Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/manajemen-terapi-oksigen-pemahaman-dan-praktik  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik - SumberAjar.com

Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik

Pendahuluan

Terapi oksigen merupakan intervensi penting dalam dunia medis, terutama untuk mendukung oksigenasi jaringan tubuh pada kondisi patologis seperti hipoksemia, gangguan pernapasan, maupun cedera. Dalam praktik klinis, pemahaman mendalam tentang definisi, indikasi, jenis alat, metode pemberian, serta prosedur dan keamanan terapi oksigen mutlak diperlukan agar terapi berjalan efektif dan aman. Artikel ini akan membahas secara komprehensif aspek-aspek penting dalam manajemen terapi oksigen, mulai dari konsep dasar sampai penerapannya, termasuk langkah pemberian, monitoring efektivitas, serta contoh kasus klinis.


Definisi Terapi Oksigen

Definisi Terapi Oksigen Secara Umum

Terapi oksigen adalah tindakan medis berupa pemberian oksigen tambahan kepada pasien untuk mempertahankan atau memperbaiki oksigenasi jaringan tubuh ketika oksigen dari udara ruangan tidak cukup. Tujuannya adalah mencegah atau memperbaiki hipoksia jaringan akibat gangguan pernapasan, sirkulasi atau metabolisme. [Lihat sumber Disini - sim.rsciremai.com]

Definisi Terapi Oksigen dalam KBBI

Menurut definisi bahasa di kamus umum, oksigen adalah gas yang sangat penting untuk respirasi dan metabolisme makhluk hidup; “terapi oksigen” dapat diartikan sebagai terapi yang memanfaatkan oksigen sebagai media utama untuk mendukung proses pernapasan atau oksigenasi tubuh. Meskipun saya tidak menemukan versi resmi definisi “terapi oksigen” di laman KBBI daring yang bisa diakses publik, penggunaan istilah ini lazim dalam praktik klinis dan literatur keperawatan/medis, sebagai upaya suplementasi oksigen ketika kebutuhan tubuh tidak tercukupi.

Definisi Terapi Oksigen Menurut Para Ahli

Beberapa definisi dari literatur ilmiah:

  • Menurut sumber pendidikan keperawatan/poltekkes, oksigenasi, dan dengan demikian terapi oksigen, didefinisikan sebagai proses memasukkan oksigen ke dalam sistem organisme baik secara kimia maupun fisik, di mana oksigen dibutuhkan untuk metabolisme sel dan menjaga fungsi berbagai organ tubuh. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]

  • Dalam literatur anestesiologi, “oxygen therapy may be defined as the administration of oxygen to a patient at an inspired concentration greater than that of oxygen concentration in ambient air.” Artinya, terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi dari udara normal untuk pasien yang memerlukannya. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]

  • Dalam praktik keperawatan dan perawatan intensif, terapi oksigen juga dipandang sebagai intervensi untuk mencegah atau mengatasi hipoksemia (kadar oksigen dalam darah rendah) dan hipoksia jaringan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]

  • Di sisi fisiologis dan klinis, pemberian oksigen tambahan dianggap sebagai terapi suportif vital untuk menjaga saturasi oksigen dalam darah, stabilitas hemodinamik, dan oksigenasi jaringan. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]


Indikasi Terapi Oksigen

Terapi oksigen dibutuhkan ketika tubuh tidak mampu mempertahankan saturasi oksigen dan oksigenasi jaringan secara adekuat, misalnya pada kondisi:

Dengan kata lain, setiap kondisi yang menurunkan suplai oksigen ke sel atau jaringan, baik akibat gangguan pernapasan, sirkulasi, atau metabolik, dapat menjadi indikasi terapi oksigen. Penting bahwa pemberian oksigen dilakukan berdasarkan indikasi medis, bukan sembarangan.


Jenis-Jenis Alat dan Metode Pemberian Oksigen

Terdapat berbagai alat dan metode pemberian oksigen, disesuaikan dengan kebutuhan oksigen, keparahan kondisi, dan setting perawatan. Berikut klasifikasi umum:

  • Alat Aliran Rendah (Low-flow devices)

  • Alat Aliran Tinggi (High-flow / High-concentration devices)

    • Masker dengan aliran terkendali (misalnya Venturi mask), memberikan oksigen dengan konsentrasi dan fraksi inspirasi oksigen (FiOโ‚‚) yang lebih akurat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

    • Sistem oksigen di ruang tertutup seperti Hyperbaric oxygen chamber untuk Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), pasien menghirup oksigen murni (100%) di ruang bertekanan tinggi. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]

    • Konsentrator oksigen (oxygen concentrator), perangkat yang menyaring nitrogen dari udara sehingga menghasilkan oksigen terkonsentrasi, sering dipakai di rumah sakit atau rumah sakit berbasis komunitas/rumah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Pilihan alat dan metode disesuaikan dengan level kebutuhan oksigen, apakah hanya suplementasi ringan, kebutuhan oksigen tinggi, atau terapi khusus seperti HBOT.


Prinsip Keselamatan dalam Terapi Oksigen

Pemberian oksigen tak boleh dianggap remeh, ada beberapa prinsip keselamatan yang wajib diperhatikan:

  • Oksigen tidak boleh dianggap sebagai “racun”, tetapi merupakan obat, harus diresepkan dan diberikan oleh tenaga medis, sesuai indikasi, dosis, dan kontrol. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]

  • Pemasangan alat dengan benar, misalnya nasal kanul, masker, NRM, agar oksigen dapat disalurkan secara optimal dan menghindari kebocoran.

  • Pengawasan saturasi oksigen dan status pasien, menggunakan oksimetri/pulsoximeter untuk memantau apakah oksigenasi membaik atau saturasi stabil. Hal ini penting untuk menyesuaikan laju aliran dan konsentrasi oksigen. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]

  • Waspada risiko kebakaran dan keselamatan lingkungan, karena oksigen mendukung pembakaran: meskipun oksigen sendiri tidak mudah terbakar, konsentrasi oksigen tinggi meningkatkan risiko kebakaran dan membuat api menyala lebih cepat/keras. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Kepatuhan terhadap protokol kebersihan dan sterilisasi, terutama jika menggunakan alat bersama, untuk mencegah infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]


Langkah-Langkah Pemberian Oksigen

Berikut tahapan umum dalam pemberian terapi oksigen secara klinis:

  1. Evaluasi indikasi, deteksi apakah pasien mengalami hipoksemia, gangguan pernapasan, atau kondisi lain yang membutuhkan oksigen tambahan (misalnya melalui pemeriksaan klinis, saturasi oksigen, kondisi vital).

  2. Penentuan alat & metode, berdasarkan kebutuhan oksigen (ringan, sedang, berat), tingkat kenyamanan, kondisi pasien (misalnya sadar/tidak, kemampuan bernapas sendiri/logistik).

  3. Pemasangan alat, seperti nasal kanul, masker, NRM, atau persiapan ruang serta peralatan HBOT jika diperlukan. Pastikan koneksi dan aliran oksigen baik.

  4. Menetapkan aliran oksigen (flow rate) dan FiOโ‚‚ bila relevan, misalnya untuk nasal kanul biasanya 1, 3 L/min; untuk masker atau NRM sesuai pedoman; untuk HBOT sesuai protokol. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]

  5. Monitoring pasien, pantau saturasi oksigen, tanda vital, status pernapasan, kenyamanan pasien, serta potensi efek samping.

  6. Penyesuaian terapi, jika saturasi belum optimal, bisa ditingkatkan aliran atau ganti alat; jika sudah stabil, bisa dikurangi sesuai protokol.

  7. Pendokumentasian & evaluasi berkala, mencatat dosis, durasi, alat, respon pasien; evaluasi efektivitas dan perlunya tindak lanjut.


Monitoring Efektivitas Terapi Oksigen

Efektivitas ditunjukkan melalui beberapa indikator:

  • Peningkatan saturasi oksigen dalam darah, misalnya melalui pulsoximeter. Dalam penelitian pada pasien dengan cedera kepala, terapi oksigen via nasal kanul 3 L/menit selama beberapa hari menghasilkan peningkatan saturasi secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

  • Stabilitas hemodinamik, pada pasien dengan kondisi kardiovaskular (seperti Acute Coronary Syndrome / ACS), terapi oksigen membantu menjaga tekanan darah, denyut jantung, dan saturasi oksigen. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]

  • Perbaikan gejala klinis, misalnya berkurangnya dispnea (sesak napas), penurunan frekuensi napas, perbaikan kondisi pernapasan, serta kenyamanan pasien. [Lihat sumber Disini - jgi.internationaljournallabs.com]

  • Dalam kasus terapi khusus seperti HBOT, peningkatan oksigen terlarut dalam plasma, stimulasi penyembuhan jaringan, pengurangan edema, dan perbaikan kondisi pada luka kronis, infeksi berat, atau keracunan tertentu. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]

Monitoring secara teratur sangat penting agar terapi oksigen dapat disesuaikan sesuai perkembangan kondisi pasien.


Contoh Kasus Penerapan Terapi Oksigen

Berikut dua contoh penerapan nyata terapi oksigen dalam konteks klinis di Indonesia:

  • Pada pasien dengan cedera kepala: sebuah studi deskriptif melaporkan bahwa pemberian oksigen melalui nasal kanul 3 L/menit selama tiga hari meningkatkan saturasi oksigen pasien. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

  • Pada pasien dengan kondisi akut kardiovaskular: penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa terapi oksigen pada pasien ACS efektif meningkatkan saturasi oksigen serta mendukung stabilitas hemodinamik di IGD. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]

  • Pada pasien dengan luka kronis seperti ulkus diabetik: terapi oksigen hiperbarik (HBOT) digunakan sebagai terapi tambahan untuk meningkatkan oksigenasi jaringan, merangsang angiogenesis dan penyembuhan luka. [Lihat sumber Disini - jsk.jurnalfamul.com]


Manfaat Lain dan Perluasan Indikasi

Selain kondisi akut atau kegawatdaruratan, terapi oksigen juga bisa digunakan sebagai terapi jangka panjang pada kasus hipoksemia berat, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemungkinan kelangsungan hidup. Sebagai contoh, terapi oksigen jangka panjang telah dilaporkan meningkatkan kesintasan dan kualitas hidup pasien dengan hipoksemia berat. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]


Kesimpulan

Terapi oksigen adalah intervensi medis yang krusial dan fleksibel, dari suplementasi oksigen sederhana (low-flow) sampai terapi spesialis seperti HBOT. Pemahaman mendalam tentang definisi, indikasi, jenis alat, prosedur pemberian, serta prinsip keselamatan menjadi pondasi agar terapi dapat dilaksanakan dengan aman dan efektif. Monitoring ketat terhadap saturasi dan kondisi klinis pasien serta penyesuaian terapi berdasarkan respon sangat penting untuk mencapai tujuan oksigenasi optimal. Dengan penerapan yang tepat, terapi oksigen tak hanya menyelamatkan nyawa pada kondisi kritis, tetapi juga mendukung penyembuhan luka, perbaikan kualitas hidup, dan pemulihan jaringan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Manajemen terapi oksigen adalah proses pemberian oksigen tambahan kepada pasien untuk memperbaiki oksigenasi jaringan ketika tubuh tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen secara optimal. Proses ini mencakup pemilihan alat, metode pemberian, protokol keselamatan, serta monitoring efektivitas terapi.

Terapi oksigen diperlukan ketika pasien mengalami hipoksemia, gangguan pernapasan akut maupun kronis, kondisi kritis seperti syok atau trauma, serta situasi lain di mana tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup dari udara lingkungan.

Jenis alat terapi oksigen meliputi nasal kanul, simple face mask, non-rebreathing mask, Venturi mask, oxygen concentrator, serta ruang terapi oksigen hiperbarik. Pemilihan alat disesuaikan dengan tingkat kebutuhan oksigen pasien.

Langkah pemberian terapi oksigen meliputi evaluasi indikasi, pemilihan alat, pemasangan perangkat oksigen, pengaturan aliran oksigen, monitoring saturasi dan kondisi pasien, serta dokumentasi dan evaluasi berkala.

Efektivitas terapi oksigen dapat dimonitor melalui peningkatan saturasi oksigen, stabilitas tanda vital, perbaikan gejala klinis seperti sesak napas, serta respon pasien terhadap terapi seperti perubahan kenyamanan dan kemampuan aktivitas pernapasan.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Terapi Oksigen: Konsep, Prinsip Keselamatan, dan Pemantauan Terapi Oksigen: Konsep, Prinsip Keselamatan, dan Pemantauan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen: Gangguan dan Implikasi Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen: Gangguan dan Implikasi Keperawatan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen Kepatuhan Terapi Kolesterol Kepatuhan Terapi Kolesterol Pengaruh Pola Hidup terhadap Respons Terapi Pengaruh Pola Hidup terhadap Respons Terapi Monitoring Terapi Obat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Tindak Lanjut Monitoring Terapi Obat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Tindak Lanjut Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Persepsi Pasien terhadap Terapi Obat: Konsep, Kepuasan, dan Kepercayaan Gangguan Perfusi Jaringan: Konsep, Dampak, dan Respons Keperawatan Gangguan Perfusi Jaringan: Konsep, Dampak, dan Respons Keperawatan Terapi Obat Jangka Panjang: Konsep, Risiko, dan Pengendalian Terapi Obat Jangka Panjang: Konsep, Risiko, dan Pengendalian Ketidakpatuhan Terhadap Terapi Medis Ketidakpatuhan Terhadap Terapi Medis Kepatuhan Minum Obat: Konsep, Determinan Perilaku, dan Hasil Terapi Kepatuhan Minum Obat: Konsep, Determinan Perilaku, dan Hasil Terapi Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Terapi Antibiotik Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Terapi Antibiotik Evaluasi Terapi Obat Diabetes Tipe 2 Evaluasi Terapi Obat Diabetes Tipe 2 Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Evaluasi Terapi Antihiperlipidemia pada Dewasa Evaluasi Terapi Antihiperlipidemia pada Dewasa Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Anemia Ibu Hamil: Konsep, Faktor Gizi, dan Pencegahan Anemia Ibu Hamil: Konsep, Faktor Gizi, dan Pencegahan Dampak Ketidakpatuhan Terapi terhadap Rehospitalisasi Dampak Ketidakpatuhan Terapi terhadap Rehospitalisasi Gangguan Mekanis Pernapasan: Konsep, Implikasi, dan Penanganan Gangguan Mekanis Pernapasan: Konsep, Implikasi, dan Penanganan Pemantauan Tanda Vital: Konsep dan Tujuan Pemantauan Tanda Vital: Konsep dan Tujuan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ