
Perilaku Pasien dalam Menggunakan Obat Kortikosteroid
Pendahuluan
Obat kortikosteroid merupakan salah satu kelompok obat yang paling banyak digunakan dalam praktik medis modern karena kemampuan anti-inflamasi dan imunosupresifnya yang kuat. Meski demikian, penggunaan kortikosteroid tidak selalu aman tanpa pengawasan profesional kesehatan. Di berbagai populasi pasien, perilaku penggunaan obat ini seringkali dipengaruhi oleh tingkat pemahaman terhadap manfaat dan risiko, serta oleh faktor sosial-kultural dan sistem layanan kesehatan. Studi-studi menunjukkan bahwa banyak pasien memiliki pemahaman yang rendah terhadap indikasi penggunaan kortikosteroid, risiko efek samping, dan cara penggunaan yang tepat, sehingga meningkatkan kemungkinan penyalahgunaan atau penggunaan tidak rasional di masyarakat. Hal ini memerlukan perhatian dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi dan pemantauan agar penggunaan kortikosteroid lebih aman dan efektif. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Definisi Perilaku Pasien dalam Menggunakan Obat Kortikosteroid
Definisi Perilaku Pasien dalam Menggunakan Obat Kortikosteroid Secara Umum
Perilaku pasien dalam konteks penggunaan obat kortikosteroid mencakup semua tindakan yang dilakukan oleh pasien dalam memperoleh, mengonsumsi, menyimpan, dan mengelola obat ini berdasarkan pengalaman, informasi yang dimiliki, dan interaksi mereka dengan tenaga kesehatan. Ini termasuk sikap terhadap terapi, kepatuhan terhadap resep, keteraturan dalam mengambil dosis, serta praktek pengobatan sendiri (self-medication) yang sering terjadi ketika pasien menggunakan kortikosteroid tanpa supervisi medis. Perilaku ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan pasien tentang manfaat dan risiko serta pemahaman mereka terhadap petunjuk penggunaan. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Definisi Perilaku Pasien dalam Menggunakan Obat Kortikosteroid dalam KBBI
Istilah “perilaku” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti cara bertindak atau berprilaku, sikap, dan kebiasaan dalam konteks interaksi dengan lingkungan atau situasi tertentu. Dalam hal ini, perilaku pasien mencakup cara bertindak pasien dalam konteks penggunaan obat kortikosteroid, termasuk penerimaan informasi, proses pengambilan keputusan, dan penerapan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari saat menggunakan obat. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Perilaku Pasien dalam Menggunakan Obat Kortikosteroid Menurut Para Ahli
-
Sholeh, Fatmasari & Handayani (2025) menyatakan bahwa perilaku penggunaan kortikosteroid oleh pasien sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan mereka terhadap obat tersebut. Banyak pasien menunjukkan tingkat pengetahuan yang rendah, yang berdampak pada kecenderungan mereka untuk menggunakan obat tanpa pemahaman yang benar tentang risiko atau indikasinya. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
-
Kurniawan & Yunaftri (2023) menunjukkan bahwa ketepatan penggunaan obat kortikosteroid sangat bergantung pada pemahaman pasien terhadap dosis dan indikasi, dan kurangnya pemahaman ini dapat meningkatkan probabilitas terjadinya efek buruk seperti sindroma Cushing. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]
-
Dhaneswari (2024) dalam penelitiannya menekankan bahwa perilaku pembelian dan penggunaan kortikosteroid tanpa pengawasan medis (swamedikasi) merupakan faktor yang memperbesar risiko efek samping dan interaksi obat yang berbahaya, sehingga melibatkan apoteker dan penyedia layanan kesehatan dalam edukasi dan pemantauan sangat penting. [Lihat sumber Disini - jurnalmadanimedika.ac.id]
-
Budiawan (2023) menggarisbawahi bahwa perilaku masyarakat dalam penggunaan steroid tanpa penerangan yang memadai berkontribusi terhadap penggunaan yang tidak rasional dan meningkatkan risiko efek samping jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ojs.unimal.ac.id]
Tingkat Pemahaman terhadap Risiko Kortikosteroid
Pemahaman pasien terhadap risiko penggunaan kortikosteroid merupakan salah satu faktor kunci yang mempengaruhi perilaku penggunaan obat ini. Penelitian di Apotek Banyubiru Sehat menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait penggunaan dan risiko kortikosteroid, dengan hanya sekitar 13, 33 % memiliki pemahaman baik, sementara sebagian besar (66, 67 %) menunjukkan tingkat pengetahuan yang buruk. Hal ini mencerminkan rendahnya kesadaran pasien terhadap risiko efek samping yang serius dan indikasi penggunaan yang tepat. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Tingkat pemahaman ini penting karena kortikosteroid memiliki profil efek samping yang luas, termasuk risiko peningkatan tekanan darah, osteoporosis, diabetes dan supresi adrenal jika digunakan secara tidak tepat atau dalam jangka panjang. Efek-efek samping ini dapat terjadi tanpa adanya tanda awal yang dirasakan pasien, sehingga pemahaman awal terhadap potensi risiko sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap petunjuk medis dan pengawasan tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, tingkat pemahaman juga memengaruhi kecenderungan pasien dalam melakukan self-medication dengan kortikosteroid, yang dapat berujung pada penggunaan tidak sesuai dosis atau durasi yang direkomendasikan. Kondisi ini tetap menjadi tantangan besar dalam praktik klinis, terutama di populasi dimana akses informasi kesehatan tidak merata. [Lihat sumber Disini - jurnalmadanimedika.ac.id]
Faktor yang Mendorong Penggunaan Berlebihan
Berbagai faktor dapat mendorong pasien menggunakan kortikosteroid secara berlebihan atau tidak sesuai anjuran dokter. Faktor utama meliputi rendahnya pendidikan tentang obat dan risiko efek samping, persepsi bahwa obat ini “cepat menyembuhkan” atau ampuh tanpa melihat indikasi medis, serta kebiasaan pengobatan sendiri yang tidak diawasi tenaga kesehatan. Ketidaktahuan terhadap dosis dan durasi terapi yang benar juga turut memperbesar kemungkinan penggunaan bertingkat tinggi dan berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Lebih jauh lagi, pola pembelian obat kortikosteroid di apotek tanpa resep atau supervisi medis menunjukkan adanya sikap pengabaian terhadap konsultasi dengan tenaga kesehatan, yang akhirnya menimbulkan penggunaan obat yang tidak tepat. Perilaku ini sering dipicu oleh pengalaman pribadi atau saran dari keluarga dan teman, sehingga mendorong pasien untuk mengambil keputusan pengobatan tanpa bimbingan profesional. [Lihat sumber Disini - jurnalmadanimedika.ac.id]
Faktor lain yang memengaruhi perilaku berlebihan termasuk harapan pasien terhadap hasil cepat dari terapi dan kurangnya kepercayaan terhadap tenaga kesehatan, serta tekanan ekonomi yang membuat pasien menunda kontrol medis sehingga mengambil obat sendiri. Interaksi obat yang tidak disadari juga merupakan salah satu faktor risiko tambahan jika kortikosteroid digunakan bersamaan dengan obat lain tanpa informasi yang cukup. [Lihat sumber Disini - jurnalmadanimedika.ac.id]
Dampak Efek Samping terhadap Perilaku Penggunaan
Efek samping kortikosteroid dapat memengaruhi perilaku penggunaan pasien secara signifikan. Efek-efek seperti moon face, kenaikan berat badan, dan gangguan metabolik sering menimbulkan ketidaknyamanan fisik yang dapat memicu pasien berhenti menggunakan obat secara tiba-tiba atau mencari alternatif tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Efek samping lain yang kurang jelas atau lambat muncul seperti osteoporosis, hipertensi, atau hiperglikemia dapat membuat pasien meremehkan pentingnya pemantauan dan penyesuaian terapi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain dampak fisik, efek samping juga dapat menimbulkan perubahan psikologis atau emosional pada pasien, termasuk perubahan suasana hati atau gangguan perilaku yang terkait dengan penggunaan jangka panjang kortikosteroid. Hal ini dapat memengaruhi pengalaman subjektif penggunaan obat dan menimbulkan sikap skeptis terhadap terapi lanjutan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Perilaku penggunaan dapat menjadi lebih kompleks ketika pasien tidak menyadari keterkaitan antara efek samping yang mereka alami dengan penggunaan kortikosteroid. Pengetahuan yang rendah tentang efek samping sering kali membuat pasien tidak melaporkan gejala baru kepada tenaga kesehatan, sehingga terapi tidak disesuaikan untuk meminimalkan risiko yang terjadi. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Peran Edukasi dalam Mencegah Penyalahgunaan
Edukasi pasien memiliki peran penting dalam mencegah penyalahgunaan dan penggunaan yang tidak rasional dari kortikosteroid. Melalui edukasi yang tepat, pasien dapat memahami risiko, manfaat, dosis yang benar, serta tanda-tanda efek samping yang perlu dilaporkan kepada tenaga kesehatan. Edukasi yang dilakukan oleh apoteker dan dokter terbukti dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pasien. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Kegiatan edukatif meliputi penyuluhan langsung, pemberian materi cetak atau digital, serta dialog dua arah antara pasien dan tenaga kesehatan. Pendekatan ini penting untuk mengubah perilaku pasien dari sekedar mengikuti resep menjadi memahami alasan dibalik aturan penggunaan, serta meningkatkan kepatuhan terhadap terapi yang aman dan efektif. [Lihat sumber Disini - ojs.unimal.ac.id]
Strategi edukasi juga harus mempertimbangkan faktor budaya dan tingkat literasi kesehatan pasien agar pesan dapat tersampaikan dengan jelas. Intervensi edukasi yang efektif akan mendorong perilaku penggunaan yang lebih rasional, mengurangi risiko penggunaan berlebihan, dan meningkatkan kualitas keseluruhan dari manajemen terapi kortikosteroid. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]
Pemantauan Terapi untuk Mengurangi Risiko
Pemantauan terapi kortikosteroid melibatkan pengawasan terus-menerus terhadap respons pasien, efek samping yang muncul, dan penyesuaian dosis sesuai kebutuhan. Ini dapat dilakukan melalui kunjungan rutin ke tenaga kesehatan, pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi berkala terhadap tanda-tanda efek toxic atau komplikasi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Pemantauan yang konsisten memungkinkan deteksi dini efek samping serta penyesuaian terapi secara cepat, sehingga mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Selain itu, pemantauan juga dapat memperkuat hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan, yang pada gilirannya dapat mengubah perilaku pasien menjadi lebih kooperatif dan bertanggung jawab terhadap terapi yang dijalani. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Pemantauan dapat dilakukan secara multidisipliner, dimana apoteker, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya bekerja bersama untuk memastikan pasien memahami tujuan pengobatan, durasi penggunaan, dosis yang tepat, serta tanda peringatan yang harus diwaspadai. Dengan pendekatan ini, risiko penggunaan kortikosteroid dapat diminimalisir dan hasil terapi dapat dioptimalkan. [Lihat sumber Disini - jurnalmadanimedika.ac.id]
Kesimpulan
Perilaku pasien dalam menggunakan obat kortikosteroid dipengaruhi oleh tingkat pemahaman mereka terhadap manfaat, risiko, dan petunjuk penggunaan obat tersebut. Banyak pasien menunjukkan tingkat pengetahuan yang rendah, yang berkontribusi terhadap perilaku penggunaan yang tidak rasional, termasuk penggunaan berlebihan dan self-medication. Faktor-faktor sosial, persepsi pribadi tentang efektivitas obat, serta kurangnya edukasi yang memadai memperburuk risiko penyalahgunaan. Efek samping fisik dan psikologis dari kortikosteroid juga dapat memengaruhi perilaku pasien, terutama jika efek tersebut tidak dipahami sebagai konsekuensi dari terapi. Pemantauan terapi yang konsisten, edukasi pasien yang efektif, dan kolaborasi antara tenaga kesehatan sangat penting untuk mendorong perilaku penggunaan yang lebih aman dan rasional, serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ijmps.id]