
Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko
Pendahuluan
Sistem sirkulasi darah pada manusia memegang peranan krusial sebagai kendaraan transportasi zat, termasuk oksigen, karbon dioksida, nutrisi, hormon, dan produk sisa metabolisme, dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org] Kondisi normal dari sistem sirkulasi memungkinkan setiap sel dan jaringan tubuh menerima suplai darah yang memadai agar fungsi fisiologis dan homeostasis terjaga. Namun, ketika terjadi gangguan pada sirkulasi, baik akibat jantung, pembuluh darah, maupun darah, maka dapat muncul berbagai konsekuensi klinis serius. Artikel ini membahas konsep “perubahan pola sirkulasi”, definisinya, faktor risiko, mekanisme gangguan, serta aspek keperawatan dan contoh kasus, dengan harapan memberikan pemahaman yang komprehensif dan aplikatif.
Definisi Perubahan Pola Sirkulasi
Definisi Secara Umum
Secara umum, sistem sirkulasi (peredaran darah) adalah sistem organ yang terdiri dari jantung, pembuluh darah (arteri, vena, kapiler), dan darah itu sendiri, yang bertugas memindahkan zat ke dan dari sel, mendistribusikan oksigen, nutrisi, hormon, serta mengangkut sisa metabolisme. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Perubahan pola sirkulasi dapat diartikan sebagai kondisi di mana aliran darah, distribusi, dan perfusi darah ke jaringan tidak lagi sesuai pola fisiologis normal, bisa berupa penurunan curah jantung, penyempitan atau obstruksi pembuluh darah, gangguan pada darah (misalnya viskositas abnormal), atau disfungsi pembuluh, sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh menjadi terganggu.
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “sirkulasi” merujuk pada “peredaran (darah, udara, dan sebagainya) dalam tubuh; peredaran darah”. (Catatan: saya tidak menemukan definisi publik “perubahan pola sirkulasi” secara eksplisit dalam KBBI, sehingga definisi umum sistem sirkulasi digunakan sebagai dasar. Jika Anda menginginkan kutipan KBBI persis, Anda bisa akses situs resmi KBBI untuk definisi “sirkulasi”).
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur/kajian akademik tentang sistem sirkulasi / gangguan sirkulasi / perfusi:
-
Menurut Modul Keperawatan, sistem sirkulasi darah adalah sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel, memenuhi kebutuhan jaringan tubuh melalui transportasi nutrisi, oksigen, hormon, dan pembuangan produk sisa metabolisme. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Kajian dalam keperawatan medikal-bedah menyebut bahwa sirkulasi berkaitan erat dengan kelancaran peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh dan kembali, dan bahwa gangguan sirkulasi dapat disebabkan oleh kondisi seperti iskemia, aterosklerosis, hipertensi, atau disfungsi katup jantung, yang menyebabkan penurunan curah jantung dan perfusi jaringan tidak adekuat. [Lihat sumber Disini - lib.pkr.ac.id]
-
Dalam literatur keperawatan kontemporer, istilah “gangguan sirkulasi / perfusi jaringan” dipakai untuk menggambarkan kondisi di mana aliran darah dan oksigen ke jaringan berkurang, misalnya pada pasien dengan diabetes mellitus yang rentan mengalami gangguan vaskular dan perfusi perifer. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Buku sistem peredaran darah manusia menjelaskan bahwa sistem sirkulasi vital untuk mempertahankan homeostasis tubuh, distribusi oksigen, nutrisi, hormon, dan pembuangan zat sisa, yang bila terganggu bisa mengakibatkan disfungsi organ. [Lihat sumber Disini - digilib.uinsgd.ac.id]
Dengan demikian, “perubahan pola sirkulasi” bisa dilihat sebagai istilah yang mencakup fenomena gangguan sirkulasi, perfusi jaringan, atau disorganisasi aliran darah, dengan implikasi klinis terhadap suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh.
Mekanisme Gangguan Sirkulasi
Gangguan pada sistem sirkulasi dapat terjadi akibat beberapa mekanisme, baik pada aspek pemompaan (jantung), saluran (pembuluh darah), maupun komposisi darah, yang kemudian mengubah pola sirkulasi normal. Berikut uraian mekanismenya:
-
Disfungsi Pemompaan Jantung
Bila jantung tidak memompa darah dengan adekuat, misalnya karena disfungsi katup, gagal jantung, atau penurunan curah jantung, maka curah jantung (cardiac output) menurun, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. [Lihat sumber Disini - lib.pkr.ac.id]
-
Penyempitan atau Obstruksi Pembuluh Darah
Kondisi seperti aterosklerosis (penumpukan plak lemak di dinding arteri), spasme arteri, arteritis, atau kelainan dinding pembuluh dapat menyempitkan lumen pembuluh darah, meningkatkan resistensi aliran, dan menghambat perfusi. [Lihat sumber Disini - lib.pkr.ac.id]
-
Gangguan pada Pembuluh Mikro (Kapiler)
Pembuluh kapiler, sebagai tempat utama pertukaran oksigen, nutrisi, dan zat sisa, jika mengalami kerusakan, malformasi, atau peningkatan permeabilitas, maka distribusi darah ke sel-sel jaringan menjadi tidak optimal. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Perubahan Karakteristik Darah
Konsentrasi darah, viskositas, agregasi sel darah merah, kondisi seperti diabetes mellitus, dislipidemia, atau gangguan hematologis, dapat mempengaruhi aliran darah, meningkatkan turbulensi atau stagnasi, dan memperburuk perfusi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gangguan Integritas dan Fungsi Endotelium Pembuluh
Disfungsi endotelium (lapisan dalam pembuluh) karena penuaan, hipertensi, peradangan kronis, merokok, diabetes, atau penyakit kronis lain dapat mengurangi kemampuan vasodilatasi, meningkatkan rigiditas vaskular, serta memicu trombosis, yang mengganggu aliran darah normal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Karena mekanisme-mekanisme tersebut dapat saling berinteraksi, gangguan sirkulasi sering bersifat multifaktorial, sehingga perubahan pola sirkulasi bisa terjadi secara gradual atau akut, tergantung kondisi penyebabnya.
Faktor Risiko Perubahan Pola Sirkulasi
Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan pola sirkulasi atau gangguan sirkulasi pada seseorang. Berikut faktor-faktor tersebut:
-
Usia dan Faktor Demografis, Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah menurun, compliance arteri berubah, sehingga risiko disfungsi vaskular meningkat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penyakit Penyerta (Komorbiditas), Kondisi seperti hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, penyakit ginjal kronis, dan aterosklerosis meningkatkan risiko obstruksi pembuluh, disfungsi endotel, atau gangguan perfusi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gaya Hidup Tidak Sehat, Merokok, konsumsi alkohol, diet tinggi lemak jenuh/kolesterol, kurang aktivitas fisik, obesitas, semua ini berkontribusi terhadap penumpukan plak, disfungsi pembuluh darah, serta viskositas darah abnormal. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Riwayat Keluarga / Genetik, Predisposisi terhadap penyakit kardiovaskular atau gangguan vaskular dapat meningkatkan risiko gangguan sirkulasi pada generasi berikut. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Penyakit Metabolik atau Hematologis, Diabetes mellitus, dislipidemia, dan kondisi darah abnormal dapat mempengaruhi viskositas darah, agregasi sel darah merah, dan distribusi perfusi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Faktor Lain seperti Peradangan Kronis, Cedera Pembuluh, atau Kelainan Struktur Pembuluh, Arteritis, malformasi vaskular, spasme pembuluh, atau trauma pada pembuluh dapat menyebabkan sirkulasi tidak normal. [Lihat sumber Disini - lib.pkr.ac.id]
Faktor-faktor risiko ini sering hadir bersamaan, sehingga memperbesar peluang terjadinya perubahan pola sirkulasi atau gangguan perfusi jaringan.
Tanda dan Gejala Gangguan Sirkulasi
Gangguan sirkulasi bisa menampakkan diri dengan ragam tanda dan gejala, tergantung bagian tubuh dan keparahan gangguan. Beberapa manifestasi klinis umum meliputi:
-
Pusing, lemas, kelelahan, bisa akibat hipotensi atau perfusi organ yang menurun. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Kulit pucat, dingin, kebiruan (sianosis) atau perubahan warna kulit, terutama bila terjadi pada ekstremitas akibat perfusi perifer buruk. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penurunan suhu ekstremitas, bengkak (edema), atau luka/ulkus pada ekstremitas bawah, terutama pada penyakit vaskular perifer seperti Peripheral Artery Disease (PAD). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Nyeri atau kram pada otot (klaudikasi), terutama saat berjalan, jika perfusi ke otot perifer terganggu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gejala sistemik seperti sesak napas, palpitasi, kedinginan, bingung atau pingsan, bisa terjadi bila sirkulasi sentral terganggu atau curah jantung rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Penurunan perfusi jaringan, misalnya lambatnya penyembuhan luka, gangguan fungsi organ, atrofi jaringan, akibat suplai darah dan oksigen tidak adekuat. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
Karena gejala bisa sangat beragam, identifikasi gangguan sirkulasi memerlukan evaluasi komprehensif, termasuk pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendukung.
Pemeriksaan Pendukung (Nadi, Tekanan Darah, Perfusi Kapiler, dll.)
Dalam upaya mendeteksi perubahan pola sirkulasi atau gangguan perfusi, beberapa pemeriksaan klinis dasar dan observasi keperawatan dapat dilakukan:
-
Pengukuran Nadi (Denyut Jantung), Denyut jantung cepat atau tidak teratur bisa menjadi indikator disfungsi jantung atau kompensasi terhadap perfusi yang buruk.
-
Pengukuran Tekanan Darah, Hipotensi (misalnya tekanan arteri sistolik kurang dari 90 mmHg) atau hipertensi bisa menjadi faktor penentu masalah sirkulasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Pemeriksaan Perfusi Kapiler, Dengan menekan ujung jari atau kuku, kemudian melihat waktu reperfusi (capillary refill). Waktu pengisian kembali (normal < 2 detik) yang lama menunjukkan perfusi perifer buruk. (Konsep perfusi kapiler banyak dibahas dalam keperawatan sebagai bagian dari penilaian sirkulasi/ perfusi). [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Pemeriksaan Ekstremitas (Kulit, Temperatur, Warna, Edema, Luka, Ulkus), Observasi kulit ekstremitas untuk tanda sianosis, ulkus, perubahan suhu atau warna, bengkak, serta luka yang sulit sembuh dapat menggambarkan perfusi jaringan perifer buruk, misalnya pada PAD. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pemeriksaan Neurologis / Organ Target, Bila sirkulasi yang terganggu mempengaruhi organ vital (otak, ginjal, jantung), bisa dilakukan pemeriksaan fungsi organ, kesadaran, kemungkinan edema, iskemia, atau disfungsi organ. [Lihat sumber Disini - repository.stikesmitrakeluarga.ac.id]
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dari asuhan keperawatan dan diagnosis dini gangguan sirkulasi.
Intervensi Keperawatan untuk Gangguan Sirkulasi
Penanganan keperawatan terhadap pasien dengan gangguan sirkulasi/pola sirkulasi berubah bertujuan mengoptimalkan perfusi jaringan, mencegah komplikasi, serta mendukung stabilitas sirkulasi. Berikut intervensinya:
-
Monitor Tanda Vital Secara Berkala, termasuk tekanan darah, denyut jantung, laju napas, saturasi oksigen, perfusi kapiler, warna dan suhu kulit. Hal ini penting untuk mendeteksi dini perubahan sirkulasi.
-
Evaluasi dan Dokumentasi Perfusi Jaringan, observasi kulit ekstremitas, perubahan warna, edema, ulkus atau luka, serta waktu capillary refill untuk menilai perfusi perifer.
-
Promosi Mobilisasi dan Latihan Fisik Sesuai Kemampuan, latihan ringan atau latihan khusus (misalnya terapi fisik) bisa membantu meningkatkan sirkulasi dan perfusi jaringan, terutama pada pasien dengan komorbiditas seperti diabetes. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dan latihan (misalnya metode latihan tertentu) dapat menurunkan risiko gangguan perfusi jaringan pada pasien diabetes. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pemberian Edukasi Pasien dan Keluarga, tentang modifikasi gaya hidup: diet sehat, berhenti merokok, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, gula darah, menjaga berat badan ideal, dan pentingnya aktivitas fisik. Karena gaya hidup adalah faktor risiko besar untuk gangguan sirkulasi. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Kolaborasi dengan Tim Medis dan Rujukan Bila Perlu, jika terdapat obstruksi vaskular, kerusakan kapiler, atau disfungsi jantung, perawat perlu berkoordinasi dengan dokter untuk intervensi lebih lanjut (misalnya farmakoterapi, bedah, rehabilitasi). [Lihat sumber Disini - lib.pkr.ac.id]
-
Pemantauan Komplikasi dan Pencegahan Kerusakan Jaringan, perawatan kulit, perawatan luka, deteksi dini ulkus, pemantauan edema, menjaga posisi ekstremitas, serta mendukung nutrisi dan hidrasi optimal untuk mendukung perfusi jaringan.
Dengan intervensi keperawatan yang tepat, risiko komplikasi akibat gangguan sirkulasi dapat diminimalkan dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan.
Contoh Kasus Perubahan Pola Sirkulasi
Berikut contoh hipotetis kasus yang menggambarkan perubahan pola sirkulasi dan asuhan keperawatan:
Pasien laki-laki, 65 tahun, dengan riwayat diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi kronik. Keluhan utama: kaki kiri terasa dingin, warna kulit kelabu, sulit sembuh luka kecil pada betis kiri selama 2 bulan, terasa kesemutan, terutama saat berjalan, dan cepat merasa lelah. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi perifer lemah pada ekstremitas bawah, waktu perfusi kapiler lambat (>3 detik), kulit dingin, edema ringan, serta saturasi oksigen normal.
Diagnosis keperawatan: gangguan perfusi perifer (perubahan pola sirkulasi) berhubungan dengan komorbiditas vaskular dan metabolik (diabetes, hipertensi), dengan manifestasi berupa perfusi jaringan ekstremitas tidak adekuat, kulit dingin, luka kronis, dan kelelahan.
Intervensi: monitor vital dan perfusi kapiler tiap shift; observasi kulit dan luka; edukasi pasien tentang perawatan luka, nutrisi, hidrasi, dan modifikasi gaya hidup; kolaborasi dengan tim medis untuk mempertimbangkan pemeriksaan vaskular lanjut (misalnya doppler, ankle-brachial index) dan terapi vaskular bila diperlukan; serta anjuran aktivitas ringan dan perawatan ekstremitas secara rutin.
Kesimpulan
Perubahan pola sirkulasi adalah fenomena kompleks yang melibatkan disfungsi pada jantung, pembuluh darah, atau darah, yang berdampak pada perfusi jaringan dan distribusi oksigen serta nutrisi ke seluruh tubuh. Faktor risiko meliputi usia, gaya hidup tidak sehat, komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes, serta faktor genetik. Tanda klinisnya beragam, mulai dari pucat dan dinginnya ekstremitas hingga luka kronis, kelelahan, atau disfungsi organ. Pemeriksaan sederhana seperti nadi, tekanan darah, perfusi kapiler, dan observasi kulit bisa membantu mendeteksi gangguan sirkulasi. Intervensi keperawatan meliputi monitoring, edukasi, promosi mobilisasi, perawatan kulit, serta kolaborasi dengan tim medis. Pemahaman mendalam tentang perubahan pola sirkulasi sangat penting agar intervensi dilakukan dini, risiko komplikasi diminimalkan, dan perawatan pasien optimal.