
Agitasi Pasien: Pengertian dan Intervensi
Pendahuluan
Agitasi pada pasien merupakan fenomena klinis yang sering dijumpai di berbagai layanan kesehatan, termasuk ruang rawat, unit gawat darurat (UGD), dan unit perawatan intensif (ICU). Kondisi ini bukan sekadar “pasien gelisah”, melainkan dapat mencerminkan gangguan regulasi motorik, kognitif, dan emosional yang kompleks, dan bila tidak ditangani dengan tepat bisa berakibat pada keselamatan pasien, tenaga kesehatan, serta lingkungan perawatan. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang definisi, faktor pemicu, manifestasi klinis, serta intervensi keperawatan yang efektif menjadi sangat penting. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang agitasi pasien, dari pengertian, pemicu, tanda perilaku, risiko, hingga intervensi keperawatan dan teknik de-eskalasi serta komunikasi terapeutik, disertai contoh kasus.
Definisi Agitasi
Definisi Agitasi Secara Umum
Agitasi (agitation) umumnya dipahami sebagai suatu keadaan psikomotor yang ditandai dengan peningkatan aktivitas motorik, ketegangan emosional, disorganisasi pikiran, atau respons perilaku yang tidak terkontrol, yang mengakibatkan gangguan bagi individu maupun lingkungan sekitarnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Menurut ulasan di literatur keperawatan dan psikiatri, agitasi dapat muncul dalam berbagai setting, rawat inap, unit gawat darurat, unit perawatan intensif (ICU), maupun layanan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Agitasi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “agitasi” diartikan sebagai kegelisahan, kegoncangan, atau peningkatan aktivitas fisik/emosional secara abnormal dan tidak terkendali. (Catatan: definisi spesifik KBBI bisa kamu salin dari laman resmi KBBI, pastikan dikutip)
Definisi Agitasi Menurut Para Ahli
-
Anne Mette N. Adams, Diane Chamberlain, Charlotte Brun Thorup & Matthew J. Maiden, dalam studi analisis konsep “Patient Agitation in the Intensive Care Unit” mendefinisikan agitasi sebagai kondisi yang ditandai oleh aktivitas motorik berlebihan (excessive motor activity), ketegangan emosi, gangguan kognitif, serta interupsi pemberian perawatan; sering disertai agresivitas dan fluktuasi tanda vital. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
StatPearls, agitasi digambarkan sebagai kumpulan perilaku nonspecific, yang mencakup kegelisahan, kegundahan, kecurigaan, irritabilitas, kebingungan, disorientasi, hingga potensi perilaku kekerasan, baik verbal maupun fisik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Australian Critical Care (dalam publikasi literatur keperawatan), menyebut bahwa agitasi adalah respons maladaptif terhadap kebutuhan fisik, emosional, atau lingkungan yang tidak terpenuhi; bukan hanya gangguan psikologis, tetapi dapat berasal dari kondisi medis, pengaruh obat, atau stresor lingkungan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Journal of Advanced Nursing, dalam tinjauan konsep agitasi di ICU menekankan bahwa agitasi tidak dapat diartikan secara universal karena dipengaruhi oleh banyak faktor: kondisi kritis pasien, agen farmakologis, ketidaknyamanan fisik, karakteristik individu, hingga interaksi staf-pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Faktor Pemicu Agitasi
Agitasi dapat dipicu oleh berbagai faktor, sering bersifat multifaktorial dan saling berinteraksi. Berikut klasifikasi utama faktor pemicu:
Faktor Medis
-
Kondisi kritis, penyakit akut, trauma, atau komplikasi: pada pasien di ICU, penyakit berat atau ketidakstabilan fisiologis meningkatkan risiko agitasi. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Efek obat atau sedatif, interaksi obat, ketidakseimbangan metabolik atau detoksifikasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Ketidaknyamanan fisik: rasa sakit, sesak napas, gangguan pernapasan atau gangguan lain yang menyebabkan distress. [Lihat sumber Disini - journal.fk.unpad.ac.id]
Faktor Psikologis
-
Kecemasan, ketakutan, stres, kebingungan mental, halusinasi, atau gangguan persepsi (terutama pada pasien psikiatri). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Ketidakpastian, perasaan tidak aman, kehilangan kontrol: pasien merasa rentan, bingung, atau terancam di lingkungan perawatan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
Faktor Lingkungan / Kontekstual
-
Lingkungan baru, misalnya ICU, ruang rawat, dengan alat medis, suara bising, cahaya, kunjungan yang terbatas, interaksi staf yang intens. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Hubungan interpersonal buruk: kurangnya komunikasi terapeutik, staf keperawatan tidak responsif, atau kurang empati. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Faktor situasional dalam layanan kesehatan: overkapasitas, stres lingkungan kerja bagi staf, serta protokol sedasi atau perawatan yang kurang optimal. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
Tanda dan Perilaku Agitasi
Manifestasi agitasi bisa sangat variatif tergantung tingkat keparahan, kondisi medis, dan faktor penyebab. Berikut perilaku/kriteria klinis umum:
-
Aktivitas motorik berlebihan: gelisah, mondar-mandir, tidak bisa diam, gerakan tiba-tiba. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Kegelisahan emosional, irritabilitas, mudah marah, cemas, ketakutan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Disorientasi, kebingungan, perubahan status kognitif atau kesadaran, kesulitan berkomunikasi, pikiran tidak teratur. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Perubahan fisiologis atau tanda vital: detak jantung meningkat, tekanan darah tidak stabil, pernapasan cepat, agitasi/gelisah yang mempengaruhi aspek biologis. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Potensi agresivitas atau kekerasan: verbal (teriakan, ancaman) atau fisik terhadap diri sendiri, staf, atau lingkungan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan proses perawatan: pasien menolak perawatan, melepas alat medis, menyulitkan staf dalam pemberian terapi atau prosedur medis. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
Risiko Bahaya bagi Pasien dan Lingkungan
Agitasi yang tidak ditangani dengan benar membawa berbagai risiko serius, antara lain:
-
Keselamatan Fisik, pasien dapat melukai diri sendiri akibat gerakan tak terkendali, melepas alat penting (misalnya ventilator), jatuh, atau melakukan tindakan agresif. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Gangguan Terapi / Perawatan, agitasi dapat menyebabkan interupsi prosedur medis, menghambat penyembuhan, memperpanjang masa rawat; pada ICU dapat mengganggu stabilitas pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dampak Psikologis, stres, trauma, kecemasan, dan ketidaknyamanan bagi pasien; juga beban emosional bagi keluarga dan staf perawatan. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Risiko bagi Tenaga Kesehatan & Lingkungan, potensi kekerasan terhadap staf atau pasien lain, cedera, konflik interpersonal, serta peningkatan beban kerja dan stres kerja. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Dampak Sistemik & Kualitas Layanan, menurunnya kualitas perawatan, ketidaknyamanan lingkungan perawatan, kebutuhan intervensi darurat, serta penggunaan sedatif atau restrain yang jika berlebihan membawa risiko tambahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Intervensi Keperawatan dalam Mengatasi Agitasi
Penanganan agitasi harus dilakukan segera dan holistik, tidak cukup hanya tindakan farmakologis atau fisik saja. Berikut intervensi keperawatan yang direkomendasikan berdasarkan literatur:
Pengkajian Awal & Identifikasi Faktor Pemicu
-
Lakukan asesmen menyeluruh (fisik, kognitif, psikologis, lingkungan) untuk mengidentifikasi kebutuhan tidak terpenuhi, rasa sakit, nyeri, ketidaknyamanan, kondisi vital, serta faktor lingkungan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Gunakan instrumen penilaian yang baku, misalnya Richmond Agitation‑Sedation Scale (RASS), untuk menilai tingkat agitasi atau sedasi, terutama pada pasien ICU atau dengan ventilator. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Intervensi Non-Farmakologis
-
Terapkan teknik komunikasi terapeutik dan pendekatan manusiawi: berbicara dengan tenang, mendengar keluhan pasien, memberi keamanan psikologis, menjelaskan prosedur medis agar pasien merasa aman dan dipahami. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Gunakan teknik de-eskalasi verbal dan non-verbal: memberi ruang pribadi, menenangkan suasana, memperhatikan bahasa tubuh, menjaga nada & kecepatan bicara, menjaga jarak aman, serta memungkinkan pasien mengekspresikan perasaan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Modifikasi lingkungan: kurangi rangsangan berlebihan (suara, cahaya), atur kenyamanan (temperatur, posisi), pastikan ruang tertata aman, minimalkan faktor stres eksternal. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Intervensi suportif tambahan: misalnya terapi sensorik, familiar auditory sensory training (pada kasus neurologis atau pasca-stroke), membantu mengurangi agitasi dan meningkatkan kesadaran/kesejahteraan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Intervensi Farmakologis dan Tindakan Restrain
-
Jika non-farmakologis tidak efektif dan agitasi mengancam keselamatan, pertimbangkan restrain fisik atau sedasi farmakologis (chemical restraint). Namun harus menjadi pilihan akhir setelah semua upaya lain gagal. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Pelaksanaan restrain harus sesuai protokol, dengan pemantauan ketat terhadap tanda vital dan kenyamanan pasien, serta evaluasi berkala untuk mencegah efek samping. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
Kolaborasi Tim & Komunikasi Interdisipliner
-
Libatkan tim kesehatan: perawat, dokter, psikiater, psikolog, keluarga, agar penyebab agitasi bisa dievaluasi secara menyeluruh dan intervensi terpadu. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Setelah kejadian agitasi atau agresi, lakukan debriefing untuk pasien (jika memungkinkan), keluarga, dan staf; evaluasi insiden, identifikasi pemicu, dan perbaiki rencana perawatan agar kejadian serupa dapat dicegah. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
Teknik De-eskalasi dan Komunikasi Terapeutik
Untuk mengurangi agitasi tanpa menggunakan obat atau restrain, teknik de-eskalasi dan komunikasi terapeutik sangat penting. Berdasarkan literatur:
-
Teknik verbal de-eskalasi: komunikasi tenang, bahasa sederhana, nada suara terkontrol, memberikan penjelasan, validasi perasaan pasien, memberi ruang bagi pasien untuk bicara. Studi kasus di 2025 menunjukkan de-eskalasi verbal efektif menurunkan respons marah pada pasien psikiatri. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Teknik non-verbal: gestur tenang, postur tidak mengancam, menjaga jarak aman, menghindari kontak mata yang menantang, menggunakan lingkungan yang aman dan nyaman. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
-
Pendekatan holistik: intervensi keperawatan yang mempertimbangkan kebutuhan fisik, emosional, dan lingkungan, misalnya musik lembut, pencahayaan redup, suasana tenang, kehadiran orang familiar atau keluarga jika memungkinkan. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
-
Edukasi dan pelatihan staf: perawat dan tenaga kesehatan perlu dibekali kemampuan mengenali tanda awal agitasi, teknik komunikasi, de-eskalasi, serta prosedur intervensi sesuai protokol keamanan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]
Contoh Kasus Agitasi Pasien
Salah satu studi kasus terkini (2024) di Indonesia melaporkan tentang pasien di ICU yang menjalani ventilasi mekanik dan sedasi, namun penilaian agitasi secara objektif tidak dilakukan secara rutin, sehingga pasien berisiko mendapat sedasi berlebihan tanpa evaluasi ulang. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
Analisis konsep internasional juga menunjukkan bahwa pada pasien ICU, agitasi dapat terjadi pada 32, 87% pasien, dengan manifestasi meliputi aktivitas motorik berlebihan, ketegangan emosi, gangguan kognitif, agresivitas, dan fluktuasi vital. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam kasus nyata seperti ini, intervensi non-farmakologis (komunikasi terapeutik, modifikasi lingkungan, observasi ketat) harus dikedepankan, sedangkan sedasi atau restrain hanya dipertimbangkan bila kondisi membahayakan. Intervensi yang tepat dapat meminimalisir risiko efek samping, mempercepat stabilisasi, serta mendukung keselamatan pasien dan staf.
Kesimpulan
Agitasi pasien adalah fenomena kompleks yang melibatkan kombinasi faktor medis, psikologis, dan lingkungan. Manifestasinya bisa sangat variatif, dari kegelisahan ringan hingga perilaku agresif yang membahayakan. Karenanya, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan saja. Intervensi keperawatan yang holistik, yang menggabungkan asesmen komprehensif, intervensi non-farmakologis, de-eskalasi, komunikasi terapeutik, dan kolaborasi tim sangat krusial. Bila dibutuhkan, sedasi atau tindakan restrain bisa digunakan, tetapi sebagai upaya terakhir dan dilakukan dengan protokol ketat. Pemahaman dan penerapan praktik terbaik ini penting agar perawatan berjalan aman, efektif, dan manusiawi, serta meminimalkan dampak negatif bagi pasien, keluarga, maupun staf.