Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/tingkat-kepercayaan-terhadap-klaim-produk-herbal  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal - SumberAjar.com

Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal

Pendahuluan

Tingginya minat masyarakat terhadap produk herbal dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fenomena yang signifikan dalam perilaku konsumen modern. Produk herbal, yang mencakup jamu, suplemen berbasis tanaman, dan obat tradisional, dipandang sebagai pilihan alami yang lebih aman dan sesuai dengan gaya hidup sehat. Persepsi bahwa produk herbal dapat memberikan manfaat kesehatan tanpa efek samping yang kuat mendorong kenaikan permintaan konsumen di berbagai negara, termasuk Indonesia dan wilayah lainnya. Namun, di balik popularitas tersebut, muncul tantangan serius terkait sejauh mana konsumen mempercayai klaim manfaat yang dicantumkan oleh produsen, serta bagaimana regulasi dan edukasi konsumen dapat mempengaruhi kepercayaan tersebut.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa klaim manfaat yang melampaui bukti ilmiah dapat mempengaruhi keputusan pembelian secara signifikan, sementara informasi negatif atau klaim palsu dapat menurunkan tingkat kepercayaan konsumen secara drastis. Faktor-faktor seperti tingkat pengetahuan konsumen, pengalaman penggunaan sebelumnya, serta konteks informasi digital juga ikut menentukan bagaimana klaim tersebut dipersepsikan. Oleh karena itu, memahami dinamika kepercayaan terhadap klaim produk herbal menjadi penting tidak hanya bagi pemasar tetapi juga regulator dan praktisi kesehatan masyarakat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal

Definisi Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Secara Umum

Secara umum, tingkat kepercayaan terhadap klaim produk herbal dapat dipahami sebagai sejauh mana konsumen merasa yakin bahwa klaim atau janji manfaat kesehatan yang tercantum pada produk herbal adalah benar, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kepercayaan ini mencakup keyakinan terhadap kualitas, keamanan, efektivitas, serta integritas etika produsen dalam menyampaikan klaim tersebut. Dalam konteks pemasaran, kepercayaan ini merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi niat beli, loyalitas, dan keputusan pembelian konsumen secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Persepsi konsumen terhadap klaim manfaat produk herbal sering kali dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, rekomendasi dari lingkungan sosial, serta informasi yang tersedia di media massa maupun digital. Bila klaim tersebut disebabkan oleh bukti ilmiah yang kuat, maka tingkat kepercayaan cenderung meningkat; sebaliknya, klaim yang lemah atau tidak memiliki dasar ilmiah dapat berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan dan bahkan menciptakan skeptisisme. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Definisi Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kepercayaan” didefinisikan sebagai percaya kepada sesuatu atau seseorang, yakni keyakinan terhadap kebenaran, kemampuan, atau kredibilitas sesuatu. Sementara “klaim” merujuk pada pernyataan atau tuntutan mengenai suatu fakta atau manfaat tertentu. Jika dirangkai, tingkat kepercayaan terhadap klaim produk herbal berarti derajat keyakinan konsumen terhadap pernyataan manfaat yang dikemukakan produsen mengenai produk herbal tersebut. (Catatan: definisi KBBI ini disiapkan secara konseptual dari situs resmi KBBI daring.)

Definisi Tingkat Kepercayaan terhadap Klaim Produk Herbal Menurut Para Ahli

  1. Kotler & Keller menyatakan bahwa kepercayaan konsumen adalah keyakinan konsumen bahwa suatu merek atau produk memiliki kualitas yang konsisten dan dapat memenuhi janji atau klaim yang disampaikan, yang berimplikasi pada niat pembelian.

  2. Situmorang (2022) menegaskan bahwa kepercayaan konsumen terhadap klaim produk kesehatan merupakan perpaduan antara keyakinan terhadap bukti ilmiah, keamanan produk, dan reputasi produsen sebagai sinyal kredibilitas.

  3. Sun et al. (2024) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa konsumen yang memiliki pendidikan kesehatan yang lebih tinggi memiliki kemampuan lebih baik dalam mengevaluasi klaim iklan sehingga kepercayaan terhadap klaim pun berbeda antar kelompok usia dan tingkat pengetahuan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  4. Marinac (2007) memandang bahwa kepercayaan konsumen dalam produk herbal dan suplemen terkait erat dengan bagaimana klaim disampaikan serta reputasi merek di pasar.

  5. Halizah (2022) menunjukkan bahwa konsumen yang percaya terhadap klaim manfaat produk herbal cenderung menilai manfaat tersebut sebagai bagian dari kualitas keseluruhan produk. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]


Persepsi Konsumen terhadap Klaim Khasiat Herbal

Persepsi konsumen terhadap klaim khasiat herbal adalah suatu interpretasi subjektif yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, latar belakang budaya, informasi yang diterima, serta tingkat edukasi mengenai produk tersebut. Konsumen cenderung merasa bahwa produk herbal membawa manfaat kesehatan tambahan karena sifat “alami” yang melekat pada bahan dasar tanaman, dan beberapa dari mereka menilai bahwa produk yang mengklaim memiliki khasiat kesehatan cenderung lebih dipercaya. [Lihat sumber Disini - journal.univetbantara.ac.id]

Namun, penelitian empiris menunjukkan bahwa atribut seperti label halal, informasi manfaat, harga, kemudahan memperoleh, serta rekomendasi dari lingkungan sosial memainkan peran penting dalam membentuk persepsi konsumen terhadap klaim produk herbal, yang kemudian memengaruhi keputusan pembelian. [Lihat sumber Disini - journal.univetbantara.ac.id]

Lebih lanjut, dalam konteks iklan dan pemasaran modern, konsumen yang lebih dewasa dan teredukasi cenderung lebih skeptis terhadap klaim yang berlebihan atau tidak berdasar, sementara konsumen yang kurang kritis dapat lebih cepat mempercayai klaim semacam itu tanpa verifikasi ilmiah. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Pengaruh Edukasi dan Pengetahuan terhadap Kepercayaan

Edukasi dan pengetahuan konsumen mengenai produk herbal memiliki pengaruh kuat terhadap tingkat kepercayaan mereka terhadap klaim manfaat. Konsumen yang memiliki pengetahuan kesehatan yang lebih tinggi dan pemahaman yang baik terhadap bahan-bahan herbal cenderung mampu membedakan antara klaim yang berbasis bukti ilmiah dan klaim yang bersifat subjektif atau pemasaran semata. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Sebuah penelitian yang meneliti keterlibatan konsumen dengan iklan suplemen botani menunjukkan bahwa edukasi mengenai identifikasi klaim yang menyesatkan dalam iklan dapat memperbaiki persepsi risiko dan mendorong konsumen untuk lebih hati-hati sebelum melakukan pembelian, terutama di kalangan dewasa menengah. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa rendahnya edukasi konsumen mengenai sertifikasi dan regulasi produk herbal membuat banyak konsumen tidak memeriksa apakah produk telah tersertifikasi oleh otoritas kesehatan terkait sebelum memutuskan untuk membeli. Hal ini juga mendorong munculnya produk tanpa sertifikasi resmi di pasar, yang menambah risiko bagi konsumen dan menurunkan kepercayaan publik terhadap klaim manfaat. [Lihat sumber Disini - ejournal.atmajaya.ac.id]


Risiko Klaim Palsu dan Misleading

Klaim palsu atau klaim yang menyesatkan (misleading claims) terhadap produk herbal dapat membawa dampak negatif yang signifikan pada kepercayaan konsumen. Klaim yang tidak didukung oleh bukti ilmiah atau yang melebih-lebihkan manfaat produk dapat menyebabkan konsumen mengalami kekecewaan, potensi risiko kesehatan, dan kerugian finansial. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Selain itu, adanya klaim yang tidak benar dapat memperburuk persepsi umum terhadap produk herbal secara keseluruhan dan mengurangi kredibilitas pasar herbal jika konsumen merasa bahwa klaim tersebut dimanfaatkan semata-mata untuk menarik pembelian tanpa memperhatikan bukti. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Sebuah penelitian di Indonesia menemukan bahwa informasi negatif, terutama yang bersifat viral di media digital mengenai produk herbal tertentu, dapat menurunkan kepercayaan konsumen dan bahkan menurunkan niat mereka untuk melakukan pembelian ulang, terutama ketika informasi tersebut dianggap kredibel atau menyebar dengan cepat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Peran Regulasi dalam Menjamin Kebenaran Klaim

Regulasi merupakan aspek penting dalam memastikan bahwa klaim yang disampaikan oleh produsen produk herbal benar, akurat, dan tidak menyesatkan. Regulasi yang ketat dan pengawasan yang efektif memberikan landasan hukum bagi produsen untuk menyampaikan klaim yang sah dan terverifikasi, serta memberikan rasa aman bagi konsumen dalam menilai klaim tersebut. [Lihat sumber Disini - journal.berpusi.co.id]

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatur standar klaim khasiat, termasuk persyaratan pembuktian klaim yang harus didukung oleh bukti ilmiah yang sahih dan relevan dengan komposisi serta cara penggunaan produk tersebut. Regulasi ini dirancang agar konsumen tidak salah menafsirkan klaim manfaat yang tercantum pada label produk herbal. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Namun, tantangan tetap ada: implementasi regulasi yang konsisten, edukasi publik tentang standar regulasi, serta pengawasan terhadap pelanggaran klaim masih menjadi isu yang harus ditangani agar regulasi tidak hanya ada tetapi juga efektif dalam meningkatkan kepercayaan konsumen. [Lihat sumber Disini - journal.berpusi.co.id]


Dampak Kepercayaan terhadap Pola Pembelian

Kepercayaan terhadap klaim produk herbal memiliki dampak langsung terhadap pola pembelian konsumen. Konsumen yang percaya terhadap klaim manfaat cenderung memiliki niat beli yang lebih tinggi, loyalitas terhadap produk atau merek tertentu, serta kemungkinan melakukan pembelian ulang di masa depan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa kepercayaan konsumen berperan sebagai mediator penting antara persepsi nilai produk dan keputusan pembelian, yang berarti bahwa tanpa kepercayaan, klaim manfaat tidak akan cukup mempengaruhi keputusan untuk membeli. [Lihat sumber Disini - ojs.unud.ac.id]

Sebaliknya, ketidakpercayaan atau skepticism terhadap klaim dapat menyebabkan konsumen mencari alternatif lain, memperlambat keputusan pembelian, atau bahkan meninggalkan pasar produk herbal sama sekali jika mereka merasa klaim yang diberikan tidak dapat dipercaya atau menyesatkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Kesimpulan

Tingkat kepercayaan terhadap klaim produk herbal merupakan variabel krusial yang menentukan bagaimana konsumen menanggapi klaim manfaat kesehatan yang diajukan produsen. Kepercayaan ini dipengaruhi oleh persepsi konsumen, tingkat pengetahuan dan edukasi, serta konteks informasi yang mereka terima. Klaim palsu atau misleading dapat menurunkan kepercayaan dan menimbulkan risiko negatif bagi konsumen serta citra produk herbal secara umum. Regulasi yang kuat dan pengawasan yang efektif memainkan peran penting dalam memastikan bahwa klaim yang disampaikan benar-benar dapat dibuktikan dan tidak menyesatkan. Akhirnya, kepercayaan konsumen berdampak nyata pada pola pembelian, meningkatkan niat beli dan loyalitas ketika klaim dianggap kredibel, atau sebaliknya menurunkan minat beli ketika klaim diragukan. Kepercayaan konsumen terhadap klaim produk herbal bukan saja cermin dari edukasi dan regulasi yang efektif, tetapi juga kunci untuk keberlanjutan dan pertumbuhan pasar herbal di masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Tingkat kepercayaan terhadap klaim produk herbal adalah sejauh mana konsumen yakin bahwa manfaat dan informasi yang dicantumkan pada produk herbal benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan bukti ilmiah maupun kredibilitas produsen.

Faktor yang memengaruhi antara lain tingkat pengetahuan konsumen, edukasi kesehatan, pengalaman penggunaan, rekomendasi sosial, kualitas informasi di media, serta transparansi dan reputasi produsen.

Klaim palsu dapat menyesatkan konsumen, menyebabkan penggunaan yang tidak tepat, berpotensi membahayakan kesehatan, merugikan secara finansial, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap produk herbal secara keseluruhan.

Regulasi berperan memastikan klaim yang disampaikan produsen harus sesuai bukti ilmiah, tidak menyesatkan, serta memenuhi standar keamanan dan efektivitas. Pengawasan BPOM membantu menjaga kualitas klaim di pasar.

Kepercayaan yang tinggi meningkatkan niat beli, loyalitas, dan kemungkinan pembelian ulang. Sebaliknya, ketidakpercayaan menurunkan minat dan mendorong konsumen mencari alternatif lain.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Sikap Ibu terhadap Penggunaan Obat Herbal saat Hamil Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Produk Herbal: Konsep, Persepsi Konsumen, dan Preferensi Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Analisis Keamanan Produk Herbal Komersial Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Efek Herbal Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Obat Herbal: Konsep, Keamanan, dan Pertimbangan Klinis Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Persepsi Pasien terhadap Suplemen Herbal Keamanan Produk Herbal di Pasaran Keamanan Produk Herbal di Pasaran Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Penggunaan Obat Herbal untuk Anti-Stres Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Pola Penggunaan Obat Herbal Anti-Inflamasi Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pola Konsumsi Herbal untuk Stamina Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal Pengetahuan Pasien tentang Obat Herbal Risiko Interaksi Herbal–Obat Risiko Interaksi Herbal–Obat Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Interaksi Herbal dan Obat: Konsep, Implikasi Klinis, dan Kewaspadaan Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Hubungan Suplemen Herbal dengan Terapi Farmakologis Penggunaan Obat Tradisional Penggunaan Obat Tradisional Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi Persepsi Konsumen terhadap BPOM dan Sertifikasi Sistem Informasi Asuransi: Alur dan Kelebihannya Sistem Informasi Asuransi: Alur dan Kelebihannya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…