
Pola Konsumsi Suplemen
Pendahuluan
Di era modern sekarang, konsumsi suplemen, seperti vitamin, mineral, dan nutrisi tambahan lainnya, semakin marak di berbagai kalangan masyarakat. Faktor seperti gaya hidup yang padat, perubahan pola makan, kekhawatiran terhadap kesehatan, serta mudahnya akses informasi menjadikan suplemen sebagai pilihan mudah untuk “melengkapi” asupan nutrisi sehari-hari. Namun, di balik tren ini muncul berbagai pertanyaan: siapa saja yang mengonsumsi suplemen, apa motivasinya, seberapa banyak konsumen memahami kebutuhan dan risiko suplemen, serta seberapa efektif suplemen bila dibandingkan dengan pola makan sehat. Artikel ini mencoba menggali aspek-aspek tersebut secara sistematis.
Definisi Pola Konsumsi Suplemen
Definisi Umum
“Pola konsumsi suplemen” merujuk pada kebiasaan atau praktik individu maupun kelompok dalam menggunakan suplemen, baik vitamin, mineral, suplemen nutrisi, secara teratur atau insidental, sebagai pelengkap asupan nutrisi dari makanan sehari-hari.
Definisi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut KBBI, “suplemen” diartikan sebagai tambahan makanan atau zat gizi untuk melengkapi kekurangan zat gizi dalam makanan sehari-hari. Dengan demikian, pola konsumsi suplemen bisa diartikan sebagai pola atau kebiasaan konsumsi tersebut sebagai tambahan di samping asupan makanan biasa.
Definisi Menurut Para Ahli
-
Dalam studi oleh d’Arqom et al. (2023), suplemen dijelaskan sebagai “dietary supplement (DS)”, zat yang mengandung vitamin, mineral, asam amino, enzim, atau bahan botani/herbal, ditujukan untuk melengkapi diet, bukan sebagai pengobatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Menurut definisi WHO dan sejumlah literatur nutrisi, suplemen berfungsi sebagai tambahan ketika asupan gizi dari makanan dianggap belum mencukupi kebutuhan makro/mikronutrien. (diacu dari penjelasan umum dalam artikel terkait suplemen)
-
Dalam konteks kesehatan masyarakat, “pola konsumsi suplemen” juga mencakup frekuensi, durasi, jenis suplemen, serta rasio konsultasi dengan tenaga kesehatan, aspek perilaku yang menentukan seberapa tepat suplemen digunakan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Menurut penelitian di Indonesia, suplemen dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern, terutama di perkotaan, dengan tujuan menjaga kesehatan, meningkatkan stamina, atau pencegahan penyakit. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]
Tren Konsumsi Suplemen pada Berbagai Kelompok Usia
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi suplemen meningkat pada berbagai kelompok usia dewasa, terutama selama dan setelah gelombang pandemi Covid-19. Dalam survei daring yang dilakukan antara Oktober, Desember 2021 terhadap 541 orang dewasa di Indonesia, 77, 63% responden melaporkan telah mengonsumsi suplemen dalam 3 bulan terakhir. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kelompok dewasa muda sampai usia paruh baya (misalnya 18, 54 tahun) cenderung mendominasi konsumen suplemen, seiring dengan gaya hidup aktif dan kebutuhan energi yang tinggi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]
Penelitian terbaru juga menunjukkan konsumsi suplemen signifikan di kalangan remaja putri serta mahasiswa, terutama suplemen vitamin C atau suplemen penunjang kebugaran, meskipun pengetahuan tentang penggunaan yang tepat kadang masih kurang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Faktor yang Mendorong Konsumsi Suplemen
Beberapa faktor yang mendorong penggunaan suplemen antara lain:
-
Kekhawatiran terhadap status gizi dan kesehatan, banyak orang merasa asupan makanan sehari-hari belum mencukupi kebutuhan vitamin/mineral, sehingga memilih suplemen sebagai “jaga-jaga.” [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gaya hidup sibuk / padat aktivitas, terutama pekerja perkotaan atau individu dengan mobilitas tinggi yang merasa makanan tidak cukup memberi energi. Dalam survei muncul konsumsi suplemen berenergi atau vitamin sebagai pengganti makanan bergizi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]
-
Pengaruh pandemi (Covid-19), sejak 2020, meningkatnya kekhawatiran terhadap daya tahan tubuh menyebabkan lonjakan konsumsi suplemen di masyarakat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Status ekonomi, survei menunjukkan bahwa konsumsi suplemen lebih umum pada individu dengan tingkat ekonomi lebih tinggi, karena mereka mampu membeli suplemen secara teratur. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Motivasi estetika atau pencegahan penyakit, misalnya suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, atau suplemen herbal/vitamin sebagai “perlindungan ekstra.” [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]
Peran Iklan dan Media dalam Pemilihan Suplemen
Informasi dari internet, media sosial, iklan komersial, hingga rekomendasi teman/keluarga kerap menjadi sumber utama yang mendorong seseorang membeli suplemen, bahkan tanpa konsultasi tenaga kesehatan. Dalam studi d’Arqom et al., hampir separuh responden mengaku memperoleh informasi melalui teman/keluarga, sedangkan sisanya dari media dan iklan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Situasi ini diperparah dengan kurangnya literasi konsumen terkait dosis yang tepat, risiko interaksi suplemen-obat, dan regulasi keamanan suplemen. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Media dan iklan sering menekankan manfaat, seperti “menambah stamina, ” “meningkatkan imunitas, ” atau “melengkapi nutrisi”, tanpa memberi informasi seimbang mengenai pembatasan dosis, potensi efek samping, atau bahwa suplemen bukan pengganti diet seimbang. Hal ini mendorong konsumen mengambil keputusan berdasarkan persepsi, bukan informasi ilmiah.
Tingkat Pengetahuan Konsumen tentang Kebutuhan Suplemen
Tidak sedikit konsumen yang mengonsumsi suplemen tanpa pengetahuan memadai mengenai kebutuhan gizi, dosis, atau potensi risiko. Menurut penelitian d’Arqom et al. (2023), hanya sekitar separuh responden yang menunjukkan “pengetahuan baik” mengenai suplemen, terutama aspek keamanan, interaksi suplemen-obat, dan regulasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penelitian pada anggota klub kebugaran di Semarang tahun 2025 menunjukkan 73, 9% responden memiliki pengetahuan kurang, meskipun banyak yang rutin mengonsumsi vitamin C (1, 2× per hari, dosis 500, 1000 mg) [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Penelitian pada mahasiswa juga menunjukkan bahwa meskipun konsumsi suplemen cukup tinggi, pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan yang tepat kadang masih kurang, misalnya tidak memperhatikan dosis, durasi, atau konsultasi dengan tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Risiko Konsumsi Suplemen Berlebihan
Konsumsi suplemen tanpa kontrol atau pemahaman yang tepat dapat membawa risiko, terutama jika dikombinasikan dengan obat, kondisi kesehatan tertentu, atau jika melebihi dosis aman. Penelitian d’Arqom et al. menyoroti bahwa banyak responden mengonsumsi suplemen lebih dari 3 bulan tanpa konsultasi, berpotensi menyebabkan interaksi suplemen-obat atau efek samping. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Efek samping bisa berupa ketidakseimbangan gizi, overdosis vitamin/mineral, atau ketergantungan pada suplemen, sehingga pola makan sehat jadi terabaikan. Selain itu, pada kelompok rentan seperti lansia atau orang dengan komorbiditas, resiko komplikasi bisa lebih besar. Studi intervensi pada lansia dengan risiko malnutrisi menunjukkan bahwa meskipun suplemen membantu menaikkan asupan gizi dan kadar vitamin/mineral, hasil fisik seperti massa otot dan kekuatan mungkin tidak selalu meningkat secara signifikan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Perbedaan Konsumsi Suplemen pada Pekerja dan Pelajar
Kelompok pekerja, terutama di perkotaan, sering menggunakan suplemen sebagai pelengkap karena tuntutan energi dan produktivitas, termasuk suplemen “berenergi” atau suplemen vitamin/mineral rutin. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]
Sementara itu, di kalangan pelajar/mahasiswa, konsumsi suplemen kadang didorong oleh persepsi kesehatan atau kebutuhan daya tahan tubuh, terutama pada masa pandemi atau beban studi tinggi. Namun pengetahuan mereka soal dosis, durasi, dan manfaat yang tepat sering kurang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Faktor ekonomi, akses informasi, dan gaya hidup memainkan peran signifikan dalam perbedaan pola konsumsi antara pekerja dan pelajar.
Efektivitas Konsultasi Gizi dan Farmasi
Ketersediaan konsultasi dengan tenaga kesehatan (gizi, dokter, apoteker) menjadi faktor penting agar konsumsi suplemen tepat, aman, dan benar-benar dibutuhkan. Dalam banyak kasus, konsumen tidak berkonsultasi sebelum konsumsi, seperti yang ditemukan pada penelitian d’Arqom et al., di mana 40% responden mengonsumsi suplemen lebih dari 3 bulan tanpa konsultasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Intervensi ilmiah pada lansia dengan risiko malnutrisi, dari studi baru tahun 2025, menunjukkan bahwa suplemen dapat efektif meningkatkan asupan nutrisi dan status gizi (konsumsi energi, protein, vitamin D, kalsium, dll.), serta menaikkan berat badan dan massa otot. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Namun demikian, konsultasi tetap penting karena hasil fisik (kekuatan, performa) tidak selalu meningkat signifikan, dan efek samping atau kebutuhan suplemen perlu disesuaikan dengan kondisi individu.
Faktor Ekonomi dalam Pembelian Suplemen
Status ekonomi menjadi prediktor signifikan dalam pola konsumsi suplemen. Dalam survei di Indonesia, individu dengan ekonomi lebih tinggi lebih cenderung membeli dan rutin mengonsumsi suplemen. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Di sisi lain, suplemen juga dianggap beban biaya tambahan, artinya mereka yang memiliki penghasilan terbatas cenderung mengandalkan makanan biasa dan mungkin tidak menjadi konsumen suplemen rutin.
Dengan demikian, akses terhadap suplemen dan kemampuan membeli secara reguler memperkuat kesenjangan gizi dan kesehatan antar kelompok ekonomi.
Dampak Konsumsi Suplemen terhadap Kesehatan
Jika digunakan dengan benar, suplemen bisa membantu memperbaiki status gizi, terutama pada kelompok yang berisiko malnutrisi, lansia, atau mereka dengan kebutuhan gizi tinggi. Studi 2025 pada lansia menunjukkan peningkatan asupan nutrisi, peningkatan kadar vitamin/mineral, dan kenaikan berat badan serta massa otot. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Namun, bila dikonsumsi tanpa pemahaman, suplemen bisa menimbulkan efek samping, terutama bila dosis berlebihan, terjadi interaksi dengan obat, atau suplemen dikonsumsi terus-menerus tanpa evaluasi kebutuhan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Di antara dampak negatif potensial: ketergantungan pada suplemen, pola makan yang kurang seimbang, dan risiko komplikasi pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Hubungan Pola Makan dengan Penggunaan Suplemen
Idealnya, suplemen seharusnya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti, pola makan yang seimbang dan bergizi. Namun dalam praktiknya, banyak konsumen justru menggunakan suplemen sebagai substitusi makanan sehat karena kemudahan atau kurangnya waktu. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun suplemen dapat menambah asupan nutrisi, tanpa pola makan sehat (sayur, buah, karbohidrat seimbang, protein cukup), hasil optimal, seperti kesehatan jangka panjang, kekuatan fisik, kekebalan, belum tentu tercapai. Hal ini menggarisbawahi pentingnya edukasi dan literasi gizi bersama dengan pertimbangan penggunaan suplemen. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Kesimpulan
Pola konsumsi suplemen di Indonesia, dan secara global, menunjukkan peningkatan, didorong oleh berbagai faktor termasuk gaya hidup, kekhawatiran kesehatan, kemudahan akses informasi, serta status ekonomi. Konsumsi terjadi pada berbagai kelompok usia, dari pelajar/mahasiswa sampai pekerja dan lansia.
Meskipun suplemen bisa bermanfaat, terutama bagi mereka dengan risiko malnutrisi atau kebutuhan gizi khusus, masih banyak konsumen yang menggunakan suplemen tanpa pengetahuan memadai, tanpa konsultasi tenaga kesehatan, dosis dan durasi kadang tidak tepat, serta terjadi mispersepsi bahwa suplemen bisa menggantikan pola makan sehat.
Oleh karena itu, edukasi gizi, baik melalui tenaga kesehatan, media, maupun regulasi informasi dan pemasaran suplemen, sangat penting. Konsultasi gizi atau farmasi, serta literasi tentang kebutuhan gizi individu, harus diutamakan sebelum memutuskan konsumsi suplemen. Suplemen sebaiknya dilihat sebagai pelengkap, bukan substitusi.