
Risiko Interaksi Obat pada Lansia
Pendahuluan
Kebutuhan pengobatan pada lansia semakin kompleks seiring bertambahnya usia dan munculnya berbagai penyakit kronis yang menyertai. Lansia cenderung mengonsumsi lebih dari satu obat sekaligus, suatu keadaan yang dikenal sebagai polypharmacy, yang secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Interaksi obat ini bukan sekadar perubahan kecil dalam efek obat, melainkan berpotensi menyebabkan efek samping yang serius, kegagalan terapi, hingga membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa lansia yang menggunakan banyak obat secara bersamaan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami reaksi obat yang merugikan dibandingkan dengan populasi yang lebih muda, karena adanya perubahan fisiologis terkait usia seperti penurunan fungsi ginjal dan hati yang memengaruhi metabolisme obat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Risiko Interaksi Obat pada Lansia
Definisi Risiko Interaksi Obat Secara Umum
Interaksi obat secara umum mengacu pada kejadian ketika efek satu obat berubah karena adanya pengaruh dari obat lain, makanan, atau zat lain yang dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi ini dapat meningkatkan atau menurunkan efektivitas suatu obat, serta memicu efek samping yang tidak diinginkan. Risiko tersebut dapat terjadi ketika dua atau lebih obat berinteraksi secara farmakokinetik (pengaruh satu obat terhadap penyerapan, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat lain) atau secara farmakodinamik (pengaruh satu obat terhadap mekanisme kerja obat lain di tingkat reseptor atau sistem tubuh). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Risiko Interaksi Obat dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah interaksi obat dapat diartikan sebagai “pengaruh timbal balik antara dua atau lebih obat yang dapat menimbulkan perubahan khasiat atau efek obat”. Definisi ini mencerminkan perubahan respon terapeutik yang terjadi bila obat-obatan tertentu dikonsumsi bersamaan, yang dapat meningkatkan efek samping atau menurunkan manfaat klinis obat itu sendiri. (Link sumber KBBI: [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])
Definisi Risiko Interaksi Obat Menurut Para Ahli
-
Dr. Elizabeth Bลeszyลska, Menyatakan bahwa interaksi obat merupakan salah satu kesalahan medis yang bisa dicegah, dan dalam konteks lansia, lebih dari satu dari enam pasien lansia berisiko signifikan mengalami interaksi obat yang merugikan akibat penggunaan banyak obat sekaligus. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
RM Alhumaidi et al., Menyebutkan bahwa risiko interaksi obat meningkat secara eksponensial dengan jumlah obat yang dikonsumsi; misalnya, dengan tujuh atau lebih obat, risiko reaksi merugikan sangat tinggi pada populasi lansia. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
F. Pazan & M. Wehling, Mengkaji bahwa polypharmacy dan interaksi obat berkontribusi pada berbagai konsekuensi klinis negatif, terutama pada pasien usia lanjut dengan multimorbiditas. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
-
WHO dan pakar farmakologi klinis, Menekankan bahwa polypharmacy dan perubahan fisiologis lansia membuat populasi ini sangat rentan terhadap interaksi obat yang dapat memicu efek samping serius dan menurunkan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - who.int]
Faktor Risiko Interaksi Obat pada Populasi Lansia
Pada lansia, adanya beberapa faktor risiko membuat interaksi obat lebih sering dan lebih serius dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Faktor risiko tersebut melibatkan aspek fisiologis, klinis, dan praktik pemberian obat.
1. Perubahan Fisiologis Terkait Usia
Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan fungsi organ yang memengaruhi cara tubuh menangani obat. Penurunan fungsi ginjal dan hati yang umum dijumpai pada lansia dapat mengganggu metabolisme dan ekskresi obat, sehingga konsentrasi obat dalam darah dapat meningkat dan memperbesar risiko interaksi. Kondisi ini membuat lansia lebih rentan terhadap efek samping dan interaksi obat yang tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - hopkinsmedicine.org]
2. Multimorbiditas (Banyak Penyakit Penyerta)
Lansia sering memiliki lebih dari satu penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes, gangguan kardiovaskular, dan lain-lain. Keadaan ini membuat pengobatan menjadi lebih kompleks karena perlu berbagai jenis obat untuk tiap kondisi, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi antarobat. [Lihat sumber Disini - mji.ui.ac.id]
3. Polypharmacy
Polypharmacy, biasanya didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan, merupakan faktor risiko utama terjadinya interaksi obat pada lansia. Semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan timbulnya interaksi yang merugikan. Risiko interaksi dan efek samping meningkat secara drastis saat jumlah obat bertambah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
4. Ketidaksesuaian Resep (Inappropriate Prescribing)
Beberapa resep obat pada lansia mungkin tidak tepat berdasarkan kondisi klinis mereka, terutama jika tidak mempertimbangkan kriteria seperti Beers Criteria yang menilai obat yang berpotensi berbahaya pada lansia. Ketidaktepatan ini dapat memperbesar risiko interaksi dan efek samping yang serius. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
5. Ketidakpatuhan Pasien terhadap Penggunaan Obat
Lansia kadang mengalami kesulitan dalam mengikuti jadwal obat yang kompleks, entah karena lupa, efek samping, atau karena resep yang tidak dipahami jelas, yang dapat meningkatkan risiko kombinasi obat yang tidak aman atau kejadian interaksi yang tidak terkontrol.
Dampak Polifarmasi terhadap Interaksi Obat
Polypharmacy adalah salah satu faktor risiko terbesar dalam interaksi obat pada lansia. Definisi umum clinical practice mendeskripsikan polypharmacy sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara reguler oleh individu, terutama lansia, sebagai akibat dari banyaknya kondisi kronis yang harus diobati. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
1. Peningkatan Risiko Interaksi Obat-Obat (Drug, Drug Interactions)
Semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin tinggi kemungkinan obat, obat saling memengaruhi secara farmakokinetik atau farmakodinamik. Misalnya, beberapa obat dapat memengaruhi metabolisme obat lain melalui enzim di hati sehingga efektivitas atau toksisitas obat berubah secara signifikan. Interaksi ini dapat menyebabkan terapi tidak efektif atau malah berbahaya. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]
2. Peningkatan Risiko Reaksi Obat Merugikan (ADR)
Polypharmacy tidak hanya meningkatkan peluang interaksi antar obat, tetapi juga berkaitan erat dengan peningkatan kejadian ADR. Data menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah obat yang dikonsumsi dapat meningkatkan risiko ADR secara eksponensial. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
3. Kompleksitas Pengelolaan Terapi
Dengan banyaknya obat, perencanaan terapi menjadi lebih rumit, tidak hanya bagi pasien tetapi juga tenaga kesehatan. Kesalahan dalam dosis, jadwal pemberian, dan kurangnya pemantauan dapat memperburuk efek interaksi obat yang merugikan.
4. Biaya Perawatan yang Lebih Tinggi
Polypharmacy seringkali dikaitkan dengan peningkatan biaya perawatan karena rawat inap karena efek samping obat, kunjungan konsultasi tambahan dan kebutuhan untuk penyesuaian terapi oleh tenaga kesehatan.
Peran Pemantauan Obat oleh Tenaga Kesehatan
Pemantauan obat oleh tenaga kesehatan merupakan strategi kunci dalam mengurangi risiko interaksi obat pada lansia yang menggunakan banyak obat. Peran ini melibatkan beberapa aktivitas penting:
1. Review Resep dan Medication Reconciliation
Tenaga kesehatan, terutama apoteker klinik, melakukan tinjauan menyeluruh terhadap resep obat untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat, obat dan memastikan bahwa setiap obat masih relevan dengan kondisi pasien. Proses ini juga mencakup medication reconciliation, yang berarti memeriksa kesesuaian obat saat pasien pindah antar unit layanan kesehatan atau kembali ke perawatan primer. [Lihat sumber Disini - lms.kemkes.go.id]
2. Penggunaan Alat Skrining Interaksi
Tenaga kesehatan menggunakan perangkat lunak screening obat atau basis data interaksi seperti Lexicomp® atau Medscape® untuk mengevaluasi kemungkinan interaksi dan menentukan tingkat keparahan interaksi yang mungkin terjadi. Hal ini membantu dalam membuat keputusan klinis yang aman. [Lihat sumber Disini - healthcare-bulletin.co.uk]
3. Pemberian Edukasi kepada Pasien dan Keluarga
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya penggunaan obat sesuai instruksi, potensi interaksi, dan tanda-tanda ADR membantu meningkatkan kepatuhan terapi dan meminimalkan kejadian tidak diinginkan karena kombinasi obat yang tidak tepat.
4. Kolaborasi Interprofesional
Pemantauan obat yang efektif membutuhkan kolaborasi antara dokter, apoteker, perawat, dan profesional kesehatan lainnya. Koordinasi ini memastikan bahwa perubahan dalam kondisi pasien atau terapi obat dapat segera ditindaklanjuti untuk menghindari interaksi yang merugikan.
Risiko Klinis akibat Interaksi Obat
Interaksi obat pada lansia dapat membawa berbagai konsekuensi klinis yang signifikan dan berbahaya:
1. Terjadinya Efek Samping Serius dan ADR
Interaksi obat dapat menyebabkan ADR yang serius, seperti perdarahan akibat kombinasi antikoagulan dan NSAID atau perubahan tekanan darah akibat interaksi antihipertensi dan obat lain, yang dapat mengancam nyawa jika tidak dikenali. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
2. Penurunan Efektivitas Terapi
Beberapa interaksi obat dapat menurunkan efektivitas obat utama, menyebabkan kondisi klinis pasien tidak membaik atau bahkan memburuk, sehingga terapi menjadi tidak efektif dan memerlukan perubahan terapi yang tidak direncanakan.
3. Rawat Inap dan Komplikasi Akibat Interaksi
Interaksi obat yang tidak terkelola dapat meningkatkan risiko rawat inap karena komplikasi seperti tekanan darah tidak stabil, gangguan ritme jantung, atau sindrom toksisitas obat.
4. Gangguan Fungsional dan Kualitas Hidup
Akibat interaksi obat yang tidak diantisipasi dapat menyebabkan gangguan pada kemampuan fungsional lansia, seperti jatuh, kebingungan atau delirium, dan penurunan kualitas hidup secara umum.
Strategi Pencegahan Interaksi Obat pada Lansia
Strategi pencegahan interaksi obat harus bersifat komprehensif dan dilakukan secara berkelanjutan oleh tim kesehatan:
1. Optimalisasi Reviu Resep Rutin
Melakukan reviu obat secara berkala untuk mengevaluasi kebutuhan setiap obat yang diberikan, terutama pada pasien dengan banyak penyakit kronis yang memerlukan terapi kompleks.
2. Deprescribing Ketika Tepat
Deprescribing adalah proses menghentikan atau menurunkan dosis obat yang tidak lagi diperlukan atau berpotensi berbahaya, yang dapat membantu mengurangi risiko interaksi obat sekaligus ADR. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
3. Edukasi Pasien Terencana
Memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai tata cara penggunaan obat, jadwal minum obat, serta tanda-tanda awal adanya interaksi obat membantu pasien dan keluarga untuk aktif berpartisipasi dalam pencegahan.
4. Penggunaan Alat Klinis dan Panduan
Mengaplikasikan kriteria seperti Beers Criteria atau STOPP/START dalam praktik klinis untuk mengidentifikasi obat yang berisiko tinggi dan mengurangi kejadian interaksi yang tidak diinginkan.
5. Integrasi Teknologi Informasi
Sistem rekam medis elektronik dan alat pendukung keputusan klinis dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi potensi interaksi sebelum meresepkan obat baru.
Kesimpulan
Risiko interaksi obat pada lansia merupakan isu klinis yang signifikan akibat perubahan fisiologis terkait usia, multimorbiditas, dan prevalensi penggunaan banyak obat (polypharmacy). Interaksi obat dapat memicu efek samping serius, mengurangi efektivitas terapi, dan meningkatkan rawat inap serta biaya perawatan. Pemantauan obat yang efektif oleh tenaga kesehatan, termasuk review resep, penggunaan alat skrining interaksi, edukasi pasien, dan kolaborasi tim kesehatan, menjadi strategi penting dalam mengurangi risiko tersebut. Pencegahan interaksi obat juga melibatkan deprescribing yang tepat, edukasi berkelanjutan kepada pasien, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung keputusan klinis yang aman dan efektif.