Terakhir diperbarui: 14 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 14 December). Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/ketepatan-dosis-obat-pada-pasien-dengan-gangguan-hati  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati - SumberAjar.com

Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati

Pendahuluan

Pemberian obat yang tepat menurut dosis adalah salah satu prinsip utama dalam praktek klinis farmakoterapi. Hal ini menjadi jauh lebih kompleks pada pasien dengan gangguan fungsi hati karena liver (hati) merupakan organ kunci dalam metabolisme dan eliminasi obat-obatan. Jika fungsi hati menurun, kemampuan tubuh untuk mengubah dan menyingkirkan obat dari sirkulasi darah juga berkurang, sehingga potensi akumulasi obat dan efek samping yang serius meningkat. Gangguan hati seperti sirosis, hepatitis kronis atau fibrosis hati tidak hanya memengaruhi aspek metabolik tubuh, tetapi juga berdampak signifikan terhadap respons obat yang digunakan dalam terapi. Fenomena ini menuntut perhatian khusus dari tenaga kesehatan, terutama dokter dan apoteker, untuk menyesuaikan dosis obat agar aman dan efektif bagi pasien dengan disfungsi hati. Studi klinis dan panduan farmakokinetik menekankan pentingnya evaluasi fungsi hati dan modifikasi dosis obat sebagai bagian dari pendekatan individual dalam pemberian terapi. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]


Definisi Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati

Definisi Secara Umum

Ketepatan dosis obat pada pasien dengan gangguan hati dapat diartikan sebagai pemberian obat dengan jumlah dosis, frekuensi, dan durasi yang sesuai dengan kondisi fisiologis pasien sehingga tujuan terapeutik tercapai tanpa menimbulkan toksisitas. Ketika hati mengalami gangguan, proses metabolisme dan eliminasi obat sering kali berubah, sering kali menjadi lebih lambat, yang berarti dosis standar untuk pasien dengan fungsi hati normal bisa menjadi terlalu tinggi atau berbahaya bagi pasien dengan gangguan hati. Penyesuaian dosis sering kali diperlukan untuk mencegah akumulasi obat yang dapat meningkatkan risiko efek samping serius seperti toksisitas hati. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketepatan berarti keadaan tepat atau akurat; sedangkan dosis berarti jumlah obat yang diambil atau diberikan pada satu kali pemberian atau periode waktu tertentu. Secara terminologis, ketepatan dosis obat merujuk pada kesesuaian jumlah dan aturan pemberian obat yang diberikan kepada pasien berdasarkan kondisi klinis masing-masing seperti usia, berat badan, fungsi organ (termasuk hati), dan interaksi obat. Jadi, dalam konteks pasien dengan gangguan hati, ketepatan dosis berarti menyesuaikan pemberian obat dengan keadaan fungsi hati pasien secara individual sehingga tetap aman dan efektif. (Referensi: KBBI daring)

Definisi Menurut Para Ahli

  1. Verbeeck (Eur J Clin Pharmacol) mendefinisikan penyesuaian dosis dalam gangguan hati sebagai modifikasi regimen obat berdasarkan perubahan farmakokinetik yang terjadi akibat hati tidak mampu memetabolisme obat secara normal, termasuk penurunan klarens obat melalui jalur hepatik dan peningkatan risiko akumulasi obat. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Delcò (J Clin Pharmacol) menyatakan bahwa dosis obat pada pasien dengan penyakit hati seperti sirosis harus dikurangi secara proporsional sesuai dengan tingkat ekstraksi hati dan kemampuan metabolisme obat secara keseluruhan untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Gutgsell (2025 Review) menyatakan bahwa pada pasien dengan disfungsi hati sedang atau berat, penggunaan protokol dosis yang lebih rendah dibandingkan dengan dosis standar memberikan keseimbangan yang lebih baik antara efikasi dan keamanan obat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Talal et al. (Assessment of Hepatic Impairment) menjelaskan bahwa sistem penilaian seperti Child-Pugh Score yang digunakan untuk menilai tingkat gangguan hati sangat berguna dalam menentukan penyesuaian dosis obat sesuai dengan derajat disfungsi hati pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Pengaruh Gangguan Hati terhadap Metabolisme Obat

Hati memainkan peranan utama dalam metabolisme obat melalui enzim-enzim seperti sitokrom P450 (CYP450) yang terlibat dalam fase pertama metabolisme, serta reaksi konjugasi di fase kedua yang membuat obat lebih larut dalam air untuk diekskresikan. Pada pasien dengan gangguan hati, aktivitas enzim-enzim metabolik ini menjadi tidak optimal atau berkurang, sehingga jumlah obat yang diubah menjadi metabolit aktif atau tidak aktif menurun. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

Dalam kondisi gangguan hati seperti sirosis, aliran darah melalui hati sering kali berkurang akibat pembentukan jaringan parut (fibrosis), yang selanjutnya memperlambat eliminasi obat. Perubahan ini juga dapat memengaruhi ikatan protein plasma, volume distribusi obat, dan ekskresi obat ke dalam empedu, yang akhirnya meningkatkan konsentrasi obat dalam darah dan mempertinggi risiko toksisitas. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, banyak obat yang mengalami metabolisme first-pass melalui hati (misalnya sebagian besar obat oral) akan memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi pada pasien dengan gangguan hati karena metabolisme awal di hati berkurang, sehingga dosis standar dapat menyebabkan eksposur obat yang lebih tinggi dari yang diharapkan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Prinsip Penyesuaian Dosis pada Gangguan Hati

Penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan hati dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai parameter klinis dan farmakokinetik. Salah satu prinsip utama adalah menilai derajat disfungsi hati menggunakan skala tertentu, seperti Child-Pugh Score, yang membantu mengklasifikasikan pasien berdasarkan fungsi hati ringan, sedang, atau berat. Skor ini digunakan untuk menentukan seberapa banyak dosis obat perlu dikurangi atau apakah obat tertentu harus dihindari. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

1. Pengurangan Dosis

Sebagai prinsip umum, obat-obatan yang dimetabolisme secara ekstensif di hati perlu dikurangi dosisnya pada pasien dengan gangguan hati. Misalnya, untuk pasien dengan Child-Pugh kelas A atau B, dosis awal sering dikurangi sekitar 25-50% dibandingkan dengan pasien dengan fungsi hati normal. Untuk pasien dengan gangguan hati berat (Child-Pugh C), pengurangan dosis dapat lebih signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unjaya.ac.id]

2. Perpanjangan Interval Dosis

Selain pengurangan jumlah dosis, memperpanjang interval antar dosis juga merupakan strategi dalam penyesuaian terapi obat. Ini membantu tubuh pasien dengan kapasitas metabolik yang menurun untuk mengeliminasi obat sebelum dosis berikutnya diberikan. [Lihat sumber Disini - pharmacologyonline.silae.it]

3. Bantuan Monitoring Klinis

Monitoring klinis yang terus menerus sangat penting pada pasien dengan gangguan hati. Pemantauan fungsi hati melalui tes laboratorium, termasuk kadar enzim hati, albumin, bilirubin, dan lain-lain, dapat memberikan indikasi apakah dosis yang diberikan masih aman. Terapi therapeutic drug monitoring juga dapat digunakan untuk obat-obat dengan index terapeutik sempit. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]


Risiko Toksisitas akibat Kesalahan Dosis

Ketidaktepatan pemberian dosis obat pada pasien dengan gangguan hati dapat meningkatkan risiko toksisitas obat. Risiko ini muncul karena akumulasi obat di dalam plasma melebihi ambang yang aman akibat penurunan metabolisme hati. Obat-obat dengan metabolisme primer di hati dengan high hepatic extraction misalnya opioid, benzodiazepin dan NSAID jika tidak diturunkan dosisnya dapat menyebabkan toksisitas yang serius seperti depresi pernapasan, perdarahan, atau gangguan fungsi organ lainnya. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, beberapa obat dapat sendiri bersifat hepatotoksik, yang berarti obat tersebut berpotensi memperburuk kerusakan hati bila diberikan pada pasien yang sudah memiliki gangguan fungsi hati. Oleh karena itu, daftar obat yang dikontraindikasikan atau memerlukan modifikasi khusus harus diperhatikan secara teliti dalam praktek klinis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Peran Monitoring Fungsi Hati

Monitoring fungsi hati adalah komponen vital dalam mengelola terapi obat pasien dengan gangguan hati. Tes laboratorium seperti SGOT, SGPT, albumin, kadar bilirubin dan waktu protrombin sering digunakan untuk menilai fungsi hati secara objektif. Kondisi abnormal pada tes-tes ini dapat menjadi indikator perlunya penyesuaian dosis obat atau perubahan regimen terapi. [Lihat sumber Disini - journal.ummat.ac.id]

Selain itu therapeutic drug monitoring dengan pengukuran konsentrasi obat dalam darah dapat membantu memastikan bahwa konsentrasi obat tetap berada dalam rentang terapeutik yang aman, terutama untuk obat-obat dengan narrow therapeutic index, seperti warfarin atau antikonvulsan tertentu. Ini juga membantu tenaga kesehatan menyesuaikan dosis secara real-time mengikuti perubahan fungsi hati pasien. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]


Kolaborasi Dokter dan Farmasis dalam Penyesuaian Dosis

Kolaborasi lintas profesi antara dokter dan farmasis menjadi sangat penting dalam penyesuaian dosis obat bagi pasien dengan gangguan hati. Dokter biasanya menentukan strategi terapi berdasarkan diagnosis dan kondisi klinis pasien, sementara farmasis memberikan rekomendasi spesifik mengenai penyesuaian dosis obat, potensi interaksi dan pemantauan efek samping. Pendekatan kolaboratif ini terbukti meningkatkan keamanan terapi dan mengurangi kejadian kesalahan pemberian dosis serta menurunkan risiko toksisitas obat pada pasien dengan gangguan hati. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Farmasis juga sering terlibat dalam penelaahan resep untuk memastikan tidak hanya kesesuaian dosis, tetapi juga mengidentifikasi obat-obat yang memerlukan perhatian khusus seperti obat hepatotoksik atau obat dengan metabolisme yang sangat bergantung pada fungsi hati, sehingga perencanaan terapi yang lebih aman dapat dilakukan secara menyeluruh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Kesimpulan

Ketepatan dosis obat pada pasien dengan gangguan hati adalah aspek krusial dalam praktek klinis farmakoterapi yang memerlukan penyesuaian berdasarkan perubahan farmakokinetik yang terjadi akibat disfungsi hati. Hati memainkan peran penting dalam metabolisme obat, sehingga gangguan pada organ ini akan memengaruhi eliminasi dan distribusi obat dalam tubuh. Prinsip penyesuaian dosis mencakup pengurangan jumlah dosis, perpanjangan interval pemberian, serta pemantauan klinis yang ketat melalui tes laboratorium dan therapeutic drug monitoring. Risiko toksisitas meningkat bila dosis tidak disesuaikan dengan baik, terutama untuk obat-obat yang dimetabolisme secara ekstensif di hati atau memiliki indeks terapeutik yang sempit. Kolaborasi antara dokter dan farmasis dalam menyesuaikan regimen terapi sangat penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi. Secara keseluruhan, pendekatan individual yang berbasis bukti dan pemantauan yang baik dapat membantu mengoptimalkan hasil pengobatan serta menurunkan kejadian efek samping pada pasien dengan gangguan fungsi hati.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Ketepatan dosis obat pada pasien dengan gangguan hati adalah penyesuaian jumlah, frekuensi, dan interval pemberian obat berdasarkan kondisi fungsi hati pasien agar terapi tetap efektif dan tidak menimbulkan toksisitas.

Karena hati berperan utama dalam metabolisme obat. Gangguan fungsi hati dapat menurunkan kemampuan metabolisme dan eliminasi obat sehingga meningkatkan risiko akumulasi dan efek samping jika dosis tidak disesuaikan.

Risiko yang dapat terjadi meliputi peningkatan toksisitas obat, efek samping sistemik, perburukan fungsi hati, hingga kegagalan organ akibat akumulasi obat dalam tubuh.

Prinsip penyesuaian dosis meliputi pengurangan dosis obat, perpanjangan interval pemberian, pemilihan obat dengan metabolisme minimal di hati, serta pemantauan fungsi hati secara berkala.

Monitoring fungsi hati membantu menilai keamanan terapi obat, mendeteksi efek hepatotoksik lebih dini, serta menjadi dasar evaluasi dan penyesuaian dosis obat selama pengobatan berlangsung.

Kolaborasi dokter dan farmasis memastikan keputusan terapi didasarkan pada kondisi klinis pasien dan pertimbangan farmakokinetik obat, sehingga risiko kesalahan dosis dan efek samping dapat diminimalkan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Ketepatan Waktu Pelayanan Kesehatan Ketepatan Waktu Pelayanan Kesehatan Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Evaluasi Ketepatan Penggunaan Obat Batuk Evaluasi Ketepatan Penggunaan Obat Batuk Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Ketepatan Kode Tindakan Medis Ketepatan Kode Tindakan Medis Analisis Penggunaan Obat di IGD Analisis Penggunaan Obat di IGD Ketepatan Pengisian Rekam Medis Ketepatan Pengisian Rekam Medis Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Identifikasi Pasien yang Tepat Identifikasi Pasien yang Tepat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Tingkat Kesadaran Pasien tentang Overdosis Obat Tingkat Kesadaran Pasien tentang Overdosis Obat Rasionalitas Penggunaan Obat Rasionalitas Penggunaan Obat Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Konseling Obat di Apotek Konseling Obat di Apotek Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Evaluasi Penggunaan Obat Antiinflamasi Non-Steroid Evaluasi Penggunaan Obat Antiinflamasi Non-Steroid
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…