Terakhir diperbarui: 14 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 14 December). Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengetahuan-konsumen-tentang-dosis-maksimal-obat-otc  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC - SumberAjar.com

Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC

Pendahuluan

Obat bebas yang dapat diperoleh tanpa resep dokter, dikenal sebagai obat over-the-counter (OTC), telah menjadi bagian penting dalam upaya mandiri masyarakat untuk mengatasi keluhan ringan seperti demam, nyeri, batuk, dan gangguan pencernaan. Di Indonesia, golongan obat bebas ini dapat dibeli di apotek, toko, bahkan di supermarket tanpa memerlukan resep dari tenaga kesehatan profesional, asalkan digunakan sesuai petunjuk pada kemasan. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]

Namun, persepsi bahwa semua obat OTC sepenuhnya aman jika dijual bebas mengarah pada risiko penggunaannya secara tidak tepat, terutama jika dosis maksimal yang dianjurkan tidak dipahami dengan benar oleh konsumen. Pengetahuan tentang dosis maksimal bukan sekadar informasi teknis, melainkan faktor penentu dalam mencegah overdosis, efek samping berbahaya, atau bahkan komplikasi organ seperti kerusakan hati akibat penggunaan yang berlebihan. Penelitian juga menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan konsumen terhadap dosis serta risiko penggunaan obat OTC, terutama di konteks swamedikasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Artikel ini akan mengulas secara komprehensif tentang bagaimana konsumen memahami dosis maksimal obat OTC, risiko overdosis, sumber informasi yang digunakan, perilaku swamedikasi yang terjadi, serta peran apoteker dalam memberikan edukasi yang aman dan tepat kepada masyarakat.


Definisi Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC

Definisi Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Secara Umum

Secara umum, pengetahuan konsumen tentang dosis maksimal obat OTC dapat didefinisikan sebagai pemahaman individu terhadap informasi tentang jumlah tertinggi suatu obat OTC yang aman untuk dikonsumsi dalam periode tertentu, berdasarkan petunjuk penggunaan, indikasi, serta batasan yang dianjurkan oleh produsen atau badan pengawas. Pengetahuan ini mencakup kemampuan membaca label kemasan, memahami takaran dosis hariannya, serta menyadari konsekuensi jika dosis tersebut dilampaui.

Konsumen sering kali menggunakan obat OTC berdasarkan gejala ringan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, sehingga pemahaman terhadap dosis maksimal obat menjadi elemen penting dalam mencegah kesalahan penggunaan yang dapat berujung pada efek samping tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Definisi Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan didefinisikan sebagai “informasi yang dimiliki seseorang tentang sesuatu berdasarkan pengalaman, pendidikan, atau informasi yang diterima”. Sementara itu, istilah obat OTC (over-the-counter) merujuk pada obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter dan digunakan secara mandiri oleh konsumen. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]

Dengan demikian, dalam konteks KBBI, pengetahuan konsumen tentang dosis maksimal obat OTC adalah informasi yang dimiliki oleh konsumen berdasarkan pengalaman atau pendidikan, yang berkaitan dengan aturan jumlah tertinggi obat OTC yang boleh dikonsumsi.

Definisi Pengetahuan Konsumen tentang Dosis Maksimal Obat OTC Menurut Para Ahli

Beberapa ahli dan publikasi ilmiah telah mendeskripsikan aspek pengetahuan ini dari perspektif kesehatan masyarakat dan farmasi, antara lain:

  1. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa self-medication (penggunaan obat tanpa resep) harus didukung oleh pemahaman yang benar tentang indikasi, dosis, cara penggunaan, serta efek samping obat OTC agar penggunaannya aman dan efektif. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  2. Sinuraya et al. (2023) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat OTC, termasuk cara penggunaan dan batasan dosis, adalah indikator utama untuk menjamin pemanfaatan obat yang tepat dan mengurangi risiko efek samping atau komplikasi akibat kesalahan penggunaan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Hadiq et al. (2025) dalam studi intervensional mencatat bahwa pemahaman terhadap self-medication, termasuk aturan dosis obat OTC, merupakan hal yang harus terus ditingkatkan melalui edukasi komunitas untuk mengurangi praktik penggunaan obat yang tidak aman. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  4. Jariya et al. (2022) dalam penelitian di komunitas Indonesia menemukan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap obat OTC yang digunakan untuk swamedikasi termasuk dosis serta efek samping masih perlu ditingkatkan, karena kondisi ini berkontribusi pada kemungkinan overdosis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  5. Abdullah et al. (2022) menekankan bahwa meskipun banyak konsumen memiliki pengetahuan dasar tentang jenis obat OTC, masih terdapat gap signifikan dalam pemahaman tentang dosis maksimal harian, sering kali menyebabkan penggunaan tidak sesuai aturan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Tingkat Pemahaman Konsumen terhadap Dosis Maksimal

Tingkat pemahaman konsumen terhadap dosis maksimal obat OTC beragam di berbagai populasi dan studi. Penelitian di berbagai komunitas masyarakat Indonesia memperlihatkan bahwa meskipun sebagian konsumen mampu mengenali obat OTC yang sering digunakan, pemahaman mereka terhadap dosis maksimal sering kali tidak optimal, terutama ketika muncul informasi yang bersifat praktis seperti penggunaan berdasarkan pengalaman pribadi atau rekomendasi non-profesional. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]

Kondisi di Masyarakat Indonesia

Beberapa studi di Indonesia yang relevan dengan pemahaman umum terhadap obat OTC:

  • Penelitian di Desa Karangduren menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai penggunaan obat tanpa resep secara umum (meliputi nama obat, indikasi, cara penggunaan, termasuk dosis), tetapi tetap mencatat adanya responden yang kurang memahami petunjuk konsumsi secara tepat. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]

  • Studi lain di Toko Obat Perizinan Wonogiri melaporkan sebagian besar konsumen memiliki pengetahuan yang baik tentang swamedikasi obat bebas, namun kemampuan membaca aturan dosis masih bervariasi. [Lihat sumber Disini - farmasindo.poltekindonusa.ac.id]

Walaupun studi-studi di atas fokus pada pengetahuan penggunaan obat tanpa resep secara umum, implikasi dari temuan mereka memperlihatkan bahwa pemahaman konsumen terhadap dosis maksimal obat OTC juga sering tidak merata, terutama ketika informasi tersedia dari sumber non-kefarmasian seperti iklan atau rekomendasi keluarga. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]

Kesenjangan Pengetahuan terhadap Dosis Maksimal

Penelitian global juga mendukung fakta bahwa ada kesenjangan signifikan dalam pengetahuan mengenai dosis maksimal OTC, terutama di kalangan orang dewasa umum. Misalnya, sebuah survei internasional menemukan bahwa banyak konsumen tidak bisa mengidentifikasi dosis maksimal harian ibuprofen meskipun mengetahui interval dosisnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Selain itu, survei lain menunjukkan bahwa sejumlah konsumen secara keliru percaya bahwa OTC aman tanpa memperhatikan batas dosis, sehingga mereka cenderung tidak membaca label atau mengabaikan dosis maksimal yang dianjurkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Risiko Overdosis akibat Penggunaan Obat OTC

Penggunaan obat OTC tanpa memperhatikan dosis maksimal dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, terutama bila terjadi secara repetitif atau dalam jumlah berlebihan. Risiko-risiko tersebut di antaranya:

Efek Samping Fisiologis dan Risiko Organ

Beberapa obat OTC yang sangat umum, seperti parasetamol dan ibuprofen, memiliki risiko yang signifikan bila dikonsumsi melebihi dosis maksimal harian:

  • Parasetamol: Konsumsi melebihi dosis harian yang dianjurkan dapat menyebabkan kerusakan hati akut, gagal hati, bahkan kematian dalam kasus ekstrem. Risiko ini meningkat pada konsumen yang memiliki gangguan fungsi hati atau menggunakan alkohol secara bersamaan.

  • Ibuprofen/NSAIDs: Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung, perdarahan gastrointestinal, serta gangguan fungsi ginjal, apalagi pada kelompok yang sudah rentan seperti lansia atau pasien dengan penyakit ginjal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Kesalahpahaman Konsumen terhadap Dosis Maksimal

Banyak konsumen yang gagal memahami atau mengingat dosis maksimal harian karena informasi dosis sering diabaikan atau tidak dibaca secara seksama pada kemasan obat. Hal ini diperparah oleh persepsi bahwa obat OTC “selalu aman” jika tersedia tanpa resep, padahal batasan dosis tetap penting untuk keselamatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dampak Kesehatan Masyarakat dan Beban Sistem Kesehatan

Ketidaktahuan terhadap dosis maksimal juga berkontribusi pada insiden overdosis yang memerlukan perawatan medis, meningkatkan beban sistem kesehatan, serta menimbulkan biaya tambahan bagi pasien. Selain itu, risiko farmako-ekonomi dari penggunaan obat yang tidak rasional juga berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian efek samping yang dapat dicegah.


Sumber Informasi yang Digunakan Konsumen

Pemahaman konsumen tentang dosis maksimal tidak lepas dari di mana mereka memperoleh informasinya. Beberapa sumber utama informasi yang sering dijadikan rujukan oleh konsumen dalam konteks OTC meliputi:

1. Label dan Brosur Obat

Label pada kemasan obat merupakan sumber informasi primer yang menyertakan dosis maksimal harian dan aturan pemakaian obat OTC. Namun, masih banyak konsumen yang tidak membaca label secara lengkap atau memahami istilah medis di dalamnya, sehingga informasi penting seperti dosis maksimal tidak terserap dengan baik.

2. Iklan dan Media Sosial

Iklan obat, promosi produk, serta informasi di media sosial sering menjadi rujukan konsumen dalam memilih dan menggunakan obat OTC. Sayangnya, rekomendasi dari iklan tidak selalu menyertakan detail dosis maksimal, dan dalam banyak kasus informasi yang disajikan bersifat komersial, bukan edukatif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Tenaga Kesehatan Non-Farmasi

Beberapa konsumen mendapatkan informasi dari teman, keluarga, atau rekan kerja yang memberikan saran berdasarkan pengalaman pribadi. Sumber ini sering kali bersifat anekdot dan tidak selalu benar secara klinis, termasuk tentang dosis maksimal.

4. Tenaga Kesehatan, Apoteker, dan Profesional Kefarmasian

Tenaga kesehatan, terutama apoteker, memiliki peran penting dalam memberikan informasi dosis maksimal serta menjelaskan cara penggunaan obat OTC yang aman, namun studi menunjukkan bahwa akses ke apoteker untuk edukasi sering kali rendah, dan hanya sebagian kecil konsumen yang memanfaatkan interaksi profesional ini secara optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Swamedikasi

Swamedikasi adalah praktik umum dalam masyarakat yang menggunakan obat-obatan tanpa konsultasi tenaga kesehatan profesional, terutama untuk keluhan yang dianggap ringan. Hubungan antara pengetahuan dan perilaku swamedikasi menunjukkan bahwa:

1. Pengetahuan Mempengaruhi Praktik Penggunaan

Semakin konsumennya memahami informasi terkait obat, terutama dosis maksimal, semakin besar kemungkinan mereka melakukan penggunaan yang tepat dan menghindari overdosis. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dapat memicu perilaku swamedikasi yang tidak rasional dan berpotensi berbahaya. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]

2. Perilaku Swamedikasi Sebagai Faktor Risiko

Studi-studi kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa praktik swamedikasi yang tinggi tanpa edukasi yang memadai sering kali disertai dengan ketidaktahuan tentang aturan dosis, sehingga berkontribusi pada penggunaan yang tidak rasional, dosis berlebih, dan risiko efek merugikan. [Lihat sumber Disini - farmasindo.poltekindonusa.ac.id]

3. Faktor Sosiodemografi dalam Swamedikasi

Tingkat pendidikan, akses informasi, serta pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap bagaimana konsumsi obat dilakukan. Data penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pemahaman dalam penggunaan obat OTC untuk swamedikasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Peran Apoteker dalam Edukasi Dosis Aman

Tenaga kefarmasian, khususnya apoteker, memiliki peranan strategis untuk meningkatkan pengetahuan konsumen tentang dosis maksimal obat OTC, antara lain:

1. Memberikan Edukasi Langsung kepada Konsumen

Apoteker dapat menjelaskan aturan dosis maksimal secara jelas saat konsumen membeli obat OTC, termasuk memberi informasi mengenai potensi efek samping jika dosis dilampaui, serta memberi saran kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

2. Fasilitasi Akses Informasi yang Akurat

Melalui konseling farmasi, leaflet edukatif, dan program penyuluhan, apoteker dapat membantu konsumen memahami label obat dengan benar, sehingga konsumen tidak hanya tahu nama obat tetapi juga tahu berapa dosis maksimalnya dan bagaimana menggunakannya secara aman. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

3. Kolaborasi dalam Program Kesehatan Masyarakat

Apoteker juga dapat bekerja sama dengan puskesmas, dinas kesehatan daerah, atau kelompok masyarakat untuk menyelenggarakan kampanye tentang penggunaan obat OTC yang rasional, termasuk pemahaman tentang dosis maksimal yang aman.


Kesimpulan

Pengetahuan konsumen tentang dosis maksimal obat OTC memainkan peran penting dalam penggunaan obat yang aman dan rasional. Meskipun banyak konsumen mampu mengenali obat OTC yang sering digunakan, pemahaman mereka tentang aturan dosis maksimal masih sering tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh keberagaman sumber informasi yang digunakan, kurangnya interaksi edukatif dengan tenaga kesehatan profesional, serta persepsi bahwa obat OTC sepenuhnya aman karena dijual bebas.

Risiko overdosis akibat penggunaan non-rasional, terutama pada obat seperti parasetamol dan ibuprofen, menunjukkan pentingnya peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Pengetahuan yang baik berkaitan erat dengan perilaku swamedikasi yang lebih bertanggung jawab, sementara ketidakpahaman bisa menyebabkan efek merugikan kesehatan.

Peran apoteker sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan konsumen sangat krusial, tidak hanya sebagai pemberi obat, tetapi juga sebagai edukator untuk menjelaskan dosis maksimal, efek samping, serta kapan konsumen perlu mencari bantuan medis. Dengan pendekatan edukatif yang efektif, diharapkan masyarakat dapat memahami aturan dosis maksimal obat OTC secara lebih baik dan mengurangi risiko penggunaan yang tidak aman.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Dosis maksimal obat OTC adalah batas tertinggi jumlah obat bebas yang dapat dikonsumsi dalam periode tertentu sesuai dengan petunjuk penggunaan, yang bertujuan untuk mencegah efek samping dan risiko overdosis.

Pengetahuan tentang dosis maksimal penting untuk memastikan obat digunakan secara aman dan efektif, serta mencegah overdosis yang dapat menyebabkan gangguan organ seperti kerusakan hati, ginjal, atau saluran pencernaan.

Penggunaan obat OTC melebihi dosis maksimal dapat menyebabkan efek samping serius, seperti kerusakan hati akibat parasetamol, perdarahan lambung akibat NSAID, serta peningkatan risiko rawat inap.

Konsumen memperoleh informasi tentang dosis obat OTC dari label kemasan, brosur obat, iklan, media sosial, pengalaman pribadi, rekomendasi keluarga, serta penjelasan dari tenaga kesehatan seperti apoteker.

Semakin baik pengetahuan konsumen tentang dosis maksimal obat OTC, semakin rasional perilaku swamedikasi yang dilakukan. Kurangnya pengetahuan dapat meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak aman.

Apoteker berperan dalam memberikan edukasi langsung kepada konsumen mengenai dosis maksimal, aturan pakai, efek samping, serta membantu konsumen memahami label obat agar penggunaan obat OTC tetap aman.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Konsumen dari Perspektif Psikologis Perilaku Konsumen dari Perspektif Psikologis Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Persepsi Konsumen tentang Label Nutrisi Persepsi Harga oleh Konsumen Persepsi Harga oleh Konsumen Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Persepsi Masyarakat terhadap Suplemen Mahal Persepsi Masyarakat terhadap Suplemen Mahal Perilaku Pembelian Suplemen melalui E-Commerce Perilaku Pembelian Suplemen melalui E-Commerce Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Pengaruh Edukasi terhadap Penggunaan Suplemen Pengaruh Edukasi terhadap Penggunaan Suplemen Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Obat OTC Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Obat OTC Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Tingkat Pemahaman tentang Nilai Gizi Kemasan Tingkat Pemahaman tentang Nilai Gizi Kemasan Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Pengetahuan Konsumen tentang Interaksi Kopi–Obat Pengetahuan Konsumen tentang Interaksi Kopi–Obat Keamanan Suplemen: Konsep, Regulasi, dan Perlindungan Konsumen Keamanan Suplemen: Konsep, Regulasi, dan Perlindungan Konsumen Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Konsumsi Suplemen: Konsep, Perilaku Konsumen, dan Faktor Penentu Konsumsi Suplemen: Konsep, Perilaku Konsumen, dan Faktor Penentu Konsumsi Suplemen Berlebihan dan Dampaknya Konsumsi Suplemen Berlebihan dan Dampaknya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…