
Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil
Pendahuluan
Kehamilan adalah periode penting dalam kehidupan seorang wanita, di mana kesehatan ibu dan janin menjadi prioritas utama. Dalam upaya menjaga kesehatan dan mengatasi keluhan selama kehamilan, seperti mual, nyeri, atau perubahan fisik, sebagian ibu hamil memilih menggunakan obat herbal atau ramuan tradisional. Pandangan bahwa “alami = aman” sering mendorong penggunaan tersebut. Namun, di balik persepsi alami dan tradisional, terdapat kekhawatiran mengenai keamanan, efektivitas, dan potensi efek samping bagi ibu maupun janin. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi sikap ibu terhadap penggunaan obat herbal saat hamil, jenis herbal yang paling umum dipakai, faktor yang mempengaruhi keputusan, serta konsekuensi kesehatan yang mungkin terjadi.
Definisi Sikap terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil
Definisi secara umum
Sikap terhadap penggunaan obat herbal saat hamil merujuk pada pandangan, keyakinan, persepsi, dan kecenderungan seorang ibu hamil terhadap penggunaan ramuan tradisional atau herbal selama masa kehamilan, apakah ia menganggapnya aman, bermanfaat, perlu, atau justru berisiko. Sikap ini mencakup aspek kognitif (pengetahuan dan kepercayaan), afektif (perasaan terhadap obat herbal), dan konatif (niat atau kecenderungan bertindak: memakai atau tidak).
Definisi menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “sikap” dapat diartikan sebagai cara berpikir, perasaan, dan prilaku seseorang terhadap sesuatu. Dengan demikian, “sikap ibu terhadap penggunaan obat herbal saat hamil” berarti bagaimana ibu berpikir, merasa, dan bertindak terhadap pemakaian herbal di masa kehamilan.
Definisi menurut Para Ahli
Para ahli dalam literatur kesehatan mendefinisikan sikap terhadap penggunaan obat herbal dalam kehamilan sebagai kombinasi antara persepsi manfaat, persepsi risiko, serta kecenderungan untuk menggunakan atau menghindarinya. Misalnya:
-
Dalam tinjauan oleh El Hajj & Holst (2020), penggunaan herbal selama kehamilan dipandang dalam konteks persepsi wanita terhadap keamanan dan efektivitas, serta ketersediaan alternatif alami dibandingkan obat konvensional. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Dalam penelitian oleh Al-Tawalbeh et al. (2024), sikap ibu hamil terhadap obat herbal dipengaruhi oleh persepsi bahwa herbal lebih “aman”, lebih mudah diakses, dan lebih terjangkau dibandingkan obat modern. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Menurut Sarecka-Hujar & Szajek (2022), meskipun ada kepercayaan bahwa herbal “alami dan aman”, bahan aktif dalam herbal dapat memengaruhi perkembangan janin, sehingga sikap harus dibarengi dengan pengetahuan yang tepat dan kehati-hatian. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam konteks lokal Indonesia, penelitian oleh Rahmawati & Hariastuti (2022) menyatakan bahwa sikap ibu terhadap jamu atau obat tradisional dipengaruhi oleh pengaruh budaya, tradisi, serta ketersediaan informasi, yang sering kali rendah, tentang keamanan herbal pada kehamilan. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Dengan demikian, sikap bukan hanya soal apakah ibu “mau” atau “tidak” menggunakan herbal, tapi juga bagaimana ia menilai manfaat vs risiko, dari mana ia memperoleh informasi, dan seberapa besar pengaruh sosial / budaya terhadap keputusan tersebut.
Jenis Obat Herbal yang Paling Sering Digunakan Ibu Hamil
Berdasarkan literatur, terdapat beberapa jenis herbal atau jamu/ramuan tradisional yang paling banyak digunakan oleh ibu hamil untuk mengatasi keluhan kehamilan. Misalnya:
-
Dalam studi oleh Al-Tawalbeh et al. (2024), herbal yang paling umum dipakai termasuk adas manis (anise), mint, chamomile, dan sage. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Studi di Indonesia menunjukkan bahwa ramuan tradisional seperti jamu berbahan kunyit asam, serta jamu pelancar darah haid atau “ramuan pembersih rahim” termasuk di antara yang digunakan ibu hamil. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Sebuah scoping review 2024 terhadap potensi herbal Indonesia dalam mengurangi mual-muntah kehamilan menyebut bahwa herbal seperti jahe, mint, lavender, dan lemon sering dipertimbangkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Studi lokal menunjukkan bahwa sebagian besar ibu mengonsumsi jamu melalui bentuk tradisional, seperti ramuan yang direbus/diminum, dan sering atas rekomendasi keluarga atau orang tua ketimbang tenaga medis. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
Jenis, jenis herbal ini dipilih karena dianggap “alami” dan dipercaya dapat membantu meringankan gejala kehamilan seperti mual, muntah, pegal, atau masalah pencernaan.
Faktor Budaya dan Tradisi dalam Penggunaan Herbal
Penggunaan obat herbal selama kehamilan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dan tradisi. Berikut penjelasannya:
-
Herbal / jamu sudah menjadi bagian dari warisan turun-temurun. Banyak ibu hamil merasa nyaman menggunakan ramuan tradisional karena ini bagian dari praktik keluarga atau komunitas. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Dalam banyak kasus, keputusan memakai herbal tidak diambil berdasar pengetahuan medis, melainkan atas dasar saran dari orang tua, mertua, keluarga, atau teman, sehingga aspek sosial sangat dominan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Faktor ketersediaan dan akses: herbal mudah diperoleh, mudah dibuat sendiri, atau tersedia di lingkungan rumah, sehingga secara praktis lebih mudah dibandingkan memperoleh obat farmasi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Persepsi bahwa herbal adalah “alami dan aman”, sehingga lebih dipercaya daripada obat kimia/paten, sering membuat ibu hamil mengabaikan potensi risiko. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Singkatnya: budaya, tradisi keluarga/komunitas, norma sosial, dan kemudahan akses menjadi faktor utama yang mendorong penggunaan herbal pada masa kehamilan.
Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Keamanan Herbal
Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang aspek keamanan penggunaan herbal sangat bervariasi, dan banyak penelitian menunjukkan bahwa seringkali pengetahuan ini rendah, terutama terkait risiko bagi janin atau ibu.
-
Dalam penelitian di Ponkesdes Desa Plesungan (2022), dari 30 responden, 75% ibu hamil memiliki pengetahuan kurang baik tentang jamu/ramuan herbal selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Studi lainnya menunjukkan banyak ibu mengonsumsi herbal tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan karena kurang menyadari potensi efek samping atau risiko. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Dalam survei internasional, sebagian ibu hamil bahkan melaporkan efek samping dari penggunaan herbal, misalnya iritasi, kontraksi uterus, atau gejala lain, tetapi masih banyak yang merasa herbal lebih aman dibanding obat modern. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Karena pengetahuan rendah, keputusan penggunaan sering didasarkan pada pengalaman orang lain, tradisi, atau informasi tidak ilmiah, bukan bukti klinis. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
Hal ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan besar untuk edukasi kesehatan, agar ibu hamil memahami potensi manfaat dan risiko, serta tahu kapan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pengaruh Media dan Lingkungan terhadap Sikap Ibu
Media, baik media sosial, internet, maupun lingkungan terdekat (keluarga, teman, komunitas), punya peran signifikan dalam membentuk sikap ibu terhadap herbal.
-
Dalam studi Al-Tawalbeh et al. (2024), sekitar 37.8% ibu memperoleh informasi lewat internet/media online, selain dari keluarga. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Banyak ibu tidak melibatkan atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan herbal, sehingga informasi dari luar (teman, keluarga, internet) lebih dominan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Lingkungan sosial dan budaya (nilai tradisional, rekomendasi keluarga) sering menjadi sumber utama keyakinan bahwa herbal aman dan bermanfaat, membuat media sosial dan testimoni “teman atau saudara” sangat memengaruhi. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
Dengan demikian, media dan lingkungan, terutama yang berbasis komunitas atau online, dapat memperkuat stereotip bahwa herbal aman dan tidak perlu dipertanyakan, sehingga memperkuat perilaku pemakaian tanpa kontrol.
Risiko dan Efek Samping Obat Herbal pada Kehamilan
Meskipun banyak ibu percaya herbal aman karena “alami”, penelitian menunjukkan bahwa obat herbal juga bisa membawa risiko serius bagi ibu dan janin:
-
Dalam tinjauan oleh El Hajj & Holst (2020), disebutkan bahwa sebagian besar herbal yang dipakai selama kehamilan belum memiliki data klinis yang memadai mengenai keamanan, sehingga sulit direkomendasikan secara pasti. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Herbal mengandung zat aktif biologis yang dapat memiliki efek farmakologis, termasuk potensial kontraksi uterus, toksisitas janin, atau komplikasi kehamilan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi oleh Al-Tawalbeh et al. (2024) melaporkan bahwa 31.8% ibu yang memakai herbal mengalami efek samping. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Beberapa herbal tertentu, misalnya yang bersifat oksitosik, dilaporkan dapat meningkatkan risiko keguguran, perdarahan, kelahiran prematur, atau gangguan perkembangan janin, terutama jika dikonsumsi tanpa pengawasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Karena produk herbal sering tidak diatur seketat obat farmasi, ada potensi kontaminasi, dosis tidak akurat, atau interaksi obat yang tidak dipahami, memperbesar risiko bagi ibu dan janin. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
Karena itu, tidak setiap herbal aman untuk ibu hamil, dan penggunaan tanpa konsultasi medis sangat berisiko.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Obat Herbal
Tenaga kesehatan, dokter, bidan, perawat, memiliki peran krusial dalam mendampingi ibu hamil mengenai penggunaan herbal:
-
Dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa persentase ibu hamil yang mendapat informasi dari tenaga kesehatan relatif kecil dibanding dari keluarga atau teman. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Edukasi yang sistematis tentang manfaat, risiko, dan batasan penggunaan herbal selama kehamilan dapat membantu ibu membuat keputusan berdasarkan informasi ilmiah, bukan hanya tradisi atau persepsi. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Pelayanan antenatal (kehamilan) sebaiknya memasukkan counseling mengenai alternatif pengobatan herbal, dan mendorong ibu untuk mengungkapkan konsumsi herbal secara jujur, supaya tenaga kesehatan bisa memantau potensi risiko atau interaksi obat. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Dengan meningkatnya literasi herbal, diharapkan praktik penggunaan herbal dapat lebih bijak, proporsional, dan aman bagi kesehatan ibu dan janin.
Hubungan Sikap dengan Perilaku Penggunaan Herbal
Sikap seseorang terhadap herbal sangat memengaruhi perilaku, apakah ia menggunakan herbal, berapa sering, dan bagaimana cara penggunaannya. Beberapa temuan:
-
Ibu yang percaya bahwa herbal “alami dan aman” cenderung menggunakan herbal tanpa konsultasi medis. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Pengetahuan rendah terkait risiko membuat banyak ibu tidak mempertimbangkan potensi negatif, sehingga meskipun ada gejala kehamilan normal, mereka lebih memilih herbal ketimbang pengobatan medis. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Sebaliknya, dalam kasus ibu dengan pengetahuan lebih baik atau yang pernah mengalami efek samping, ada kecenderungan untuk berhati-hati atau bahkan menghindari herbal selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dengan kata lain: sikap yang positif terhadap herbal (terutama didasari persepsi aman) → perilaku konsumsi tinggi; sedangkan sikap yang kritis dan berpengetahuan → penggunaan lebih selektif atau bahkan menghindari.
Hambatan Ibu dalam Mengakses Informasi yang Valid
Beberapa kendala yang membuat ibu hamil sulit mendapatkan informasi ilmiah atau valid mengenai herbal:
-
Literasi kesehatan yang rendah: banyak ibu tidak tahu mana informasi herbal yang berbasis bukti, mana sekadar mitos/tradisi. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Terbatasnya konsultasi dengan tenaga kesehatan: sebagian besar keputusan datang dari keluarga, teman, atau tradisi, bukan dari sumber profesional. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Akses informasi ilmiah sulit: penelitian tentang keamanan herbal kehamilan masih sedikit, regulasi kurang ketat, sehingga data risiko/efek tidak mudah ditemukan atau tersampaikan ke masyarakat luas. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Kepercayaan bahwa “alami itu aman” membuat banyak ibu kurang kritis terhadap klaim herbal, sehingga mereka tidak mencari informasi lebih lanjut.
Hambatan-hambatan ini memperkuat penggunaan herbal tanpa pengawasan, dan meningkatkan potensi risiko.
Perbandingan Persepsi antara Ibu Primigravida dan Multigravida
Meski literatur spesifik membandingkan sikap ibu primigravida vs multigravida terhadap herbal relatif sedikit, ada beberapa indikasi:
-
Ibu multigravida, yang sudah pernah hamil, mungkin memiliki pengalaman sebelumnya dengan herbal atau obat, sehingga bisa lebih selektif atau malah lebih percaya berdasarkan pengalaman baik di kehamilan sebelumnya. Dalam beberapa studi internasional, riwayat kehamilan sebelumnya dan penggunaan herbal di kehamilan sebelumnya tercatat sebagai faktor yang mempengaruhi penggunaan herbal. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Di sisi lain, ibu primigravida, sebagai calon ibu baru, cenderung lebih rentan pada pengaruh tradisi, keluarga, dan kekhawatiran terhadap obat farmasi, sehingga mungkin lebih memilih herbal sebagai “aman dan alami.” [Lihat sumber Disini - journal.bku.ac.id]
Namun demikian, karena data konkret dari konteks Indonesia sangat terbatas, perlu penelitian lebih lanjut untuk menggambarkan perbedaan sikap dan perilaku antara ibu primigravida dan multigravida di Indonesia.
Dampak Sikap terhadap Kesehatan Ibu dan Janin
Sikap yang mendukung penggunaan obat herbal tanpa pengetahuan memadai bisa berdampak pada kesehatan ibu dan janin:
-
Risiko efek samping bagi ibu: seperti kontraksi uterus, pendarahan, gangguan pencernaan, toksisitas, atau komplikasi kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.agdosi.com]
-
Risiko bagi janin: potensi gangguan perkembangan, keguguran, kelahiran prematur, malformasi, atau berat lahir rendah, terutama jika herbal bersifat oksitosik atau memiliki bahan aktif kuat. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Risiko interaksi obat: jika ibu menggunakan obat farmasi sekaligus herbal tanpa koordinasi, bisa terjadi interaksi yang merugikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Risiko psikologis dan sosial: false sense of security, sehingga ibu bisa menunda mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan, atau mengabaikan peringatan kesehatan karena terlalu percaya pada herbal.
Di sisi lain, jika sikap dibarengi pengetahuan dan kebijakan sehat, penggunaan herbal dapat lebih bijaksana, ibu bisa memilih herbal dengan bukti aman, dalam dosis tepat, dan tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Sikap ibu terhadap penggunaan obat herbal saat hamil, yang dipengaruhi oleh budaya, tradisi, persepsi “alami = aman”, akses, dan informasi, memainkan peran besar dalam keputusan untuk menggunakan herbal selama kehamilan. Banyak ibu memilih herbal karena dianggap alami, mudah diakses, dan “aman”, tetapi seringkali pengetahuan mereka tentang risiko sangat terbatas.
Padahal, literatur menunjukkan bahwa tidak semua herbal aman bagi ibu hamil; beberapa memiliki potensi efek samping serius bagi ibu maupun janin. Penggunaan tanpa konsultasi medis dan tanpa pengetahuan memadai bisa meningkatkan risiko komplikasi.
Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk aktif memberikan edukasi tentang penggunaan herbal selama kehamilan, menjelaskan potensi manfaat, risiko, herbal yang relatif aman (jika ada), serta dosis dan waktu yang tepat. Selain itu, ibu hamil perlu didorong untuk lebih kritis terhadap informasi dari lingkungan sekitar atau media, dan lebih memilih sumber yang berbasis bukti.
Dengan sikap yang bijaksana dan informasi yang valid, pemanfaatan herbal selama kehamilan bisa dilakukan dengan lebih aman, menjaga kesehatan ibu dan janin tanpa mengabaikan risiko.