
Ketidakstabilan Gaya Hidup Pasien Kronis
Pendahuluan
Penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes melitus, gagal ginjal kronik, dan penyakit tidak menular lainnya, menjadi beban kesehatan yang makin meningkat di Indonesia. Perubahan gaya hidup terutama pola makan, aktivitas fisik, istirahat, dan kebiasaan sehari-hari memegang peranan penting dalam kontrol penyakit kronis. Namun, stabilitas gaya hidup bagi pasien kronis sering kali sulit dicapai. Ketidakstabilan gaya hidup dapat menyebabkan fluktuasi kontrol penyakit, memperburuk kondisi, atau memicu komplikasi. Oleh karena itu penting untuk memahami apa itu “ketidakstabilan gaya hidup”, faktor-faktor penyebabnya, dampaknya terhadap penyakit kronis, dan bagaimana strategi pengelolaannya, termasuk peran perawat dalam edukasi. Artikel ini mencoba mengupas tema tersebut secara mendalam.
Definisi Ketidakstabilan Gaya Hidup
Definisi Ketidakstabilan Gaya Hidup secara Umum
Secara umum, “gaya hidup” merujuk pada pola perilaku sehari-hari seseorang yang mencakup kebiasaan makan, aktivitas fisik, istirahat dan tidur, pengelolaan stres, konsumsi bahan berisiko (rokok, alkohol), serta cara menjaga kesehatan mental dan sosial. Ketika pola-pola ini berubah secara tidak konsisten, tidak teratur, atau tidak sesuai rekomendasi untuk kesehatan, itu bisa disebut “ketidakstabilan gaya hidup”.
Definisi Ketidakstabilan Gaya Hidup dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “gaya hidup” bisa didefinisikan sebagai “cara hidup seseorang atau sekelompok manusia, terutama cara yang mencerminkan kebiasaan, tingkah laku, dan orientasi dalam kehidupan sehari-hari”. Sedangkan “tidak stabil” menunjukkan kondisi yang tidak tetap, berubah-ubah, tidak konsisten. Maka “ketidakstabilan gaya hidup” dapat diartikan sebagai cara hidup yang berubah-ubah, tidak konsisten, dan tidak mencerminkan kebiasaan sehat yang berkelanjutan.
Definisi Ketidakstabilan Gaya Hidup menurut Para Ahli
Beberapa literatur dan penelitian memperlihatkan definisi gaya hidup sehat dan pentingnya konsistensi dalam gaya hidup bagi pasien kronis:
-
Dalam literatur “Gizi & Penyakit Kronis”, gaya hidup sehat ditekankan sebagai pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, istirahat cukup, dan penyesuaian gaya hidup untuk mencegah perkembangan penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pada penelitian kualitatif dengan pasien penyakit kronis, disebutkan bahwa self-care termasuk “preparing healthy food, coping with stress, exercising, and maintaining social …” sebagai bagian dari manajemen gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi tentang adopsi gaya hidup sehat di lingkungan kerja menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup membutuhkan kesiapan mental dan fisik, serta lingkungan yang mendukung, jika faktor-faktor ini tidak terpenuhi, kemungkinan besar terjadi ketidakstabilan gaya hidup. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
-
Dalam manajemen penyakit kronis, ketidakpatuhan terhadap gaya hidup sehat (misalnya konsumsi makanan siap saji, kurang aktivitas fisik) disebut sebagai faktor yang memperburuk kontrol penyakit. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]
Berdasarkan referensi tersebut, “ketidakstabilan gaya hidup” pada pasien kronis bisa didefinisikan sebagai kondisi di mana pasien tidak mampu mempertahankan gaya hidup sehat secara konsisten, baik dari aspek nutrisi, aktivitas fisik, istirahat, maupun perilaku sehat lainnya, sehingga terjadi fluktuasi atau perubahan perilaku yang berpengaruh terhadap kontrol penyakit.
Karakteristik Pasien Penyakit Kronis
Pasien penyakit kronis memiliki beberapa karakteristik khusus yang membedakan mereka dari populasi umum, terutama dalam hal kebutuhan pengelolaan gaya hidup dan tantangan untuk mempertahankannya:
-
Mereka biasanya memerlukan manajemen jangka panjang: penyakit kronis memerlukan kontrol dan perawatan terus-menerus agar tidak terjadi komplikasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.healthsains.co.id]
-
Perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dari pengobatan, tidak hanya konsumsi obat, tetapi juga pola makan, aktivitas fisik, kontrol stres, dan kebiasaan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Banyak pasien kronis menghadapi tekanan psikologis, emosional, sosial, dan ekonomi. Misalnya, dalam penelitian terbaru pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis, ditemukan perubahan signifikan dalam aspek fisiologis, psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]
-
Faktor pendidikan, literasi kesehatan, dan dukungan sosial/keluarga menjadi sangat penting: pasien dengan pemahaman rendah atau dukungan keluarga minim sering kesulitan mempertahankan gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Kemauan dan kesiapan untuk perubahan (self-efficacy) berperan besar dalam keberhasilan manajemen gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Karakteristik di atas menunjukkan bahwa pasien kronis tidak hanya menghadapi tantangan medis, tetapi juga kompleksitas dalam aspek gaya hidup, sosial, psikologis dan lingkungan, yang membuat stabilitas gaya hidup menjadi tantangan tersendiri.
Faktor Penyebab Perubahan Gaya Hidup / Ketidakstabilan
Beberapa faktor dapat menyebabkan ketidakstabilan gaya hidup pada pasien kronis, baik dari dalam diri pasien maupun dari lingkungan sekitarnya:
-
Faktor psikologis dan emosional: stres, kecemasan, depresi, beban mental, atau kelelahan akibat pengobatan dapat mempengaruhi motivasi menjaga gaya hidup sehat. Pada pasien gagal ginjal kronis misalnya, stres akibat hemodialisis dianggap sebagai stressor signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kurangnya literasi kesehatan dan edukasi: jika pasien tidak memahami pentingnya pola hidup sehat atau tidak tahu bagaimana menerapkannya, maka kemungkinan besar mereka gagal mempertahankan perubahan dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Lingkungan sosial dan dukungan keluarga yang minim: dukungan keluarga atau komunitas sangat penting untuk membantu pasien menjalani gaya hidup sehat, tanpa itu, pasien cenderung kesulitan. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Gaya hidup modern dan kemudahan akses makanan/produk tidak sehat: konsumsi makanan siap saji, rendah aktivitas fisik, pola kerja/kehidupan yang padat, serta kurangnya waktu untuk berolahraga atau istirahat menjadi pemicu ketidakpatuhan gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]
-
Kurangnya kesiapan untuk berubah (readiness), perubahan gaya hidup sering memerlukan disiplin, komitmen, serta adaptasi terhadap rutinitas baru; jika pasien tidak siap secara mental maupun fisik, maka perubahan sulit bertahan. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
-
Kesulitan ekonomi / sosial: biaya pengobatan, akses ke layanan kesehatan, kesibukan kerja/keluarga dapat mengganggu konsistensi gaya hidup sehat, terutama pada masyarakat dengan sumber daya terbatas. Implikasi sosial-ekonomi bagi pasien kronis (termasuk perubahan pekerjaan, beban biaya, dll.) ditemukan dalam studi kualitatif pada pasien gagal ginjal kronis. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]
Faktor-faktor ini memperlihatkan bahwa ketidakstabilan gaya hidup bukan semata masalah “kemauan”, tapi terkait banyak aspek, psikologis, sosial, ekonomi, lingkungan, dan literasi kesehatan.
Dampak Ketidakpatuhan / Ketidakstabilan Gaya Hidup terhadap Penyakit Kronis
Ketidakstabilan atau ketidakpatuhan terhadap gaya hidup sehat pada pasien kronis dapat berdampak buruk terhadap kontrol penyakit, kualitas hidup, dan risiko komplikasi. Berikut beberapa dampak yang tercatat:
-
Meningkatkan risiko kejadian penyakit atau memperburuk kondisi kronis, misalnya, penelitian pada pralansia menunjukkan bahwa gaya hidup buruk memiliki hubungan bermakna dengan kejadian hipertensi. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id]
-
Gagal mengendalikan parameter kesehatan, pada pasien diabetes atau penyakit metabolik, gaya hidup tidak stabil (diet buruk, kurang aktivitas fisik, stres) bisa menyebabkan fluktuasi kadar glukosa darah, resistensi insulin, atau komplikasi lainnya. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id]
-
Menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan, aspek fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi bisa terdampak: kelelahan, stres, ketidakstabilan emosional, perasaan tertekan, serta beban biaya pengobatan dan perawatan. Penelitian pada pasien gagal ginjal kronis menunjukkan perubahan fisiologis, psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi akibat penyakit dan gaya hidup. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]
-
Menurunnya efektivitas terapi dan manajemen penyakit, tanpa gaya hidup sehat yang konsisten, obat-obatan atau terapi medis saja mungkin tidak cukup, sehingga kontrol penyakit kronis jadi suboptimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Beban sistem kesehatan dan masyarakat meningkat, pasien dengan kontrol penyakit buruk lebih rentan komplikasi, kunjungan rutin, rawat inap, dan biaya perawatan lebih tinggi; hal ini menjadi tantangan pada level populasi, terutama di negara dengan beban penyakit kronis tinggi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, ketidakstabilan gaya hidup bukan hanya isu individual, tapi juga concern sistem kesehatan dan sosial secara luas.
Strategi Pengelolaan Perubahan Lifestyle untuk Pasien Kronis
Untuk mencegah atau meminimalkan ketidakstabilan gaya hidup, beberapa strategi bisa diterapkan:
-
Edukasi dan peningkatan literasi kesehatan: memberi pemahaman kepada pasien tentang pentingnya pola hidup sehat, dampak jangka panjang penyakit kronis, serta cara mengatur pola makan, aktivitas fisik, istirahat, dan manajemen stres. Literasi ini membantu pasien memahami “kenapa” dan “bagaimana” melakukan perubahan.
-
Pendekatan holistik dan pribadi (personalized care): mempertimbangkan kondisi fisik, psikologis, sosial, ekonomi, dan budaya pasien saat merancang rencana gaya hidup, agar lebih realistis dan bisa diikuti dalam jangka panjang.
-
Dukungan sosial dan keluarga: keluarga atau komunitas dapat berperan sebagai mediator informasi, pendukung motivasi, pengingat kepatuhan, serta pendamping untuk aktivitas sehat, meningkatkan peluang pasien mempertahankan gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Program manajemen penyakit kronis berbasis komunitas: misalnya Prolanis di Indonesia, melalui program ini pasien mendapatkan edukasi, monitoring rutin, pengingat, dan kunjungan rumah sehingga lebih mudah mengontrol penyakit dan menjalankan gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]
-
Pendampingan psikologis dan dukungan coping: karena penyakit kronis bisa memicu stres, kecemasan, atau beban emosional, penting bagi pasien mendapatkan dukungan psikologis untuk membantu adaptasi gaya hidup baru. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]
-
Pemantauan dan evaluasi rutin: kontrol berkala kondisi kesehatan, evaluasi gaya hidup, serta modifikasi rencana gaya hidup jika dibutuhkan, agar tetap relevan dengan kondisi pasien.
-
Motivasi dan pemberdayaan pasien (self-management): membantu pasien mengembangkan rasa tanggung jawab dan kemampuan mengendalikan penyakit mereka sendiri melalui gaya hidup sehat, skill self-care sangat penting dalam manajemen kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Strategi-strategi ini, jika dijalankan secara konsisten dan terpadu, dapat membantu pasien kronis menjaga stabilitas gaya hidup dan meningkatkan hasil pengobatan serta kualitas hidup.
Peran Perawat dalam Edukasi dan Pendampingan Gaya Hidup
Perawat memiliki peran strategis dalam mendampingi pasien kronis agar mampu menjalani gaya hidup sehat secara konsisten, antara lain:
-
Memberikan edukasi kesehatan: perawat bisa menjelaskan pentingnya gaya hidup sehat, dampak ketidakpatuhan, serta langkah konkret yang bisa dilakukan (nutrisi, aktivitas fisik, istirahat, manajemen stres).
-
Membantu assessment kondisi pasien secara holistik: menilai kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan pasien untuk merancang intervensi gaya hidup yang sesuai, personalized care sangat penting.
-
Mendampingi adaptasi perubahan gaya hidup: memotivasi, memberi dukungan, membantu pasien menyusun rencana hidup sehat yang realistis dan dapat dijalankan dalam keseharian.
-
Monitoring dan follow-up: memantau kepatuhan pasien terhadap rekomendasi gaya hidup dan pengobatan, memberi pengingat atau dukungan ketika pasien mengalami kesulitan, serta evaluasi berkala.
-
Kolaborasi dengan keluarga dan lingkungan sosial: melibatkan keluarga atau caregiver dalam edukasi dan pendampingan, mengingat dukungan sosial berperan penting dalam keberhasilan gaya hidup sehat.
-
Membantu coping dan dukungan psikososial: membantu pasien mengelola stres, kecemasan, atau beban emosional akibat penyakit kronis, serta mendorong mekanisme coping adaptif.
Peran perawat sangat penting karena mereka berada di garda depan interaksi langsung dengan pasien, sehingga bisa mempengaruhi keberhasilan manajemen gaya hidup jangka panjang.
Contoh Kasus: Lifestyle Stabil vs Tidak Stabil
Kasus: Lifestyle Tidak Stabil
Misalnya, seorang pasien hipertensi pralansia di satu puskesmas: penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90% dari responden memiliki gaya hidup buruk (tidak stabil), dan hampir setengah dari mereka mengalami hipertensi tingkat II. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id] Faktor penyebab: pola makan kurang sehat, aktivitas fisik minim, stres, kelelahan akibat pekerjaan, sehingga kontrol tekanan darah sulit tercapai, risiko komplikasi meningkat, dan kualitas hidup menurun.
Kasus: Lifestyle Stabil / Kontrol Baik
Sebaliknya, pasien dengan penyakit kronis (misalnya diabetes atau hipertensi) yang berpartisipasi aktif dalam program manajemen penyakit kronis, menerapkan pola makan sehat, rutin olahraga, istirahat cukup, kontrol stres, serta rutin kontrol kesehatan, menunjukkan hasil lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kepatuhan terhadap terapi dan gaya hidup sehat signifikan membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. [Lihat sumber Disini - dinastires.org]
Dalam kasus gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis: pasien yang mampu beradaptasi, menjaga gaya hidup sehat (nutrisi, istirahat, aktivitas ringan), mendapatkan dukungan sosial dan keluarga, lebih mampu menjaga kualitas hidupnya meskipun penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]
Kesimpulan
Ketidakstabilan gaya hidup pada pasien kronis merupakan isu serius dengan konsekuensi kesehatan, kualitas hidup, dan beban masyarakat yang signifikan. Definisi “ketidakstabilan gaya hidup” mencakup pola hidup yang berubah-ubah, tidak konsisten, dan tidak mendukung pengelolaan penyakit kronis secara optimal. Banyak faktor, psikologis, literasi kesehatan, sosial, ekonomi, lingkungan, yang menyebabkan sulitnya mempertahankan gaya hidup sehat. Dampaknya bisa berupa kontrol penyakit yang buruk, komplikasi, menurunnya kualitas hidup, dan beban tambahan bagi sistem kesehatan.
Untuk itu diperlukan strategi menyeluruh: edukasi, dukungan keluarga dan sosial, pendekatan holistik dan personal, pemantauan rutin, serta pemberdayaan pasien untuk self-management. Perawat punya peran strategis dalam mendampingi pasien melalui edukasi, pendampingan, monitoring, dan kolaborasi dengan keluarga. Dengan implementasi yang konsisten, pasien kronis dapat mencapai gaya hidup stabil, meningkatkan kontrol penyakit, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup.