Terakhir diperbarui: 11 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 11 December). Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengetahuan-pasien-tentang-obat-herbal  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal - SumberAjar.com

Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal

Pendahuluan

Penggunaan obat herbal di Indonesia telah menjadi bagian penting dari praktik kesehatan masyarakat sejak zaman dahulu. Banyak orang memilih obat herbal karena dianggap alami, mudah diakses, dan “aman.” Namun, di balik persepsi positif itu, tingkat pengetahuan pasien tentang obat herbal, khasiat, keamanan, interaksi dengan obat modern, serta regulasi, sangat menentukan apakah penggunaan obat herbal memberikan manfaat atau justru membahayakan. Artikel ini bertujuan mengevaluasi aspek pengetahuan pasien terhadap obat herbal, termasuk tren, persepsi, serta potensi risiko.


Definisi Obat Herbal

Definisi Obat Herbal secara Umum

Obat herbal (atau obat tradisional) umumnya diartikan sebagai ramuan yang berasal dari bahan alam, tumbuhan, hewan, mineral, atau campuran bahan-bahan tersebut, yang diproses menjadi sediaan seperti jamu, ekstrak, serbuk, pil, atau cairan. Penggunaan jenis obat ini telah dilakukan secara turun-temurun dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Definisi Obat Herbal dalam KBBI

Menurut terminologi nasional, obat tradisional (herbal) adalah bahan atau ramuan yang berasal dari tumbuhan, hewan, atau mineral, atau kombinasi di antaranya, dan diproses menjadi sediaan yang dapat dikonsumsi manusia. [Lihat sumber Disini - jmedika.com]

Definisi Obat Herbal Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi menurut literatur/peneliti:

  • Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat tradisional terbagi menjadi tiga kategori: jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka, yang keduanya berasal dari bahan alam. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

  • Dalam penelitian oleh Rahmasiah dkk. (2024), obat tradisional didefinisikan sebagai sediaan yang berasal dari bahan alam dan diproses tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. [Lihat sumber Disini - epik.ikifa.ac.id]

  • Menurut Kumontoy, Deeng & Mulianti (2023), obat herbal adalah tanaman obat yang telah dikenal mempunyai senyawa yang bermanfaat untuk mencegah atau mengobati penyakit, berdasarkan observasi dan tradisi. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

  • Dalam kajian review untuk pengembangan industri obat tradisional di Indonesia, definisi obat herbal mencakup konsep sebagai bagian dari obat tradisional yang bahan bakunya dari alam dan telah digunakan berulang kali dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dengan demikian, “obat herbal” dalam konteks Indonesia mencakup ramuan tradisional, jamu, fitofarmaka atau obat tradisional terstandar, asalkan berasal dari bahan alam dan diproses sesuai ketentuan.


Tren Penggunaan Obat Herbal di Masyarakat

Penggunaan obat herbal di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Survei di apotek-apotek menunjukkan bahwa pemintaan terhadap produk obat tradisional terus naik dari tahun ke tahun. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Dalam penelitian di kalangan mahasiswa, penggunaan “obat bahan alam” (herbal) dilaporkan sebagai alternatif kesehatan yang diwariskan antar generasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Faktor yang mempengaruhi meningkatnya penggunaan antara lain: persepsi bahwa obat herbal relatif lebih aman dibanding obat kimia, biaya yang lebih terjangkau, kemudahan memperoleh bahan alam, serta tradisi dan warisan budaya. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]


Tingkat Pengetahuan Pasien terhadap Khasiat Herbal

Beberapa studi telah mengukur bagaimana masyarakat memahami obat herbal:

  • Dalam penelitian oleh Universitas Airlangga (2021) terhadap ibu-ibu di Surabaya: sekitar 1, 33% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah, 62, 67% pengetahuan sedang, dan 36% pengetahuan tinggi mengenai obat tradisional. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Penelitian di Desa Pertahanan, Kabupaten Asahan (2025) menunjukkan bahwa mayoritas konsumen obat tradisional memiliki “pengetahuan baik” (51%), sedangkan sisanya “cukup” (49%) mengenai efek samping dan respon terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]

Meski demikian, pemahaman mendalam, seperti dosis yang tepat, kandungan, indikasi, dan potensi efek samping, seringkali kurang. Di satu studi, banyak responden tidak memperhatikan kemasan, dosis, kandungan bahan, atau tanggal kedaluwarsa. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]


Risiko Interaksi Herbal, Obat

Penggabungan obat herbal dengan obat modern bisa menimbulkan risiko interaksi, baik farmakokinetik maupun farmakodinamik. [Lihat sumber Disini - pipot.ubaya.ac.id]

Contohnya, penelitian terbaru pada pasien diabetes menunjukkan bahwa kombinasi obat antidiabetes (misalnya Glibenklamid) dengan bahan herbal tertentu (misalnya daun murbei, aloe vera, daun sirsak, daun pegagan) dapat menyebabkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, potensi mengubah efektivitas atau meningkatkan efek samping. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalfatah.ac.id]

Sebuah kajian menunjukkan bahwa interaksi obat-herbal dapat meningkatkan risiko efek merugikan, misalnya pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan obat jangka panjang, atau pasien yang menggunakan banyak obat. [Lihat sumber Disini - pom.go.id]


Edukasi mengenai Keamanan Obat Herbal

Kesadaran dan edukasi masyarakat terkait cara memilih dan menggunakan obat herbal dengan aman sangat penting. Dalam kegiatan edukasi di Desa Kalirejo, Kudus, setelah penyuluhan, sekitar 65% peserta mampu memahami klasifikasi obat tradisional dan cara memilihnya secara tepat, membantu mencegah penggunaan obat palsu atau ilegal. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]

Sebagai tambahan, kampanye edukasi tentang pemanfaatan bahan alam untuk kesehatan, misalnya herbal/“empon-empon”, telah dilakukan di masa pandemi untuk mendorong penggunaan yang tepat serta meningkatkan literasi masyarakat terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id]

Upaya edukasi ini menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat bisa ditingkatkan melalui penyuluhan, tetapi pelaksanaan dan kesadaran harus terus berkelanjutan.


Sumber Informasi Herbal yang Digunakan Pasien

Berdasarkan penelitian di Surabaya: sebagian besar responden memperoleh informasi dari kerabat atau teman; hanya sebagian kecil (17 responden dari 150) yang berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat tradisional. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Studi lain menunjukkan bahwa faktor sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan memiliki peran besar dalam preferensi masyarakat terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]

Hal ini menunjukkan bahwa literatur ilmiah dan tenaga kesehatan seringkali kurang menjadi rujukan, meningkatkan potensi mis-informasi.


Peran Tenaga Kesehatan dalam Memberikan Informasi Herbal

Meski peranan tenaga kesehatan sangat penting, dalam praktik banyak masyarakat yang memilih obat herbal berdasarkan rekomendasi non-profesional (teman, keluarga, komunitas). [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Keterlibatan tenaga kesehatan dapat membantu mengevaluasi apakah obat herbal aman, apakah ada risiko interaksi dengan obat lain, dan apakah dosis serta indikasinya tepat, terutama pada pasien dengan penyakit kronis atau yang sedang menjalani terapi obat modern. Namun belum semua tenaga kesehatan aktif menyosialisasikan hal ini, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas dan kepekaan dari tenaga kesehatan terhadap isu herbal.


Persepsi Pasien terhadap Keamanan Produk Herbal

Banyak konsumen percaya bahwa obat herbal relatif lebih aman dan memiliki efek samping minimal dibanding obat modern. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]

Dalam penelitian di Asahan, meskipun ada efek samping yang dilaporkan (seperti gangguan pencernaan), sebagian besar responden melaporkan tidak mengalami efek samping dibandingkan dengan obat modern. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]

Namun persepsi “aman” ini sering tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang dosis, kandungan, interaksi, atau cara penyimpanan, sehingga potensi risiko tetap ada.


Dampak Kurangnya Pengetahuan terhadap Penyalahgunaan

Kurangnya literasi dan pengetahuan dapat menyebabkan beberapa risiko:

  • Penggunaan dosis yang tidak tepat (terlalu sedikit ➝ tidak efektif, terlalu banyak ➝ toksisitas).

  • Kombinasi obat herbal dan obat modern tanpa konsultasi, berpotensi mencetuskan interaksi negatif.

  • Konsumsi obat tradisional palsu, ilegal, atau tidak tersertifikasi.

  • Kesalahan indikasi, misalnya menggunakan herbal untuk penyakit serius yang memerlukan pengobatan modern secara cepat, sehingga menghambat terapi yang efektif.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa walau masyarakat merasa aman, ada efek samping dan interaksi yang dilaporkan, terutama ketika kombinasi digunakan tanpa pengawasan. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]


Perbedaan Pengetahuan antara Pengguna Baru dan Lama

Penelitian spesifik yang membandingkan pengguna baru vs pengguna lama masih jarang. Namun secara umum, pengetahuan tampak bervariasi: pada ibu-ibu di Surabaya, sebagian besar memiliki pengetahuan sedang, tinggi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Sementara konsumen di Asahan, meskipun sudah sering menggunakan, terkadang tidak memperhatikan aspek penting seperti efek samping atau penyimpanan. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]

Ini menunjukkan bahwa lamanya waktu menggunakan herbal tidak selalu menjamin pengetahuan yang memadai, terutama jika sumber informasi hanya dari lingkungan sosial, bukan tenaga kesehatan.


Regulasi dan Sertifikasi Obat Herbal

Menurut regulasi nasional, obat tradisional dibagi menjadi tiga kategori: jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Klasifikasi ini penting karena menyangkut standar keamanan, mutu, dan bukti ilmiah. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

Namun, tantangan dalam pengembangan obat tradisional di Indonesia tetap besar: bahan baku herbal sering tidak memenuhi syarat standar, ketersediaan fasilitas uji mutu terbatas, dan banyak produk yang beredar tanpa sertifikasi atau registrasi resmi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Karenanya, untuk menjamin safety dan efektivitas, konsumen perlu memastikan bahwa produk herbal yang dikonsumsi terdaftar resmi, berlabel jelas, dan diproduksi oleh produsen yang memenuhi standar regulasi.


Kesimpulan

Obat herbal memiliki potensi besar sebagai bagian dari sistem kesehatan alternatif di Indonesia, karena kemudahan akses, harga relatif terjangkau, dan warisan budaya. Namun demikian, manfaat itu hanya bisa optimal jika disertai dengan pengetahuan yang memadai: mengenai kandungan, dosis, indikasi, potensi interaksi, dan keamanan produk.

Penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak pengguna memiliki pengetahuan sedang sampai tinggi, pemahaman mendalam mengenai aspek teknis (efek samping, interaksi, penyimpanan) sering kurang. Persepsi “aman karena alami” kerap membuat pengguna lengah terhadap potensi risiko.

Karena itu, diperlukan peran aktif tenaga kesehatan dan regulasi yang ketat, serta edukasi berkelanjutan, agar penggunaan obat herbal tidak berubah menjadi penyalahgunaan atau malah membahayakan kesehatan.

Dengan demikian, literasi pasien terhadap obat herbal menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Obat herbal adalah sediaan yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan, hewan, atau mineral yang diproses menjadi bentuk jamu, ekstrak, fitofarmaka, atau sediaan tradisional lainnya dan digunakan untuk tujuan pengobatan atau pemeliharaan kesehatan.

Tidak selalu. Meskipun alami, obat herbal dapat memiliki efek samping, kontaminan, dosis yang tidak tepat, atau berinteraksi dengan obat modern sehingga risiko tetap ada jika tidak digunakan secara bijak dan terinformasi.

Pastikan produk terdaftar di BPOM atau memiliki sertifikat yang relevan, periksa label (komposisi, dosis, tanggal kadaluarsa), beli dari produsen tepercaya, serta konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila perlu.

Interaksi dapat mengubah efektivitas obat (meningkatkan atau menurunkan kadar obat), menambah efek samping, atau memicu reaksi berbahaya—contohnya interaksi antara beberapa herbal dengan antikoagulan, antidiabetik, atau obat jantung.

Sumber utama adalah keluarga, teman, media sosial, dan penjual tradisional. Sumber ilmiah dan konsultasi tenaga kesehatan cenderung kurang menjadi rujukan meskipun lebih dapat dipercaya.

Tenaga kesehatan berperan memberikan informasi akurat tentang keamanan, kemungkinan interaksi, serta saran penggunaan; memeriksa riwayat obat pasien; dan mengedukasi tentang produk terdaftar serta dosis yang tepat.

Tidak selalu; pengguna lama mungkin berpengalaman tetapi belum tentu memiliki pengetahuan lengkap tentang dosis, interaksi, atau standar produk. Literasi bergantung pada sumber informasi yang digunakan.

Obat tradisional diklasifikasikan menjadi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka; regulasi mengatur pendaftaran, standar mutu, dan klaim. Namun tantangan seperti mutu bahan baku dan kepatuhan produsen masih ada.

Periksa pendaftaran dan label produk, konsultasikan dengan dokter atau apoteker jika sedang minum obat resep, mulai dengan dosis kecil bila perlu, dan hentikan penggunaan jika muncul efek samping serius.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Risiko Interaksi Herbal–Obat Risiko Interaksi Herbal–Obat Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Keamanan Produk Herbal di Pasaran Keamanan Produk Herbal di Pasaran Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Penggunaan Obat Tradisional Penggunaan Obat Tradisional Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…