegahan sebelum terjadinya kesalahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Kesimpulan
Kesalahan pemberian obat (medication error) adalah suatu kejadian preventable yang mencakup kesalahan pada berbagai tahap siklus penggunaan obat, termasuk prescribing, transcribing, dispensing, administration, dan monitoring. Peristiwa ini tetap menjadi tantangan signifikan dalam pelayanan kesehatan yang berdampak pada keselamatan pasien, kepercayaan pasien, serta menambah beban ekonomi dan sistem kesehatan secara keseluruhan. Beragam faktor risiko, mulai dari faktor tenaga kesehatan, sistem, obat, hingga pasien memengaruhi frekuensi kejadian medication errors. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan pendekatan terintegrasi yang mencakup pelaporan insiden, penggunaan teknologi informasi, pelatihan berkelanjutan, penerapan prinsip 6/7 benar, kolaborasi lintas profesi, serta analisis risiko sistemik. Implementasi strategi-strategi tersebut dapat membantu meminimalkan kejadian kesalahan pemberian obat dan memperkuat keselamatan pasien secara menyeluruh.