
Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien
Pendahuluan
Keselamatan pasien adalah komponen fundamental dalam pelayanan kesehatan. Meskipun banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah menerapkan standar keselamatan pasien (patient safety), tetap saja peristiwa yang membahayakan pasien masih terjadi. Salah satu penyebab penting adalah adanya perilaku tidak aman, baik di pihak pasien sendiri maupun lingkungan perawatan, yang dapat meningkatkan risiko cedera, komplikasi, atau bahkan kematian. Oleh karena itu penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan perilaku tidak aman, faktor-faktor yang memengaruhinya, bentuk nyata dalam ruang perawatan, serta strategi pencegahan dan intervensi keperawatan. Artikel ini membahas secara mendalam aspek-aspek tersebut dengan merujuk literatur dan penelitian terkini.
Definisi Perilaku Tidak Aman Pasien
Definisi secara umum
Secara umum, “perilaku tidak aman pasien” merujuk pada tindakan, kebiasaan, atau kondisi yang dilakukan atau dialami oleh pasien, atau muncul dalam lingkungan perawatan, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera, komplikasi, infeksi, jatuh, kesalahan identifikasi, dan kejadian merugikan lainnya selama masa perawatan. Hal ini bisa meliputi kelalaian, ketidakpatuhan terhadap instruksi medis, kondisi lingkungan yang tidak mendukung, atau tindakan berisiko baik dari pasien maupun tenaga kesehatan.
Definisi menurut istilah (misalnya KBBI / literatur kesehatan)
Dalam konteks literatur keselamatan pasien, Keselamatan Pasien (patient safety) didefinisikan sebagai sistem yang membuat asuhan pasien menjadi lebih aman, melalui asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, serta pengelolaan risiko untuk mencegah kejadian merugikan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan demikian, perilaku tidak aman pasien bisa dipandang sebagai bagian dari kegagalan dalam mewujudkan keselamatan pasien, ketika ada aspek “tidak aman” dalam tindakan, kondisi, atau proses perawatan yang dapat membahayakan pasien.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa definisi atau pandangan dari para ahli atau penelitian:
-
Menurut Herawati dalam “Patient Safety”, keselamatan pasien melibatkan sistem asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko, pelaporan dan analisis insiden, serta upaya pencegahan terhadap bahaya yang dapat dicegah pada pasien. Jika aspek ini tidak terpenuhi, maka ada potensi perilaku atau kondisi tidak aman. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Dalam kajian organisasi pelayanan kesehatan, faktor individu, lingkungan kerja, serta budaya organisasi disebut sebagai determinan besar terhadap apakah perilaku aman atau tidak aman dilakukan di lingkungan perawatan. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Dalam penelitian di kalangan perawat, “perilaku tidak aman” bisa muncul jika pengetahuan, sikap, dan penerapan kesadaran keselamatan pasien kurang, misalnya kurang memperhatikan protokol, lalai, lupa, atau tidak peduli pada aspek keamanan pasien. [Lihat sumber Disini - gudangjurnal.com]
-
Lebih jauh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika persepsi terhadap iklim keselamatan rendah, kemungkinan terjadinya unsafe action dan unsafe condition meningkat. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman pasien bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi juga berkaitan dengan faktor manusia, lingkungan, serta sistem organisasi pelayanan kesehatan.
Faktor Risiko Perilaku Tidak Aman
Perilaku tidak aman pasien dan insiden keselamatan sering dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berikut pembagiannya dalam kategori: kognitif, lingkungan, emosional, dan sistem/organisasi.
Faktor kognitif
-
Pengetahuan: Jika pasien atau tenaga perawat tidak memiliki pengetahuan memadai tentang prosedur, protokol keselamatan, potensi risiko, akan sulit menerapkan tindakan aman. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan meningkatkan risiko tindakan tidak aman. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]
-
Sikap dan kesadaran: Sikap tidak peduli, meremehkan pentingnya keselamatan, atau kurangnya kesadaran akan risiko bisa mendorong unsafe behavior. [Lihat sumber Disini - gudangjurnal.com]
-
Memori / konsentrasi / kelelahan mental: Khusus bagi tenaga kesehatan, kelelahan, stres, overload kerja dapat menurunkan kualitas perhatian dan membuat mereka lebih rentan melakukan kesalahan atau lalai dalam protokol keselamatan. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
Faktor lingkungan
-
Fasilitas fisik / lingkungan ruangan: Jika lingkungan ruangan rawat inap atau perawatan tidak aman, misalnya lantai licin, ruang sempit, pencahayaan kurang, peralatan tidak lengkap atau tidak sesuai, ini meningkatkan risiko cedera atau insiden. Faktor lingkungan kerja juga memengaruhi budaya keselamatan. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Iklim dan budaya keselamatan organisasi: Jika institusi tidak memiliki budaya keselamatan yang kuat, misalnya kurang dukungan manajemen, kurang pelatihan, tidak ada pelaporan insiden, komunikasi buruk, maka kemungkinan perilaku tidak aman akan lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Beban kerja & staffing: Tenaga perawat dengan beban kerja tinggi, jumlah staf kurang, atau distribusi tugas yang buruk membuat lebih mudah terjadi kekeliruan atau kelalaian. [Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]
Faktor emosional / psikososial
-
Stres dan kelelahan: Tenaga kesehatan yang mengalami stres, tekanan kerja, kelelahan fisik maupun mental lebih rentan membuat kesalahan atau mengambil jalan pintas. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Ketidakpedulian / sikap acuh terhadap keselamatan: Baik dari pasien maupun staf, jika kurang empati, kurang komunikasi, atau merasa protokol keselamatan tidak penting, maka risiko perilaku berbahaya meningkat. [Lihat sumber Disini - gudangjurnal.com]
Faktor sistem / organisasi
-
Kurangnya pelatihan dan implementasi sistem keselamatan: Tanpa pelatihan rutin, sosialisasi, SOP (standar operasional prosedur), dan supervisi, tindakan aman sulit dipertahankan dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Tidak adanya pelaporan insiden / learning dari kesalahan: Jika insiden keselamatan tidak dilaporkan atau tidak dianalisis untuk mencegah pengulangan, maka risiko tetap tinggi. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Kurangnya komunikasi dan koordinasi tim: Keselamatan pasien butuh kolaborasi tim; jika komunikasi buruk, koordinasi lemah, maka peluang kesalahan meningkat. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
Bentuk Perilaku Tidak Aman di Ruang Perawatan
Perilaku tidak aman atau kondisi tidak aman dapat muncul dalam berbagai bentuk di ruang rawat inap / perawatan. Berikut beberapa contohnya:
-
Kesalahan identifikasi pasien, misalnya salah identitas, kesalahan label, transfusi darah ke pasien yang salah, medisasi ke pasien salah, yang menimbulkan risiko serius bagi pasien. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Terjadinya infeksi nosokomial akibat praktik perawatan yang tidak steril, kebersihan ruangan atau alat yang kurang memadai. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Pasien jatuh (fall), misalnya karena lantai licin, kurang pengawasan, lingkungan tidak aman, kurang pegangan, atau pasien kurang mobilitas dan pengawasan. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]
-
Luka tekan / dekubitus, jika perawatan, posisi pasien, perubahan posisi tidak dilakukan dengan benar atau rutin, terutama pada pasien lama dirawat. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Kesalahan prosedur atau tindakan medis, misalnya medisasi salah dosis, prosedur invasif yang tidak tepat, pengawasan pasca tindakan kurang, dokumentasi salah, komunikasi kurang antar tim medis. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Kurangnya pemantauan atau pengawasan pasien, pasien dengan kondisi risiko tinggi (misalnya lanjut usia, gangguan mobilitas, gangguan mental) tidak mendapat perhatian atau pengawasan memadai, sehingga rentan insiden.
Dampak Perilaku Tidak Aman bagi Pasien
Perilaku tidak aman atau kondisi tidak aman dalam perawatan memiliki dampak yang serius bagi pasien dan fasilitas kesehatan, di antaranya:
-
Kejadian Adverse Event (AE), kejadian merugikan yang bisa mengakibatkan cedera, komplikasi, kecacatan sementara atau permanen, bahkan kematian. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Menurunnya mutu pelayanan kesehatan, banyaknya insiden keselamatan menunjukkan sistem yang kurang optimal, mengurangi kualitas layanan secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Hilangnya kepercayaan pasien dan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan, ketika insiden berulang terjadi, reputasi rumah sakit bisa rusak, dan pasien/keluarga merasa kurang aman. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Beban biaya dan waktu, penanganan komplikasi, infeksi, cedera, perbaikan prosedur, investigasi insiden bisa menambah biaya layanan dan sumber daya. [Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]
-
Beban psikologis bagi pasien dan keluarga, trauma, ketidaknyamanan, ketidakpastian, stres akibat kesalahan, cedera, infeksi atau komplikasi.
Strategi Pencegahan Perilaku Berisiko
Untuk mencegah perilaku tidak aman dan meminimalisir risiko bagi pasien, beberapa strategi dapat dilakukan:
-
Membangun dan memperkuat budaya keselamatan pasien, memastikan manajemen rumah sakit memprioritaskan keselamatan, ada SOP jelas, pelatihan rutin, dan dukungan manajemen terhadap pelaporan insiden. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Edukasi dan pelatihan bagi staf dan pasien, memberikan pengetahuan tentang keselamatan, protokol, identifikasi risiko, serta meningkatkan sikap peduli terhadap keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]
-
Lingkungan fisik yang aman dan mendukung, memastikan fasilitas, ruangan, peralatan, kebersihan, dan tata ruang mendukung keselamatan dan perawatan yang aman. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Pengawasan dan pengaturan staffing serta beban kerja, memastikan ada cukup tenaga perawat, rotasi tugas, beban kerja wajar supaya kelelahan dan stres bisa diminimalkan. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
-
Sistem pelaporan dan analisis insiden, mendorong pelaporan kejadian merugikan atau nyaris celaka, melakukan analisis, pembelajaran dari kesalahan, dan perbaikan sistem. [Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]
-
Komunikasi dan koordinasi tim yang efektif, memastikan setiap anggota tim tahu perannya, saling koordinasi, komunikasi jelas, demi mengurangi kesalahan akibat miskomunikasi. [Lihat sumber Disini - repository.ub.ac.id]
Intervensi Keperawatan untuk Mengurangi Risiko
Dalam praktik keperawatan, terdapat intervensi spesifik yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko perilaku tidak aman:
-
Asesmen risiko pasien secara rutin, identifikasi pasien berisiko tinggi (misalnya lansia, pasien gangguan mobilitas, komorbiditas) untuk menentukan intervensi pencegahan khusus seperti pengawasan ketat, pemasangan pengaman, edukasi.
-
Implementasi protokol keselamatan secara konsisten, seperti skrining pasien saat masuk, identifikasi pasien, dokumentasi benar, kebersihan, infeksi control, prosedur medis.
-
Pemantauan & pengawasan terus-menerus, terutama pada pasien rawat inap, pasien dengan mobilitas rendah, atau pasien yang mendapat terapi invasif/kompleks.
-
Edukasi kepada pasien dan keluarga, menjelaskan risiko, bagaimana mencegah jatuh, infeksi, komplikasi; melibatkan keluarga dalam pengawasan bila memungkinkan.
-
Kolaborasi tim multidisiplin, perawat, dokter, farmasi, manajemen, bekerja sama menerapkan keselamatan pasien secara holistik.
-
Pengkajian ulang lingkungan perawatan, mengevaluasi tata ruang, kebersihan, peralatan, keamanan fisik, dan melakukan perbaikan bila ada potensi bahaya.
-
Pelaporan insiden dan refleksi praktik keperawatan, setiap kejadian hampir celaka (near miss) atau insiden harus dilaporkan, dianalisis, dan dijadikan bahan perbaikan bersama.
Contoh Kasus Perilaku Tidak Aman
Misalnya di sebuah rumah sakit, seorang pasien lanjut usia dengan mobilitas terbatas dirawat di ruang rawat inap. Karena staf perawat kekurangan, tidak ada pengawasan ketat di malam hari. Lantai di sekitar tempat tidur pasien licin akibat tidak segera dibersihkan. Pasien mencoba berjalan sendiri tanpa bantuan, tergelincir dan jatuh, mengakibatkan patah tulang pinggul. Dalam hal ini, kombinasi faktor lingkungan (lantai licin, kurang pengawasan), beban kerja staf (kurang staf), dan kondisi pasien (mobilitas rendah) menjadi pemicu insiden.
Dalam kasus lain: pasien dengan terapi infus, namun perawat lalai dalam mengganti infus pada jadwal yang tepat dan tidak memantau kondisi kateter, menyebabkan infeksi nosokomial. Kekurangan prosedur sterilisasi, kesadaran keselamatan yang rendah, serta kurangnya knowledge/staffing menjadi faktor risiko utama.
Kesimpulan
Perilaku tidak aman pasien, baik berupa tindakan, kondisi, atau kelalaian, merupakan ancaman serius terhadap keselamatan pasien dan mutu layanan kesehatan. Faktor risiko bersifat kompleks: meliputi aspek kognitif (pengetahuan, sikap), lingkungan fisik, emosional/psikososial, serta sistem dan budaya organisasi. Bentuk nyata dari perilaku tidak aman dapat muncul sebagai jatuh, infeksi, kesalahan prosedur, atau insiden merugikan lainnya.
Pencegahan dan intervensi keperawatan memerlukan pendekatan holistik: membangun budaya keselamatan, edukasi/ pelatihan, lingkungan perawatan aman, pengawasan staf, kolaborasi tim, serta pelaporan dan analisis insiden. Dengan demikian, risiko bagi pasien dapat dikurangi secara signifikan, serta meningkatkan kualitas dan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan.