
Agitasi Pasien: Konsep, Karakteristik, dan Intervensi Keperawatan
Pendahuluan
Agitasi pada pasien merupakan fenomena klinis yang sering ditemui dalam berbagai setting layanan kesehatan, mulai dari ruang intensive care unit (ICU) hingga instalasi gawat darurat dan layanan psikiatri. Kondisi ini bukan sekadar perilaku pasien yang tampak gelisah, namun merupakan manifestasi kompleks dari ketidakseimbangan aktivitas motorik, emosional, dan kognitif yang dapat berdampak signifikan terhadap proses perawatan dan keselamatan pasien. Pasien yang mengalami agitasi menunjukkan peningkatan aktivitas psikomotor, ketidakmampuan berkooperasi, serta perilaku yang tidak sesuai dengan konteks klinisnya. Kondisi ini sering kali memicu risiko cedera baik pada pasien sendiri maupun pada tenaga kesehatan yang merawatnya jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Studi menunjukkan bahwa agitasi seringkali berhubungan dengan kondisi medis akut, delirium, nyeri, serta kecemasan yang intens, yang semuanya berkontribusi terhadap tantangan dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman dan efektif. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Agitasi Pasien
Definisi Agitasi Secara Umum
Secara umum, agitasi merujuk pada perilaku yang ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas psikomotor yang tidak terarah, disertai ketidaktenangan emosional dan kesulitan dalam berkoordinasi dengan lingkungan klinisnya. Kondisi ini dapat muncul pada pasien dengan gangguan medis, psikiatri, ataupun pada pasien yang dalam fase kritis perawatan. Agitasi bukanlah istilah yang hanya menggambarkan gelisah ringan semata, namun sebuah kondisi perilaku yang mencerminkan respon tidak adaptif terhadap stres fisiologis maupun psikologis yang dialami pasien selama perawatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Agitasi dalam KBBI
Menurut definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agitasi dapat diartikan sebagai kondisi ketidaktenangan atau kegelisahan yang berlebihan. Walaupun definisi dalam KBBI lebih umum dan tidak spesifik klinis, istilah ini tetap relevan karena mencerminkan kondisi perilaku pasien yang tidak stabil dan berpotensi mengganggu proses pelayanan kesehatan. (Catatan: lo bisa melampirkan link KBBI jika diperlukan melalui kbbi.web.id langsung sesuai kebutuhan publikasi di situs sumberajar, tidak tersedia langsung di hasil pencarian saat ini).
Definisi Agitasi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli memberikan definisi klinis agitasi yang lebih spesifik terkait konteks perawatan kesehatan:
-
Sharma et al. (2024) menyatakan bahwa agitasi merupakan himpunan perilaku kompleks yang tidak spesifik namun biasa terlihat dalam berbagai setting perawatan, ditandai dengan aktivitas motorik dan emosional yang berlebihan, serta dapat menimbulkan risiko keselamatan jika tidak diidentifikasi lebih awal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Mulkey & O’Mara (2021) mendeskripsikan agitasi sebagai keadaan emosional yang ditandai oleh tingkat kegelisahan atau agitasi yang meningkat, dan sering merupakan gejala dari gangguan medis atau psikiatri yang mendasarinya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Freeman et al. (2022) menyatakan bahwa agitasi dapat berupa gangguan psikomotor yang disertai peningkatan aktivitas motorik dan pikiran yang tidak terorganisir. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Artikel Psychiatry Online (2022) mendefinisikan agitasi sebagai perilaku yang dapat diamati dan tidak sesuai dengan situasi klinis, yang terbentuk dari aktivitas verbal maupun motorik yang berlebihan. [Lihat sumber Disini - psychiatryonline.org]
Faktor Penyebab Agitasi pada Pasien
Agitasi pada pasien dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang bersifat multifaktorial. Faktor-faktor ini dapat berasal dari kondisi medis akut pasien, pengaruh lingkungan klinis, hingga efek samping obat-obatan atau terapi yang diberikan.
1. Faktor Fisiologis dan Kondisi Medis
Beberapa kondisi medis mendasari pasien untuk menjadi gelisah atau mengalami agitasi, seperti delirium, hipoksia, nyeri akut, tekanan intrakranial yang meningkat, hingga efek obat sedatif atau analgesik yang tidak sesuai dosisnya. Pada pasien ICU, kondisi seperti nyeri intens serta penggunaan ventilator juga dilaporkan memperburuk gejala agitasi. [Lihat sumber Disini - journal.fk.unpad.ac.id]
2. Faktor Lingkungan Perawatan
Lingkungan rawat inap yang asing, suara bising, kurangnya orientasi ruang dan waktu, serta kurangnya interaksi yang memadai dengan perawat dapat memicu agitasi pada pasien, terutama pada pasien lansia atau mereka yang mengalami gangguan kognitif. [Lihat sumber Disini - journal.fk.unpad.ac.id]
3. Faktor Psikologis dan Stres Emosional
Pasien yang mengalami kecemasan berat, ketidakpastian atas diagnosis atau terapi, serta ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif dengan tenaga kesehatan, cenderung menunjukkan perilaku agitasi sebagai ekspresi stres emosional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
4. Faktor Obat dan Interaksi Obat
Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya obat anestesi inhalasi atau sedatif pada dosis yang tidak tepat, dapat berkontribusi pada agitasi, terutama pada pasien pasca anestesi umum atau terapi intensif. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
Karakteristik Klinis Agitasi
Pasien yang mengalami agitasi menunjukkan pola perilaku klinis tertentu yang dapat dikenali oleh tenaga kesehatan sebagai berikut:
1. Peningkatan Aktivitas Motorik yang Tidak Terarah
Pasien tampak gelisah, sering bangun dari tempat tidur tanpa tujuan jelas, menarik selang atau kateter, serta menunjukkan aktivitas motorik yang tidak terkontrol. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
2. Ketidakmampuan Berkoordinasi dengan Tenaga Kesehatan
Pasien sulit diajak berkomunikasi, tidak kooperatif dengan intervensi medis atau perawatan, dan mungkin menunjukkan agresivitas verbal atau fisik ringan yang menantang keselamatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
3. Gangguan Emosional dan Kognitif
Kondisi agitasi tidak hanya berkaitan dengan motorik saja, tetapi juga manifestasi gangguan emosional seperti kecemasan, ketakutan, serta gangguan pemikiran yang membuat pasien tampak bingung atau tidak fokus. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
4. Fluktuasi Gejala dalam Setting Perawatan Intensif
Dalam beberapa kasus, perilaku agitasi dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu, terutama jika dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau terapi medis yang diterima pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Agitasi terhadap Keselamatan Pasien
Agitasi yang tidak ditangani secara tepat dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi keselamatan pasien, di antaranya:
1. Risiko Cedera Fisik
Pasien yang gelisah mungkin mencabut selang, infus, atau alat medis lainnya, yang menimbulkan risiko cedera langsung maupun komplikasi medis. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
2. Penurunan Kualitas Perawatan
Agitasi menghambat kelancaran prosedur klinis, komunikasi terapeutik, serta fokus pada penatalaksanaan penyakit yang mendasari kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
3. Stres bagi Tenaga Kesehatan
Tenaga perawat dan dokter yang harus menghadapi pasien dengan agitasi secara terus-menerus juga beresiko mengalami kelelahan kerja, stres emosional, serta peningkatan risiko kesalahan medis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Keperawatan Tingkat Agitasi
Penilaian tingkat agitasi merupakan langkah penting dalam strategi keperawatan untuk menentukan intervensi yang sesuai.
1. Skala Richmond Agitation-Sedation Scale (RASS)
RASS merupakan salah satu instrumen klinis yang digunakan untuk menilai tingkat agitasi maupun sedasi pada pasien, terutama pada pasien rawat intensif. Skala ini membantu perawat menentukan apakah pasien terlalu agitasi atau perlu penyesuaian dosis sedatif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
2. Observasi Klinis Berbasis Asuhan Keperawatan
Penilaian subjektif oleh perawat seperti observasi perilaku motorik, kemampuan kooperasi, serta respon pasien terhadap intervensi awal digunakan bersama dengan skoring objektif. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
3. Penilaian Delirium yang Terkait
Meski bukan alat untuk agitasi langsung, pengukuran delirium seperti Confusion Assessment Method (CAM) dapat membantu menentukan apakah agitasi pasien terkait dengan perubahan status kognitif global. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Intervensi Keperawatan pada Pasien Agitasi
Intervensi keperawatan pada pasien agitasi bertujuan mengendalikan gejala, menjamin keselamatan, serta memfasilitasi proses penyembuhan. Intervensi dibagi menjadi nonfarmakologis dan farmakologis sesuai kondisi klinis.
1. Intervensi Nonfarmakologis
Intervensi nonfarmakologis menjadi langkah awal penting sebelum mempertimbangkan tindakan obat, meliputi:
-
Verbal De-escalation: Komunikasi yang tenang, jelas, serta menenangkan untuk membantu pasien merasa lebih aman dan terkendali. [Lihat sumber Disini - myamericannurse.com]
-
Lingkungan yang Tenang: Mengurangi stimulus bising, pencahayaan yang berlebihan, dan menciptakan suasana tenang dapat membantu pasien menurunkan tingkat agitasi. [Lihat sumber Disini - myamericannurse.com]
-
Pendekatan Pendukung Emosional: Memberikan dukungan emosional untuk membantu pasien menghadapi kecemasan dan ketidakpastian. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Intervensi Farmakologis
Dalam kondisi agitasi yang intens atau berbahaya, pendekatan farmakologis dapat dipertimbangkan, seperti pemberian sedatif atau antipsikotik yang aman di bawah supervisi medis. Penggunaan obat-obat ini dianggap sebagai bentuk chemical restraint ketika digunakan untuk mengendalikan perilaku yang mengancam keselamatan, namun harus digunakan setelah intervensi nonfarmakologis dan dalam kerangka protokol klinis yang tepat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
3. Kolaborasi Tim Perawatan
Kolaborasi antara perawat, dokter, psikolog, dan anggota tim kesehatan lainnya sangat penting untuk merencanakan penatalaksanaan holistik yang mempertimbangkan kebutuhan fisiologis dan psikososial pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kesimpulan
Agitasi pasien merupakan kondisi klinis kompleks yang mencerminkan peningkatan aktivitas motorik, emosional, dan kognitif yang tidak terkontrol. Definisi agitasi dalam konteks keperawatan mencakup perilaku yang mengganggu proses perawatan, yang dapat dipahami dari definisi umum hingga interpretasi para ahli klinis. Faktor penyebabnya bersifat multifaktorial, melibatkan aspek fisiologis, psikologis, lingkungan, dan efek obat. Karakteristik klinis agitasi mencakup perilaku motorik tidak terarah, kesulitan berkoordinasi, serta gangguan emosional yang mempengaruhi proses asuhan. Dampak agitasi pada keselamatan pasien cukup serius, termasuk risiko cedera fisik, penurunan kualitas perawatan, serta beban tambahan bagi tenaga kesehatan. Penilaian tingkat agitasi melalui skala objektif dan observasi klinis menjadi dasar untuk intervensi keperawatan. Strategi intervensi mencakup pendekatan nonfarmakologis, farmakologis, serta kolaborasi tim kesehatan untuk menjamin keselamatan pasien dan efektivitas pengobatan. Praktik keperawatan yang terintegrasi dan berbasis bukti sangat diperlukan untuk mengelola agitasi secara efektif dan aman dalam konteks pelayanan kesehatan modern.