Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Kualitas Hidup Pasien: Indikator dan Penilaian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kualitas-hidup-pasien-indikator-dan-penilaian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kualitas Hidup Pasien: Indikator dan Penilaian - SumberAjar.com

Kualitas Hidup Pasien: Indikator dan Penilaian

Pendahuluan

Kualitas hidup (Quality of Life, QOL) menjadi aspek penting dalam dunia kesehatan, terutama dalam konteks perawatan dan pengobatan pasien. Tidak cuma melihat dari segi penyakit atau gejala semata, tetapi juga bagaimana kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan mempengaruhi kesejahteraan seseorang secara menyeluruh. Dengan memahami dan mengevaluasi kualitas hidup pasien, tenaga kesehatan, termasuk perawat, dapat merancang intervensi yang mendukung pemulihan dan menjaga kesejahteraan secara holistik. Artikel ini membahas pengertian, dimensi, faktor, instrumen penilaian, dampak penyakit kronis, hingga peran perawat dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.


Definisi Kualitas Hidup

Definisi Kualitas Hidup Secara Umum

Secara umum, kualitas hidup dapat diartikan sebagai kesejahteraan individu yang mencakup berbagai aspek kehidupan, bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kondisi psikologis, sosial, serta lingkungan. Konsep ini melampangkan bahwa kualitas hidup mencerminkan keseluruhan persepsi individu terhadap kehidupannya dalam berbagai domain. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Kualitas Hidup dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kualitas hidup umumnya dilihat dari kualitas, kenyamanan, dan kemaslahatan hidup seseorang, mencakup aspek material, sosial, dan kesejahteraan subjektif. (Catatan: definisi formal dari KBBI tidak selalu spesifik mengatur dimensi kesehatan, tetapi dalam penggunaan sehari-hari, sering berkaitan dengan tingkat kesejahteraan dan kenyamanan hidup secara umum.)

Definisi Kualitas Hidup Menurut Para Ahli

Menurut berbagai literatur akademik dan penelitian:

  • World Health Organization (WHO) mendefinisikan QOL sebagai persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai tempat mereka tinggal, serta berhubungan dengan tujuan, harapan, standar, dan kekhawatiran mereka. [Lihat sumber Disini - who.int]

  • Dalam kerangka kesehatan, konsep Health‑Related Quality of Life (HRQoL) dipahami sebagai aspek kualitas hidup yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan kesehatan, mencakup kondisi fisik, psikologis, dan sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Menurut definisi dalam penelitian psikososial, kualitas hidup dapat diartikan sebagai tingkat kepuasan hidup individu pada berbagai domain: fisik, psikologis, sosial, aktivitas, materi, serta kebutuhan struktural. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  • Definisi lain memandang QOL sebagai kesejahteraan subjektif seseorang yang dihasilkan dari perasaan puas atau tidak puas terhadap kondisi aktual dibandingkan dengan harapan atau ideal hidup mereka. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

Dengan demikian, kualitas hidup adalah konsep multidimensi yang melibatkan persepsi subjektif individu terhadap berbagai aspek kehidupan, bukan sekadar ketiadaan penyakit, melainkan kesejahteraan secara menyeluruh.


Dimensi Kualitas Hidup

Dalam literatur kesehatan dan penelitian, kualitas hidup, khususnya HRQoL, umumnya dinilai melalui beberapa dimensi utama: fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Berikut penjelasan tiap dimensi.

  • Dimensi Fisik: mencakup aspek fungsi tubuh, mobilitas, energi, fatigue, rasa sakit, kemampuan menjalankan aktivitas harian, dan kondisi kesehatan umum. [Lihat sumber Disini - archivesofmedicalscience.com]

  • Dimensi Psikologis: berkaitan dengan kesehatan mental, emosi, suasana hati, persepsi diri, stres, depresi, kecemasan, serta kepuasan batin. HRQoL melihat bagaimana kondisi psikologis memengaruhi kesejahteraan subjektif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Dimensi Sosial: meliputi hubungan sosial, dukungan sosial, interaksi interpersonal, keterlibatan dalam komunitas, dan rasa memiliki atau diterima dalam lingkungan sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Dimensi Lingkungan: mencakup kondisi lingkungan fisik dan sosial di sekitar individu, seperti tempat tinggal, fasilitas, akses layanan kesehatan, keamanan, kenyamanan, kondisi sosial budaya, serta lingkungan hidup. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Dimensi-dimensi ini saling terkait dan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kualitas hidupnya secara keseluruhan.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari sisi individu maupun konteks lingkungan. Berikut sejumlah faktor penting:

  • Status kesehatan dan keberadaan penyakit (terutama penyakit kronis), misalnya penelitian terhadap pasien hipertensi menunjukkan bahwa kondisi fisik dan beban penyakit sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.umegabuana.ac.id]

  • Aspek psikologis dan emosional, stres, kecemasan, depresi, persepsi diri, serta kesehatan mental sangat menentukan bagaimana seseorang menilai kesejahteraannya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Dukungan sosial dan relasi interpersonal, memiliki keluarga, teman, komunitas, serta rasa diterima sangat mempengaruhi aspek sosial dan psikologis QOL. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]

  • Lingkungan hidup dan kondisi sosial-ekonomi, akses terhadap fasilitas, pelayanan kesehatan, lingkungan fisik yang mendukung, keamanan, kenyamanan, serta kesempatan sosial dan ekonomi. [Lihat sumber Disini - ejournal.ipdn.ac.id]

  • Usia, status pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dan faktor demografis lain, dalam konteks lokal (contoh lansia di Indonesia), faktor-faktor seperti usia lanjut, kondisi ekonomi, dan status kesehatan berkorelasi dengan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kemampuan beradaptasi dan persepsi subjektif, bagaimana individu memaknai kondisi hidup mereka, harapan, standar, serta tujuan pribadi. Karena QOL sangat subjektif, persepsi ini juga menjadi faktor kunci. [Lihat sumber Disini - who.int]

Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup bukan saja soal kesehatan fisik, melainkan hasil interaksi kompleks antara kondisi kesehatan, lingkungan, sosial, psikologis, serta persepsi individu.


Instrumen Penilaian Kualitas Hidup

Untuk mengukur kualitas hidup secara sistematis, terutama dalam penelitian maupun praktik klinis, berbagai instrumen telah dikembangkan. Dua di antaranya paling umum digunakan:

WHOQOL / WHOQOL-BREF

WHOQOL-BREF adalah versi singkat dari instrumen yang dikembangkan oleh WHOQOL Group. WHO mendefinisikan QOL sebagai persepsi individu terhadap posisi mereka dalam hidup dalam konteks budaya dan nilai, dan WHOQOL dirancang untuk menangkap persepsi ini dari berbagai domain. [Lihat sumber Disini - who.int]

WHOQOL-BREF mengevaluasi empat domain utama: kesehatan fisik, psikologis, relasi sosial, dan lingkungan. [Lihat sumber Disini - scireproject.com]

Instrumen ini banyak digunakan dalam penelitian di berbagai negara dan kondisi, termasuk pada populasi dengan penyakit kronis, lansia, atau kondisi kesehatan tertentu, sebagai alat yang valid dan reliabel untuk menilai QOL. [Lihat sumber Disini - japsonline.com]

SF-36 (36-Item Short Form Health Survey)

SF-36 adalah instrumen generik yang sering dipakai untuk menilai status kesehatan dan aspek kesehatan terkait QOL (HRQoL). SF-36 terdiri dari 36 pertanyaan yang mengevaluasi delapan subskala: Physical Functioning, Role Physical, Bodily Pain, General Health, Vitality, Social Functioning, Role Emotional, dan Mental Health. [Lihat sumber Disini - applications.emro.who.int]

Subskala ini kemudian dapat dikelompokkan ke dalam dua komponen utama: komponen fisik (Physical Component Summary / PCS) dan komponen mental (Mental Component Summary / MCS). [Lihat sumber Disini - archivesofmedicalscience.com]

SF-36 banyak digunakan dalam penelitian populasi umum maupun pasien dengan berbagai kondisi penyakit, karena fleksibilitas dan kemampuannya menangkap aspek fisik, psikologis, dan sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Perbandingan dan Kelebihan / Kekurangan

  • WHOQOL-BREF memiliki keunggulan dalam mempertimbangkan konteks budaya dan nilai individu, sehingga lebih holistik dalam menilai persepsi subjektif terhadap kehidupan.

  • SF-36 bersifat lebih generik dan fokus pada aspek kesehatan serta fungsi fisik/mental, cocok untuk penelitian epidemiologi, survei populasi, atau kajian dampak penyakit.

  • Namun, SF-36 dan WHOQOL (atau versi lengkap WHOQOL-100) meskipun beririsan dalam domain, tidak selalu bisa saling menggantikan satu sama lain secara sempurna, karena beda tujuan, filosofi, dan aspek yang ditekankan dalam masing-masing instrumen. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]


Dampak Penyakit Kronis terhadap Kualitas Hidup

Penyakit kronis (misalnya hipertensi, diabetes, penyakit kronis hati, atau kondisi degeneratif lain) sering membawa dampak luas terhadap kualitas hidup pasien, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga psikologis, sosial, dan lingkungan. Beberapa poin penting:

  • Pasien dengan penyakit kronis dilaporkan memiliki HRQoL lebih rendah dibandingkan populasi sehat. Sebagai contoh, penelitian pada pasien dengan diabetes menunjukkan penurunan QOL dibanding kelompok kontrol, terutama akibat komplikasi fisik dan beban pengobatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Penyakit kronis sering menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, nyeri, kelelahan, serta penurunan kapasitas untuk bekerja atau berinteraksi sosial, yang berdampak pada aspek fisik dan sosial dari QOL. [Lihat sumber Disini - archivesofmedicalscience.com]

  • Beban psikologis, seperti stres, kecemasan terhadap kondisi kesehatan, ketidakpastian masa depan, dan penurunan kualitas hidup sosial, juga sering dialami pasien kronis. Hal ini memengaruhi aspek psikologis dan sosial dari QOL. [Lihat sumber Disini - bmcneurol.biomedcentral.com]

  • Lingkungan dan akses layanan kesehatan menjadi penting, pasien dengan penyakit kronis butuh perawatan berkelanjutan, akses medis, dukungan sosial, serta adaptasi lingkungan agar bisa mencapai kualitas hidup yang baik. [Lihat sumber Disini - ejournal.ipdn.ac.id]

Secara keseluruhan, penyakit kronis berdampak kompleks dan sering menurunkan kualitas hidup, sehingga evaluasi dan intervensi harus holistik, tidak hanya menyasar aspek fisik.


Peran Perawat dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

Perawat memiliki peran strategis dalam upaya memperbaiki atau mempertahankan kualitas hidup pasien, karena berada di garis depan perawatan dan interaksi intens dengan pasien. Berikut beberapa peran penting:

  • Assessment dan Pemantauan QOL: Perawat dapat mengaplikasikan instrumen seperti WHOQOL-BREF atau SF-36 untuk menilai kondisi QOL pasien secara berkala, membantu mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian, misalnya aspek fisik, psikologis, atau sosial.

  • Intervensi Holistik: Bukan hanya merawat aspek fisik (pengobatan, perawatan luka, terapi, dsb), tetapi juga mendukung kesehatan mental, memberikan edukasi, dukungan emosional, serta membantu akses layanan sosial atau komunitas, untuk memperbaiki aspek psikologis dan sosial.

  • Koordinasi Layanan & Rujukan: Jika dibutuhkan, misalnya konseling psikologis, rehabilitasi fisik, kelompok dukungan, perawat bisa menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan layanan lain untuk mendukung QOL.

  • Pendampingan Jangka Panjang & Edukasi: Untuk pasien dengan penyakit kronis, perawat membantu edukasi tentang manajemen penyakit, gaya hidup sehat, modifikasi lingkungan, coping stress, agar pasien bisa beradaptasi dan menjaga kualitas hidup.

  • Advokasi & Perencanaan Perawatan Berdasarkan Kebutuhan Individu: Berdasarkan hasil penilaian QOL, perawat dapat menyusun rencana keperawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan pasien, bukan semata berdasarkan penyakit, sehingga perawatan lebih manusiawi dan bermakna.

Dengan demikian, perawat bukan sekadar memberikan perawatan klinis, tetapi juga menjadi fasilitator kesejahteraan holistik pasien, baik fisik, psikologis, maupun sosial.


Contoh Hasil Penilaian Kualitas Hidup Pasien

Beberapa penelitian memberikan gambaran empiris bagaimana QOL pasien diukur dan hasilnya:

  • Sebuah studi pada lansia menunjukkan bahwa ketika menggunakan WHOQOL-BREF, banyak responden dengan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan buruk, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas hidup yang rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]

  • Penelitian pada pasien hipertensi selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa kualitas hidup menurun, kondisi fisik, stres, dan keterbatasan sosial berkontribusi pada penurunan QOL. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]

  • Dalam kasus pasien dengan penyakit kronis hati, penggunaan WHOQOL-BREF menunjukkan bahwa faktor penyerta (komorbiditas), kondisi penyakit, dan beban perawatan berdampak negatif terhadap aspek fisik maupun psikologis QOL. [Lihat sumber Disini - japsonline.com]

Contoh-contoh ini menggambarkan bagaimana penilaian QOL memberi gambaran nyata tentang kesejahteraan pasien, jauh melampaui sekadar derajat penyakit atau parameter klinis.


Kesimpulan

Kualitas hidup (Quality of Life) merupakan suatu konsep multidimensi yang mencakup persepsi subjektif individu terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan kehidupannya. Dalam konteks kesehatan, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis, QOL menjadi indikator penting karena mencerminkan kesejahteraan holistik, bukan sekadar derajat penyakit.

Instrumen seperti WHOQOL-BREF dan SF-36 memungkinkan penilaian sistematis aspek-aspek ini, membantu tenaga kesehatan dalam memahami kebutuhan, beban, serta potensi intervensi yang tepat.

Perawat memiliki peran kunci dalam menilai, memantau, dan meningkatkan kualitas hidup pasien melalui pendekatan holistik, meliputi aspek klinis, psiko­sosial, edukasi, serta koordinasi layanan.

Dengan memperhatikan QOL secara menyeluruh, praktik keperawatan dan layanan kesehatan dapat lebih manusiawi dan bermakna, mendukung pasien tidak hanya dalam pemulihan fisik tetapi juga kesejahteraan secara menyeluruh.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kualitas hidup pasien adalah persepsi individu mengenai kesejahteraan fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan yang memengaruhi kemampuan mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Konsep ini tidak hanya menilai kondisi penyakit, tetapi juga bagaimana penyakit memengaruhi kehidupan secara menyeluruh.

Dimensi utama kualitas hidup meliputi dimensi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Keempat aspek tersebut saling berhubungan dan menentukan bagaimana seseorang menilai kualitas hidupnya.

Instrumen yang paling sering digunakan adalah WHOQOL-BREF dan SF-36. Keduanya menilai berbagai domain kualitas hidup, seperti kesehatan fisik, mental, sosial, dan lingkungan, sehingga dapat digunakan dalam penelitian maupun praktik klinis.

Penyakit kronis dapat menurunkan kualitas hidup melalui keterbatasan fisik, rasa nyeri, kelelahan, stres psikologis, serta hambatan dalam aktivitas sosial. Dampaknya bersifat multidimensi dan sering membutuhkan pendekatan holistik dalam penanganannya.

Perawat berperan menilai kualitas hidup, memberikan intervensi holistik, edukasi kesehatan, dukungan emosional, serta koordinasi layanan. Perawat membantu pasien mencapai kesejahteraan optimal tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikososial.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Indikator: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Indikator: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Mutu Pelayanan Kesehatan: Konsep, evaluasi, dan peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Konsep, evaluasi, dan peningkatan Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Kepuasan Pasien terhadap Telemedicine Kepuasan Pasien terhadap Telemedicine Ketidakstabilan Gaya Hidup Pasien Kronis Ketidakstabilan Gaya Hidup Pasien Kronis Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…