
Tingkat Pengetahuan Pasien tentang Penyakit
Pendahuluan
Pengetahuan pasien terhadap penyakit yang diderita, meliputi pengertian tentang penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, dan risiko komplikasi, merupakan fondasi penting dalam manajemen kesehatan. Tingkat pengetahuan ini secara langsung memengaruhi keputusan pasien dalam menjalani pengobatan, mengikuti anjuran medis, serta menjalankan gaya hidup sehat. Di Indonesia, banyak penelitian menunjukkan bahwa literasi atau pemahaman kesehatan di kalangan pasien dan masyarakat masih relatif rendah, dan hal ini berpengaruh pada rendahnya tingkat kepatuhan pengobatan dan kontrol penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.mercubaktijaya.ac.id]
Melalui artikel ini dibahas secara mendalam mengenai definisi “tingkat pengetahuan pasien”, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dampaknya terhadap kepatuhan pengobatan, bagaimana menilai pengetahuan pasien, strategi edukasi yang efektif, peran tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam pemberian informasi, dan contoh penerapan edukasi berdasarkan tingkat pengetahuan pasien. Tujuannya: memberi kerangka pemahaman yang komprehensif agar tenaga kesehatan atau penulis konten bisa mengoptimalkan edukasi kesehatan.
Definisi Tingkat Pengetahuan Pasien
Definisi Tingkat Pengetahuan Pasien Secara Umum
Secara umum, “tingkat pengetahuan pasien” merujuk pada sejauh mana seorang pasien memahami informasi tentang penyakit, termasuk etiologi, gejala, komplikasi, pengobatan, pencegahan, dan manajemen penyakit. Pengetahuan ini memungkinkan pasien mengenali kondisi mereka, memahami pentingnya terapi, serta mengambil keputusan kesehatan secara rasional.
Definisi Tingkat Pengetahuan Pasien dalam KBBI
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “pengetahuan” diartikan sebagai “fakta, data, atau informasi yang diketahui seseorang melalui pengalaman, pendidikan, atau pengajaran”. Menerapkannya pada konteks kesehatan, tingkat pengetahuan pasien berarti jumlah dan kualitas informasi kesehatan yang telah dipahami pasien berdasarkan pendidikan, pengalaman pribadi, interaksi dengan tenaga kesehatan, maupun materi edukasi.
Definisi Tingkat Pengetahuan Pasien Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi menurut literatur dan penelitian kesehatan:
-
Menurut penelitian oleh Rosya et al. (2022), literasi kesehatan (health literacy), yaitu kemampuan pasien dalam membaca, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan, merupakan inti dari tingkat pengetahuan pasien. [Lihat sumber Disini - ojs.stikessaptabakti.ac.id]
-
Dalam penelitian oleh Iqbal dkk. (2023), literasi kesehatan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memperoleh, memahami, dan memanfaatkan informasi kesehatan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatannya. [Lihat sumber Disini - jurnal.mercubaktijaya.ac.id]
-
Studi di Puskesmas Surabaya pada pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 menyebut literasi kesehatan sebagai penilaian atas pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatan mereka, akses informasi, komunikasi dengan tenaga kesehatan, serta kemampuan menggunakan informasi untuk manajemen penyakit. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
-
Dalam konteks pasien kronis seperti Hipertensi atau Tuberkulosis Paru, literasi kesehatan (pengetahuan) disebut sebagai faktor internal penting yang memengaruhi kepatuhan pengobatan dan pengelolaan penyakit. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
Dengan demikian, tingkat pengetahuan pasien bukan hanya sekadar “tau sedikit informasi”, melainkan mencakup pemahaman yang utuh, teori penyakit, pengobatan, risiko, serta implikasi bagi gaya hidup, agar pasien bisa mengambil tindakan bijak terhadap kesehatannya.
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Kesehatan
Beberapa faktor utama memengaruhi sejauh mana pasien memahami informasi kesehatan:
-
Pendidikan dan latar belakang sosiodemografis, Penelitian di pusat kesehatan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan akses terhadap informasi kesehatan sangat berhubungan dengan literasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.mercubaktijaya.ac.id]
-
Akses terhadap informasi kesehatan, Kemampuan memperoleh informasi secara mudah (misalnya melalui brosur, media cetak, penyuluhan, konsultasi) memengaruhi pengetahuan pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.mercubaktijaya.ac.id]
-
Dukungan keluarga dan lingkungan sosial, Studi menunjukkan bahwa dukungan keluarga serta akses informasi melalui keluarga atau komunitas mempengaruhi literasi kesehatan, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Komunikasi dengan tenaga kesehatan, Interaksi dengan perawat, dokter, atau petugas kesehatan yang menyediakan edukasi dan menjelaskan kondisi/pengobatan secara jelas membantu meningkatkan pemahaman pasien. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
-
Kemampuan kognitif dan usia, Faktor seperti usia lanjut bisa memengaruhi kemampuan memahami informasi kompleks, sehingga literasi kesehatan cenderung lebih rendah jika informasi tidak disesuaikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Media edukasi dan cara penyampaian informasi, Penggunaan bahasa yang jelas, sederhana, dan mudah dimengerti meningkatkan efektivitas edukasi. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Dampak Pengetahuan terhadap Kepatuhan Pengobatan
Pengetahuan yang baik tentang penyakit terbukti berkontribusi signifikan terhadap kepatuhan pengobatan pasien:
-
Dalam penelitian pada pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kabupaten Bekasi, ditemukan bahwa pasien dengan pengetahuan baik lebih cenderung patuh menjalani regimen pengobatan dibanding yang pengetahuannya rendah (p = 0, 000). [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikes-isfi.ac.id]
-
Studi serupa pada populasi hipertensi menunjukkan bahwa pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan menjadi faktor internal utama dalam kepatuhan berobat. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Pada pasien dengan penyakit ginjal kronis, literasi kesehatan yang tinggi dikaitkan dengan kualitas hidup lebih baik dan kepatuhan minum obat meningkat secara signifikan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Sebaliknya, literasi rendah sering dikaitkan dengan perilaku berisiko, manajemen penyakit yang buruk, rawat inap lebih sering, atau bahkan komplikasi akibat pengobatan yang tidak teratur. [Lihat sumber Disini - ojs.stikessaptabakti.ac.id]
Metode Penilaian Pengetahuan Pasien
Penilaian tingkat pengetahuan pasien biasanya dilakukan melalui:
-
Kuesioner/literacy scale, Misalnya instrumen literasi kesehatan digabung dengan kuesioner numerasi untuk mengukur pemahaman pasien terhadap informasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
-
Survei cross-sectional pada pasien penyakit tertentu, menggunakan pertanyaan tentang pengetahuan penyakit, pengobatan, pencegahan, dan manajemen. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesadisutjipto.ac.id]
-
Wawancara dan observasi, Dalam beberapa penelitian, interaksi langsung dengan tenaga kesehatan dan observasi perilaku pasien digunakan untuk menilai bagaimana pasien memahami dan menggunakan informasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Evaluasi literasi kesehatan multidimensi, Meliputi domain: pemahaman informasi kesehatan, akses layanan, komunikasi dengan tenaga kesehatan, pro-aktif dalam mencari informasi, serta penggunaan informasi dalam pengambilan keputusan kesehatan. Contohnya dalam studi pada pasien Diabates Mellitus tipe 2. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
Strategi Edukasi yang Efektif
Untuk meningkatkan tingkat pengetahuan pasien, beberapa strategi terbukti efektif:
-
Gunakan bahasa yang jelas, sederhana, dan mudah dipahami, Penggunaan Bahasa Indonesia sederhana sangat membantu pemahaman pada masyarakat dengan latar belakang pendidikan beragam. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
-
Konseling dan edukasi rutin, Edukasi berkelanjutan, misalnya saat kunjungan rutin, memberikan informasi tentang penyakit, pengobatan, efek samping, dan pentingnya kepatuhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Melibatkan keluarga atau pendamping, Karena dukungan sosial dan keluarga berpengaruh besar terhadap literasi kesehatan dan kepatuhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Menggunakan media edukasi yang sesuai, Brosur, leaflet, visual atau media cetak/elektronik yang mudah dibaca dan dipahami. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Personalisasi edukasi sesuai kondisi pasien, Pertimbangkan usia, pendidikan, kemampuan kognitif, akses informasi, serta kebutuhan individu agar informasi relevan dan mudah diterima.
-
Kolaborasi tim kesehatan (perawat, dokter, edukator kesehatan) untuk menyampaikan informasi secara konsisten dan komprehensif, agar pasien tidak hanya menerima obat, tetapi juga memahami pentingnya pengobatan.
Peran Perawat dalam Memberikan Informasi Kesehatan
Perawat memiliki posisi strategis sebagai mediator informasi kesehatan antara tenaga medis dan pasien. Beberapa peran inti mereka:
-
Memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyakit, pengobatan, pencegahan, dan perawatan jangka panjang.
-
Menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai latar belakang pasien, memperhatikan tingkat literasi dan pendidikan.
-
Melakukan pendampingan dan dukungan, termasuk melibatkan keluarga pasien untuk mendukung pemahaman dan kepatuhan.
-
Memantau pemahaman pasien secara berkala, misalnya saat kontrol rutin, dan mengulang edukasi bila diperlukan.
-
Mendorong pasien agar proaktif dalam mencari informasi kesehatan, bertanya jika ada keraguan, serta berkolaborasi dalam perencanaan perawatan.
Contoh Edukasi Pasien Berdasarkan Tingkat Pengetahuan
Berikut beberapa contoh pendekatan edukasi sesuai tingkat pengetahuan pasien:
-
Pasien dengan literasi rendah / pengetahuan minim: Gunakan bahasa sangat sederhana, ilustrasi visual, brosur bergambar, ajak anggota keluarga untuk mendampingi, dan ulang edukasi secara berkala.
-
Pasien dengan literasi dasar (paham minimal): Berikan penjelasan mendasar tentang penyakit, pentingnya minum obat, efek samping, serta pola hidup sehat; lakukan konseling individual.
-
Pasien dengan literasi menengah / baik: Tawarkan informasi lebih mendalam, mekanisme penyakit, faktor risiko, komplikasi jika pengobatan diabaikan, serta strategi manajemen jangka panjang. Libatkan pasien dalam rencana pengobatan dan pemantauan.
-
Pasien dengan literasi tinggi / proaktif: Dorong untuk bertanya, berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, dan mendukung gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit adalah komponen krusial dalam manajemen kesehatan. Pemahaman yang baik memungkinkan pasien mengenali kondisi kesehatan, mengambil keputusan tepat, dan menjalani pengobatan serta perawatan dengan lebih konsisten. Banyak faktor yang memengaruhi, terutama pendidikan, akses informasi, dukungan keluarga, dan komunikasi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, strategi edukasi harus disesuaikan dengan karakteristik pasien; peran perawat dan tenaga kesehatan sangat vital untuk menyampaikan informasi secara efektif. Dengan pendekatan edukasi yang tepat, diharapkan literasi kesehatan pasien meningkat, yang pada akhirnya memperbaiki kepatuhan pengobatan, kualitas hidup, dan hasil pengobatan jangka panjang.