![Citra: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Komunikasi [PDF] - SumberAjar.com Citra: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Komunikasi [PDF] - SumberAjar.com](https://sumberajar.com/assest/img/blogs/citra-definisi-jenis-dan-contoh.webp)
Citra: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Komunikasi
Pendahuluan
Dalam era komunikasi yang semakin kompleks dan terpola melalui media massa maupun digital, fenomena “citra” menjadi salah satu aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Citra berperan sebagai gambaran yang diterima publik mengenai individu, organisasi, merek, atau produk. Dalam konteks komunikasi, pemahaman tentang citra menjadi modal strategis agar pesan dan identitas dapat diterima sebagaimana yang diharapkan. Melalui pembahasan ini, artikel akan menguraikan definisi citra secara umum, dalam kamus resmi KBBI, serta menurut para ahli, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan jenis-jenis citra dalam komunikasi serta contoh-konkretnya, dan diakhiri dengan kesimpulan yang merangkum temuan-temuan penting. Tujuannya: memberikan pemahaman komprehensif tentang citra agar komunikasi baik personal maupun organisasi dapat lebih efektif dan terukur.
Definisi Citra
Definisi Citra Secara Umum
Secara umum, istilah “citra” sering digunakan untuk menyebutkan gambaran mental atau persepsi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok terhadap suatu objek,objek ini bisa berupa individu, institusi, organisasi, merek, produk, atau fenomena sosial. Dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin menyatakan bahwa “citra perusahaan itu bagus” atau “citra merek ini melekat di benak konsumen”, yang pada dasarnya merujuk pada bagaimana publik (atau audiens) memandang dan mengevaluasi objek tersebut.
Sebagai contoh: ketika sebuah organisasi menerapkan layanan publik yang responsif dan transparan, publik akan membentuk gambaran bahwa “organisasi ini profesional” atau “organisasi ini terpercaya”. Gambaran ini adalah citra yang terbentuk melalui interaksi komunikasi, pengalaman, dan/atau informasi yang diterima.
Definisi Citra dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “citra” adalah kata benda yang memiliki arti “rupa, gambar(an), gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk”. (Definisi ini diambil dari hasil skripsi Mirna Wati tahun 2021 yang memuat pengertian KBBI). [Lihat sumber Disini - repository.iainpare.ac.id]
Artinya, secara leksikal, citra merujuk pada “gambaran” atau “representasi” yang terbentuk di benak publik tentang suatu entitas. Menariknya, KBBI mengaitkannya langsung dengan “yang dimiliki orang banyak”, menunjukkan bahwa citra adalah sesuatu yang bersifat sosial dan publik, bukan hanya persepsi individu saja.
Definisi Citra Menurut Para Ahli
Beberapa ahli telah mengemukakan definisi citra dalam konteks komunikasi dan manajemen citra. Berikut minimal empat di antaranya:
- Menurut Kotler & Keller (2016:4) yang dikutip dalam sumber Indonesia (Erlina, 2022) – “citra adalah kesan yang dirasakan seseorang mengenai suatu objek atau barang ataupun organisasi.” [Lihat sumber Disini - repository.stei.ac.id]
- Menurut Bill Canton (dalam Wati, 2021) – “Image is the impression, the feeling, the conception which the public has of company.” Artinya: citra adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan atau organisasi. [Lihat sumber Disini - repository.iainpare.ac.id]
- Menurut Jahaluddin Rakhmat (dalam Wati, 2021) – Citra adalah gambaran subjektif mengenai realitas, yang dapat membantu seseorang menyesuaikan diri dengan realitas konkret dalam pengalaman seseorang. [Lihat sumber Disini - repository.iainpare.ac.id]
- Menurut Katz (dalam Wati, 2021) – Citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorang, suatu komite, atau suatu aktivitas. [Lihat sumber Disini - repository.iainpare.ac.id]
- Menurut Setiadi (2023) dalam kajian manajemen citra perusahaan melalui media sosial – “citra perusahaan merupakan kepercayaan, ide dan impresi yang dimiliki publik terhadap perusahaan secara keseluruhan melalui pengetahuan dan pengalaman.” [Lihat sumber Disini - jurnal.untag-sby.ac.id]
Dari definisi-ahli di atas bisa ditarik bahwa beberapa elemen kunci citra adalah: gambaran atau kesan (impression), publik sebagai pihak pembentuk, objek yang dipersepsi (individu/organisasi/produk), dan proses komunikasi/persepsi yang melatarbelakangi gambaran tersebut.
Jenis-Jenis Citra dalam Komunikasi
Dalam ranah komunikasi, citra tidak hanya satu dimensi saja,ada beberapa jenis yang relevan untuk dibedah, terutama bila mengaitkannya dengan objek yang berbeda, media yang digunakan, dan target audiensnya. Berikut beberapa pembagian jenis citra yang umum dibahas:
Citra Individu
Citra individu merujuk pada gambaran atau persepsi yang terbentuk di benak publik terhadap seseorang sebagai pribadi atau figur publik. Misalnya politisi, selebritas, pimpinan organisasi, atau influencer mempunyai citra yang terbentuk melalui perilaku, komunikasi publik, penampilan, media sosial, dan interaksi-lainnya. Komunikasi yang dilakukan individu tersebut (baik verbal maupun non-verbal) akan memengaruhi bagaimana citranya dibentuk. Misalnya dalam penelitian mengenai pustakawan di Bandung: komunikasi interpersonal seperti komunikasi non-verbal dan penyampaian pesan memengaruhi citra pustakawan terhadap pemakai layanan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
Citra Organisasi / Perusahaan
Salah satu jenis yang paling banyak dibahas adalah citra organisasi atau perusahaan (corporate image). Citra ini adalah persepsi publik terhadap organisasi secara keseluruhan,termasuk identitas, budaya, kinerja, pelayanan, tanggung jawab sosial, komunikasi perusahaan, dan lain-lain. Contoh: penelitian di Indonesia mengenai strategi PR dalam membangun citra perusahaan menunjukkan organisasi menggunakan komunikasi korporat untuk membentuk citra positif. [Lihat sumber Disini - caraka.web.id]
Citra Merek / Produk
Citra merek (brand image) atau produk juga merupakan jenis citra yang relevan dalam komunikasi pemasaran. Di sini objeknya bukan organisasi secara luas, melainkan merek atau produk spesifik. Persepsi konsumen terhadap kualitas, identitas visual, reputasi merek, dan pengalaman penggunaan akan membentuk citra merek. Dalam artikel tentang citra merek disebutkan bahwa “citra merek adalah persepsi dan gambaran yang terbentuk di pikiran konsumen mengenai suatu merek.” [Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]
Citra Institusi / Lembaga Publik
Selain perusahaan komersial, lembaga publik (misalnya institusi pendidikan, pemerintahan, organisasi non-profit) juga turut membangun dan memperhatikan citra. Contoh: penelitian tentang strategi komunikasi digital dalam meningkatkan citra organisasi mahasiswa di era digital. [Lihat sumber Disini - indojurnal.com]
Citra Digital / Media Sosial
Dalam konteks era sekarang, citra terbentuk juga melalui platform digital dan media sosial. Bagaimana organisasi atau individu hadir di dunia digital (konten, respons, interaksi online) sangat memengaruhi bagaimana citra mereka dilihat publik. Penelitian menunjukkan bahwa manajemen citra melalui media sosial adalah elemen krusial dalam membentuk citra perusahaan. [Lihat sumber Disini - jurnal.untag-sby.ac.id]
Contoh dalam Komunikasi
Berikut beberapa contoh konkret bagaimana citra terbentuk atau digunakan dalam komunikasi, baik pribadi maupun organisasi:
- Contoh Individu
Salah seorang figur publik sering tampil di media sosial dengan konten positif, mendukung komunitas, berinteraksi secara aktif dengan pengikutnya. Komunikasi seperti ini membantu membentuk citra individu yang ramah, peduli, dan kredibel. - Contoh Organisasi / Perusahaan
Sebuah perusahaan e-commerce (misalnya studi kasus Tokopedia) menggunakan strategi komunikasi korporat melalui humas untuk membangun citra perusahaan yang inovatif dan responsif kepada pengguna. Penelitian Tyasari & Ruliana (2021) menunjukkan bahwa model reputasi dari Dowling menjadi kerangka dalam membangun citra organisasi. [Lihat sumber Disini - caraka.web.id]
Lainnya: penelitian di tahun 2023 mengenai citra perusahaan melalui media sosial menunjukkan bahwa citra positif memengaruhi kepercayaan konsumen. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ulbi.ac.id] - Contoh Institusi Pendidikan
Sebuah universitas menggunakan kanal Instagram dan kegiatan humas untuk membangun citra sebagai lembaga yang kolaboratif, aktif, dan modern. Penelitian Maharani dkk (2025) di Universitas Muhammadiyah Surakarta menunjukkan bahwa peran humas dalam membentuk citra institusi lewat unggahan kerjasama eksternal. [Lihat sumber Disini - jurnal.usahidsolo.ac.id] - Contoh Kampanye Pencitraan Melalui Media Sosial
Organisasi pemerintahan kota menggunakan strategi komunikasi internal dan eksternal untuk membentuk citra pemerintahan yang baik. Penelitian di Kota Malang menunjukkan hambatan seperti keterbatasan sumber daya humas dalam membangun citra pemerintahan. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id] - Contoh Produk / Merek
Sebuah merek global mengimplementasikan komunikasi pemasaran yang intensif untuk membentuk citra merek sebagai premium dan inovatif. Meskipun tidak spesifik produk Indonesia, konsep ini relevan: persepsi kualitas, pengalaman penggunaan, identitas merek berpengaruh terhadap citra. (lihat kajian citra merek di Triwikrama, 2024) [Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting:
- Citra adalah gambaran atau persepsi yang terbentuk di benak publik terhadap suatu objek (individu, organisasi, merek, produk).
- Definisi citra secara umum, dalam KBBI, dan menurut para ahli menekankan unsur-kunci seperti kesan, gambaran, publik, dan objek komunikasi.
- Dalam komunikasi, citra memiliki berbagai jenis: individu, organisasi/perusahaan, merek/produk, institusi publik, hingga citra digital/media sosial. Masing-masing jenis memerlukan perhatian strategi komunikasi yang sesuai.
- Contoh-konkrit menunjukkan bahwa citra tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui proses komunikasi,termasuk interaksi, media sosial, pelayanan publik, identitas visual, respons stakeholder,yang jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan citra positif dan kredibilitas.
- Bagi praktisi komunikasi dan humas, membangun citra bukan sekadar “menampilkan wajah bagus” saja, tetapi mengelola pesan, interaksi, stakeholder, pengalaman, dan feedback publik dengan konsisten dan strategis.
- Di era digital, tantangan membangun citra semakin besar: kecepatan penyebaran informasi, opini publik yang aktif, media sosial sebagai arena transparansi dan kontrol publik. Oleh karena itu, strategi komunikasi modern harus tanggap, responsif, dan adaptif.