
Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik
Pendahuluan
Terapi oksigen merupakan intervensi penting dalam dunia medis, terutama untuk mendukung oksigenasi jaringan tubuh pada kondisi patologis seperti hipoksemia, gangguan pernapasan, maupun cedera. Dalam praktik klinis, pemahaman mendalam tentang definisi, indikasi, jenis alat, metode pemberian, serta prosedur dan keamanan terapi oksigen mutlak diperlukan agar terapi berjalan efektif dan aman. Artikel ini akan membahas secara komprehensif aspek-aspek penting dalam manajemen terapi oksigen, mulai dari konsep dasar sampai penerapannya, termasuk langkah pemberian, monitoring efektivitas, serta contoh kasus klinis.
Definisi Terapi Oksigen
Definisi Terapi Oksigen Secara Umum
Terapi oksigen adalah tindakan medis berupa pemberian oksigen tambahan kepada pasien untuk mempertahankan atau memperbaiki oksigenasi jaringan tubuh ketika oksigen dari udara ruangan tidak cukup. Tujuannya adalah mencegah atau memperbaiki hipoksia jaringan akibat gangguan pernapasan, sirkulasi atau metabolisme. [Lihat sumber Disini - sim.rsciremai.com]
Definisi Terapi Oksigen dalam KBBI
Menurut definisi bahasa di kamus umum, oksigen adalah gas yang sangat penting untuk respirasi dan metabolisme makhluk hidup; “terapi oksigen” dapat diartikan sebagai terapi yang memanfaatkan oksigen sebagai media utama untuk mendukung proses pernapasan atau oksigenasi tubuh. Meskipun saya tidak menemukan versi resmi definisi “terapi oksigen” di laman KBBI daring yang bisa diakses publik, penggunaan istilah ini lazim dalam praktik klinis dan literatur keperawatan/medis, sebagai upaya suplementasi oksigen ketika kebutuhan tubuh tidak tercukupi.
Definisi Terapi Oksigen Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari literatur ilmiah:
-
Menurut sumber pendidikan keperawatan/poltekkes, oksigenasi, dan dengan demikian terapi oksigen, didefinisikan sebagai proses memasukkan oksigen ke dalam sistem organisme baik secara kimia maupun fisik, di mana oksigen dibutuhkan untuk metabolisme sel dan menjaga fungsi berbagai organ tubuh. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
-
Dalam literatur anestesiologi, “oxygen therapy may be defined as the administration of oxygen to a patient at an inspired concentration greater than that of oxygen concentration in ambient air.” Artinya, terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi dari udara normal untuk pasien yang memerlukannya. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]
-
Dalam praktik keperawatan dan perawatan intensif, terapi oksigen juga dipandang sebagai intervensi untuk mencegah atau mengatasi hipoksemia (kadar oksigen dalam darah rendah) dan hipoksia jaringan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Di sisi fisiologis dan klinis, pemberian oksigen tambahan dianggap sebagai terapi suportif vital untuk menjaga saturasi oksigen dalam darah, stabilitas hemodinamik, dan oksigenasi jaringan. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
Indikasi Terapi Oksigen
Terapi oksigen dibutuhkan ketika tubuh tidak mampu mempertahankan saturasi oksigen dan oksigenasi jaringan secara adekuat, misalnya pada kondisi:
-
Hipoksemia, yaitu ketika kadar oksigen dalam darah rendah. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
-
Gangguan pernapasan akut atau kronis, seperti penyakit saluran napas (misalnya Penyakit Paru Obstruktif Kronis / PPOK), eksaserbasi penyakit paru interstisial, asma berat, pneumonia, gagal napas, atau kondisi lain yang mengganggu ventilasi atau oksigenasi paru. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Kondisi kritis, seperti trauma kepala, cedera berat, cedera otak, yang dapat mengganggu oksigenasi otak atau jaringan tubuh lain. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Keadaan darurat medis, seperti syok, edema paru, insufisiensi pernapasan, keracunan tertentu yang membutuhkan oksigenasi ekstra, sampai perawatan suportif pada kondisi akut. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Terapi tambahan untuk penyembuhan luka, infeksi berat, atau kondisi iskemik, terutama bila oksigenasi jaringan terganggu. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]
Dengan kata lain, setiap kondisi yang menurunkan suplai oksigen ke sel atau jaringan, baik akibat gangguan pernapasan, sirkulasi, atau metabolik, dapat menjadi indikasi terapi oksigen. Penting bahwa pemberian oksigen dilakukan berdasarkan indikasi medis, bukan sembarangan.
Jenis-Jenis Alat dan Metode Pemberian Oksigen
Terdapat berbagai alat dan metode pemberian oksigen, disesuaikan dengan kebutuhan oksigen, keparahan kondisi, dan setting perawatan. Berikut klasifikasi umum:
-
Alat Aliran Rendah (Low-flow devices)
-
Nasal kanul, selang kecil yang dimasukkan ke hidung, umum digunakan untuk suplementasi oksigen ringan hingga sedang (misalnya 1, 3 L/menit). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Masker sederhana (simple face mask), menutup hidung dan mulut, untuk aliran oksigen lebih tinggi dibanding nasal kanul. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]
-
Partial-rebreathing mask / non-rebreathing mask (NRM), memungkinkan pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi, sering digunakan pada pasien dengan hipoksemia sedang hingga berat. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]
-
-
Alat Aliran Tinggi (High-flow / High-concentration devices)
-
Masker dengan aliran terkendali (misalnya Venturi mask), memberikan oksigen dengan konsentrasi dan fraksi inspirasi oksigen (FiOโ) yang lebih akurat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sistem oksigen di ruang tertutup seperti Hyperbaric oxygen chamber untuk Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), pasien menghirup oksigen murni (100%) di ruang bertekanan tinggi. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]
-
Konsentrator oksigen (oxygen concentrator), perangkat yang menyaring nitrogen dari udara sehingga menghasilkan oksigen terkonsentrasi, sering dipakai di rumah sakit atau rumah sakit berbasis komunitas/rumah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pilihan alat dan metode disesuaikan dengan level kebutuhan oksigen, apakah hanya suplementasi ringan, kebutuhan oksigen tinggi, atau terapi khusus seperti HBOT.
Prinsip Keselamatan dalam Terapi Oksigen
Pemberian oksigen tak boleh dianggap remeh, ada beberapa prinsip keselamatan yang wajib diperhatikan:
-
Oksigen tidak boleh dianggap sebagai “racun”, tetapi merupakan obat, harus diresepkan dan diberikan oleh tenaga medis, sesuai indikasi, dosis, dan kontrol. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]
-
Pemasangan alat dengan benar, misalnya nasal kanul, masker, NRM, agar oksigen dapat disalurkan secara optimal dan menghindari kebocoran.
-
Pengawasan saturasi oksigen dan status pasien, menggunakan oksimetri/pulsoximeter untuk memantau apakah oksigenasi membaik atau saturasi stabil. Hal ini penting untuk menyesuaikan laju aliran dan konsentrasi oksigen. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Waspada risiko kebakaran dan keselamatan lingkungan, karena oksigen mendukung pembakaran: meskipun oksigen sendiri tidak mudah terbakar, konsentrasi oksigen tinggi meningkatkan risiko kebakaran dan membuat api menyala lebih cepat/keras. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kepatuhan terhadap protokol kebersihan dan sterilisasi, terutama jika menggunakan alat bersama, untuk mencegah infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Langkah-Langkah Pemberian Oksigen
Berikut tahapan umum dalam pemberian terapi oksigen secara klinis:
-
Evaluasi indikasi, deteksi apakah pasien mengalami hipoksemia, gangguan pernapasan, atau kondisi lain yang membutuhkan oksigen tambahan (misalnya melalui pemeriksaan klinis, saturasi oksigen, kondisi vital).
-
Penentuan alat & metode, berdasarkan kebutuhan oksigen (ringan, sedang, berat), tingkat kenyamanan, kondisi pasien (misalnya sadar/tidak, kemampuan bernapas sendiri/logistik).
-
Pemasangan alat, seperti nasal kanul, masker, NRM, atau persiapan ruang serta peralatan HBOT jika diperlukan. Pastikan koneksi dan aliran oksigen baik.
-
Menetapkan aliran oksigen (flow rate) dan FiOโ bila relevan, misalnya untuk nasal kanul biasanya 1, 3 L/min; untuk masker atau NRM sesuai pedoman; untuk HBOT sesuai protokol. [Lihat sumber Disini - openanesthesiajournal.com]
-
Monitoring pasien, pantau saturasi oksigen, tanda vital, status pernapasan, kenyamanan pasien, serta potensi efek samping.
-
Penyesuaian terapi, jika saturasi belum optimal, bisa ditingkatkan aliran atau ganti alat; jika sudah stabil, bisa dikurangi sesuai protokol.
-
Pendokumentasian & evaluasi berkala, mencatat dosis, durasi, alat, respon pasien; evaluasi efektivitas dan perlunya tindak lanjut.
Monitoring Efektivitas Terapi Oksigen
Efektivitas ditunjukkan melalui beberapa indikator:
-
Peningkatan saturasi oksigen dalam darah, misalnya melalui pulsoximeter. Dalam penelitian pada pasien dengan cedera kepala, terapi oksigen via nasal kanul 3 L/menit selama beberapa hari menghasilkan peningkatan saturasi secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Stabilitas hemodinamik, pada pasien dengan kondisi kardiovaskular (seperti Acute Coronary Syndrome / ACS), terapi oksigen membantu menjaga tekanan darah, denyut jantung, dan saturasi oksigen. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Perbaikan gejala klinis, misalnya berkurangnya dispnea (sesak napas), penurunan frekuensi napas, perbaikan kondisi pernapasan, serta kenyamanan pasien. [Lihat sumber Disini - jgi.internationaljournallabs.com]
-
Dalam kasus terapi khusus seperti HBOT, peningkatan oksigen terlarut dalam plasma, stimulasi penyembuhan jaringan, pengurangan edema, dan perbaikan kondisi pada luka kronis, infeksi berat, atau keracunan tertentu. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]
Monitoring secara teratur sangat penting agar terapi oksigen dapat disesuaikan sesuai perkembangan kondisi pasien.
Contoh Kasus Penerapan Terapi Oksigen
Berikut dua contoh penerapan nyata terapi oksigen dalam konteks klinis di Indonesia:
-
Pada pasien dengan cedera kepala: sebuah studi deskriptif melaporkan bahwa pemberian oksigen melalui nasal kanul 3 L/menit selama tiga hari meningkatkan saturasi oksigen pasien. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Pada pasien dengan kondisi akut kardiovaskular: penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa terapi oksigen pada pasien ACS efektif meningkatkan saturasi oksigen serta mendukung stabilitas hemodinamik di IGD. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Pada pasien dengan luka kronis seperti ulkus diabetik: terapi oksigen hiperbarik (HBOT) digunakan sebagai terapi tambahan untuk meningkatkan oksigenasi jaringan, merangsang angiogenesis dan penyembuhan luka. [Lihat sumber Disini - jsk.jurnalfamul.com]
Manfaat Lain dan Perluasan Indikasi
Selain kondisi akut atau kegawatdaruratan, terapi oksigen juga bisa digunakan sebagai terapi jangka panjang pada kasus hipoksemia berat, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemungkinan kelangsungan hidup. Sebagai contoh, terapi oksigen jangka panjang telah dilaporkan meningkatkan kesintasan dan kualitas hidup pasien dengan hipoksemia berat. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
Kesimpulan
Terapi oksigen adalah intervensi medis yang krusial dan fleksibel, dari suplementasi oksigen sederhana (low-flow) sampai terapi spesialis seperti HBOT. Pemahaman mendalam tentang definisi, indikasi, jenis alat, prosedur pemberian, serta prinsip keselamatan menjadi pondasi agar terapi dapat dilaksanakan dengan aman dan efektif. Monitoring ketat terhadap saturasi dan kondisi klinis pasien serta penyesuaian terapi berdasarkan respon sangat penting untuk mencapai tujuan oksigenasi optimal. Dengan penerapan yang tepat, terapi oksigen tak hanya menyelamatkan nyawa pada kondisi kritis, tetapi juga mendukung penyembuhan luka, perbaikan kualitas hidup, dan pemulihan jaringan.