
Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal
Pendahuluan
Penggunaan obat herbal di Indonesia telah menjadi bagian penting dari praktik kesehatan masyarakat sejak zaman dahulu. Banyak orang memilih obat herbal karena dianggap alami, mudah diakses, dan “aman.” Namun, di balik persepsi positif itu, tingkat pengetahuan pasien tentang obat herbal, khasiat, keamanan, interaksi dengan obat modern, serta regulasi, sangat menentukan apakah penggunaan obat herbal memberikan manfaat atau justru membahayakan. Artikel ini bertujuan mengevaluasi aspek pengetahuan pasien terhadap obat herbal, termasuk tren, persepsi, serta potensi risiko.
Definisi Obat Herbal
Definisi Obat Herbal secara Umum
Obat herbal (atau obat tradisional) umumnya diartikan sebagai ramuan yang berasal dari bahan alam, tumbuhan, hewan, mineral, atau campuran bahan-bahan tersebut, yang diproses menjadi sediaan seperti jamu, ekstrak, serbuk, pil, atau cairan. Penggunaan jenis obat ini telah dilakukan secara turun-temurun dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Definisi Obat Herbal dalam KBBI
Menurut terminologi nasional, obat tradisional (herbal) adalah bahan atau ramuan yang berasal dari tumbuhan, hewan, atau mineral, atau kombinasi di antaranya, dan diproses menjadi sediaan yang dapat dikonsumsi manusia. [Lihat sumber Disini - jmedika.com]
Definisi Obat Herbal Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi menurut literatur/peneliti:
-
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat tradisional terbagi menjadi tiga kategori: jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka, yang keduanya berasal dari bahan alam. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Dalam penelitian oleh Rahmasiah dkk. (2024), obat tradisional didefinisikan sebagai sediaan yang berasal dari bahan alam dan diproses tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. [Lihat sumber Disini - epik.ikifa.ac.id]
-
Menurut Kumontoy, Deeng & Mulianti (2023), obat herbal adalah tanaman obat yang telah dikenal mempunyai senyawa yang bermanfaat untuk mencegah atau mengobati penyakit, berdasarkan observasi dan tradisi. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Dalam kajian review untuk pengembangan industri obat tradisional di Indonesia, definisi obat herbal mencakup konsep sebagai bagian dari obat tradisional yang bahan bakunya dari alam dan telah digunakan berulang kali dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, “obat herbal” dalam konteks Indonesia mencakup ramuan tradisional, jamu, fitofarmaka atau obat tradisional terstandar, asalkan berasal dari bahan alam dan diproses sesuai ketentuan.
Tren Penggunaan Obat Herbal di Masyarakat
Penggunaan obat herbal di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Survei di apotek-apotek menunjukkan bahwa pemintaan terhadap produk obat tradisional terus naik dari tahun ke tahun. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dalam penelitian di kalangan mahasiswa, penggunaan “obat bahan alam” (herbal) dilaporkan sebagai alternatif kesehatan yang diwariskan antar generasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor yang mempengaruhi meningkatnya penggunaan antara lain: persepsi bahwa obat herbal relatif lebih aman dibanding obat kimia, biaya yang lebih terjangkau, kemudahan memperoleh bahan alam, serta tradisi dan warisan budaya. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]
Tingkat Pengetahuan Pasien terhadap Khasiat Herbal
Beberapa studi telah mengukur bagaimana masyarakat memahami obat herbal:
-
Dalam penelitian oleh Universitas Airlangga (2021) terhadap ibu-ibu di Surabaya: sekitar 1, 33% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah, 62, 67% pengetahuan sedang, dan 36% pengetahuan tinggi mengenai obat tradisional. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Penelitian di Desa Pertahanan, Kabupaten Asahan (2025) menunjukkan bahwa mayoritas konsumen obat tradisional memiliki “pengetahuan baik” (51%), sedangkan sisanya “cukup” (49%) mengenai efek samping dan respon terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]
Meski demikian, pemahaman mendalam, seperti dosis yang tepat, kandungan, indikasi, dan potensi efek samping, seringkali kurang. Di satu studi, banyak responden tidak memperhatikan kemasan, dosis, kandungan bahan, atau tanggal kedaluwarsa. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]
Risiko Interaksi Herbal, Obat
Penggabungan obat herbal dengan obat modern bisa menimbulkan risiko interaksi, baik farmakokinetik maupun farmakodinamik. [Lihat sumber Disini - pipot.ubaya.ac.id]
Contohnya, penelitian terbaru pada pasien diabetes menunjukkan bahwa kombinasi obat antidiabetes (misalnya Glibenklamid) dengan bahan herbal tertentu (misalnya daun murbei, aloe vera, daun sirsak, daun pegagan) dapat menyebabkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, potensi mengubah efektivitas atau meningkatkan efek samping. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalfatah.ac.id]
Sebuah kajian menunjukkan bahwa interaksi obat-herbal dapat meningkatkan risiko efek merugikan, misalnya pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan obat jangka panjang, atau pasien yang menggunakan banyak obat. [Lihat sumber Disini - pom.go.id]
Edukasi mengenai Keamanan Obat Herbal
Kesadaran dan edukasi masyarakat terkait cara memilih dan menggunakan obat herbal dengan aman sangat penting. Dalam kegiatan edukasi di Desa Kalirejo, Kudus, setelah penyuluhan, sekitar 65% peserta mampu memahami klasifikasi obat tradisional dan cara memilihnya secara tepat, membantu mencegah penggunaan obat palsu atau ilegal. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
Sebagai tambahan, kampanye edukasi tentang pemanfaatan bahan alam untuk kesehatan, misalnya herbal/“empon-empon”, telah dilakukan di masa pandemi untuk mendorong penggunaan yang tepat serta meningkatkan literasi masyarakat terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id]
Upaya edukasi ini menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat bisa ditingkatkan melalui penyuluhan, tetapi pelaksanaan dan kesadaran harus terus berkelanjutan.
Sumber Informasi Herbal yang Digunakan Pasien
Berdasarkan penelitian di Surabaya: sebagian besar responden memperoleh informasi dari kerabat atau teman; hanya sebagian kecil (17 responden dari 150) yang berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat tradisional. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Studi lain menunjukkan bahwa faktor sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan memiliki peran besar dalam preferensi masyarakat terhadap obat tradisional. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]
Hal ini menunjukkan bahwa literatur ilmiah dan tenaga kesehatan seringkali kurang menjadi rujukan, meningkatkan potensi mis-informasi.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Memberikan Informasi Herbal
Meski peranan tenaga kesehatan sangat penting, dalam praktik banyak masyarakat yang memilih obat herbal berdasarkan rekomendasi non-profesional (teman, keluarga, komunitas). [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Keterlibatan tenaga kesehatan dapat membantu mengevaluasi apakah obat herbal aman, apakah ada risiko interaksi dengan obat lain, dan apakah dosis serta indikasinya tepat, terutama pada pasien dengan penyakit kronis atau yang sedang menjalani terapi obat modern. Namun belum semua tenaga kesehatan aktif menyosialisasikan hal ini, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas dan kepekaan dari tenaga kesehatan terhadap isu herbal.
Persepsi Pasien terhadap Keamanan Produk Herbal
Banyak konsumen percaya bahwa obat herbal relatif lebih aman dan memiliki efek samping minimal dibanding obat modern. [Lihat sumber Disini - ejournal.unida.gontor.ac.id]
Dalam penelitian di Asahan, meskipun ada efek samping yang dilaporkan (seperti gangguan pencernaan), sebagian besar responden melaporkan tidak mengalami efek samping dibandingkan dengan obat modern. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]
Namun persepsi “aman” ini sering tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang dosis, kandungan, interaksi, atau cara penyimpanan, sehingga potensi risiko tetap ada.
Dampak Kurangnya Pengetahuan terhadap Penyalahgunaan
Kurangnya literasi dan pengetahuan dapat menyebabkan beberapa risiko:
-
Penggunaan dosis yang tidak tepat (terlalu sedikit ➝ tidak efektif, terlalu banyak ➝ toksisitas).
-
Kombinasi obat herbal dan obat modern tanpa konsultasi, berpotensi mencetuskan interaksi negatif.
-
Konsumsi obat tradisional palsu, ilegal, atau tidak tersertifikasi.
-
Kesalahan indikasi, misalnya menggunakan herbal untuk penyakit serius yang memerlukan pengobatan modern secara cepat, sehingga menghambat terapi yang efektif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa walau masyarakat merasa aman, ada efek samping dan interaksi yang dilaporkan, terutama ketika kombinasi digunakan tanpa pengawasan. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]
Perbedaan Pengetahuan antara Pengguna Baru dan Lama
Penelitian spesifik yang membandingkan pengguna baru vs pengguna lama masih jarang. Namun secara umum, pengetahuan tampak bervariasi: pada ibu-ibu di Surabaya, sebagian besar memiliki pengetahuan sedang, tinggi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Sementara konsumen di Asahan, meskipun sudah sering menggunakan, terkadang tidak memperhatikan aspek penting seperti efek samping atau penyimpanan. [Lihat sumber Disini - jurnal-lp2m.umnaw.ac.id]
Ini menunjukkan bahwa lamanya waktu menggunakan herbal tidak selalu menjamin pengetahuan yang memadai, terutama jika sumber informasi hanya dari lingkungan sosial, bukan tenaga kesehatan.
Regulasi dan Sertifikasi Obat Herbal
Menurut regulasi nasional, obat tradisional dibagi menjadi tiga kategori: jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Klasifikasi ini penting karena menyangkut standar keamanan, mutu, dan bukti ilmiah. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Namun, tantangan dalam pengembangan obat tradisional di Indonesia tetap besar: bahan baku herbal sering tidak memenuhi syarat standar, ketersediaan fasilitas uji mutu terbatas, dan banyak produk yang beredar tanpa sertifikasi atau registrasi resmi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Karenanya, untuk menjamin safety dan efektivitas, konsumen perlu memastikan bahwa produk herbal yang dikonsumsi terdaftar resmi, berlabel jelas, dan diproduksi oleh produsen yang memenuhi standar regulasi.
Kesimpulan
Obat herbal memiliki potensi besar sebagai bagian dari sistem kesehatan alternatif di Indonesia, karena kemudahan akses, harga relatif terjangkau, dan warisan budaya. Namun demikian, manfaat itu hanya bisa optimal jika disertai dengan pengetahuan yang memadai: mengenai kandungan, dosis, indikasi, potensi interaksi, dan keamanan produk.
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak pengguna memiliki pengetahuan sedang sampai tinggi, pemahaman mendalam mengenai aspek teknis (efek samping, interaksi, penyimpanan) sering kurang. Persepsi “aman karena alami” kerap membuat pengguna lengah terhadap potensi risiko.
Karena itu, diperlukan peran aktif tenaga kesehatan dan regulasi yang ketat, serta edukasi berkelanjutan, agar penggunaan obat herbal tidak berubah menjadi penyalahgunaan atau malah membahayakan kesehatan.
Dengan demikian, literasi pasien terhadap obat herbal menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko.