
Literasi Obat: Konsep, Urgensi, dan Peningkatan Pemahaman
Pendahuluan
Literasi obat merupakan salah satu aspek penting dalam kesehatan masyarakat modern. Di tengah semakin kompleksnya informasi medis dan penggunaan obat yang beragam, kemampuan individu untuk memahami, mengolah, dan mengambil keputusan yang tepat terkait obat menjadi semakin krusial untuk keselamatan pasien, efektivitas terapi, dan keberhasilan sistem pelayanan kesehatan. Literasi obat tak hanya soal membaca label atau mengetahui nama obat, tetapi mencakup keterampilan yang lebih luas dalam memperoleh informasi tentang obat, memahami instruksi penggunaan, serta menyampaikan pertanyaan atau kekhawatiran secara efektif kepada tenaga kesehatan. Hal ini berimplikasi langsung terhadap kepatuhan terapi, pencegahan kesalahan penggunaan obat, dan peningkatan hasil klinis pasien. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rendahnya literasi obat berkaitan dengan kesalahan penggunaan obat, non-adherence, dan potensi risiko kesehatan yang lebih besar terutama pada pasien dengan kondisi kronis atau multimorbiditas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Literasi Obat
Definisi Literasi Obat Secara Umum
Literasi obat dapat dipahami sebagai kemampuan individu untuk mendapatkan, memahami, mengomunikasikan, menghitung, dan mengolah informasi spesifik tentang obat sehingga dapat membuat keputusan dan tindakan yang benar terkait penggunaan obat secara aman dan efektif. Konsep ini bukan hanya sekadar mengetahui nama obat, tetapi juga memahami bagaimana obat bekerja, kapan harus diminum, apa efek sampingnya, cara penyimpanan, hingga interaksi dengan obat lain atau makanan. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Literasi Obat dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah literasi mengacu pada kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup tertentu, termasuk dalam konteks penggunaan obat. Dengan demikian, literasi obat secara KBBI berarti kemampuan seseorang untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi obat dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membuat keputusan yang tepat terkait kesehatan. [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id]
Definisi Literasi Obat Menurut Para Ahli
-
King et al. (2011) / Pouliot et al. (2018)
Literasi obat mencakup keterampilan kognitif dan sosial yang diperlukan seseorang untuk memperoleh, memahami, berkomunikasi, menghitung, dan memproses informasi obat untuk pengambilan keputusan yang tepat dan aman dalam penggunaan obat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sauceda dan rekan-rekan (Delphi consensus)
Menyatakan bahwa literasi obat adalah derajat kemampuan individu untuk mendapatkan, memahami, menyampaikan, menghitung, dan memproses informasi spesifik terkait obat dan pengobatan pasien agar dapat membuat keputusan kesehatan yang aman dan efektif, terlepas dari media penyampaian informasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penelitian Setiyabudi et al. (2025)
Literasi obat digambarkan sebagai kemampuan seseorang memahami informasi obat dan penggunaannya secara efektif serta kemampuan tersebut berkorelasi dengan penggunaan obat yang tepat, kepatuhan pasien, dan pengurangan risiko kesalahan pengobatan. [Lihat sumber Disini - jos.unsoed.ac.id]
-
Literature review internasional
Dalam kajian ilmiah, literasi obat didefinisikan sebagai bagian dari health literacy yang berfokus pada pengetahuan, sikap, keterampilan, dan perilaku terkait penggunaan obat, sehingga mencakup dimensi kognitif dan praktis dalam konteks kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Tingkat Literasi Obat pada Pasien
Tingkat literasi obat pada populasi umumnya bervariasi dan seringkali masih berada pada level yang tidak memadai. Di berbagai negara, termasuk populasi umum maupun kelompok pasien khusus, literasi obat seringkali rendah, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan dalam penggunaan obat, non-kepatuhan terhadap instruksi terapi, serta meningkatnya angka kunjungan darurat atau rawat inap. Studi menunjukkan bahwa pasien dengan literasi obat yang rendah cenderung lebih sering melakukan kesalahan dalam interpretasi label dan informasi obat, serta menghadapi kesulitan dalam mengambil dosis yang benar atau memahami interaksi obat. [Lihat sumber Disini - dovepress.com]
Berdasarkan beberapa studi, rendahnya literasi obat juga berdampak pada fenomena self-medication yang tidak rasional, di mana pasien menggunakan obat tanpa saran profesional yang memadai, yang dapat meningkatkan risiko resistensi obat, reaksi efek samping yang tidak diinginkan, atau terjadinya kesalahan penggunaan obat keras. [Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]
Selain itu, tren penelitian di Indonesia menunjukkan intervensi edukatif yang diarahkan pada peningkatan literasi obat seperti pemberian informasi visual dan partisipatif kepada masyarakat mampu meningkatkan pemahaman dan kepatuhan dalam penggunaan obat, terutama di komunitas dengan tingkat literasi rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.unimugo.ac.id]
Urgensi Literasi Obat dalam Keselamatan Pasien
Literasi obat memegang peranan penting dalam keselamatan pasien. Keselamatan pasien tidak hanya bergantung pada monitor klinis atau teknik medis saja, tetapi juga kemampuan pasien untuk memahami dan menerapkan petunjuk penggunaan obat dengan benar. Pasien yang tidak mampu memahami informasi obat dengan benar berisiko lebih tinggi melakukan kesalahan dosis, salah jadwal minum obat, atau bahkan penggunaan obat yang tidak sesuai petunjuk, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan klinis, komplikasi, atau interaksi obat yang berbahaya. [Lihat sumber Disini - dovepress.com]
Misalnya, pasien dengan literasi obat rendah lebih mungkin mengalami eror dalam membaca label atau memahami konsep dosis yang benar, yang meningkatkan potensi efek samping atau kegagalan terapi. Ini menunjukkan bahwa literasi obat bukan sekadar kenyamanan pasien, tetapi merupakan faktor keselamatan yang nyata dalam praktik klinis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Literasi Obat terhadap Kepatuhan Terapi
Hubungan antara literasi obat dan kepatuhan terapi telah banyak dibuktikan dalam penelitian ilmiah. Kepatuhan terapi, yang menunjuk pada sejauh mana pasien mengikuti instruksi pengobatan yang diresepkan oleh tenaga kesehatan, sangat dipengaruhi oleh tingkat literasi obat pasien. Studi empiris menunjukkan bahwa literasi obat yang lebih tinggi berkorelasi positif dengan tingkat kepatuhan yang lebih baik, karena pasien lebih mampu memahami instruksi dokter, alasan di balik regimen terapi, serta dampak dari ketidakpatuhan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, literasi obat yang memadai membantu pasien dalam memproses dan menyampaikan kekhawatiran, yang dapat memicu dialog lebih efektif dengan tenaga kesehatan sehingga memperbaiki pemahaman terhadap terapi serta meningkatkan keterlibatan pasien dalam keputusan pengobatan mereka. Berdasarkan penelitian, literasi obat yang rendah juga berkaitan dengan ambivalensi terhadap obat dan kekhawatiran yang tidak berdasar yang menurunkan kepatuhan terhadap regimen terapi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Strategi Peningkatan Literasi Obat
Untuk meningkatkan literasi obat di masyarakat dan pasien, diperlukan berbagai pendekatan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan kontekstual pasien. Strategi tersebut dapat mencakup:
-
Edukasi berbasis komunitas:
Program edukasi yang melibatkan materi visual, diskusi interaktif, dan simulasi penggunaan obat terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien serta kemampuan mereka dalam membaca label dan instruksi obat. [Lihat sumber Disini - riset.unisma.ac.id]
-
Pendekatan visual dan literasi sensitif:
Penggunaan materi pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat literasi target, penggunaan diagram, video edukatif, serta metode tanya jawab yang memfasilitasi refleksi pasien terhadap informasi yang diberikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unimugo.ac.id]
-
Pelatihan kesehatan pada kelompok rentan:
Fokus pada kelompok yang berisiko rendah literasi obat seperti lansia, pasien dengan multimorbiditas, atau mereka yang memiliki pendidikan rendah melalui pelatihan khusus dan modul klinis sederhana. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Integrasi edukasi dalam layanan kesehatan:
Menjadikan penilaian literasi obat sebagai bagian dari praktik klinis rutin di fasilitas kesehatan untuk menyesuaikan pendekatan konseling dan informasi sesuai kebutuhan pasien.
Peran Farmasis dalam Peningkatan Literasi Obat
Farmasis memegang peranan kunci dalam peningkatan literasi obat, karena mereka merupakan tenaga kesehatan yang paling dekat dengan pasien terkait penggunaan dan informasi obat. Peran farmasis dalam konteks literasi obat antara lain:
-
Memberikan konseling obat yang efektif, termasuk menjelaskan dosis, cara minum, efek samping, serta menjawab pertanyaan pasien terkait obat.
-
Menyusun materi edukasi literasi obat yang sesuai dengan kemampuan pemahaman pasien, seperti leaflet yang mudah dibaca, ilustrasi penggunaan obat, atau panduan video.
-
Melakukan pendekatan literasi sensitif dengan teknik pengulangan pesan, penggunaan pertanyaan terbuka, serta demonstrasi penggunaan obat ketika diperlukan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memastikan informasi yang konsisten dan akurat kepada pasien.
Farmasis juga dapat berperan dalam pelatihan kader kesehatan lokal atau pemberdayaan masyarakat untuk memperluas dampak literasi obat di tingkat komunitas.
Kesimpulan
Literasi obat merupakan kemampuan kompleks yang melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dalam memperoleh, memahami, menginterpretasi, serta memutuskan penggunaan obat yang aman dan efektif. Tingkat literasi obat yang belum optimal di banyak kelompok pasien menunjukkan perlunya strategi edukatif yang berkelanjutan dalam layanan kesehatan dan edukasi masyarakat. Literasi obat memiliki korelasi kuat dengan kepatuhan terapi, keselamatan pasien, serta hasil kesehatan yang lebih baik. Oleh karena itu, peningkatan literasi obat harus menjadi perhatian utama dalam kebijakan kesehatan dan praktik klinis, dengan peran strategis dari tenaga farmasi, dokter, serta berbagai pemangku kepentingan kesehatan lainnya. Upaya ini tidak hanya meningkatkan keselamatan pasien, tetapi juga meningkatkan keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan mengenai terapi mereka, serta memperkuat pangkalan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.