Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Agitasi Pasien: Pengertian dan Intervensi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/agitasi-pasien-pengertian-dan-intervensi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Agitasi Pasien: Pengertian dan Intervensi - SumberAjar.com

Agitasi Pasien: Pengertian dan Intervensi

Pendahuluan

Agitasi pada pasien merupakan fenomena klinis yang sering dijumpai di berbagai layanan kesehatan, termasuk ruang rawat, unit gawat darurat (UGD), dan unit perawatan intensif (ICU). Kondisi ini bukan sekadar “pasien gelisah”, melainkan dapat mencerminkan gangguan regulasi motorik, kognitif, dan emosional yang kompleks, dan bila tidak ditangani dengan tepat bisa berakibat pada keselamatan pasien, tenaga kesehatan, serta lingkungan perawatan. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang definisi, faktor pemicu, manifestasi klinis, serta intervensi keperawatan yang efektif menjadi sangat penting. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang agitasi pasien, dari pengertian, pemicu, tanda perilaku, risiko, hingga intervensi keperawatan dan teknik de-eskalasi serta komunikasi terapeutik, disertai contoh kasus.


Definisi Agitasi

Definisi Agitasi Secara Umum

Agitasi (agitation) umumnya dipahami sebagai suatu keadaan psikomotor yang ditandai dengan peningkatan aktivitas motorik, ketegangan emosional, disorganisasi pikiran, atau respons perilaku yang tidak terkontrol, yang mengakibatkan gangguan bagi individu maupun lingkungan sekitarnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Menurut ulasan di literatur keperawatan dan psikiatri, agitasi dapat muncul dalam berbagai setting, rawat inap, unit gawat darurat, unit perawatan intensif (ICU), maupun layanan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Agitasi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “agitasi” diartikan sebagai kegelisahan, kegoncangan, atau peningkatan aktivitas fisik/emosional secara abnormal dan tidak terkendali. (Catatan: definisi spesifik KBBI bisa kamu salin dari laman resmi KBBI, pastikan dikutip)

Definisi Agitasi Menurut Para Ahli

  • Anne Mette N. Adams, Diane Chamberlain, Charlotte Brun Thorup & Matthew J. Maiden, dalam studi analisis konsep “Patient Agitation in the Intensive Care Unit” mendefinisikan agitasi sebagai kondisi yang ditandai oleh aktivitas motorik berlebihan (excessive motor activity), ketegangan emosi, gangguan kognitif, serta interupsi pemberian perawatan; sering disertai agresivitas dan fluktuasi tanda vital. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]

  • StatPearls, agitasi digambarkan sebagai kumpulan perilaku nonspecific, yang mencakup kegelisahan, kegundahan, kecurigaan, irritabilitas, kebingungan, disorientasi, hingga potensi perilaku kekerasan, baik verbal maupun fisik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Australian Critical Care (dalam publikasi literatur keperawatan), menyebut bahwa agitasi adalah respons maladaptif terhadap kebutuhan fisik, emosional, atau lingkungan yang tidak terpenuhi; bukan hanya gangguan psikologis, tetapi dapat berasal dari kondisi medis, pengaruh obat, atau stresor lingkungan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Journal of Advanced Nursing, dalam tinjauan konsep agitasi di ICU menekankan bahwa agitasi tidak dapat diartikan secara universal karena dipengaruhi oleh banyak faktor: kondisi kritis pasien, agen farmakologis, ketidaknyamanan fisik, karakteristik individu, hingga interaksi staf-pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Faktor Pemicu Agitasi

Agitasi dapat dipicu oleh berbagai faktor, sering bersifat multifaktorial dan saling berinteraksi. Berikut klasifikasi utama faktor pemicu:

Faktor Medis

Faktor Psikologis

Faktor Lingkungan / Kontekstual


Tanda dan Perilaku Agitasi

Manifestasi agitasi bisa sangat variatif tergantung tingkat keparahan, kondisi medis, dan faktor penyebab. Berikut perilaku/kriteria klinis umum:


Risiko Bahaya bagi Pasien dan Lingkungan

Agitasi yang tidak ditangani dengan benar membawa berbagai risiko serius, antara lain:


Intervensi Keperawatan dalam Mengatasi Agitasi

Penanganan agitasi harus dilakukan segera dan holistik, tidak cukup hanya tindakan farmakologis atau fisik saja. Berikut intervensi keperawatan yang direkomendasikan berdasarkan literatur:

Pengkajian Awal & Identifikasi Faktor Pemicu

  • Lakukan asesmen menyeluruh (fisik, kognitif, psikologis, lingkungan) untuk mengidentifikasi kebutuhan tidak terpenuhi, rasa sakit, nyeri, ketidaknyamanan, kondisi vital, serta faktor lingkungan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Gunakan instrumen penilaian yang baku, misalnya Richmond Agitation‑Sedation Scale (RASS), untuk menilai tingkat agitasi atau sedasi, terutama pada pasien ICU atau dengan ventilator. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Intervensi Non-Farmakologis

  • Terapkan teknik komunikasi terapeutik dan pendekatan manusiawi: berbicara dengan tenang, mendengar keluhan pasien, memberi keamanan psikologis, menjelaskan prosedur medis agar pasien merasa aman dan dipahami. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Gunakan teknik de-eskalasi verbal dan non-verbal: memberi ruang pribadi, menenangkan suasana, memperhatikan bahasa tubuh, menjaga nada & kecepatan bicara, menjaga jarak aman, serta memungkinkan pasien mengekspresikan perasaan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]

  • Modifikasi lingkungan: kurangi rangsangan berlebihan (suara, cahaya), atur kenyamanan (temperatur, posisi), pastikan ruang tertata aman, minimalkan faktor stres eksternal. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]

  • Intervensi suportif tambahan: misalnya terapi sensorik, familiar auditory sensory training (pada kasus neurologis atau pasca-stroke), membantu mengurangi agitasi dan meningkatkan kesadaran/kesejahteraan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]

Intervensi Farmakologis dan Tindakan Restrain

  • Jika non-farmakologis tidak efektif dan agitasi mengancam keselamatan, pertimbangkan restrain fisik atau sedasi farmakologis (chemical restraint). Namun harus menjadi pilihan akhir setelah semua upaya lain gagal. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Pelaksanaan restrain harus sesuai protokol, dengan pemantauan ketat terhadap tanda vital dan kenyamanan pasien, serta evaluasi berkala untuk mencegah efek samping. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

Kolaborasi Tim & Komunikasi Interdisipliner

  • Libatkan tim kesehatan: perawat, dokter, psikiater, psikolog, keluarga, agar penyebab agitasi bisa dievaluasi secara menyeluruh dan intervensi terpadu. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Setelah kejadian agitasi atau agresi, lakukan debriefing untuk pasien (jika memungkinkan), keluarga, dan staf; evaluasi insiden, identifikasi pemicu, dan perbaiki rencana perawatan agar kejadian serupa dapat dicegah. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]


Teknik De-eskalasi dan Komunikasi Terapeutik

Untuk mengurangi agitasi tanpa menggunakan obat atau restrain, teknik de-eskalasi dan komunikasi terapeutik sangat penting. Berdasarkan literatur:

  • Teknik verbal de-eskalasi: komunikasi tenang, bahasa sederhana, nada suara terkontrol, memberikan penjelasan, validasi perasaan pasien, memberi ruang bagi pasien untuk bicara. Studi kasus di 2025 menunjukkan de-eskalasi verbal efektif menurunkan respons marah pada pasien psikiatri. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]

  • Teknik non-verbal: gestur tenang, postur tidak mengancam, menjaga jarak aman, menghindari kontak mata yang menantang, menggunakan lingkungan yang aman dan nyaman. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]

  • Pendekatan holistik: intervensi keperawatan yang mempertimbangkan kebutuhan fisik, emosional, dan lingkungan, misalnya musik lembut, pencahayaan redup, suasana tenang, kehadiran orang familiar atau keluarga jika memungkinkan. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]

  • Edukasi dan pelatihan staf: perawat dan tenaga kesehatan perlu dibekali kemampuan mengenali tanda awal agitasi, teknik komunikasi, de-eskalasi, serta prosedur intervensi sesuai protokol keamanan. [Lihat sumber Disini - sciendo.com]


Contoh Kasus Agitasi Pasien

Salah satu studi kasus terkini (2024) di Indonesia melaporkan tentang pasien di ICU yang menjalani ventilasi mekanik dan sedasi, namun penilaian agitasi secara objektif tidak dilakukan secara rutin, sehingga pasien berisiko mendapat sedasi berlebihan tanpa evaluasi ulang. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]

Analisis konsep internasional juga menunjukkan bahwa pada pasien ICU, agitasi dapat terjadi pada 32, 87% pasien, dengan manifestasi meliputi aktivitas motorik berlebihan, ketegangan emosi, gangguan kognitif, agresivitas, dan fluktuasi vital. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dalam kasus nyata seperti ini, intervensi non-farmakologis (komunikasi terapeutik, modifikasi lingkungan, observasi ketat) harus dikedepankan, sedangkan sedasi atau restrain hanya dipertimbangkan bila kondisi membahayakan. Intervensi yang tepat dapat meminimalisir risiko efek samping, mempercepat stabilisasi, serta mendukung keselamatan pasien dan staf.


Kesimpulan

Agitasi pasien adalah fenomena kompleks yang melibatkan kombinasi faktor medis, psikologis, dan lingkungan. Manifestasinya bisa sangat variatif, dari kegelisahan ringan hingga perilaku agresif yang membahayakan. Karenanya, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan saja. Intervensi keperawatan yang holistik, yang menggabungkan asesmen komprehensif, intervensi non-farmakologis, de-eskalasi, komunikasi terapeutik, dan kolaborasi tim sangat krusial. Bila dibutuhkan, sedasi atau tindakan restrain bisa digunakan, tetapi sebagai upaya terakhir dan dilakukan dengan protokol ketat. Pemahaman dan penerapan praktik terbaik ini penting agar perawatan berjalan aman, efektif, dan manusiawi, serta meminimalkan dampak negatif bagi pasien, keluarga, maupun staf.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Agitasi pada pasien adalah kondisi peningkatan aktivitas motorik, ketegangan emosional, atau perilaku tidak terkontrol yang dapat mengganggu keselamatan pasien maupun lingkungan. Kondisi ini dapat dipicu faktor medis, psikologis, maupun lingkungan.

Tanda agitasi meliputi gelisah, mondar-mandir, mudah marah, agresivitas verbal atau fisik, disorientasi, peningkatan tanda vital, dan gangguan dalam menerima perawatan.

Agitasi dapat disebabkan oleh faktor medis seperti penyakit akut atau efek obat, faktor psikologis seperti kecemasan dan kebingungan, serta faktor lingkungan seperti kebisingan, pencahayaan berlebih, atau interaksi yang kurang suportif.

Intervensi keperawatan meliputi pengkajian menyeluruh, komunikasi terapeutik, teknik de-eskalasi, modifikasi lingkungan, serta kolaborasi dengan tim medis. Sedasi atau restrain hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir dengan protokol ketat.

Teknik de-eskalasi adalah metode untuk meredakan ketegangan melalui komunikasi verbal dan nonverbal yang tenang, menjaga jarak aman, memberikan ruang, serta menghindari sikap yang dapat memicu respons agresif pada pasien.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Agitasi Pasien: Konsep, Karakteristik, dan Intervensi Keperawatan Agitasi Pasien: Konsep, Karakteristik, dan Intervensi Keperawatan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…