
Perkembangan Sosial Emosional Anak SD: Konsep dan Pengaruhnya
Pendahuluan
Perkembangan sosial emosional pada anak usia Sekolah Dasar merupakan salah satu komponen fundamental dalam proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Pada masa ini, anak tidak hanya menjalani proses akademik, tetapi juga mengalami perubahan kompleks dalam kemampuan berinteraksi, memahami perasaan diri dan orang lain, serta mengelola emosi dalam berbagai konteks sosial. Tahapan perkembangan sosial emosional ini menjadi dasar bagi keberhasilan adaptasi anak di lingkungan sekolah maupun masyarakat, sebab keterampilan sosial dan emosional yang matang akan membantu anak menyelesaikan konflik, bekerja sama, serta menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya dan orang dewasa. Menurut beberapa kajian empiris, kemampuan sosial emosional yang baik berkorelasi kuat dengan keaktifan dalam pembelajaran, pengendalian diri, dan kondisi psikologis positif pada anak usia sekolah dasar. ([Lihat sumber Disini - ojs.unublitar.ac.id])
Definisi Perkembangan Sosial Emosional Anak SD
Definisi Perkembangan Sosial Emosional Anak Secara Umum
Perkembangan sosial emosional merupakan proses yang menggambarkan kemampuan anak untuk berinteraksi secara efektif dalam hubungan sosial sekaligus memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosinya sesuai dengan tuntutan sosial yang berlaku. Proses ini mencakup sejumlah keterampilan seperti pengendalian diri, empati, kerjasama, dan penyelesaian konflik. Pada konteks sekolah dasar, perkembangan ini meliputi kemampuan anak untuk memahami aturan sosial kelas, menghargai perasaan orang lain, dan berkontribusi dalam dinamika kelompok belajar. Kemampuan sosial emosional yang baik memungkinkan anak untuk menjalin hubungan yang sehat dengan teman sebayanya dan beradaptasi dalam lingkungan belajar yang lebih luas. ([Lihat sumber Disini - journal.stkipsubang.ac.id])
Definisi Perkembangan Sosial Emosional Anak dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perkembangan merupakan suatu proses perubahan yang bersifat berkesinambungan dan berkaitan dengan kematangan serta belajar. Sosial merujuk pada hubungan antarmanusia dan kemampuan menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakat, sedangkan emosional berkaitan dengan perasaan dan reaksi batin yang dialami individu. Secara sederhana, perkembangan sosial emosional dapat dipahami sebagai proses kematangan kemampuan anak dalam berinteraksi dan merespons secara emosional terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya. Definisi ini menekankan aspek perubahan bertahap yang berlangsung seiring bertambahnya usia dan pengalaman sosial anak. (Definisi KBBI ini dapat ditemukan melalui pencarian langsung di laman KBBI daring).
Definisi Perkembangan Sosial Emosional Anak Menurut Para Ahli
Menurut para ahli, perkembangan sosial emosional merupakan aspek penting dalam perkembangan anak yang mencakup interaksi sosial serta pengelolaan emosi. Beberapa definisi yang dikemukakan oleh ahli antara lain:
-
Eka Tusyuna & rekan menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional adalah kemampuan anak untuk memahami perasaan orang lain serta menyesuaikan tingkah laku dengan aturan sosial lingkungan. Keterampilan ini muncul secara bertahap dan saling terkait antara perkembangan sosial dan emosional. ([Lihat sumber Disini - digilib.uin-suka.ac.id])
-
Asvia Rachmawati dkk. mendeskripsikan perkembangan sosial emosional sebagai komponen yang mempengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial pada usia sekolah dasar sehingga berdampak pada bagaimana anak merespon masalah dan situasi sosial yang kompleks. ([Lihat sumber Disini - ojs.unublitar.ac.id])
-
Menurut studi di Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, perkembangan sosial emosional dipandang sebagai kemampuan integratif yang mencakup emosi, metode interaksi, dan rangsangan lingkungan yang mempengaruhi pola hubungan interpersonal anak. ([Lihat sumber Disini - ejournal.staimmgt.ac.id])
-
CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) menyatakan bahwa social and emotional development melibatkan pemahaman diri, pengendalian emosi, pembuatan keputusan yang bertanggung jawab, dan hubungan yang sehat dengan orang lain. ([Lihat sumber Disini - casel.org])
Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak SD
Perkembangan sosial emosional pada anak usia sekolah dasar ditandai oleh sejumlah karakteristik yang menggambarkan kemajuan kemampuan anak dalam domain sosial dan emosional. Ketika anak memasuki usia 6, 12 tahun, mereka mulai menunjukkan pemahaman yang lebih kuat terhadap norma-norma sosial dan ekspektasi dalam interaksi sosial, serta kemampuan lebih baik dalam mengelola emosi mereka sendiri. ([Lihat sumber Disini - ojs.unublitar.ac.id])
Salah satu karakteristik penting adalah kemampuan anak untuk menjalin hubungan sosial yang lebih kompleks. Anak mulai membentuk kelompok pertemanan yang lebih stabil, memahami peran teman sebayanya dalam dinamika sosial, serta menunjukkan kemampuan berbagi, bergiliran, dan bekerjasama. Kemampuan ini tidak hanya muncul secara spontan, tetapi berkembang melalui berbagai pengalaman sosial yang dialami anak setiap hari. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Selanjutnya, anak usia sekolah dasar juga menunjukkan perkembangan dalam regulasi emosi. Mereka menjadi lebih mampu mengenali emosi yang mereka rasakan, membedakan antara berbagai perasaan seperti marah, sedih, atau senang, serta belajar mengendalikan reaksi emosional mereka agar sesuai dengan konteks sosial yang dihadapi. Kemampuan emosi ini sangat penting untuk menunjang interaksi positif dalam lingkungan sekolah, karena anak perlu beradaptasi terhadap tuntutan perilaku yang berbeda di rumah, sekolah, atau komunitas sosialnya. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Selain itu, anak pada usia ini mulai menunjukkan kemampuan empati dan perspektif-taking, yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain dan menanggapi perasaan mereka dengan cara yang sesuai sosial. Keterampilan empati ini berkontribusi pada terciptanya hubungan sosial yang lebih sehat dan saling menghormati. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Kemampuan penyelesaian konflik sosial juga merupakan ciri lain dari perkembangan sosial emosional anak SD. Anak mulai belajar strategi untuk menghadapi konflik interpersonal, seperti negosiasi, kompromi, dan mencari solusi bersama dengan teman sebaya mereka. Perkembangan keterampilan ini membantu anak untuk tetap terlibat dalam hubungan sosial meskipun mengalami tantangan dalam komunikasi atau perbedaan pendapat. ([Lihat sumber Disini - ojs.unublitar.ac.id])
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Emosional
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosional anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal. ([Lihat sumber Disini - journal.stkipsubang.ac.id])
1. Faktor Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Pola asuh, keterlibatan orang tua, dan hubungan emosional antara anak dengan orang tua sangat memengaruhi kemampuan anak dalam mengekspresikan dan mengontrol emosi. Anak yang mendapatkan bimbingan emosional yang stabil dari orang tua cenderung memiliki kecerdasan emosional lebih baik dan keterampilan sosial yang matang. ([Lihat sumber Disini - ejournal.staimmgt.ac.id])
2. Faktor Teman Sebaya
Interaksi dengan teman sebaya memainkan peran penting untuk keterampilan sosial. Dalam konteks sekolah dasar, interaksi yang berulang dengan teman sekelas membantu anak belajar berbagi, berkolaborasi, serta memahami dan menghargai perasaan orang lain. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
3. Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah menyediakan ruang sosial yang lebih luas dibandingkan lingkungan keluarga. Aturan kelas, kegiatan kelompok, dan pembelajaran kolaboratif merupakan media bagi anak untuk mengembangkan keterampilan sosial emosionalnya. Guru sebagai fasilitator sosial emosional juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan tersebut. ([Lihat sumber Disini - casel.org])
4. Faktor Pengalaman Sosial dan Emosional Sebelumnya
Pengalaman masa lalu anak dalam menghadapi tantangan emosional atau konflik sosial dapat membentuk bagaimana mereka menangani situasi berikutnya. Anak yang terbiasa mendapatkan umpan balik positif cenderung memiliki keterampilan regulasi emosi yang lebih baik. ([Lihat sumber Disini - ojs.unublitar.ac.id])
Peran Lingkungan Keluarga dan Sekolah
Peran Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan fondasi awal bagi perkembangan sosial emosional anak. Orang tua yang memberikan perhatian emosional, komunikasi terbuka, serta teladan dalam pengelolaan emosi membantu anak menginternalisasi nilai-nilai sosial yang sehat. Selain itu, pola asuh yang responsif dan konsisten dapat memperkuat rasa aman emosional anak sehingga mereka lebih percaya diri dalam membangun hubungan sosial. ([Lihat sumber Disini - ejournal.staimmgt.ac.id])
Peran Sekolah
Sekolah menjadi tempat lanjutan bagi anak untuk menerapkan dan memperluas keterampilan sosial emosional yang telah mulai dikembangkan. Guru di sekolah berperan sebagai model sosial, fasilitator pembelajaran sosial emosional, serta pembimbing dalam membantu anak memahami aturan sosial, mengelola emosi dalam konteks pembelajaran, serta memfasilitasi interaksi positif antar siswa. Program pembelajaran yang terstruktur seperti Social Emotional Learning (SEL) dapat memberikan kerangka yang sistematis dalam mengembangkan keterampilan ini. ([Lihat sumber Disini - casel.org])
Pengaruh Perkembangan Sosial Emosional terhadap Pembelajaran
Perkembangan sosial emosional yang baik sangat menentukan kualitas pengalaman belajar anak. Anak yang mampu mengelola emosinya cenderung menunjukkan tingkat konsentrasi yang lebih baik, resiliensi terhadap hambatan akademik, serta kemampuan kerja sama yang lebih tinggi dalam tugas kelompok. Sebaliknya, keterbatasan dalam keterampilan sosial emosional dapat menyebabkan masalah perilaku, penurunan motivasi belajar, dan konflik interpersonal yang mengganggu proses pembelajaran. ([Lihat sumber Disini - casel.org])
Penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi SEL dapat berkontribusi pada peningkatan keterampilan prososial, pengurangan perilaku agresif, dan peningkatan prestasi akademik, karena anak belajar mengenali perasaan sendiri dan orang lain serta mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab dalam konteks akademik maupun sosial. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Peran Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Siswa
Guru memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan sosial emosional siswa. Selain menyampaikan materi akademik, guru bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami dinamika sosial dalam kelas, memberikan umpan balik emosional yang konstruktif, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Guru dapat menerapkan pendekatan pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, simulasi peran, serta refleksi emosional untuk membantu siswa menggali dan memahami pengalaman emosional mereka. ([Lihat sumber Disini - journal.uny.ac.id])
Kesimpulan
Perkembangan sosial emosional anak usia Sekolah Dasar merupakan proses kompleks yang mencakup pembentukan keterampilan interaksi sosial, pengelolaan emosi, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial di berbagai konteks. Definisi dari aspek sosial emosional ini mencakup integrasi kemampuan sosial dan emosional yang saling berhubungan, sebagaimana didukung oleh berbagai pendapat ahli dan kajian ilmiah. Keluarga dan sekolah menjadi lingkungan utama yang memengaruhi perkembangan ini, dimana keterlibatan orang tua, teladan sosial, dan pembelajaran sosial emosional yang terstruktur sangat penting untuk dikuatkan. Perkembangan sosial emosional yang matang berdampak positif pada pengalaman belajar dan adaptasi di sekolah, sedangkan keterbatasan dalam domain ini dapat menghambat proses sosialisasi dan prestasi akademik anak. Peran guru sebagai fasilitator pembelajaran sosial emosional juga sangat menentukan dalam membentuk keterampilan interpersonal siswa.