
Tingkat Kesadaran Pasien
Pendahuluan
Kesadaran pasien adalah aspek krusial dalam penilaian kondisi medis, terutama pada pasien dengan cedera kepala, gangguan neurologis, stroke, keracunan, atau kondisi kritis lainnya. Evaluasi tingkat kesadaran membantu tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat, menentukan tindakan awal, prioritas perawatan, serta memantau perkembangan atau penurunan kondisi pasien. Memahami definisi, metode penilaian, faktor penyebab, tanda klinis, penatalaksanaan darurat, serta peran keperawatan dalam monitoring sangat penting agar asuhan medis dan keperawatan dapat dilakukan secara tepat dan efektif. Artikel ini akan membahas secara menyeluruh tentang “Tingkat Kesadaran Pasien” dari definisi hingga contoh kasus klinis.
Definisi Tingkat Kesadaran Pasien
Definisi Tingkat Kesadaran Secara Umum
Tingkat kesadaran merujuk pada kondisi di mana seseorang mampu merespon rangsangan dari lingkungan eksternal maupun internal secara kognitif dan motorik, yaitu mampu membuka mata, memahami/persepsi, berbicara, dan bereaksi terhadap perintah atau rangsangan. Kesadaran mencakup komponen sensorik, persepsi, kognisi, dan respons neurologis tubuh terhadap lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Definisi Tingkat Kesadaran dalam KBBI
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “kesadaran” memiliki arti kemampuan untuk menyadari, mengetahui, atau menyadari sesuatu dengan pikiran sehat. Konteks “tingkat kesadaran” dalam dunia medis mengambil makna khusus: kondisi sadar atau tidak sadar pasien, mencakup kesadaran penuh, penurunan kesadaran, koma, dan koma mendalam. (Catatan: definisi persis “tingkat kesadaran pasien” mungkin tidak tersedia dalam versi online KBBI secara eksplisit, tetapi definisi “kesadaran” relevan untuk konteks ini).
Definisi Tingkat Kesadaran Menurut Para Ahli
Berikut beberapa pengertian menurut literatur dan ahli keperawatan / neurologi:
-
Menurut artikel di jurnal “Jurnal Penelitian Perawat Profesional”, kesadaran disebut sebagai “integrasi antara sistem indera, penalaran, imajinasi dan emosi, serta memori seseorang dalam menerima dan memproses informasi dari lingkungan internal maupun eksternal.” [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Dalam konteks penilaian neurologis, skala Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan untuk “score” atau mengukur seberapa sadar, waspada, dan responsif seseorang, mencerminkan kemampuan interaksi dengan lingkungan. [Lihat sumber Disini - my.clevelandclinic.org]
-
Skala AVPU Scale (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive) didefinisikan sebagai metode cepat untuk menilai tingkat kesadaran pasien secara gross (kasar), menilai apakah pasien sadar penuh, hanya merespons secara vokal, merespons rangsangan nyeri, atau tidak responsif sama sekali. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurut literatur keperawatan dalam setting ICU, penilaian kesadaran menggunakan skala seperti GCS ataupun FOUR Score (Full Outline of UnResponsiveness) penting untuk menilai pasien sadar/ tidak sadar, termasuk pada pasien yang intubasi, sedasi, atau menggunakan ventilator. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
Pengertian Tingkat Kesadaran
Penilaian Kesadaran: GCS, AVPU, dan Metode Lain
Glasgow Coma Scale (GCS)
GCS adalah skala klinis yang paling luas digunakan untuk menilai tingkat kesadaran/pengaruh cedera otak. Skala ini mengukur respons pasien terhadap tiga domain: respons mata (eye), respons verbal (verbal), dan respons motorik (motor). Skor total berkisar dari 3 (tidak responsif sama sekali) hingga 15 (sadar penuh). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Interpretasi umum berdasarkan skor GCS:
-
Skor 14, 15 → kesadaran ringan / compos mentis
-
Skor 9, 13 → penurunan kesadaran sedang
-
Skor ≤ 8 → penurunan kesadaran berat / koma (seringkali memerlukan intervensi intensif) [Lihat sumber Disini - ro.scribd.com]
AVPU Scale
AVPU adalah skala cepat dan sederhana untuk mengkategorikan status kesadaran dasar:
-
Alert (A), pasien sadar penuh, dapat merespon dengan jelas.
-
Verbal (V), pasien hanya merespons bila diberi rangsangan suara / verbal.
-
Pain (P), pasien merespons hanya terhadap rangsangan nyeri.
-
Unresponsive (U), pasien tidak merespons sama sekali. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
AVPU sangat berguna di keadaan darurat, triase, atau saat pertama menilai pasien secara cepat. [Lihat sumber Disini - ems1.com]
FOUR Score dan Metode Lain
FOUR Score dikembangkan untuk menilai tingkat kesadaran terutama pada pasien kritis, termasuk yang terintubasi, karena GCS bisa terbatas pada pasien yang tidak bisa berbicara/ber-respons verbal. FOUR Score menilai empat domain: respons mata, respons motorik, refleks batang otak, dan pola pernapasan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Beberapa literatur menunjukkan bahwa FOUR Score dapat menjadi alternatif atau pelengkap GCS, terutama pada pasien dengan ventilator atau sedasi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Faktor Penyebab Penurunan Kesadaran
Penurunan tingkat kesadaran pasien bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain:
-
Cedera kepala / trauma otak, seperti leverasi oleh kecelakaan, menyebabkan kerusakan otak atau gangguan fungsi otak. [Lihat sumber Disini - aisyah.journalpress.id]
-
Stroke atau gangguan vaskular serebral yang mengganggu suplai oksigen ke otak, sehingga mempengaruhi kesadaran. (Misalnya pada penelitian intervensi keperawatan dengan terapi sensorik untuk pasien stroke) [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
-
Keracunan, kerusakan metabolik, hipoglikemia, overdosis obat/pengaruh toksin atau zat kimia berbahaya yang mempengaruhi fungsi neurologis. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan fungsi otak primer atau sekunder, seperti edema otak, infeksi otak (meningitis, ensefalitis), hemorrhage intrakranial, atau gangguan neurologis berat. (Banyak literatur neurologis menyebut kondisi ini sebagai penyebab penurunan kesadaran). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Kondisi kritis lainnya: misalnya pada pasien ICU, intubasi, sedasi, pernapasan terganggu, terutama jika menggunakan ventilator, sehingga asupan oksigen dan aliran darah ke otak bisa terganggu. Pada kondisi ini, penilaian dengan FOUR Score lebih dianjurkan daripada GCS. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
Faktor-faktor ini bisa bertindak tunggal atau kombinasi, sehingga penting dilakukan penilaian menyeluruh (anamnesis, pemeriksaan fisik, penunjang) untuk menentukan penyebab sebenarnya penurunan kesadaran.
Tanda dan Gejala Klinis
Penurunan kesadaran bisa menunjukkan dirinya melalui tanda dan gejala klinis, tergantung penyebab dan derajat gangguan. Beberapa tanda/ gejala adalah:
-
Respons minimal atau tidak ada terhadap rangsangan, baik suara (verbal) maupun nyeri.
-
Mata tidak terbuka spontan (pasien tidak membuka mata), atau hanya membuka mata akibat rangsangan nyeri.
-
Tidak ada respons verbal, bicara tidak jelas, atau tidak bisa mengikuti perintah sederhana.
-
Respons motorik lemah atau tidak ada, pasien tidak mampu menggerakkan anggota tubuh atau mengikuti perintah motorik.
-
Perubahan pola pernapasan, seperti pernapasan tidak teratur, apnea, atau pernapasan abnormal (pada pasien dengan gangguan neurologis berat). Hal ini terutama penting bila menggunakan skala seperti FOUR Score yang memasukkan evaluasi pernapasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
-
Kondisi klinis lain akibat penyebab utama: misalnya pada cedera kepala, mungkin terdapat trauma fisik, perdarahan, fraktur; pada stroke, kelemahan anggota tubuh, hemi-paresis, kelumpuhan; pada keracunan, mual/muntah, pupillary changes, konvulsi.
Identifikasi gejala klinis yang lengkap serta penggunaan skala penilaian kesadaran memungkinkan tenaga kesehatan membuat prioritas tindakan medis/keperawatan dengan cepat.
Penatalaksanaan Darurat pada Pasien dengan Kesadaran Menurun
Penanganan awal sangat krusial untuk pasien dengan penurunan kesadaran. Berikut langkah-langkah umum yang dilakukan:
-
Penilaian cepat menggunakan skala sederhana (AVPU), untuk triase awal: menentukan apakah pasien perlu intervensi segera, apakah kondisi stabil, atau butuh evaluasi lebih lanjut.
-
Penilaian komprehensif menggunakan GCS atau FOUR Score, terutama bila kondisi stabil atau berada di instalasi gawat darurat/ICU, serta pada kasus cedera kepala, koma, atau intubasi. GCS membantu menentukan derajat kesadaran dan memantau perubahan dari waktu ke waktu. [Lihat sumber Disini - my.clevelandclinic.org]
-
Monitoring tanda vital dan neurologis secara berkala, seperti frekuensi napas, respons mata, motorik, refleks batang otak (jika menggunakan FOUR), tekanan darah, saturasi oksigen, status pernapasan, untuk mendeteksi perburukan dini.
-
Penanganan penyebab utama, misalnya jika penyebabnya trauma kepala: stabilisasi cervical spine, oxygenasi, kontrol perdarahan; jika stroke: manajemen rekanalisasi/trombolitik (jika sesuai), kontrol tekanan darah, dukungan keperawatan; jika keracunan: dekontaminasi, antidot, dukungan hidup; jika gangguan pernapasan: intubasi, ventilasi, oxygenasi.
-
Perawatan lanjutan di ruang perawatan intensif (ICU) jika diperlukan, dengan monitoring ketat, evaluasi neurologis berulang, penilaian refleks batang otak, dan dukungan organ.
-
Dokumentasi dan pemantauan perkembangan kesadaran, penting untuk memantau respon terhadap terapi, perubahan skor GCS/FOUR, serta menentukan prognosis.
Peran Perawat dalam Monitoring Kesadaran Pasien
Sebagai bagian dari tim perawatan, perawat memiliki peran penting dalam:
-
Melakukan penilaian kesadaran awal menggunakan skala AVPU ketika pasien baru datang, terutama di triase atau IGD.
-
Melaksanakan penilaian dengan GCS atau FOUR Score secara berkala sesuai protokol, misalnya tiap shift, atau segera setelah ada perubahan klinis, untuk mendeteksi perubahan dini pada kesadaran.
-
Memantau tanda vital dan fungsi neurologis, seperti respons mata, motorik, perilaku pasien, refleks, pernapasan, serta melaporkan segera jika ada penurunan.
-
Memberikan asuhan keperawatan dasar: menjaga jalan napas, posisi pasien, kenyamanan, mencegah cedera tambahan, menjaga stabilitas hemodinamik, serta mendukung intervensi medis jika diperlukan.
-
Mendokumentasikan hasil penilaian, perubahan kondisi, tindakan keperawatan, dan berkoordinasi dengan tim medis lain untuk tindakan selanjutnya.
-
Memberi pendidikan atau dukungan kepada keluarga pasien, menjelaskan kondisi, proses pemantauan, prognosis, dan peran mereka dalam perawatan.
Studi keperawatan di ruang ICU maupun ruang stroke menunjukkan bahwa intervensi keperawatan (misalnya stimulasi sensorik, terapi sensori auditorik) dapat membantu meningkatkan tingkat kesadaran pada pasien yang sebelumnya mengalami penurunan kesadaran. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
Contoh Kasus Tingkat Kesadaran
Berikut ilustrasi contoh kasus nyata berdasarkan literatur:
Pada penelitian di Banjarmasin (2021), pasien cedera kepala yang dirawat di IGD dinilai menggunakan GCS. Dari 30 responden, mayoritas adalah laki-laki, dan respons mata paling banyak spontan (33, 3%), respons verbal paling banyak orientasi baik (36, 3%), dan respons motorik paling sering mengikuti perintah (30%), sehingga banyak pasien tergolong dalam status compos mentis. [Lihat sumber Disini - jurnal-ppni.org]
Penelitian lain menunjukkan bahwa pada pasien stroke dengan penurunan kesadaran, pemberian intervensi keperawatan berupa “Familiar Auditory Sensory Training (FAST)” dapat meningkatkan skor GCS dalam beberapa hari perawatan, menunjukkan bahwa rangsangan sensorik bisa memengaruhi pemulihan kesadaran. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
Kasus-kasus seperti ini menyoroti pentingnya penilaian ketat, dokumentasi, serta peran keperawatan dalam mendeteksi dan merawat penurunan kesadaran, bukan hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga asuhan keperawatan berbasis bukti.
Kesimpulan
Tingkat kesadaran pasien adalah aspek fundamental dalam penanganan medis maupun keperawatan, terutama pada kondisi darurat, cedera kepala, stroke, keracunan, atau kondisi kritis lainnya. Penilaian kesadaran dilakukan melalui skala seperti GCS, AVPU, atau FOUR Score, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasannya.
Faktor penyebab penurunan kesadaran sangat beragam, mulai dari trauma kepala, gangguan serebral, gangguan metabolik, hingga kondisi kritis. Oleh karena itu, identifikasi penyebab dan penatalaksanaan segera sangat krusial.
Perawat memiliki peran sentral dalam monitoring kesadaran, memberikan asuhan keperawatan, dan dokumentasi yang konsisten, yang berkontribusi besar terhadap deteksi dini perubahan kondisi dan outcome pasien.
Melalui pemahaman komprehensif tentang definisi, metode, faktor, gejala, serta peran perawat, diharapkan asuhan keperawatan dan medis dapat dilakukan optimal, meningkatkan kemungkinan pemulihan, dan meminimalkan risiko komplikasi.