
Ketidakefektifan Pola Komunikasi Keluarga
Pendahuluan
Keluarga merupakan unit dasar dalam struktur sosial manusia, tempat pertama kali individu belajar berinteraksi, membentuk identitas, memperoleh nilai-nilai, serta mendapatkan dukungan emosional. Komunikasi dalam keluarga, baik antara orang tua dan anak, maupun antara pasangan suami istri, memainkan peran fundamental dalam menjaga keharmonisan, kestabilan emosi, dan kemampuan koping keluarga menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Ketika pola komunikasi keluarga berjalan dengan efektif, interaksi antar anggota keluarga akan berjalan harmonis, terbuka, dan saling mendukung; sebaliknya, ketika komunikasi menjadi tidak efektif, berbagai konflik, kesalahpahaman, hingga disfungsi psikososial dapat muncul. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu pola komunikasi keluarga, faktor penyebab ketidakefektifan, dampaknya, serta upaya strategis untuk memperbaikinya. Artikel ini membahas aspek-aspek tersebut secara mendalam.
Definisi “Pola Komunikasi Keluarga”
Definisi secara umum
Pola komunikasi keluarga dapat dipahami sebagai cara atau pola interaksi verbal maupun nonverbal yang terjadi antara anggota keluarga, mencakup frekuensi komunikasi, cara penyampaian (terbuka, jujur, empatik, protektif, konformitas, konversasional), serta saluran komunikasi yang dipakai. Pola ini menentukan bagaimana pesan disampaikan dan diterima dalam lingkungan keluarga, apakah suasana memungkinkan kejujuran, keterbukaan perasaan, saling mendengarkan, atau justru dominasi, kebisuan, dan proteksi berlebih.
Definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi didefinisikan sebagai “proses penyampaian dan penerimaan informasi, ide, atau perasaan melalui bahasa, lambang, atau isyarat”. Maka, “pola komunikasi keluarga” dapat didefinisikan sebagai pola atau cara berkomunikasi yang terjadi di dalam keluarga, bagaimana anggota keluarga saling bertukar ide, perasaan, dan informasi dalam konteks keluarga.
Definisi menurut para ahli
Berikut sejumlah definisi dari literatur/penelitian mengenai pola komunikasi keluarga:
-
Dalam penelitian oleh Faizah Annisa Yuhada & Maulana Rezi Ramadhana (2023), pola komunikasi keluarga protektif diartikan sebagai pola komunikasi di mana orientasi konformitas tinggi dan orientasi percakapan (konversasional) rendah, artinya komunikasi lebih mengedepankan kontrol, proteksi, atau batasan daripada keterbukaan gagasan dan ekspresi diri. [Lihat sumber Disini - ojs.uma.ac.id]
-
Sebaliknya, pola komunikasi yang sehat dan efektif digambarkan oleh Revalina Amalia dkk. (2025), yang menekankan pentingnya komunikasi interpersonal dua arah, dengan keterbukaan, empati, dan bahasa yang ramah, sebagai pondasi keharmonisan keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnal.dokicti.org]
-
Berdasarkan penelitian oleh R Khoirunnisa (2025) dalam konteks mahasiswa perantauan, pola komunikasi keluarga yang efektif adalah pola yang terbuka dan konsisten, memungkinkan dukungan emosional dan menjaga keterikatan meski berjauhan. [Lihat sumber Disini - journal.sinov.id]
-
Menurut penelitian di Desa Guwosari oleh Egi Prawita & Arini Mifti Jayanti (2023), komunikasi efektif adalah cara dasar untuk memperkuat ketahanan keluarga, memungkinkan keluarga mengelola konflik, tekanan eksternal, dan menjaga stabilitas relasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stie.asia.ac.id]
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi keluarga melibatkan orientasi antara kontrol vs keterbukaan, penggunaan komunikasi interpersonal yang empatik, konsistensi interaksi, dan kemampuan anggota keluarga untuk mengekspresikan perasaan serta pendapat secara jujur.
Faktor yang Menyebabkan Komunikasi Tidak Efektif
Ada berbagai faktor yang menyebabkan pola komunikasi dalam keluarga menjadi tidak efektif:
-
Pola komunikasi protektif / konformitas tinggi: Ketika orang tua menerapkan gaya protektif, menekankan konformitas, kontrol, dan kurang memberi ruang bagi ekspresi gagasan atau perasaan, hal ini dapat membatasi keterbukaan anak dan memunculkan ketidakjujuran, ketidaknyamanan, atau penolakan untuk berbagi. [Lihat sumber Disini - ojs.uma.ac.id]
-
Kesibukan dan tuntutan aktivitas (termasuk pekerjaan, sekolah, jarak geografis): Dalam keluarga di mana orang tua sibuk bekerja atau anak jauh dari rumah (misalnya mahasiswa perantauan), komunikasi secara tatap muka dan intens bisa terabaikan, menyulitkan menjaga ikatan emosional. [Lihat sumber Disini - journal.sinov.id]
-
Ketergantungan pada media digital tanpa pengaturan yang baik: Penggunaan media sosial, gadget, atau komunikasi berbasis daring tanpa kontrol dapat mengurangi interaksi tatap muka dan kualitas komunikasi emosional, memicu isolasi emosional atau konflik. [Lihat sumber Disini - journal.sinov.id]
-
Kurangnya keterampilan komunikasi interpersonal (empati, mendengar aktif, keterbukaan): Bila anggota keluarga tidak terbiasa menyampaikan perasaan dengan jujur, mendengarkan, dan bereaksi empatik, maka efektifitas komunikasi akan menurun. [Lihat sumber Disini - jurnal.dokicti.org]
-
Masalah eksternal, konflik, stres ekonomi, tekanan sosial, atau trauma (misalnya perselingkuhan): Situasi sulit seperti perceraian, perselingkuhan, tekanan ekonomi atau sosial dapat mengganggu iklim komunikasi, memunculkan ketidakpercayaan, rasa tidak aman, dan ketidakmauan untuk terbuka. [Lihat sumber Disini - ejournal.appihi.or.id]
Dampak Komunikasi Buruk terhadap Koping Keluarga
Ketidakefektifan pola komunikasi keluarga dapat membawa sejumlah dampak negatif, baik terhadap individu maupun terhadap dinamika keluarga secara keseluruhan:
-
Kesejahteraan psikologis dan emosional anak menurun, penelitian menunjukkan bahwa komunikasi efektif dalam keluarga berkorelasi dengan kepercayaan diri anak usia dini; sebaliknya, komunikasi kurang baik dapat membuat anak merasa kurang aman, sulit mengekspresikan diri, dan rendah kepercayaan diri. [Lihat sumber Disini - jfe.ppj.unp.ac.id]
-
Kesulitan dalam mengelola konflik dan stres dalam keluarga, tanpa komunikasi terbuka dan empatik, konflik sulit diselesaikan, stres internal menumpuk, dan masalah keluarga bisa berkembang menjadi disfungsi yang lebih serius. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Menurunnya ketahanan keluarga (family resilience), keluarga kehilangan kemampuan untuk bersinergi dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi krisis, sehingga rentan terhadap masalah seperti perceraian, isolasi emosional, atau alienasi anggota keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnal.stie.asia.ac.id]
-
Perkembangan karakter dan kemandirian anak terganggu, pola komunikasi yang buruk dapat menghambat proses anak belajar mandiri, mengelola emosi, atau mengembangkan keterampilan sosial. [Lihat sumber Disini - obsesi.or.id]
-
Penurunan kualitas hubungan emosional orang tua-anak atau antar pasangan, hilangnya rasa saling percaya, empati, dan keterbukaan dapat menyebabkan jarak emosional, kebekuan, atau bahkan putusnya hubungan efektif. [Lihat sumber Disini - journals.unisba.ac.id]
Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa komunikasi buruk bukan sekadar masalah kecil, tapi bisa mengancam fondasi kesehatan psikososial dan kohesi keluarga.
Indikator Komunikasi Keluarga Tidak Efektif
Untuk mengenali bahwa sebuah keluarga memiliki pola komunikasi yang tidak efektif, berikut beberapa indikator umum:
-
Anggota keluarga, terutama anak, enggan atau takut menyampaikan perasaan, opini, keluhan, atau pengalaman pribadi.
-
Komunikasi bersifat satu arah: dominasi orang tua atau salah satu pihak, tanpa memberi ruang dialog atau tanggapan terbuka.
-
Frekuensi interaksi rendah, terutama interaksi tatap muka; banyak komunikasi digantikan media digital tanpa kedalaman emosional.
-
Konflik, ketidakpastian, stres, dan ketidaknyamanan sering muncul, namun jarang dibicarakan secara terbuka atau diselesaikan bersama.
-
Anak menunjukkan tanda-tanda emosional negatif: rendah percaya diri, kecemasan, kesulitan mengendalikan emosi, atau isolasi sosial.
-
Rendahnya kohesi/ikatan emosional, rasa saling percaya, rasa aman, dan keintiman dalam keluarga melemah.
Strategi Perbaikan Komunikasi Keluarga
Untuk memperbaiki dan membangun pola komunikasi keluarga yang sehat dan efektif, beberapa strategi berikut dapat diterapkan:
-
Mendorong komunikasi terbuka dan dua arah, orang tua dan anggota keluarga lainnya harus memberi ruang bagi anak/anggota lain untuk berbicara, menyampaikan perasaan, pendapat, dan kekhawatiran tanpa takut dihakimi.
-
Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal: empati, mendengarkan aktif, penggunaan bahasa yang ramah dan tidak menghakimi, keterbukaan akan kesalahan, dan respons yang mendukung.
-
Jadwalkan waktu berkualitas untuk interaksi tatap muka, di tengah kesibukan, alokasikan waktu rutin untuk berbincang santai, berdiskusi, atau sharing perasaan antar anggota.
-
Mengatur penggunaan media/gadget, media digital boleh digunakan, tapi jangan menggantikan komunikasi tatap muka dan keintiman emosional; orang tua perlu memberi batas agar tidak berdampak negatif.
-
Edukasi anggota keluarga mengenai pentingnya komunikasi, misalnya, melalui pelatihan, diskusi keluarga, konseling, atau kegiatan bersama yang mendukung keterbukaan.
-
Membangun budaya keluarga yang suportif, menghargai perbedaan pendapat, mendukung pertumbuhan emosional dan kemandirian anak, serta menciptakan suasana aman dan nyaman untuk berbagi.
Peran Perawat (Nakes) dalam Edukasi Komunikasi Keluarga
Dalam konteks kesehatan dan keperawatan, perawat dan tenaga kesehatan lainnya memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan psikososial keluarga melalui:
-
Memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya komunikasi keluarga yang efektif dalam mendukung perkembangan emosional dan mental anggota keluarga, terutama anak.
-
Membantu keluarga mengenali tanda-tanda komunikasi tidak efektif dan dampaknya, serta memberikan panduan strategi perbaikan komunikasi dan keterampilan interpersonal.
-
Mendampingi keluarga dalam kasus konflik, stres, atau trauma, memberi ruang konseling, mediasi, atau rujukan ke layanan psikologis bila diperlukan (misalnya setelah perceraian, perselingkuhan, atau krisis keluarga).
-
Mengintegrasikan aspek komunikasi keluarga dalam program kesehatan keluarga / community health: misalnya saat kunjungan home care, penyuluhan keluarga, atau parenting class, agar komunikasi sehat menjadi bagian dari kesehatan mental dan fisik keluarga.
-
Memonitor dampak intervensi komunikasi pada kesejahteraan keluarga, misalnya perubahan relasi, kualitas interaksi, tingkat stres, kepercayaan diri anak, dan ketahanan keluarga.
Contoh Kasus Komunikasi Tidak Efektif
Misalnya sebuah keluarga di mana orang tua sama-sama sibuk bekerja sehingga jarang ada waktu berbincang berkualitas dengan anak. Interaksi sehari-hari hanya sebatas menyuruh, memberikan perintah, atau mengontrol, tanpa memberi ruang bagi anak untuk curhat, bertanya, atau mengekspresikan perasaan. Anak kemudian tumbuh dengan kecenderungan menyimpan emosi, merasa terisolasi, dan enggan berbagi masalah. Hal ini dapat berujung pada rendahnya kepercayaan diri, sulit membentuk kemandirian, dan kesulitan dalam mengelola stres. Dalam jangka panjang, ketidakefektifan komunikasi ini bisa menyebabkan masalah emosional, perilaku, atau bahkan kerenggangan hubungan keluarga.
Kasus lain: pada keluarga dengan orang tua entrepreneur, penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang baik (terbuka, edukatif, penuh kasih) antara orang tua dan anak sangat penting. Jika pola komunikasi digantikan dengan otoriter atau protektif, misalnya terlalu mengontrol anak tanpa berdiskusi, maka anak bisa kesulitan mengungkapkan gagasan, perasaan, atau keputusan hidup secara mandiri. [Lihat sumber Disini - journals.unisba.ac.id]
Kesimpulan
Pola komunikasi keluarga adalah fondasi krusial bagi keharmonisan, kesehatan emosional, dan ketahanan keluarga. Ketidakefektifan komunikasi, disebabkan berbagai faktor seperti proteksi berlebih, kesibukan, ketergantungan media digital, atau kurangnya keterampilan interpersonal, dapat menimbulkan dampak serius bagi kesejahteraan anggota keluarga, terutama anak. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menerapkan komunikasi yang terbuka, empatik, konsisten, dan suportif. Perawat dan tenaga kesehatan memiliki potensi besar untuk berperan dalam edukasi dan intervensi komunikasi keluarga, membantu mencegah disfungsi psikososial dan memperkuat ketahanan keluarga. Melalui upaya sadar membangun pola komunikasi sehat, keluarga dapat menjadi lingkungan yang aman, mendukung, dan mendidik bagi seluruh anggotanya.