
Body Image Pasien Pasca Operasi
Pendahuluan
Dalam praktik keperawatan, pemulihan fisik setelah operasi sering menjadi fokus utama. Namun, aspek psikologis dan persepsi terhadap tubuh pasca operasi, khususnya bagaimana pasien melihat dan menerima tubuhnya, kadang terabaikan. Persepsi ini dikenal sebagai “body image” atau citra tubuh. Perubahan tubuh akibat luka operatif, bekas sayatan, amputasi, atau perubahan fungsi tubuh dapat berdampak signifikan pada psikologis dan kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, penting bagi perawat untuk memahami konsep body image, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta bagaimana memberikan intervensi yang tepat agar pasien dapat beradaptasi dengan citra tubuh baru mereka.
Artikel ini bertujuan menggambarkan pengertian body image dalam keperawatan, perubahan yang terjadi pasca operasi, faktor-faktor yang mempengaruhi, dampak psikologis dari body image negatif, peran perawat, intervensi keperawatan, serta contoh kasus perubahan body image pada pasien pasca operasi.
Definisi Body Image
Definisi Body Image Secara Umum
Body image atau citra tubuh merujuk pada persepsi, sikap, perasaan, dan keyakinan seseorang terhadap tubuhnya sendiri, bagaimana seseorang melihat bentuk, fungsi, dan penampilan tubuhnya. Definisi ini mencakup aspek kognitif (bagaimana seseorang menilai tubuhnya), afektif/emotif (bagaimana perasaan terhadap tubuh), dan persepsi sosial (bagaimana individu berpikir orang lain memandang tubuhnya). Individu dengan body image positif cenderung menerima tubuhnya apa adanya, merasa nyaman dan percaya diri; sedangkan yang memiliki body image negatif mungkin merasa tidak puas, malu, dan mengalami penurunan kepercayaan diri. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Definisi Body Image dalam KBBI
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah “citra tubuh” menggambarkan gambaran atau persepsi seseorang terhadap tubuhnya, baik dari segi penampilan, bentuk maupun fungsi. (Catatan: KBBI tidak selalu mencantumkan istilah “body image” secara spesifik, dalam literatur keperawatan dan psikologi, istilah internasional “body image” lebih umum digunakan. Oleh karena itu, definisi dalam praktik kesehatan sering mengacu pada pengertian psikologis seperti di atas.)
Definisi Body Image Menurut Para Ahli
Beberapa ahli mendefinisikan body image dengan penekanan berbeda namun tetap dalam koridor persepsi terhadap tubuh:
-
Menurut Setiawati, body image adalah bentuk pikiran, perasaan, dan sikap mengenai tubuh yang dimiliki seseorang secara keseluruhan. Tingkat kepuasan terhadap tubuh menentukan apakah body image seseorang positif atau negatif. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Dalam penelitian pada pasien pasca operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF), body image didefinisikan sebagai sikap, kepuasan ataupun ketidakpuasan individu terhadap tubuhnya yang telah mengalami perubahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Menurut literatur keperawatan, body image merupakan persepsi subyektif individu terhadap tubuh dan penampilannya; persepsi ini dapat berbeda antara individu meskipun kondisi fisiknya objektif sama. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Dalam konteks pasien pasca operasi kanker atau amputasi, body image juga mencakup aspek identitas diri, fungsi tubuh, dan adaptasi psikologis terhadap perubahan fisik. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Dengan demikian, body image adalah konsep multidimensi yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial dalam persepsi seseorang terhadap tubuhnya.
Perubahan Citra Tubuh Setelah Operasi
Operasi, terutama yang bersifat besar, misalnya amputasi, operasi onkologi (misalnya mastektomi), operasi ortopedi (misalnya ORIF), atau operasi yang meninggalkan bekas luka besar, dapat menyebabkan perubahan struktur, fungsi, dan penampilan tubuh. Perubahan ini bisa bersifat sementara (misalnya pembengkakan, bekas luka) atau permanen (misalnya amputasi, perubahan anatomi).
Perubahan ini dapat mempengaruhi bagaimana pasien melihat tubuhnya sendiri. Dalam penelitian terhadap pasien ORIF, dilaporkan bahwa banyak pasien mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya setelah operasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam pasien pasca operasi sectio caesarea, juga ditemukan bahwa body image menurun dan berkorelasi dengan tingkat stres psikologis. [Lihat sumber Disini - ejournalwiraraja.com]
Selain itu, pada pasien kanker, misalnya pasca mastektomi, perubahan pada tubuh seperti kehilangan organ (payudara), bekas luka, atau perubahan bentuk tubuh bisa memunculkan ketidaknyamanan terhadap body image. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Dengan demikian, pasca operasi merupakan masa kritis di mana body image pasien rentan berubah, bisa menjadi lebih positif (jika penyembuhan baik, dukungan memadai) ataupun negatif jika ada perubahan tubuh signifikan.
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Citra Tubuh
Persepsi body image pasca operasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, biologis, psikologis, dan sosial. Berikut beberapa faktor utama berdasarkan penelitian:
-
Perubahan fungsi tubuh / perubahan fisik, perubahan struktur atau fungsi tubuh akibat operasi atau luka seperti amputasi, bekas luka, perubahan mobilitas, kehilangan anggota tubuh. Hasil penelitian pada pasien ulkus diabetik menunjukkan bahwa perubahan fungsi tubuh berhubungan kuat dengan citra tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Reaksi dan respon orang lain (lingkungan sosial), bagaimana keluarga, teman, atau masyarakat merespon perubahan fisik pasien (termasuk reaksi verbal dan non-verbal) berpengaruh terhadap penerimaan diri pasien. Penelitian menunjukkan bahwa reaksi orang lain yang positif dapat mendukung citra tubuh positif, sedangkan reaksi negatif memperburuk citra tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Perbandingan diri dengan orang lain (social comparison), jika pasien sering membandingkan tubuhnya yang berubah dengan orang lain yang dianggap “normal” atau “ideal, ” hal tersebut bisa menimbulkan ketidakpuasan dan body image negatif. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Kondisi kesehatan dan fungsi diri, komplikasi medis, keterbatasan fungsional, rasa sakit, atau ketidakmampuan melakukan aktivitas seperti sebelum operasi dapat mempengaruhi persepsi terhadap tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Aspek psikologis dan emosional, stres, kecemasan, depresi, ketakutan, dan ketidakpastian mengenai pemulihan dapat memperburuk body image. Misalnya, penelitian pada pasien pasca mastektomi menunjukkan pemikiran negatif terhadap tubuhnya sebagai masalah utama body image. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
-
Dukungan sosial dan budaya, standar kecantikan, stigma terhadap cacat atau bekas luka, norma sosial, dan keberadaan dukungan dari lingkungan dapat mempengaruhi penerimaan diri. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dampak Psikologis Body Image Negatif
Body image negatif pasca operasi dapat menimbulkan berbagai konsekuensi psikologis dan sosial, antara lain:
-
Penurunan kepercayaan diri dan harga diri, pasien dapat merasa kurang menarik, malu, enggan menunjukkan tubuhnya, bahkan menarik diri dari interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Perasaan malu, cemas, depresi, stres psikologis, ketidakpuasan terhadap tubuh dapat memicu kecemasan, rasa tidak nyaman pada diri sendiri, dan menurunkan kualitas hidup. Pada pasien pasca operasi caesarea misalnya, body image yang buruk berkorelasi dengan stres. [Lihat sumber Disini - ejournalwiraraja.com]
-
Gangguan identitas dan konsep diri, pasien bisa mengalami konflik batin tentang identitas dirinya karena tubuhnya berubah. Hal ini sering muncul pada pasien amputasi atau mastektomi. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Penurunan motivasi perawatan / adaptasi buruk terhadap kondisi tubuh, pasien mungkin enggan melakukan perawatan luka atau rehabilitasi, mengisolasi diri, atau menolak menerima kondisi barunya. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Gangguan fungsi sosial / relasi interpersonal, rasa malu atau ketidaknyamanan bisa membuat pasien menghindari interaksi sosial, mengurangi kualitas hubungan dengan keluarga atau teman. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Peran Perawat dalam Mendukung Adaptasi Pasien
Perawat memiliki peran penting dalam membantu pasien beradaptasi dengan perubahan body image pasca operasi. Berikut beberapa peran utama:
-
Memberikan pendidikan dan informasi (psikoedukasi), menjelaskan perubahan fisik dan emosional yang mungkin terjadi, serta membantu pasien memahami bahwa respon terhadap tubuh baru adalah bagian dari pemulihan. Ini penting agar pasien tidak merasa sendirian atau abnormal. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Menyediakan dukungan emosional, memberi ruang bagi pasien untuk menyampaikan ketakutan, kecemasan, atau ketidakpuasan terhadap tubuh mereka; empati dan validasi dari perawat dapat meningkatkan penerimaan diri pasien. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Mendorong adaptasi sosial & reintegrasi, membantu pasien dalam berinteraksi kembali dengan keluarga, lingkungan sosial, serta memfasilitasi keterlibatan pasien dalam kegiatan sosial, agar pasien tidak tersisolasi. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Monitoring dan evaluasi kondisi psikososial, secara berkala mengevaluasi bagaimana perasaan pasien terhadap tubuhnya, mendeteksi gejala stres, depresi, atau penolakan tubuh, serta merujuk ke layanan psikososial jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya, bekerja sama dengan psikiater, psikolog, fisioterapis, dan keluarga untuk membuat rencana holistik guna mendukung pemulihan fisik dan psikologis pasien. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
Intervensi Keperawatan pada Gangguan Citra Tubuh
Berdasarkan literatur dan praktik keperawatan, beberapa intervensi yang efektif untuk membantu pasien dengan gangguan body image pasca operasi meliputi:
-
Asuhan keperawatan individual dengan pendekatan empatik, melakukan asesmen awal terhadap persepsi pasien terhadap tubuhnya, mendengarkan kekhawatiran pasien, memberikan dukungan emosional, dan merancang intervensi keperawatan sesuai kebutuhan individu. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Psycho-education / konseling kelompok atau individu, memberikan informasi nyata tentang perubahan tubuh, proses penyembuhan, dan bagaimana menghadapinya; menyediakan ruang bagi pasien untuk berbagi pengalaman dengan pasien lain yang mengalami hal serupa. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Terapi dukungan sosial & keluarga, melibatkan anggota keluarga dalam proses perawatan dan adaptasi, edukasi kepada keluarga agar memberi dukungan positif, dan mencegah stigma atau penilaian negatif terhadap perubahan tubuh pasien. [Lihat sumber Disini - repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site]
-
Rehabilitasi fisik dan adaptasi fungsi, membantu pasien mengembalikan fungsi tubuh, melakukan latihan, penggunaan prostesis (jika amputasi), atau modifikasi aktivitas agar pasien dapat berfungsi secara optimal. Hal ini mendukung body image positif karena pasien merasakan tubuhnya masih berguna. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Pendekatan psikologis: acceptance, coping & adaptasi, membantu pasien menerima perubahan tubuh melalui pendekatan terapi, misalnya terapi penerimaan diri, coping positif, membangun citra tubuh baru yang realistis. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
Contoh Kasus Perubahan Body Image
Berikut contoh kasus untuk menggambarkan dinamika body image pasca operasi dan bagaimana keperawatan dapat berperan:
Kasus 1: Pasien pasca mastektomi
Seorang wanita menjalani operasi mastektomi untuk pengobatan kanker payudara. Setelah operasi, ia mengalami perubahan bentuk tubuh, kehilangan satu atau kedua payudara, dan bekas sayatan yang cukup besar. Hal ini menimbulkan perasaan malu, penurunan harga diri, rasa “tidak sempurna”, dan ketakutan terhadap penilaian orang lain. Body image menjadi negatif, mempengaruhi kepercayaan diri, relasi sosial, dan kesejahteraan psikologis.
Intervensi keperawatan: perawat memberikan psikoedukasi tentang perubahan tubuh, mendampingi pasien dalam proses adaptasi emosional, melibatkan keluarga agar memberikan dukungan, serta merujuk ke layanan konseling agar pasien bisa menerima citra tubuh baru dan menjaga self-efficacy. Literatur menunjukkan bahwa tanpa intervensi, body image negatif pada pasien kanker payudara pasca mastektomi dapat mengakibatkan stres dan gangguan psikologis. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Kasus 2: Pasien pasca ORIF / ortopedi
Pasien menjalani pemasangan pelat/tulang internal (ORIF) setelah cedera ortopedi berat. Setelah operasi, fungsi dan bentuk anggota tubuh berubah, mungkin ada pembatasan mobilitas, bekas sayatan, atau deformitas, sehingga citra tubuh pasien berubah, dan beberapa merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
Perawat melakukan asesmen persepsi body image pasien, mendampingi adaptasi psikologis, memberikan konseling, serta mendukung rehabilitasi fisik untuk membantu pemulihan fungsi, langkah ini penting agar pasien mampu menerima tubuhnya, mempertahankan body image positif, dan meningkatkan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kesimpulan
Body image adalah persepsi dan sikap seseorang terhadap tubuhnya, mencakup aspek fisik, emosional, dan sosial. Bagi pasien pasca operasi, perubahan pada bentuk, fungsi, atau penampilan tubuh dapat menyebabkan perubahan body image, yang bisa berdampak negatif pada psikologis, identitas diri, dan kualitas hidup. Berbagai faktor mempengaruhi body image, seperti perubahan fisik, fungsi tubuh, respon lingkungan, perbandingan sosial, serta kondisi emosional.
Perawat memiliki peran krusial dalam mendampingi, mendukung, dan memfasilitasi adaptasi pasien terhadap body image baru melalui psikoedukasi, dukungan emosional, rehabilitasi fisik, serta kolaborasi multidisiplin. Intervensi keperawatan yang tepat dapat membantu pasien menerima tubuhnya, menjaga harga diri, dan meningkatkan kualitas hidup.
Dengan pemahaman dan tindakan keperawatan yang sensitif terhadap aspek body image, proses penyembuhan dan adaptasi pasca operasi tidak hanya meliputi aspek fisik, tetapi juga psikologis dan sosial, sehingga mendukung pemulihan menyeluruh pasien.