
Manajemen Fatigue Pasien: Konsep dan Intervensi
Pendahuluan
Kelelahan atau fatigue merupakan masalah klinis yang sering dialami oleh pasien, terutama mereka dengan penyakit kronis atau menjalani terapi jangka panjang, seperti pasien hemodialisis, penyakit degeneratif, atau kondisi kronis lainnya. Fatigue ini bukan sekadar “ngantuk biasa” atau lelah setelah aktivitas berat, melainkan kondisi kompleks yang melibatkan penurunan energi, kapabilitas fisik dan mental, serta gangguan fungsi sehari-hari. Jika tidak diidentifikasi dan dikelola dengan baik, fatigue dapat menghambat pemulihan, menurunkan kualitas hidup, dan memperburuk kondisi kesehatan pasien. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang definisi, jenis, penyebab, dampak, penilaian, serta intervensi keperawatan sangat penting untuk manajemen keperawatan yang optimal.
Definisi Fatigue
Definisi Fatigue Secara Umum
Kata "fatigue" secara umum mengacu pada kondisi kelelahan atau penurunan energi setelah aktivitas fisik atau mental. Secara sederhana, fatigue menggambarkan rasa “lelah”, “lesu”, “kurang tenaga”, atau “berkurangnya kapasitas kerja/aktivitas”. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Fatigue dalam KBBI
Menurut beberapa literatur keperawatan di Indonesia, fatigue atau “keletihan/kelelahan” didefinisikan sebagai penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih meskipun telah beristirahat. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
Definisi Fatigue Menurut Para Ahli
Beberapa definisi fatigue menurut para ahli atau literatur keperawatan/ilmiah antara lain:
-
Literatur tinjauan kelelahan menyebutkan bahwa fatique berasal dari Bahasa Latin “fatigare” yang berarti “hilang/lenyap”, dan dalam konteks kelelahan dapat diartikan sebagai perubahan dari kondisi lebih kuat ke kondisi lebih lemah. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Dalam konteks kelelahan kerja atau keletihan, fatigue diartikan sebagai perpaduan penurunan fungsi mental dan fisik, yang menghasilkan berkurangnya semangat dan efisiensi aktivitas seseorang. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Menurut diagnosa keperawatan pada standar Indonesia, fatigue atau “keletihan” sebagai diagnosis keperawatan adalah penurunan kapasitas fisik dan mental pasien yang tidak pulih dengan istirahat. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
Dengan demikian, fatigue jika dikaitkan dengan keperawatan adalah kondisi multidimensional, meliputi aspek fisik dan mental, yang mengganggu kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas normal.
Jenis Fatigue
Dalam praktik keperawatan dapat dibedakan beberapa jenis fatigue berdasarkan karakteristiknya:
-
Fatigue Fisik, kelelahan yang terutama berkaitan dengan fungsi fisik: penurunan tenaga, rasa lemah, sulit mempertahankan aktivitas fisik, terasa berat, dsb.
-
Fatigue Mental (Psikologis), meliputi kelelahan pada aspek daya pikir, konsentrasi, motivasi; pasien mungkin mudah lupa, sulit berkonsentrasi, merasa beban pikiran, emosional lelah.
-
Fatigue Kronis, kondisi kelelahan yang berlangsung lama, tidak membaik meskipun sudah ada istirahat. Fatigue jenis ini sering ditemui pada pasien penyakit kronis atau pasien dengan terapi jangka panjang.
Jenis-jenis tersebut penting dipahami karena intervensi dan penilaian bisa berbeda tergantung jenis fatigue yang dialami.
Faktor Penyebab Fatigue
Fatigue pada pasien dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun kontekstual. Beberapa faktor penyebab yang sering ditemukan dalam literatur:
-
Penyakit kronis dan kondisi medis, misalnya pasien dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis cenderung mengalami fatigue. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Durasi dan frekuensi terapi / perawatan, pada pasien hemodialisis, lamanya menjalani hemodialisis terbukti berkorelasi dengan tingkat fatigue. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkeswhs.ac.id]
-
Penurunan status kesehatan: misalnya kadar hemoglobin rendah, perubahan tekanan darah, atau faktor fisiologis lain pada pasien ginjal kronik. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkeswhs.ac.id]
-
Faktor fisik & mental: penurunan fungsi fisik dan mental, ketidakmampuan mempertahankan aktivitas, penurunan stamina. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Faktor psikososial: stres, depresi, perubahan motivasi, beban emosional, perasaan gagal atau beban penyakit dapat memperparah fatigue. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Faktor lingkungan dan perawatan: ketidakseimbangan jadwal terapi, beban perawatan, kurangnya dukungan/pendampingan, rutinitas yang melelahkan. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
Dampak Fatigue terhadap Aktivitas Pasien
Fatigue yang tidak dikelola dapat memberikan dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan dan kesehatan pasien, antara lain:
-
Penurunan kualitas hidup: pada pasien kronik / hemodialisis, fatigue berkorelasi negatif dengan kualitas hidup, semakin tinggi fatigue, semakin rendah kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Gangguan fungsi sosial dan aktivitas sehari-hari: misalnya pasien kesulitan melakukan aktivitas rutin, mobilitas terbatas, sulit melakukan pekerjaan rumah atau kegiatan harian. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Gangguan psikologis: perasaan letih terus-menerus, mudah marah, stres, depresi, menurunnya motivasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gangguan tidur dan istirahat: fatigue bisa mengganggu pola tidur dan istirahat, sehingga istirahat pun tidak memulihkan kondisi secara optimal. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Membatasi efektivitas terapi dan perawatan: jika pasien lelah terus-menerus, partisipasi dalam terapi/pemulihan bisa menurun, menyebabkan progres pengobatan kurang optimal atau risiko komplikasi meningkat.
Penilaian Tingkat Fatigue
Penilaian fatigue pada pasien penting dilakukan untuk menentukan intervensi keperawatan yang tepat. Beberapa hal terkait penilaian fatigue:
-
Dalam kerangka diagnosis keperawatan menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), fatigue atau “keletihan” dikategorikan sebagai masalah fisiologis dalam domain aktivitas dan istirahat. Diagnosis ini mempertimbangkan tanda/ gejala seperti “energi tidak pulih walaupun sudah istirahat”, “merasa kurang tenaga”, “mengeluh lelah”, “tampak lesu”, serta dampak terhadap fungsi aktivitas pasien. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Untuk pasien kronis, penelitian menggunakan instrumen kuesioner seperti FACIT fatigue scale untuk mengukur tingkat kelelahan subjektif, misalnya pada pasien hemodialisis. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkeswhs.ac.id]
-
Penilaian juga dapat melibatkan observasi terhadap kemampuan aktivitas sehari-hari, stamina fisik, partisipasi dalam terapi, dan respons terhadap istirahat / perawatan, untuk membedakan antara fatigue ringan, sedang, atau berat.
Intervensi Keperawatan untuk Mengurangi Fatigue
Berbagai penelitian telah mengeksplorasi intervensi keperawatan non-farmakologis untuk mengurangi fatigue pada pasien. Beberapa intervensi efektif antara lain:
-
Teknik relaksasi pernapasan, misalnya Slow Deep Breathing (SDB). Sebuah studi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis menunjukkan bahwa penerapan SDB selama beberapa hari dapat menurunkan tingkat fatigue secara signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.linkpub.id]
-
Edukasi dan dukungan psikososial: mendampingi pasien, memberikan motivasi dan dukungan emosional, terutama pasien dengan penyakit kronis, terbukti membantu dalam menurunkan persepsi kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Monitoring dan manajemen faktor fisiologis: misalnya memantau kadar hemoglobin, tekanan darah, dan faktor lain bagi pasien dengan kondisi kronis, serta mengatur jadwal terapi agar tidak terlalu membebani pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkeswhs.ac.id]
-
Perencanaan aktivitas dan istirahat yang seimbang: membantu pasien mengatur waktu aktivitas dan istirahat secara optimal agar tidak berlebihan dan memberi ruang pemulihan. (Berdasar konsep fatigue sebagai penurunan kapasitas fisik/mental karena beban) [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
Contoh Kasus Manajemen Fatigue
Sebagai ilustrasi, berikut contoh kasus manajemen fatigue pada pasien kronik:
Pasien dengan Gagal Ginjal Kronik (GGK) menjalani hemodialisis secara rutin. Setelah beberapa sesi dialisis, pasien melaporkan rasa lelah berat, kurang energi, dan sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Penilaian dengan FACIT fatigue scale menunjukkan skor fatigue berat.
Perawat kemudian menerapkan intervensi dengan memberikan pelatihan dan praktik Slow Deep Breathing selama 3 hari berturut-turut. Setelah intervensi, pasien melaporkan penurunan keluhan kelelahan, fatigue berkurang dari berat ke ringan, dan mampu kembali melakukan aktivitas ringan serta merasa lebih bertenaga. [Lihat sumber Disini - journal.linkpub.id]
Kasus ini menunjukkan pentingnya penilaian awal dan intervensi keperawatan yang sistematis untuk mengelola fatigue, serta memberikan perawatan komprehensif, tidak hanya fokus pada penyakit fisik, tapi juga aspek psikososial dan pemulihan energi pasien.
Kesimpulan
Fatigue pada pasien, terutama pasien dengan penyakit kronis atau yang menjalani terapi jangka panjang, merupakan kondisi multidimensional yang melibatkan penurunan energi fisik dan mental, yang dapat mengganggu fungsi harian dan kualitas hidup. Definisi fatigue bisa berbeda tergantung konteks, namun dalam keperawatan fatigue diartikan sebagai penurunan kapasitas fisik dan mental yang tidak pulih dengan istirahat.
Identifikasi jenis fatigue (fisik, mental, kronis) serta faktor penyebabnya sangat penting untuk menentukan intervensi keperawatan yang tepat. Intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi pernapasan (slow deep breathing), edukasi dan dukungan psikososial, manajemen faktor fisiologis, serta perencanaan aktivitas-istirahat terbukti efektif dalam menurunkan tingkat fatigue dan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Dengan demikian, manajemen fatigue harus menjadi bagian integral dari asuhan keperawatan, terutama pada pasien kronis, demi mendukung pemulihan optimal dan meningkatkan kesejahteraan pasien.