Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Body Image Pasien Pasca Operasi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/body-image-pasien-pasca-operasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Body Image Pasien Pasca Operasi - SumberAjar.com

Body Image Pasien Pasca Operasi

Pendahuluan

Dalam praktik keperawatan, pemulihan fisik setelah operasi sering menjadi fokus utama. Namun, aspek psikologis dan persepsi terhadap tubuh pasca operasi, khususnya bagaimana pasien melihat dan menerima tubuhnya, kadang terabaikan. Persepsi ini dikenal sebagai “body image” atau citra tubuh. Perubahan tubuh akibat luka operatif, bekas sayatan, amputasi, atau perubahan fungsi tubuh dapat berdampak signifikan pada psikologis dan kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, penting bagi perawat untuk memahami konsep body image, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta bagaimana memberikan intervensi yang tepat agar pasien dapat beradaptasi dengan citra tubuh baru mereka.

Artikel ini bertujuan menggambarkan pengertian body image dalam keperawatan, perubahan yang terjadi pasca operasi, faktor-faktor yang mempengaruhi, dampak psikologis dari body image negatif, peran perawat, intervensi keperawatan, serta contoh kasus perubahan body image pada pasien pasca operasi.


Definisi Body Image

Definisi Body Image Secara Umum

Body image atau citra tubuh merujuk pada persepsi, sikap, perasaan, dan keyakinan seseorang terhadap tubuhnya sendiri, bagaimana seseorang melihat bentuk, fungsi, dan penampilan tubuhnya. Definisi ini mencakup aspek kognitif (bagaimana seseorang menilai tubuhnya), afektif/emotif (bagaimana perasaan terhadap tubuh), dan persepsi sosial (bagaimana individu berpikir orang lain memandang tubuhnya). Individu dengan body image positif cenderung menerima tubuhnya apa adanya, merasa nyaman dan percaya diri; sedangkan yang memiliki body image negatif mungkin merasa tidak puas, malu, dan mengalami penurunan kepercayaan diri. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

Definisi Body Image dalam KBBI

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah “citra tubuh” menggambarkan gambaran atau persepsi seseorang terhadap tubuhnya, baik dari segi penampilan, bentuk maupun fungsi. (Catatan: KBBI tidak selalu mencantumkan istilah “body image” secara spesifik, dalam literatur keperawatan dan psikologi, istilah internasional “body image” lebih umum digunakan. Oleh karena itu, definisi dalam praktik kesehatan sering mengacu pada pengertian psikologis seperti di atas.)

Definisi Body Image Menurut Para Ahli

Beberapa ahli mendefinisikan body image dengan penekanan berbeda namun tetap dalam koridor persepsi terhadap tubuh:

  • Menurut Setiawati, body image adalah bentuk pikiran, perasaan, dan sikap mengenai tubuh yang dimiliki seseorang secara keseluruhan. Tingkat kepuasan terhadap tubuh menentukan apakah body image seseorang positif atau negatif. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]

  • Dalam penelitian pada pasien pasca operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF), body image didefinisikan sebagai sikap, kepuasan ataupun ketidakpuasan individu terhadap tubuhnya yang telah mengalami perubahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Menurut literatur keperawatan, body image merupakan persepsi subyektif individu terhadap tubuh dan penampilannya; persepsi ini dapat berbeda antara individu meskipun kondisi fisiknya objektif sama. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

  • Dalam konteks pasien pasca operasi kanker atau amputasi, body image juga mencakup aspek identitas diri, fungsi tubuh, dan adaptasi psikologis terhadap perubahan fisik. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]

Dengan demikian, body image adalah konsep multidimensi yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial dalam persepsi seseorang terhadap tubuhnya.


Perubahan Citra Tubuh Setelah Operasi

Operasi, terutama yang bersifat besar, misalnya amputasi, operasi onkologi (misalnya mastektomi), operasi ortopedi (misalnya ORIF), atau operasi yang meninggalkan bekas luka besar, dapat menyebabkan perubahan struktur, fungsi, dan penampilan tubuh. Perubahan ini bisa bersifat sementara (misalnya pembengkakan, bekas luka) atau permanen (misalnya amputasi, perubahan anatomi).

Perubahan ini dapat mempengaruhi bagaimana pasien melihat tubuhnya sendiri. Dalam penelitian terhadap pasien ORIF, dilaporkan bahwa banyak pasien mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya setelah operasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dalam pasien pasca operasi sectio caesarea, juga ditemukan bahwa body image menurun dan berkorelasi dengan tingkat stres psikologis. [Lihat sumber Disini - ejournalwiraraja.com]

Selain itu, pada pasien kanker, misalnya pasca mastektomi, perubahan pada tubuh seperti kehilangan organ (payudara), bekas luka, atau perubahan bentuk tubuh bisa memunculkan ketidaknyamanan terhadap body image. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]

Dengan demikian, pasca operasi merupakan masa kritis di mana body image pasien rentan berubah, bisa menjadi lebih positif (jika penyembuhan baik, dukungan memadai) ataupun negatif jika ada perubahan tubuh signifikan.


Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Citra Tubuh

Persepsi body image pasca operasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, biologis, psikologis, dan sosial. Berikut beberapa faktor utama berdasarkan penelitian:

  • Perubahan fungsi tubuh / perubahan fisik, perubahan struktur atau fungsi tubuh akibat operasi atau luka seperti amputasi, bekas luka, perubahan mobilitas, kehilangan anggota tubuh. Hasil penelitian pada pasien ulkus diabetik menunjukkan bahwa perubahan fungsi tubuh berhubungan kuat dengan citra tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]

  • Reaksi dan respon orang lain (lingkungan sosial), bagaimana keluarga, teman, atau masyarakat merespon perubahan fisik pasien (termasuk reaksi verbal dan non-verbal) berpengaruh terhadap penerimaan diri pasien. Penelitian menunjukkan bahwa reaksi orang lain yang positif dapat mendukung citra tubuh positif, sedangkan reaksi negatif memperburuk citra tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]

  • Perbandingan diri dengan orang lain (social comparison), jika pasien sering membandingkan tubuhnya yang berubah dengan orang lain yang dianggap “normal” atau “ideal, ” hal tersebut bisa menimbulkan ketidakpuasan dan body image negatif. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]

  • Kondisi kesehatan dan fungsi diri, komplikasi medis, keterbatasan fungsional, rasa sakit, atau ketidakmampuan melakukan aktivitas seperti sebelum operasi dapat mempengaruhi persepsi terhadap tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]

  • Aspek psikologis dan emosional, stres, kecemasan, depresi, ketakutan, dan ketidakpastian mengenai pemulihan dapat memperburuk body image. Misalnya, penelitian pada pasien pasca mastektomi menunjukkan pemikiran negatif terhadap tubuhnya sebagai masalah utama body image. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]

  • Dukungan sosial dan budaya, standar kecantikan, stigma terhadap cacat atau bekas luka, norma sosial, dan keberadaan dukungan dari lingkungan dapat mempengaruhi penerimaan diri. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Dampak Psikologis Body Image Negatif

Body image negatif pasca operasi dapat menimbulkan berbagai konsekuensi psikologis dan sosial, antara lain:


Peran Perawat dalam Mendukung Adaptasi Pasien

Perawat memiliki peran penting dalam membantu pasien beradaptasi dengan perubahan body image pasca operasi. Berikut beberapa peran utama:


Intervensi Keperawatan pada Gangguan Citra Tubuh

Berdasarkan literatur dan praktik keperawatan, beberapa intervensi yang efektif untuk membantu pasien dengan gangguan body image pasca operasi meliputi:

  • Asuhan keperawatan individual dengan pendekatan empatik, melakukan asesmen awal terhadap persepsi pasien terhadap tubuhnya, mendengarkan kekhawatiran pasien, memberikan dukungan emosional, dan merancang intervensi keperawatan sesuai kebutuhan individu. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]

  • Psycho-education / konseling kelompok atau individu, memberikan informasi nyata tentang perubahan tubuh, proses penyembuhan, dan bagaimana menghadapinya; menyediakan ruang bagi pasien untuk berbagi pengalaman dengan pasien lain yang mengalami hal serupa. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]

  • Terapi dukungan sosial & keluarga, melibatkan anggota keluarga dalam proses perawatan dan adaptasi, edukasi kepada keluarga agar memberi dukungan positif, dan mencegah stigma atau penilaian negatif terhadap perubahan tubuh pasien. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]

  • Rehabilitasi fisik dan adaptasi fungsi, membantu pasien mengembalikan fungsi tubuh, melakukan latihan, penggunaan prostesis (jika amputasi), atau modifikasi aktivitas agar pasien dapat berfungsi secara optimal. Hal ini mendukung body image positif karena pasien merasakan tubuhnya masih berguna. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]

  • Pendekatan psikologis: acceptance, coping & adaptasi, membantu pasien menerima perubahan tubuh melalui pendekatan terapi, misalnya terapi penerimaan diri, coping positif, membangun citra tubuh baru yang realistis. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]


Contoh Kasus Perubahan Body Image

Berikut contoh kasus untuk menggambarkan dinamika body image pasca operasi dan bagaimana keperawatan dapat berperan:

Kasus 1: Pasien pasca mastektomi

Seorang wanita menjalani operasi mastektomi untuk pengobatan kanker payudara. Setelah operasi, ia mengalami perubahan bentuk tubuh, kehilangan satu atau kedua payudara, dan bekas sayatan yang cukup besar. Hal ini menimbulkan perasaan malu, penurunan harga diri, rasa “tidak sempurna”, dan ketakutan terhadap penilaian orang lain. Body image menjadi negatif, mempengaruhi kepercayaan diri, relasi sosial, dan kesejahteraan psikologis.

Intervensi keperawatan: perawat memberikan psikoedukasi tentang perubahan tubuh, mendampingi pasien dalam proses adaptasi emosional, melibatkan keluarga agar memberikan dukungan, serta merujuk ke layanan konseling agar pasien bisa menerima citra tubuh baru dan menjaga self-efficacy. Literatur menunjukkan bahwa tanpa intervensi, body image negatif pada pasien kanker payudara pasca mastektomi dapat mengakibatkan stres dan gangguan psikologis. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]

Kasus 2: Pasien pasca ORIF / ortopedi

Pasien menjalani pemasangan pelat/tulang internal (ORIF) setelah cedera ortopedi berat. Setelah operasi, fungsi dan bentuk anggota tubuh berubah, mungkin ada pembatasan mobilitas, bekas sayatan, atau deformitas, sehingga citra tubuh pasien berubah, dan beberapa merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.

Perawat melakukan asesmen persepsi body image pasien, mendampingi adaptasi psikologis, memberikan konseling, serta mendukung rehabilitasi fisik untuk membantu pemulihan fungsi, langkah ini penting agar pasien mampu menerima tubuhnya, mempertahankan body image positif, dan meningkatkan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Kesimpulan

Body image adalah persepsi dan sikap seseorang terhadap tubuhnya, mencakup aspek fisik, emosional, dan sosial. Bagi pasien pasca operasi, perubahan pada bentuk, fungsi, atau penampilan tubuh dapat menyebabkan perubahan body image, yang bisa berdampak negatif pada psikologis, identitas diri, dan kualitas hidup. Berbagai faktor mempengaruhi body image, seperti perubahan fisik, fungsi tubuh, respon lingkungan, perbandingan sosial, serta kondisi emosional.

Perawat memiliki peran krusial dalam mendampingi, mendukung, dan memfasilitasi adaptasi pasien terhadap body image baru melalui psikoedukasi, dukungan emosional, rehabilitasi fisik, serta kolaborasi multidisiplin. Intervensi keperawatan yang tepat dapat membantu pasien menerima tubuhnya, menjaga harga diri, dan meningkatkan kualitas hidup.

Dengan pemahaman dan tindakan keperawatan yang sensitif terhadap aspek body image, proses penyembuhan dan adaptasi pasca operasi tidak hanya meliputi aspek fisik, tetapi juga psikologis dan sosial, sehingga mendukung pemulihan menyeluruh pasien.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Body image pasca operasi adalah persepsi, penilaian, dan sikap pasien terhadap perubahan tubuhnya setelah menjalani tindakan bedah, baik perubahan bentuk, fungsi, maupun penampilan fisik.

Faktor yang memengaruhi body image pasca operasi meliputi perubahan fisik, fungsi tubuh, reaksi lingkungan sosial, perbandingan diri dengan orang lain, kondisi kesehatan, serta aspek psikologis seperti kecemasan dan stres.

Body image negatif dapat menyebabkan penurunan harga diri, kecemasan, depresi, stres psikologis, gangguan identitas diri, hingga penurunan motivasi perawatan dan fungsi sosial.

Perawat berperan memberikan edukasi, dukungan emosional, monitoring psikososial, memfasilitasi adaptasi sosial, serta kolaborasi dengan tim kesehatan untuk membantu pasien menerima citra tubuh barunya.

Intervensi yang dapat diberikan meliputi asesmen individual, psikoedukasi, konseling, terapi dukungan keluarga, rehabilitasi fisik, serta strategi coping untuk membantu pasien menerima perubahan tubuhnya.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Body Image Pasien Pasca Operasi: Konsep, Adaptasi, dan Respons Psikologis Body Image Pasien Pasca Operasi: Konsep, Adaptasi, dan Respons Psikologis Body Image: Definisi dan Faktor Pembentuk Body Image: Definisi dan Faktor Pembentuk Deployment Sistem Berbasis Container (Docker) Deployment Sistem Berbasis Container (Docker) Pola Mobilitas Post Operasi Pola Mobilitas Post Operasi Pola Mobilitas Pasca Operasi: Konsep, Hambatan, dan Pemulihan Pola Mobilitas Pasca Operasi: Konsep, Hambatan, dan Pemulihan Risiko Luka Operasi: Konsep, Faktor Klinis, dan Pencegahan Risiko Luka Operasi: Konsep, Faktor Klinis, dan Pencegahan Risiko Luka Operasi Risiko Luka Operasi Mobilisasi Dini: Pengertian dan Manfaatnya Mobilisasi Dini: Pengertian dan Manfaatnya Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Tingkat Rasa Takut Pasien: Faktor dan Penanganan Tingkat Rasa Takut Pasien: Faktor dan Penanganan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Mobilisasi Dini: Prinsip Pelaksanaan dan Manfaat Klinis Mobilisasi Dini: Prinsip Pelaksanaan dan Manfaat Klinis Pola Istirahat dan Tidur Pasien Pola Istirahat dan Tidur Pasien Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ