Terakhir diperbarui: 25 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 25 December). Terapi Oksigen: Konsep, Prinsip Keselamatan, dan Pemantauan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/terapi-oksigen-konsep-prinsip-keselamatan-dan-pemantauan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Terapi Oksigen: Konsep, Prinsip Keselamatan, dan Pemantauan - SumberAjar.com

Terapi Oksigen: Konsep, Prinsip Keselamatan, dan Pemantauan

Pendahuluan

Terapi oksigen merupakan intervensi medis yang memiliki peran krusial dalam memastikan tercukupinya oksigen bagi jaringan tubuh serta mencegah terjadinya hipoksia yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Kekurangan oksigen dalam tubuh (hipoksia) dapat memicu disfungsi organ, kerusakan otak, hingga kematian jika tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat. Karena pentingnya peran oksigen dalam menjaga fungsi vital, maka pemberian terapi oksigen harus dilakukan secara benar serta aman dengan pemantauan yang cermat oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat yang langsung terlibat dalam implementasi terapi ini di fasilitas pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Terapi Oksigen

Definisi Terapi Oksigen Secara Umum

Terapi oksigen adalah bentuk perawatan medis berupa pemberian oksigen (O₂) secara suplemental untuk memperbaiki tingkat oksigen dalam tubuh ketika kebutuhan fisiologis tidak adekuat melalui pernapasan biasa. Terapi ini dilakukan untuk mencegah atau mengatasi kondisi hipoksia jaringan, membantu kelancaran aktivitas respirasi, serta mendukung fungsi metabolik seluruh sistem tubuh. [Lihat sumber Disini - sim.rsciremai.com]

Definisi Terapi Oksigen dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oksigen merupakan unsur kimia yang penting bagi respirasi makhluk hidup. Terapi oksigen didefinisikan dalam konteks medis sebagai tindakan memberikan oksigen tambahan kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh yang tidak dapat dicapai melalui pernapasan di udara bebas yang mengandung sekitar 21% oksigen. (Sumber: KBBI Online: [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])

Definisi Terapi Oksigen Menurut Para Ahli

  1. Potter & Perry (Keperawatan Modern), Terapi oksigen digolongkan sebagai obat yang memerlukan resep medis dan pemantauan kontinu oleh perawat untuk memastikan pemberiannya aman serta efektif, merespons kebutuhan fisiologis pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Weekley (StatPearls, 2023), Menyatakan bahwa terapi oksigen adalah intervensi medis yang dirancang untuk memastikan suplai oksigen adekuat ke sel tubuh, mencegah disfungsi organ, dan kondisi hipoksia yang mengancam jiwa. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Thalib et al. (Jurnal Keperawatan), Mendefinisikan terapi oksigen sebagai pemberian oksigen yang digunakan untuk meningkatkan kadar oksigen darah serta mengurangi durasi hipoksia, dengan tujuan meningkatkan prognosis pasien. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

  4. Rahim (Tinjauan Pustaka), Menguraikan bahwa tujuan utama terapi oksigen adalah meningkatkan ekspansi dada, memperbaiki status oksigenasi pasien, membantu metabolisme sel, dan menurunkan kerja jantung serta paru-paru pada pasien dengan gangguan pernapasan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Indikasi dan Tujuan Terapi Oksigen

Terapi oksigen secara klinis direkomendasikan pada pasien dengan kondisi yang mengakibatkan tubuh tidak mampu mempertahankan oksigenasi yang adekuat. Indikasi umum termasuk gangguan respirasi akut seperti pneumonia, asma berat, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), gagal napas, syok, trauma kepala berat, dan kondisi pasca-resusitasi kardiopulmoner. Tujuan utama terapi oksigen adalah mengatasi hipoksia (kurangnya oksigen di jaringan), menjaga saturasi oksigen dalam rentang aman, serta memperbaiki fungsi organ yang terganggu karena kekurangan oksigen. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Pemberian oksigen ditujukan untuk mencapai target saturasi tertentu, misalnya SpO₂ ≥ 90% pada kebanyakan pasien dewasa yang hipoksik, atau rentang yang disesuaikan pada pasien dengan kontrol CO₂ yang sensitif seperti pada PPOK. Konsentrasi oksigen optimal berbeda tergantung kondisi pasien dan kebutuhan klinisnya. [Lihat sumber Disini - archbronconeumol.org]

Selain itu, terapi oksigen juga dapat membantu mengurangi beban kerja pernapasan dan jantung pada pasien dengan dispnea berat atau gagal napas, serta mendukung pemulihan metabolik melalui peningkatan pasokan oksigen ke jaringan tubuh. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Prinsip Keselamatan Pemberian Oksigen

Prinsip keselamatan dalam pemberian terapi oksigen melibatkan beberapa aspek yang harus dipatuhi oleh tenaga kesehatan untuk mencegah risiko serta komplikasi yang mungkin muncul selama pemberian terapi. Suplai oksigen dikategorikan sebagai obat sehingga harus berdasarkan resep dokter dan dilaksanakan sesuai protokol klinis yang berlaku. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Keselamatan pertama adalah memastikan perangkat oksigen berfungsi dengan baik serta aman. Persediaan tabung oksigen, regulator, dan perangkat penghantar harus diperiksa secara rutin. Oksigen sendiri tidak mudah terbakar, namun oksigen konsentrasi tinggi meningkatkan risiko kebakaran ketika bersentuhan dengan sumber api atau bahan mudah terbakar. Oleh karena itu, lingkungan pemberian oksigen harus bebas dari api, rokok, atau sumber panas lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Selain itu, protokol keselamatan mencakup titrasi dosis sesuai kebutuhan pasien, pemantauan ketat melalui alat seperti pulse oximetry atau analisis gas darah arteri untuk mencegah komplikasi seperti toksisitas oksigen atau hipoventilasi pada pasien tertentu, terutama yang memiliki gagal napas dengan retensi CO₂. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Penting juga bagi perawat untuk memahami penggunaan berbagai perangkat oksigen, memastikan koneksi aman, dan melindungi pasien dari infeksi atau tekanan berlebih pada jaringan selama penggunaan alat penghantar oksigen. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]


Metode dan Alat Terapi Oksigen

Pemberian terapi oksigen dapat dilakukan melalui berbagai metode dan alat yang disesuaikan dengan kebutuhan klinis pasien. Alat penghantar oksigen yang paling umum digunakan antara lain:

  1. Nasal Cannula, Alat ini terdiri dari dua ujung yang ditempatkan di lubang hidung pasien untuk memberikan aliran oksigen ringan hingga sedang. Alat ini nyaman dan sering digunakan untuk pasien dengan kebutuhan oksigen tidak terlalu tinggi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Venturi Mask, Masker ini digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen yang terkontrol dan lebih tinggi dengan menggunakan prinsip air-entrainment, sering digunakan pada pasien dengan COPD dan kebutuhan kontrol oksigen yang presisi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Non-Rebreather Mask, Masker yang menutup hidung dan mulut serta memiliki kantung reservoir untuk memberikan konsentrasi oksigen tinggi kepada pasien yang memerlukan suplementasi oksigen mendesak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Setiap perangkat memiliki penggunaan dan aliran oksigen yang berbeda-beda tergantung dari kondisi dan target saturasi oksigen pasien. Selain alat penghantar dasar, tersedia juga sistem aliran tinggi (high-flow nasal cannula) dan ventilasi mekanik bagi pasien dengan gagal napas berat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Pemantauan Respons Pasien terhadap Terapi Oksigen

Pemantauan respons pasien sangat penting untuk memastikan terapi oksigen efektif dan aman. Alat yang umum digunakan adalah pulse oximetry, yaitu alat non-invasif yang mengukur saturasi oksigen darah secara real-time. Pulse oximeter memberikan informasi penting terkait efektivitas suplai oksigen dan membantu perawat menyesuaikan dosis jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Selain itu, pemeriksaan gas darah arteri (ABG) dapat digunakan untuk penilaian yang lebih akurat terhadap PaO₂, PaCO₂, dan pH darah, terutama pada pasien dengan gangguan pernapasan yang kompleks ataupun yang tidak menunjukkan respons memadai terhadap terapi dasar. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Pemantauan juga mencakup evaluasi tanda vital pasien seperti laju napas, denyut jantung, tekanan darah, dan level kesadaran, serta pemeriksaan klinis untuk mendeteksi gejala toksisitas oksigen seperti nyeri dada, batuk, atau kejang ketika terapi berlangsung. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]


Peran Perawat dalam Terapi Oksigen

Perawat memainkan peran sentral dalam implementasi terapi oksigen secara aman dan efektif. Perawat bertanggung jawab dalam memverifikasi indikasi terapi, menyiapkan peralatan, serta memastikan bahwa oksigen diberikan sesuai resep dokter dan standar klinis. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Perawat juga harus mengevaluasi kondisi awal pasien, mengidentifikasi risiko yang mungkin muncul, serta melakukan pemantauan secara kontinu terhadap respons terapi dengan menggunakan alat-alat yang tersedia. Komunikasi efektif dengan tim medis lainnya sangat penting dalam menyesuaikan terapi sesuai perubahan kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - lettersinhighenergyphysics.com]

Selain itu, perawat memiliki tanggung jawab edukatif untuk menjelaskan pada pasien dan keluarga bagaimana terapi oksigen bekerja, potensi risiko, dan bagaimana mereka dapat membantu memaksimalkan efektivitas terapi, termasuk memastikan penggunaan alat oksigen di rumah yang aman jika terapi dilanjutkan di luar fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]


Kesimpulan

Terapi oksigen adalah intervensi klinis yang vital dalam menjaga dan memperbaiki status oksigenasi pasien yang mengalami gangguan respirasi atau hipoksia. Pemberian oksigen bukan semata sebuah prosedur, tetapi merupakan terapi yang dipandang sebagai obat dengan indikasi, dosis, serta pemantauan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan klinis pasien. Perawat memiliki peran penting dalam melaksanakan terapi ini dengan aman, mulai dari persiapan alat, pemantauan respons pasien, hingga edukasi. Keselamatan pasien dan efektivitas terapi sangat bergantung pada penerapan prinsip keselamatan serta pemantauan kontinu untuk mencegah komplikasi serta mencapai target terapi yang diharapkan. Penerapan metode yang tepat dan pemantauan yang cermat akan meningkatkan hasil klinis pasien serta mendukung proses pemulihan secara optimal.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Terapi oksigen adalah tindakan medis dan keperawatan berupa pemberian oksigen tambahan kepada pasien untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah dan jaringan, terutama pada kondisi hipoksia atau gangguan pernapasan.

Tujuan terapi oksigen adalah mencegah dan mengatasi hipoksia, mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal, mengurangi kerja pernapasan dan jantung, serta mendukung fungsi organ vital tubuh.

Terapi oksigen diberikan pada pasien dengan gangguan pernapasan, penyakit paru, gagal napas, syok, trauma, kondisi pasca operasi, atau ketika saturasi oksigen berada di bawah nilai normal sesuai indikasi klinis.

Prinsip keselamatan terapi oksigen meliputi pemberian sesuai resep, penggunaan alat yang tepat, pencegahan risiko kebakaran, titrasi dosis sesuai kebutuhan, serta pemantauan ketat untuk mencegah toksisitas oksigen dan komplikasi lainnya.

Alat terapi oksigen meliputi nasal cannula, simple mask, venturi mask, non-rebreather mask, high-flow nasal cannula, serta ventilator mekanik pada kondisi gagal napas berat.

Perawat berperan dalam menilai kebutuhan oksigen pasien, menyiapkan dan mengoperasikan alat terapi oksigen, memantau respons pasien, menjaga keselamatan, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik Manajemen Terapi Oksigen: Pemahaman dan Praktik Pemenuhan Kebutuhan Oksigen: Gangguan dan Implikasi Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen: Gangguan dan Implikasi Keperawatan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen Budaya Keselamatan Kerja Tenaga Kesehatan Budaya Keselamatan Kerja Tenaga Kesehatan Keselamatan Pasien: Konsep, implementasi, dan tantangan Keselamatan Pasien: Konsep, implementasi, dan tantangan Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Safety Culture dalam Rumah Sakit Safety Culture dalam Rumah Sakit Keselamatan Klinis: Konsep, Manajemen Risiko, dan Budaya Organisasi Keselamatan Klinis: Konsep, Manajemen Risiko, dan Budaya Organisasi Keselamatan Pasien dalam Pelayanan Kesehatan Keselamatan Pasien dalam Pelayanan Kesehatan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Perawatan Pasien dengan Alat Medis: Konsep, Prinsip Keselamatan Perawatan Pasien dengan Alat Medis: Konsep, Prinsip Keselamatan Pemantauan Tanda Vital: Konsep dan Tujuan Pemantauan Tanda Vital: Konsep dan Tujuan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Keamanan Terapi Farmakologis: Konsep, Prinsip, dan Implementasi Keamanan Terapi Farmakologis: Konsep, Prinsip, dan Implementasi Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan Monitoring Terapi Obat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Tindak Lanjut Monitoring Terapi Obat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Tindak Lanjut Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Kepatuhan Terapi Kolesterol Kepatuhan Terapi Kolesterol
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…