Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Risiko Interaksi Herbal–Obat. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-interaksi-herbalobat  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Interaksi Herbal–Obat - SumberAjar.com

Risiko Interaksi Herbal, Obat

Pendahuluan

Penggunaan obat herbal dan suplemen tanaman semakin meningkat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan terapi alami. Banyak pasien menganggap obat herbal “aman karena alami”, tetapi penggunaan bersamaan dengan obat konvensional sebenarnya bisa menimbulkan interaksi yang signifikan, yang berpotensi menurunkan efektivitas terapi, menyebabkan efek samping, atau bahkan komplikasi serius seperti perdarahan, gangguan metabolisme obat, kegagalan terapi, hingga reaksi toksik. Fenomena ini menjadi tantangan besar karena herbal umumnya mengandung banyak zat aktif yang dapat memengaruhi metabolisme dan kerja obat modern melalui berbagai mekanisme molekuler dan fisiologis. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]


Definisi Risiko Interaksi Herbal, Obat

Definisi Risiko Interaksi Herbal, Obat Secara Umum

Interaksi herbal, obat adalah kondisi ketika senyawa dalam obat herbal atau suplemen tanaman memengaruhi cara obat konvensional bekerja dalam tubuh, baik dengan meningkatkan, menurunkan, ataupun mengubah efek obat tersebut. Interaksi ini terjadi karena banyak tanaman memiliki komponen aktif yang dapat bersaing atau mengganggu jalur farmakokinetik (absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi) atau farmakodinamik (tempat kerja obat di organ/target) dari obat konvensional. [Lihat sumber Disini - pipot.ubaya.ac.id]

Definisi Risiko Interaksi Herbal, Obat dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), interaksi berarti hubungan timbal balik antara dua hal atau lebih yang dapat saling memengaruhi. Dalam konteks farmasi, interaksi herbal, obat berarti kecenderungan timbal balik yang memengaruhi kerja atau efek antara obat herbal dan obat medis bila digunakan bersamaan. (Definisi merujuk ke pengertian umum dan prinsip interaksi obat dalam KBBI, meskipun frasa “interaksi herbal, obat” tidak tercatat spesifik di KBBI online, prinsip dasarnya konsisten dengan definisi umum interaksi.) [Lihat sumber Disini - pom.go.id]

Definisi Risiko Interaksi Herbal, Obat Menurut Para Ahli

  1. Sunaryanti (2021) mendefinisikan interaksi herbal, obat sebagai perubahan efek farmakologis obat yang dihasilkan oleh bahan aktif dalam ramuan herbal ketika dikonsumsi bersamaan dengan obat resep, baik yang meningkatkan maupun menurunkan efek obat tersebut. [Lihat sumber Disini - tahtamedia.co.id]

  2. Babos et al. (2021) menjelaskan herb, drug interaction sebagai fenomena klinis di mana kombinasi obat dan herbal menyebabkan reaksi yang berbeda dari yang diharapkan bila kedua zat itu digunakan secara terpisah. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Czigle (2023) menyatakan bahwa herb, drug interaction dapat terjadi melalui perubahan konsentrasi obat dalam darah, memengaruhi keberhasilan terapi atau menyebabkan efek samping. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Posadzki et al. (2013) menegaskan bahwa interaksi herbal, obat bisa melibatkan perubahan metabolisme, absorpsi, ekskresi, atau aktivitas fisiologis target obat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Mekanisme Interaksi antara Herbal dan Obat

Interaksi antara herbal dan obat terjadi terutama melalui dua jalur besar: farmakokinetik dan farmakodinamik.

1. Mekanisme Farmakokinetik

Interaksi jenis ini melibatkan perubahan pada proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat oleh komponen herbal, yang dapat mengubah kadar obat dalam darah dan jaringan target. Mekanisme umumnya meliputi:

  • Absorbsi: Herbal tertentu dapat mengubah pH lambung atau aktivitas transporter sehingga memengaruhi absorbsi obat. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Distribusi: Senyawa herbal dapat bersaing dalam pengikatan protein plasma, sehingga mengubah konsentrasi bebas obat. [Lihat sumber Disini - pipot.ubaya.ac.id]

  • Metabolisme: Ini adalah mekanisme paling banyak terdokumentasi. Herbal bisa menginduksi atau menghambat enzim sitokrom P450 (CYP), terutama CYP3A4, CYP2C9, dan CYP2D6, yang bertanggung jawab atas metabolisme terbesar obat modern. Contohnya St John’s wort mempercepat metabolisme obat-obatan tertentu, sehingga menurunkan efektivitasnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Ekskresi: Herbal dapat memodulasi transporter renal (misalnya P-glycoprotein), yang mengubah elimiasi obat tertentu. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

2. Mekanisme Farmakodinamik

Di sini, interaksi terjadi ketika herbal dan obat memiliki efek fisiologis yang serupa atau berlawanan di tempat kerja obat. Contohnya:


Herbal yang Paling Berisiko Menyebabkan Interaksi

Beberapa tanaman telah cukup terdokumentasi dalam literatur klinis atau review karena potensinya untuk berinteraksi dengan obat modern:

1. St John’s Wort (Hypericum perforatum)

St John’s wort adalah salah satu herb yang paling banyak dipelajari. Ia dapat menginduksi enzim CYP3A4 dan P-glycoprotein, sehingga mempercepat metabolisme obat dan menurunkan kadar plasma obat seperti warfarin, digoxin, dan beberapa obat antiretroviral hingga menyebabkan kegagalan terapi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

2. Ginkgo biloba

Ginkgo dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan saat dikombinasikan dengan antikoagulan atau antiplatelet seperti aspirin. Beberapa fitokimia dalam ginkgo dapat memodulasi agregasi trombosit dan aktivitas enzim metabolik. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

3. Ginseng

Panax ginseng dapat menurunkan efektivitas beberapa obat antikoagulan dan juga memengaruhi metabolisme obat tertentu karena modifikasi enzim metabolik, meskipun hasil klinisnya bervariasi dan bergantung pada dosis serta jenis ginseng. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

4. Garlic dan Ginger

Keduanya memiliki sifat antiplatelet dan dapat meningkatkan risiko perdarahan pada pasien yang menggunakan antikoagulan atau obat pengencer darah lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

5. Allium sativum (Bawang putih)

Bawang putih dapat memodulasi metabolisme dan efek farmakodinamik obat, terutama terapi antitrombotik, dengan meningkatkan risiko perdarahan atau mengubah profil bioavailabilitas obat tertentu. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

6. Curcuma longa (Kunyit) dan lainnya

Makalah Indonesia menunjukkan tanaman lokal seperti kunyit juga berpotensi mengubah bioavailabilitas obat tertentu bila digunakan bersama. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Catatan: Selain herbal yang disebut di atas, review global juga mengidentifikasi puluhan herbal lain yang dapat berinteraksi dengan obat, terutama pada jalur CYP dan transporter obat. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]


Dampak Interaksi terhadap Efektivitas Terapi

Interaksi herbal, obat dapat memengaruhi terapi secara klinis dalam beberapa cara:

1. Penurunan Efektivitas Obat

Herbal yang meningkatkan metabolisme obat (misalnya melalui induksi CYP) menurunkan kadar plasma obat, sehingga efek terapeutik berkurang dan penyakit mungkin tidak terkontrol. Contoh: penurunan efektivitas obat antikoagulan atau antiretroviral oleh St John’s wort. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

2. Peningkatan Risiko Efek Samping atau Toksisitas

Herbal yang menghambat metabolisme atau ekskresi obat bisa meningkatkan kadar obat, sehingga meningkatkan risiko toksisitas. Hal ini penting terutama untuk obat dengan indeks terapeutik sempit (misalnya digoxin). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

3. Risiko Perdarahan atau Gangguan Koagulasi

Herbal dengan efek antiplatelet atau antikoagulan dapat memperkuat efek obat pengencer darah, meningkatkan risiko perdarahan serius. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

4. Kegagalan Terapi

Interaksi dapat menyebabkan obat tidak mencapai target terapeutik sehingga terapi gagal, misalnya penurunan konsentrasi obat kanker atau imunossupresan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Peran Farmasis dalam Deteksi dan Pencegahan

Farmasis memiliki peran kunci dalam menangani risiko interaksi herbal, obat dengan cara:

1. Mengidentifikasi Riwayat Penggunaan Herbal

Farmasis perlu menanyakan secara rinci apakah pasien menggunakan herbal, jamu, atau suplemen, karena pasien sering tidak menganggapnya sebagai “obat” dan tidak melaporkan. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

2. Mengevaluasi Potensi Interaksi

Dengan pengetahuan tentang jalur farmakokinetik dan farmakodinamik, farmasis dapat menilai apakah kombinasi herb, obat tertentu berisiko dan memberikan rekomendasi yang aman. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

3. Edukasi dan Konseling Pasien

Memberikan edukasi tentang potensi risiko, tanda-tanda efek samping, serta kapan harus menghindari penggunaan herbal bersamaan dengan obat tertentu sangat penting untuk keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

4. Kolaborasi Tim Kesehatan

Farmasis sebaiknya bekerja sama dengan dokter dan tenaga kesehatan lain untuk menyesuaikan regimen terapi bila diperlukan, misalnya menghindari dosis tinggi atau mengganti obat yang berinteraksi. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]


Edukasi Pasien sebelum Mengonsumsi Herbal

Sebelum pasien mulai menggunakan herbal bersama obat:


Kesimpulan

Interaksi herbal, obat merupakan fenomena penting dalam praktik klinis yang harus diperhatikan karena dapat memengaruhi efektivitas terapi dan keselamatan pasien. Interaksi dapat terjadi melalui mekanisme farmakokinetik seperti perubahan absorpsi, metabolisme enzimatik (terutama sitokrom P450), dan ekskresi, serta farmakodinamik seperti efek sinergis atau antagonis pada target obat. Banyak herbal populer seperti St John’s wort, Ginkgo biloba, ginseng, bawang putih, dan jahe telah dilaporkan memiliki potensi berinteraksi dengan obat modern, terutama obat antikoagulan dan obat dengan indeks terapeutik sempit. Peran farmasis sangat penting dalam mendeteksi, mencegah, dan mengedukasi pasien tentang risiko ini, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengoptimalkan terapi obat dan herbal. Edukasi pasien yang tepat sebelum mengonsumsi herbal sangat dibutuhkan untuk mencegah efek merugikan dan menjamin keamanan terapi. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Interaksi herbal–obat adalah kondisi ketika kandungan aktif dalam tanaman obat atau suplemen herbal memengaruhi kerja obat medis, sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan efektivitas terapi maupun memicu efek samping.

Beberapa herbal yang sering menimbulkan interaksi adalah St John’s wort, Ginkgo biloba, ginseng, bawang putih, dan jahe. Herbal-herbal ini dapat memengaruhi metabolisme obat atau meningkatkan risiko perdarahan.

Interaksi dapat menyebabkan obat tidak bekerja optimal, meningkatkan risiko toksisitas, atau menyebabkan efek samping serius seperti perdarahan. Hal ini terjadi karena herbal bisa mengubah metabolisme, absorbsi, hingga efek fisiologis obat.

Farmasis berperan dalam mendeteksi penggunaan herbal pada pasien, mengevaluasi potensi interaksi, memberikan edukasi, serta bekerja sama dengan dokter untuk menyesuaikan terapi yang lebih aman.

Pasien dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, melaporkan semua herbal atau suplemen yang digunakan, serta memahami risiko interaksi yang mungkin terjadi terhadap pengobatan yang sedang dijalani.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Keamanan Produk Herbal di Pasaran Keamanan Produk Herbal di Pasaran Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Penggunaan Obat Tradisional Penggunaan Obat Tradisional Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Risiko Interaksi Suplemen-Obat Risiko Interaksi Suplemen-Obat
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…