
Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen
Pendahuluan
Pemenuhan oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting untuk menunjang metabolisme sel, mempertahankan fungsi organ, dan kelangsungan hidup. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Namun, dalam praktik keperawatan dan medis, ada kondisi di mana tubuh tidak dapat memperoleh atau mendistribusikan oksigen secara optimal, kondisi ini dikenal sebagai gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen atau gangguan oksigenasi. Gangguan tersebut dapat menyebabkan hipoksemia, hipoksia jaringan, dan dalam kasus berat bisa menimbulkan kegagalan organ atau kematian. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Tulisan ini akan mengulas pengertian, mekanisme, penyebab, penilaian, intervensi keperawatan, terapi tambahan, dan contoh kasus gangguan pemenuhan oksigen.
Definisi Gangguan Pemenuhan Oksigen
Definisi Secara Umum
Gangguan pemenuhan oksigen merujuk pada kondisi ketika tubuh gagal memperoleh oksigen dalam jumlah atau kualitas yang cukup untuk mendukung metabolisme dan fungsi tubuh secara optimal. Hal ini terjadi ketika proses oksigenasi, mulai dari ventilasi, difusi gas, hingga transportasi oksigen ke jaringan, mengalami gangguan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), oksigenasi adalah proses penyediaan oksigen ke jaringan tubuh. Maka, gangguan pemenuhan oksigenasi bisa diartikan sebagai kegagalan atau ketidakcukupan proses tersebut. (KBBI online dapat dijadikan rujukan, link KBBI).
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut RDWI Astuti (2021), gangguan oksigenasi terjadi ketika kebutuhan oksigen tubuh tidak terpenuhi secara optimal karena berbagai faktor seperti fisiologi, perilaku, perkembangan, dan lingkungan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Menurut HM Rahim (2023), gangguan oksigenasi bisa disebabkan oleh hilangnya kemampuan ventilasi secara adekuat, sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas (O₂ dan CO₂). [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Menurut referensi keperawatan dasar dari NCBI Bookshelf, sistem yang berperan dalam oksigenasi mencakup sistem pernapasan, kardiovaskular, dan hematologi, sehingga gangguan pada salah satu sistem ini bisa mengganggu oksigenasi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurut V. Ayuningtias (2024), oksigenasi adalah proses masuknya O₂ melalui saluran napas sampai alveoli, pengikatan ke hemoglobin, dan distribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah; kegagalan pada rangkaian proses ini akan mengganggu kebutuhan oksigen tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Mekanisme Gangguan Oksigenasi
Proses oksigenasi normal melibatkan beberapa tahap: ventilasi (udara masuk ke paru), difusi gas (pertukaran O₂ dan CO₂ di alveoli), perfusi dan transportasi oksigen melalui darah ke jaringan tubuh. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Gangguan oksigenasi dapat terjadi jika ada disfungsi di salah satu atau lebih tahap tersebut, misalnya:
-
Ventilasi terganggu: saluran napas terhambat, otot pernapasan melemah, atau ventilasi tidak adekuat. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Difusi gas terganggu: akibat kerusakan alveoli, edema paru, infeksi, inflamasi, sehingga pertukaran O₂/CO₂ tidak optimal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Transportasi oksigen dalam darah terganggu: misalnya jumlah hemoglobin rendah (anemia), gangguan sirkulasi, atau masalah kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan perfusi jaringan: meskipun darah teroksigenasi, sirkulasi darah ke jaringan terganggu, jaringan tetap kekurangan oksigen. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Gangguan pada satu atau kombinasi dari mekanisme tersebut dapat menyebabkan berkurangnya oksigenasi darah (hipoksemia) dan/atau oksigenasi jaringan (hipoksia). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Faktor Penyebab
Beberapa faktor dan kondisi yang sering menjadi penyebab gangguan pemenuhan oksigen adalah:
-
Penyakit paru: seperti Pneumonia, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), bronkitis, tuberkulosis, edema paru, yang menyebabkan inflamasi, sekret, atau kerusakan alveoli dan mengganggu pertukaran gas. [Lihat sumber Disini - e-journal.stikesgunungmaria.ac.id]
-
Sumbatan jalan napas: misalnya lendir (sputum), benda asing, tumor, massa, infeksi, menghambat aliran udara. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Anemia atau gangguan sirkulasi darah: kurangnya hemoglobin atau darah yang berkurang menyebabkan transportasi oksigen ke jaringan terganggu. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan ventilasi: kelemahan otot pernapasan, kelumpuhan, cedera pada sistem neuromuskular atau dinding dada, yang menghambat ventilasi adekuat. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Faktor lain: lingkungan (misalnya udara dengan oksigen rendah), beban kerja pernapasan yang tinggi, atau kombinasi beberapa faktor di atas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Oksigenasi
Penilaian status oksigenasi pada pasien penting dilakukan, berikut beberapa metode umum:
-
Pulse oximetry (SpO₂): metode non-invasif untuk mengukur saturasi oksigen darah perifer. Nilai SpO₂ memberikan gambaran saturasi hemoglobin, meskipun tidak menggambarkan transportasi oksigen secara keseluruhan atau kandungan hemoglobin. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Analisa gas darah (Arterial Blood Gas / ABG): pengukuran tekanan parsial oksigen (PaO₂), karbondioksida (PaCO₂), pH darah, memberikan gambaran lebih lengkap tentang oksigenasi dan pertukaran gas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Pola napas dan tanda klinis: frekuensi napas, kedalaman napas, kerja napas (effort), adanya sianosis, penggunaan otot bantu napas, suara napas (misalnya wheezing, ronki), bunyi napas abnormal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian menyeluruh meliputi kombinasi dari metode objektif (SpO₂, ABG) dan pengamatan klinis, agar intervensi yang tepat dapat direncanakan.
Intervensi Keperawatan pada Gangguan Oksigenasi
Intervensi keperawatan berperan penting dalam menangani gangguan oksigenasi. Beberapa intervensi utama:
-
Membersihkan jalan napas, seperti pengelolaan sekret, batuk efektif, postural drainage, suctioning bila perlu. Hal ini penting terutama pada pasien dengan lendir berlebih, sekret, atau sputum. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Memantau tanda vital, saturasi oksigen, pola pernapasan, dan respons terhadap intervensi secara rutin, untuk mendeteksi perubahan cepat dan tindakan cepat jika oksigenasi memburuk. [Lihat sumber Disini - esiculture.com]
-
Kolaborasi dengan tim medis untuk mendukung terapi: misalnya terapi oksigen, ventilasi mekanik, pemberian nebulizer, sesuai kebutuhan klinis. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]
-
Edukasi dan dukungan pasien: mengajarkan teknik pernapasan efektif, posisi untuk memaksimalkan ventilasi, serta menjaga lingkungan agar mendukung oksigenasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
Terapi Tambahan (Oksigen, Posisi, Latihan Napas)
Dalam banyak kasus gangguan oksigenasi, intervensi tambahan diperlukan agar oksigenasi kembali optimal:
-
Terapi oksigen: menggunakan nasal kanul, masker oksigen, atau alat lain sesuai kebutuhan. Terapi oksigen membantu meningkatkan saturasi oksigen, mengurangi kerja napas, dan mencegah hipoksemia. [Lihat sumber Disini - rch.org.au]
-
Posisi tubuh: posisi seperti semi-Fowler atau Fowler sering dianjurkan untuk meningkatkan ventilasi dan memudahkan pernapasan. [Lihat sumber Disini - repositorynew.poltekkes-mks.ac.id]
-
Latihan pernapasan / teknik pernapasan: seperti batuk efektif, latihan pernapasan diafragma, teknik pernapasan dalam, yang membantu membersihkan jalan napas dan memperbaiki ventilasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Ventilasi mekanik / noninvasif / invasif (jika diperlukan): terutama pada kasus berat seperti gagal pertukaran gas atau Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), untuk mendukung oksigenasi dan ventilasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Contoh Kasus Gangguan Pemenuhan Oksigen
Misalnya pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan bagian bawah (seperti bronkopneumonia), ditemukan frekuensi napas tinggi, saturasi oksigen rendah (misalnya SpO₂ 82 %), sekresi lendir banyak, bunyi napas abnormal, irama pernapasan tidak teratur, menunjukkan gangguan oksigenasi berupa ketidakefektifan bersihan jalan napas dan gangguan pertukaran gas. [Lihat sumber Disini - jurnal.csdforum.com]
Tindak lanjut asuhan keperawatan meliputi rencana bersihan jalan napas (batuk efektif, posisi, suctioning), terapi oksigen sesuai kebutuhan, pemantauan ketat saturasi dan pola napas, serta evaluasi hasil intervensi secara berkala. Banyak literatur keperawatan melaporkan bahwa pendekatan tersebut membantu meningkatkan saturasi oksigen dan memperbaiki kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
Kasus lain: pasien dengan gangguan paru kronis (PPOK) juga sering mengalami gangguan oksigenasi, intervensi dan pemantauan oksigenasi serta pemberian oksigen dan perawatan jalan napas menjadi bagian penting dari manajemen keperawatan. [Lihat sumber Disini - pustaka.poltekkes-pdg.ac.id]
Kesimpulan
Pemenuhan oksigen adalah kebutuhan dasar manusia yang vital untuk metabolisme sel dan kelangsungan hidup. Ketika proses oksigenasi, ventilasi, difusi, transportasi oksigen, terganggu, akan muncul kondisi yang disebut gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen.
Gangguan ini dapat disebabkan berbagai faktor seperti penyakit paru, sumbatan jalan napas, anemia, atau gangguan ventilasi. Oleh karena itu penilaian menyeluruh (SpO₂, analisa gas darah, pola napas, tanda klinis) diperlukan untuk mendeteksi gangguan.
Intervensi keperawatan, termasuk bersihan jalan napas, terapi oksigen, posisi, latihan pernapasan, serta kolaborasi dengan tim medis untuk terapi tambahan sangat penting untuk mengembalikan oksigenasi adekuat.
Dengan pemahaman yang baik tentang mekanisme, penyebab, dan penanganan, diharapkan intervensi dapat dilakukan lebih efektif dan risiko komplikasi akibat hipoksemia atau hipoksia dapat diminimalkan.