
Respon Emosional Terhadap Hospitalisasi
Pendahuluan
Hospitalisasi, proses rawat inap di rumah sakit, sering kali membawa dampak lebih dari sekadar fisik: banyak pasien, baik anak maupun dewasa, menunjukkan respon emosional yang signifikan. Respon emosional ini dapat memengaruhi proses penyembuhan, tingkat kenyamanan, serta hasil keperawatan. Oleh karena itu penting dipahami bahwa aspek psikologis dan emosional juga perlu mendapat perhatian serius dalam asuhan kesehatan. Artikel ini membahas pengertian respon emosional terhadap hospitalisasi, faktor-faktor yang memengaruhinya, dampaknya pada pasien anak maupun dewasa, tanda stres/ketidaknyamanan, intervensi keperawatan, peran dukungan keluarga & lingkungan, serta contoh kasus.
Definisi Respon Emosional Terhadap Hospitalisasi
Definisi Secara Umum
Respon emosional terhadap hospitalisasi merujuk pada reaksi perasaan dan emosional seseorang ketika menjalani perawatan inap, mencakup kecemasan, ketakutan, depresi, stres, perasaan tidak aman, kerinduan rumah, kehilangan kontrol, dan perasaan terasing karena lingkungan asing.
Definisi dalam KBBI
Karena "respon emosional terhadap hospitalisasi" bukan istilah resmi dalam KBBI, tidak ada entri langsung. Istilah “hospitalisasi” di KBBI berarti “perawatan di rumah sakit” atau “dirawat di rumah sakit”. Emosi dan respon psikologis sebagai akibat hospitalisasi tidak didefinisikan secara spesifik di KBBI, sehingga definisi umum dan menurut ahli lebih relevan.
Definisi Menurut Para Ahli
-
MG Meentken (2021), dalam studinya menunjukkan bahwa hospitalisasi pada anak sering menyebabkan tingkat stres tinggi, serta risiko PTSD dan depresi. [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]
-
N Alzahrani dkk. (2021), menyatakan bahwa hospitalisasi secara signifikan memperburuk emosi pasien, dengan peningkatan perasaan depresi dan kecemasan. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
I Fiteli (2024), dalam penelitiannya terhadap anak prasekolah, menjelaskan respon negatif seperti kecemasan terhadap perpisahan, kehilangan kontrol, dan ketakutan terhadap cedera/nyeri. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Desi Rizki Rahmnia dkk. (2020), menyebut bahwa anak yang menjalani tindakan invasif saat hospitalisasi menunjukkan kecemasan cukup tinggi, dipengaruhi oleh lingkungan baru, petugas kesehatan, dan kurangnya dukungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
EA Ahmed dkk. (2024), menyatakan bahwa hospitalisasi tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga dapat menimbulkan stres pada keluarga yang mendampingi, akibat keterbatasan waktu, beban emosional, dan kondisi rumah sakit. [Lihat sumber Disini - psychologyjournal.net]
Dengan demikian, respon emosional terhadap hospitalisasi mencakup kumpulan reaksi psikologis, cemas, takut, stres, depresi, perasaan asing/terasing, yang muncul akibat perubahan lingkungan, perawatan medis, dan adaptasi terhadap kondisi sakit.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respon Emosional
Beberapa faktor dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespon secara emosional saat hospitalisasi, antara lain:
-
Usia dan tahap perkembangan kognitif-emosional: Anak, terutama usia prasekolah atau sekolah, lebih rentan terhadap stres karena kapasitas koping mereka belum matang, sehingga ketidakpahaman terhadap proses rumah sakit serta prosedur bisa memicu kecemasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Pengalaman sebelumnya dengan penyakit atau rawat inap: Anak atau pasien yang belum pernah dirawat cenderung mengalami kecemasan lebih tinggi dibanding yang sudah pernah. Studi pada anak usia sekolah menunjukkan tingkat kecemasan sedang hingga tinggi pada mereka tanpa pengalaman hospitalisasi sebelumnya. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Jenis penyakit, tindakan medis, dan prosedur (terutama invasif): Tindakan invasif, prosedur menyakitkan, atau kondisi medis serius meningkatkan rasa takut, kecemasan, dan stres. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Durasi rawat inap dan frequent hospitalizations: Rawat inap berkepanjangan atau berulang dapat memperburuk dampak psikologis, memberikan waktu lebih lama untuk mengalami perasaan terisolasi, kehilangan kontrol, dan stres emosional. [Lihat sumber Disini - scispace.com]
-
Lingkungan rumah sakit, asing, peralatan, suasana, prosedur, interaksi dengan petugas kesehatan: Lingkungan yang dianggap asing, prosedur medis, keberadaan orang asing, dan kebiasaan yang berbeda dapat menjadi stressor kuat. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Dukungan keluarga, teman sebaya, orang tua selama rawat inap: Kurangnya pendampingan, jarangnya kunjungan, atau kecemasan dari orang tua bisa memperparah respon negatif, sedangkan dukungan keluarga bisa membantu coping. [Lihat sumber Disini - oatext.com]
-
Kemampuan koping individu, riwayat psikologis, kepribadian, support system: Individu dengan mekanisme koping lemah atau tanpa dukungan psiko-sosial berisiko lebih besar mengalami stres berat. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
Dampak Hospitalisasi terhadap Pasien Anak & Dewasa
Pada pasien anak:
Hospitalisasi dapat menimbulkan respons psikologis berupa kecemasan, ketakutan, ketidaknyamanan, dan bahkan trauma psikologis jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang dirawat dapat mengalami tingkat stres ringan hingga berat, kehilangan rasa aman, perasaan terasing, dan gangguan perilaku setelah keluar rumah sakit. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Selain itu, jika tidak ditangani dengan baik, terutama tanpa dukungan keluarga/petugas yang memadai, hospitalisasi dapat mengganggu perkembangan psikososial, emosional, dan sosial anak. [Lihat sumber Disini - scispace.com]
Pada pasien dewasa / lansia:
Hospitalisasi juga dapat meningkatkan kecemasan, depresi, bahkan perasaan putus asa, terutama jika rawat inap jangka panjang, lingkungan rumah sakit dianggap tidak menyenangkan, atau pasien merasa kehilangan kontrol atas kondisi tubuh dan masa depannya. [Lihat sumber Disini - irispublishers.com]
Penurunan kemampuan adaptasi, penurunan kesejahteraan mental, dan gangguan kesehatan mental jangka panjang merupakan kemungkinan. [Lihat sumber Disini - irispublishers.com]
Tanda-Tanda Stres dan Ketidaknyamanan
Beberapa tanda umum bahwa pasien mengalami respon emosional negatif selama hospitalisasi:
-
Kecemasan, ketakutan, kekhawatiran (terutama tentang sakit, prosedur, nyeri, cedera) [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Perasaan terasing, homesickness, kerinduan terhadap rumah dan keluarga [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Perilaku menolak makan, rewel, menangis, susah tidur, gelisah, agitasi, kurang kooperatif terhadap perawatan [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Depresi, perasaan putus asa, kesedihan, penurunan mood, kehilangan minat, withdrawal sosial (terutama pada pasien dewasa) [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Untuk anak dalam jangka panjang: gangguan perkembangan emosional, perilaku, kemampuan sosialisasi, rasa aman, dan adaptasi. [Lihat sumber Disini - scispace.com]
Intervensi Keperawatan dalam Mengatasi Respon Emosional
Beberapa intervensi keperawatan dan strategi yang diteliti efektif dalam mengurangi beban emosional selama hospitalisasi:
-
Terapi bermain (therapeutic play / play therapy), terutama untuk anak: membantu mengurangi kecemasan, ketakutan, memberi rasa kontrol dan kenyamanan. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Atraumatic care / pendekatan manusiawi, menciptakan lingkungan aman dan nyaman, menjelaskan prosedur dengan bahasa yang sesuai usia, melibatkan keluarga, menjaga kontak emosional untuk meminimalkan trauma. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukh.ac.id]
-
Dukungan psikososial dan konseling, terutama bagi pasien dewasa, untuk membantu mengatasi kecemasan, depresi, rasa putus asa, dan membantu adaptasi selama dan setelah rawat inap. [Lihat sumber Disini - irispublishers.com]
-
Pelibatan keluarga dan pendampingan terus-menerus, orang tua atau anggota keluarga menemani pasien anak maupun dewasa dapat sangat membantu dalam memberikan rasa aman, mengurangi rasa terasing, dan meningkatkan koping psikologis. [Lihat sumber Disini - oatext.com]
-
Penilaian dan observasi rutin terhadap status emosional, keperawatan perlu memantau gejala stres, kecemasan, perubahan perilaku, tidur, makan, mood, agar intervensi bisa dilakukan sedini mungkin. (Implikasi dari banyak penelitian empiris)
Peran Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Dukungan keluarga serta lingkungan selama hospitalisasi memegang peranan penting dalam memoderasi efek negatif emosional:
-
Kehadiran orang tua / anggota keluarga mendampingi memberi rasa aman, mengurangi kecemasan dan rasa terasing, terutama pada anak. [Lihat sumber Disini - psychologyjournal.net]
-
Lingkungan rumah sakit yang mendukung, ramah anak, fasilitas bermain, ruang keluarga, suasana nyaman, membantu adaptasi dan mengurangi stres. [Lihat sumber Disini - scispace.com]
-
Komunikasi efektif antara petugas kesehatan dengan pasien dan keluarga, menjelaskan prosedur, memberikan informasi, menciptakan kepercayaan, membantu mengurangi ketakutan dan kecemasan. (Berdasarkan rekomendasi dari intervensi keperawatan)
-
Pelibatan orang tua/keluarga dalam program perawatan, perencanaan, support emosional, serta kebijakan kunjungan fleksibel, meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien. [Lihat sumber Disini - psychologyjournal.net]
Contoh Kasus Respon Emosional
Misalnya:
-
Seorang anak prasekolah (4, 5 tahun) yang pertama kali dirawat inap menunjukkan kecemasan tinggi, takut terhadap perpisahan dari orang tua (76, 7 %), kehilangan kontrol (70 %), dan ketakutan terhadap cedera/nyeri (83, 3 %). Setelah rawat inap, anak menjadi rewel, susah tidur, sering bertanya kapan pulang, dan menolak makan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Dalam penelitian terhadap anak usia sekolah (7, 12 tahun) dengan tindakan invasif, sebagian besar menunjukkan kecemasan sedang hingga tinggi, gejala meliputi gelisah, kesulitan tidur, kecemasan kontinu, kurang kooperatif terhadap perawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Sebuah tinjauan literatur pada pasien dewasa menunjukkan bahwa hospitalisasi dapat memicu perasaan depresi, kecemasan, ketidakpastian masa depan, dan penurunan kemampuan adaptasi, pasien merasa kurang kontrol atas kondisi dan masa penyembuhan, merasa terisolasi, dan stres psikis meningkat. [Lihat sumber Disini - irispublishers.com]
Kesimpulan
Respon emosional terhadap hospitalisasi adalah fenomena nyata dan kompleks, melibatkan berbagai reaksi psikologis seperti kecemasan, ketakutan, stres, depresi, perasaan terasing, dan kehilangan kontrol. Faktor yang memengaruhi sangat beragam, usia, jenis penyakit, pengalaman sebelumnya, lingkungan, dukungan keluarga, serta kondisi psikologis dan koping individu. Dampaknya bisa jangka pendek maupun jangka panjang, baik pada anak maupun dewasa, dan dapat mempengaruhi keberhasilan perawatan serta kesejahteraan psikososial. Oleh karena itu, peran keperawatan dan dukungan keluarga/lingkungan sangat penting untuk meminimalkan dampak negatif. Intervensi seperti terapi bermain, pendekatan atraumatik, konseling, dan pendampingan terus-menerus dapat membantu mengurangi stres dan mendukung adaptasi. Pemahaman yang komprehensif tentang aspek emosional selama hospitalisasi harus menjadi bagian integral dari praktik keperawatan dan layanan kesehatan.