Terakhir diperbarui: 28 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 28 December). Kesalahan Pemberian Obat: Konsep, Risiko, dan Pencegahan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kesalahan-pemberian-obat-konsep-risiko-dan-pencegahan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kesalahan Pemberian Obat: Konsep, Risiko, dan Pencegahan - SumberAjar.com

Kesalahan Pemberian Obat: Konsep, Risiko, dan Pencegahan

Pendahuluan

Keselamatan pasien adalah pilar utama dalam pelayanan kesehatan modern. Di tengah kompleksitas pelayanan medis, pemberian obat yang tepat dan aman menjadi salah satu aspek yang paling kritis untuk menjamin hasil terapi yang optimal dan meminimalkan dampak buruk bagi pasien. Namun, kesalahan dalam proses pemberian obat (medication error) masih menjadi tantangan global yang signifikan dalam praktik klinis di berbagai fasilitas kesehatan, bahkan di era modern ini kelompok peneliti menyebutnya sebagai salah satu penyebab utama insiden keselamatan pasien yang dapat dicegah. Kejadian tersebut dapat terjadi dalam berbagai fase pelayanan obat, mulai dari peresepan oleh dokter hingga pemberian obat oleh perawat atau pasien sendiri, dan berpotensi menimbulkan konsekuensi klinis yang serius termasuk cedera atau bahkan kematian pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Definisi Kesalahan Pemberian Obat

Definisi Kesalahan Pemberian Obat Secara Umum

Kesalahan pemberian obat, secara umum, merujuk pada setiap kejadian yang dapat dihindari, yang menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat atau berpotensi membahayakan pasien. Istilah ini mencakup berbagai situasi seperti memberikan obat yang salah, dosis yang tidak tepat, atau pada waktu atau rute pemberian yang tidak sesuai standar klinis. Dalam literatur medis, fenomena ini bukan hanya tentang error teknis, tetapi juga mencakup kesalahan sistemik yang muncul selama proses rantai penggunaan obat tersebut. [Lihat sumber Disini - cdn.who.int]

Definisi Kesalahan Pemberian Obat dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “kesalahan” didefinisikan sebagai ketidaktepatan, kekeliruan atau perilaku yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sementara itu “pemberian obat” merujuk pada kegiatan memberikan sediaan obat kepada pasien sesuai dengan resep atau indikasi yang telah ditetapkan oleh tenaga kesehatan. Dengan demikian “kesalahan pemberian obat” dapat ditafsirkan sebagai suatu tindakan yang tidak tepat dalam rangka menyerahkan atau mengadministrasikan obat kepada pasien sesuai dengan kaidah klinis dan aturan farmakoterapi yang berlaku. (KBBI Online).

Definisi Kesalahan Pemberian Obat Menurut Para Ahli

  1. Menurut World Health Organization (WHO), medication error adalah setiap kejadian yang dapat dicegah yang dapat menyebabkan atau mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat atau melukai pasien ketika obat itu berada di bawah kontrol tenaga kesehatan, pasien, atau konsumen. [Lihat sumber Disini - cdn.who.int]

  2. Aronson & Ferner menjelaskan bahwa kesalahan pengobatan mencakup kegagalan dalam proses terapi yang memiliki potensi sangat besar menyebabkan kerugian atau bahaya bagi pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

  3. Dalam review ilmiah lainnya, kesalahan pemberian obat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diinginkan dalam siklus penggunaan obat yang melibatkan tahap penulisan resep, pengumpulan, penyiapan, pemberian, dan pemantauan yang tidak sesuai dengan standar perawatan klinis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  4. Menurut publikasi medis dari National Institutes of Health (NCBI), medication error merupakan salah satu sumber utama cedera pasien yang dapat dicegah di setting kesehatan karena sering kali berkaitan dengan aktivitas manusia atau kegagalan sistem. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Jenis Kesalahan Pemberian Obat

Kesalahan pemberian obat dapat terjadi pada tiap tahap proses penggunaan obat di fasilitas layanan kesehatan atau bahkan di tingkat pasien sendiri. Menurut berbagai studi dan narasi ilmiah, kesalahan tersebut dibagi menjadi beberapa kategori utama: [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]

  1. Prescribing Error

    Jenis ini terjadi ketika ada kesalahan saat dokter atau penyedia layanan menuliskan resep. Kesalahan dapat berupa dosis yang salah, frekuensi pemberian yang tidak sesuai, penggunaan obat yang tidak tepat indikasi, atau penulisan resep yang tidak jelas sehingga berpotensi disalahartikan oleh petugas berikutnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  2. Transcribing Error

    Kesalahan ini muncul ketika informasi obat diolah atau dipindahkan ke sistem lain, seperti saat petugas kesehatan menyalin resep ke catatan medis atau sistem komputer. Ketidakjelasan tulisan atau kekeliruan dalam memasukkan informasi dosis dan nama obat menjadi ciri utama transcribing error. [Lihat sumber Disini - nusantarahasanajournal.com]

  3. Dispensing Error

    Kesalahan ini terjadi di apotek atau instalasi farmasi ketika obat disiapkan atau diserahkan kepada pasien. Kesalahan ini dapat berupa pemberian obat yang salah, label yang keliru, atau instruksi penggunaan yang tidak tepat pada kemasan obat. [Lihat sumber Disini - nusantarahasanajournal.com]

  4. Administration Error

    Kesalahan terjadi saat obat diberikan kepada pasien oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Contohnya termasuk pemberian obat yang salah pada pasien yang salah, dosis yang tidak tepat, waktu pemberian yang tertunda atau rute yang tidak sesuai. [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]

  5. Monitoring Error

    Kesalahan yang terjadi setelah pemberian obat saat pasien tidak ditindaklanjuti atau pemantauan efek obat tidak dilakukan dengan cukup ketat sehingga potensi efek buruk tidak terdeteksi atau direspon dengan tepat. [Lihat sumber Disini - pharmaceuticalpress.com]


Faktor Risiko Terjadinya Kesalahan Obat

Berbagai penelitian dan review jurnal telah mengidentifikasi beragam faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kesalahan pemberian obat. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari tenaga kesehatan, sistem pelayanan, hingga karakteristik pasien itu sendiri: [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  1. Faktor Tenaga Kesehatan

    Tenaga kesehatan yang kurang berpengalaman, kelelahan, beban kerja tinggi, kurangnya pengetahuan klinis obat, serta masalah komunikasi dengan tim lintas profesi menjadi penyebab utama kesalahan, terutama pada tahap prescribing dan administration. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Faktor Sistem dan Lingkungan Kerja

    Ketidakteraturan dalam sistem kerja seperti dokumentasi yang buruk, kurangnya penggunaan teknologi informasi, gangguan di lingkungan kerja, serta tidak adanya sistem rekonsiliasi obat yang memadai dapat meningkatkan risiko terjadinya kesalahan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  3. Faktor Obat itu Sendiri

    Obat dengan nama atau kemasan yang mirip, instruksi yang kompleks atau kurang jelas, serta obat high-alert yang memiliki rentang dosis sempit menambah kemungkinan terjadi error saat penyimpanan atau pemberian obat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Faktor Pasien

    Pasien dengan usia lanjut, polifarmasi (mengonsumsi banyak obat sekaligus), dan pasien dengan kondisi komorbiditas yang kompleks memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesalahan obat karena kebutuhan terapinya yang rumit dan pengawasan yang intensif diperlukan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Kesalahan Obat terhadap Keselamatan Pasien

Kesalahan pemberian obat tidak hanya berdampak secara klinis terhadap pasien, tetapi juga memberikan efek negatif terhadap sistem kesehatan secara keseluruhan: [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  1. Dampak Klinis Langsung

    Kesalahan pemberian obat dapat menyebabkan reaksi obat yang serius, perforasi organ, gagal terapi, atau efek samping berat yang bahkan bisa berujung pada kematian pasien jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Krisis Kepercayaan Pasien

    Pasien yang mengalami kesalahan obat sering kehilangan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan, yang selanjutnya dapat menghambat keterlibatan pasien dalam proses perawatan mereka sendiri. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Beban Ekonomi

    Kesalahan pemberian obat menyebabkan biaya kesehatan meningkat akibat perawatan lanjutan, rawat inap yang diperpanjang, pemeriksaan tambahan, serta tuntutan hukum yang mungkin terjadi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Beban Sistem Kesehatan

    Insiden kesalahan obat menciptakan kebutuhan terhadap sumber daya tambahan untuk investigasi, pelaporan insiden, serta strategi pencegahan ulang yang mendesak, sementara waktu dan biaya harus dialokasikan dari sumber daya yang terbatas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Sistem Pelaporan Kesalahan Pemberian Obat

Sistem pelaporan kesalahan obat memainkan peran penting dalam meningkatkan keselamatan pasien karena dapat menjadi sumber data untuk analisis penyebab dan perbaikan sistem: [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  1. Pelaporan Insiden serta Analisis

    Sistem pelaporan insiden standar memungkinkan profesional kesehatan melaporkan kejadian kesalahan tanpa takut represiasi dan kemudian dianalisis untuk menemukan akar penyebab. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Database Nasional atau Institusi

    Beberapa fasilitas memiliki database insiden keselamatan yang mencatat setiap kejadian medication error untuk dianalisis tren dan risiko yang berulang. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  3. Checklist dan Sistem Pemberitahuan

    Penggunaan checklists dan sistem pemberitahuan yang mendukung transparansi insiden serta mendorong pelaporan kesalahan sehingga dapat dilakukan pendidikan ulang atau perbaikan SOP. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Strategi Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat

Pencegahan kesalahan pemberian obat membutuhkan pendekatan multidisipliner yang terintegrasi di seluruh proses layanan kesehatan: [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

  1. Penggunaan Teknologi Informasi

    Mengimplementasikan sistem e-prescribing atau clinical decision support dapat mengurangi risiko prescribing dan transcribing errors dengan menyediakan panduan dosis dan peringatan otomatis. [Lihat sumber Disini - nature.com]

  2. Pelatihan dan Pendidikan Berkelanjutan

    Pelatihan rutin terkait prinsip pemberian obat yang tepat, komunikasi antar profesional, dan prosedur keselamatan pasien akan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengurangi kejadian error. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

  3. Implementasi Prinsip ‘Enam / Tujuh Benar’

    Prinsip 6/7 benar (benar pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi, dan alasan terapi yang benar) membantu memastikan setiap tahap pemberian obat dilakukan sesuai standar klinis. [Lihat sumber Disini - jki.ui.ac.id]

  4. Kolaborasi Interprofesional

    Kolaborasi antara dokter, perawat, apoteker, dan profesional kesehatan lainnya dalam rekonsiliasi obat serta review medik dapat mengurangi risiko kesalahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

  5. Analisis Risiko dan Manajemen Kegagalan

    Pendekatan seperti Healthcare Failure Mode and Effect Analysis (HFMEA) digunakan untuk mengidentifikasi potensi risk points dan merancang tindakan pencegahan sebelum terjadinya kesalahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]


Kesimpulan

Kesalahan pemberian obat (medication error) adalah suatu kejadian preventable yang mencakup kesalahan pada berbagai tahap siklus penggunaan obat, termasuk prescribing, transcribing, dispensing, administration, dan monitoring. Peristiwa ini tetap menjadi tantangan signifikan dalam pelayanan kesehatan yang berdampak pada keselamatan pasien, kepercayaan pasien, serta menambah beban ekonomi dan sistem kesehatan secara keseluruhan. Beragam faktor risiko, mulai dari faktor tenaga kesehatan, sistem, obat, hingga pasien memengaruhi frekuensi kejadian medication errors. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan pendekatan terintegrasi yang mencakup pelaporan insiden, penggunaan teknologi informasi, pelatihan berkelanjutan, penerapan prinsip 6/7 benar, kolaborasi lintas profesi, serta analisis risiko sistemik. Implementasi strategi-strategi tersebut dapat membantu meminimalkan kejadian kesalahan pemberian obat dan memperkuat keselamatan pasien secara menyeluruh.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kesalahan pemberian obat adalah setiap kejadian yang dapat dicegah yang menyebabkan penggunaan obat tidak tepat atau berpotensi membahayakan pasien, baik pada tahap peresepan, penyiapan, pemberian, maupun pemantauan terapi obat.

Jenis kesalahan pemberian obat meliputi prescribing error (kesalahan peresepan), transcribing error (kesalahan penyalinan), dispensing error (kesalahan penyiapan obat), administration error (kesalahan pemberian kepada pasien), dan monitoring error (kesalahan pemantauan efek obat).

Faktor risiko kesalahan pemberian obat meliputi kelelahan tenaga kesehatan, beban kerja tinggi, kurangnya komunikasi tim, sistem dokumentasi yang lemah, kemiripan nama atau kemasan obat, serta kondisi pasien seperti usia lanjut dan polifarmasi.

Kesalahan pemberian obat dapat menyebabkan efek samping serius, kegagalan terapi, perpanjangan masa rawat, peningkatan biaya kesehatan, hingga risiko kematian, serta menurunkan kepercayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan.

Pencegahan kesalahan pemberian obat dilakukan melalui penerapan prinsip enam atau tujuh benar, penggunaan teknologi seperti e-prescribing, pelatihan berkelanjutan tenaga kesehatan, sistem pelaporan insiden tanpa hukuman, serta kolaborasi interprofesional dalam pelayanan kesehatan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat Keamanan Penggunaan Obat Selama Puasa Keamanan Penggunaan Obat Selama Puasa Penggunaan Obat Tanpa Resep Penggunaan Obat Tanpa Resep Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Risiko Interaksi Obat pada Lansia Risiko Interaksi Obat pada Lansia Interaksi Obat: Konsep, Risiko Klinis, dan Pencegahan Interaksi Obat: Konsep, Risiko Klinis, dan Pencegahan Pengaruh Minuman Bersoda terhadap Efektivitas Obat Pengaruh Minuman Bersoda terhadap Efektivitas Obat Penggunaan Obat Rasional: Konsep, Prinsip Terapi, dan Implikasi Penggunaan Obat Rasional: Konsep, Prinsip Terapi, dan Implikasi Persepsi Pasien terhadap Obat Lepas Lambat Persepsi Pasien terhadap Obat Lepas Lambat Rasionalitas Penggunaan Obat Rasionalitas Penggunaan Obat Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Analisis Penggunaan Obat di IGD Analisis Penggunaan Obat di IGD Penggunaan Obat OTC pada Keluhan Ringan Penggunaan Obat OTC pada Keluhan Ringan Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Bebas Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Bebas Risiko Interaksi Suplemen-Obat Risiko Interaksi Suplemen-Obat Edukasi Obat: Konsep, Efektivitas, dan Tantangan Implementasi Edukasi Obat: Konsep, Efektivitas, dan Tantangan Implementasi Obat OTC: Konsep, Keamanan Penggunaan, dan Rasionalitas Obat OTC: Konsep, Keamanan Penggunaan, dan Rasionalitas Evaluasi Ketepatan Penggunaan Obat Batuk Evaluasi Ketepatan Penggunaan Obat Batuk
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…