
Toxic Positivity: Konsep dan Kritik Psikologis
Pendahuluan
Toxic positivity adalah fenomena psikologis dan sosial yang belakangan ini semakin banyak dibicarakan dalam konteks kesehatan mental, hubungan interpersonal, dan budaya digital. Pada dasarnya, konsep ini menggambarkan suatu sikap atau dorongan yang memaksakan pemikiran positif secara berlebihan pada semua kondisi kehidupan, bahkan di saat individu menghadapi situasi yang sulit atau penuh tekanan emosional. Sikap semacam ini sering kali meminimalkan, menyangkal, atau meremehkan pengalaman emosional negatif yang normal dan wajar dialami manusia. Hal tersebut dapat berujung pada penekanan emosi yang tidak sehat, gangguan regulasi emosional, hingga dampak psikologis yang merugikan. Fenomena ini bukan sekadar ‘optimisme berlebihan’, tetapi sebuah realitas yang dialami banyak orang di dunia nyata, terutama di era media sosial di mana budaya #PositiveVibesOnly sering dipromosikan tanpa ruang bagi ekspresi negatif yang autentik. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Definisi Toxic Positivity
Definisi Toxic Positivity Secara Umum
Toxic positivity adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu bentuk pemikiran atau perilaku di mana individu berusaha mempertahankan sikap positif di segala keadaan secara berlebihan dan tanpa pengecualian, bahkan ketika situasi tersebut secara objektif sulit atau menyakitkan. Fenomena ini mencakup kecenderungan menekan perasaan negatif dengan harapan bahwa semua hal harus dilihat dari sisi baiknya, tanpa memperhitungkan konteks emosional yang sesungguhnya terjadi. Gaya hidup seperti ini bisa menghambat seseorang dalam menghadapi kondisi emosional secara realistis, termasuk dalam proses pengolahan stres, rasa sakit, atau kekecewaan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Toxic Positivity dalam KBBI
KBBI tidak secara langsung mencantumkan istilah “toxic positivity” karena istilah ini lebih banyak muncul dalam literatur psikologi modern berbahasa Inggris. Namun, jika dikaitkan dengan istilah bahasa Indonesia yang paling dekat, konsep ini dapat dipahami sebagai gabungan antara kata positivitas (sikap positif) dan kata racun atau beracun yang menggambarkan sesuatu yang berbahaya bila diterapkan secara berlebihan, yaitu kondisi di mana dorongan berpikir positif berubah menjadi pengabaian terhadap pengalaman emosional negatif yang manusiawi. Istilah ini juga sering diartikan dalam beberapa penelitian sebagai pemaksaan sikap positif sekaligus denial terhadap realitas emosional negatif. [Lihat sumber Disini - fpsi.um.ac.id]
Definisi Toxic Positivity Menurut Para Ahli
Menurut Analis Psikologi Sosial dalam literatur psikologi, toxic positivity mencerminkan pressure to stay upbeat no matter how dire one’s circumstance is, yaitu tekanan untuk mempertahankan sikap ceria tanpa memperhatikan realitas situasional yang ada. Pendekatan ini dapat mencegah individu dari pengalaman penuh terhadap emosi yang wajar seperti kesedihan, amarah, atau frustrasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dalam kajian psikologi kesehatan mental, toxic positivity dipandang sebagai bentuk pengelolaan emosional yang tidak sehat karena menuntut penyangkalan terhadap perasaan negatif yang sebenarnya perlu diproses. [Lihat sumber Disini - sj.eastasouth-institute.com]
Penelitian fenomenologi tentang pengalaman toxic positivity pada hubungan sosial menunjukkan bahwa individu yang mengalami toxic positivity sering kali merasa tertekan untuk menyembunyikan perasaan asli mereka sendiri. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
Menurut studi tentang media sosial dan budaya digital, toxic positivity diperkuat oleh representasi konten yang selalu menampilkan kebahagiaan dan kesempurnaan yang tidak realistis, yang berkontribusi pada tekanan emosional bagi para pengguna. [Lihat sumber Disini - humaniora.ojs.co.id]
Perbedaan Positivitas Sehat dan Toxic Positivity
Positivitas sehat adalah suatu cara berpikir yang menekankan aspek positif dalam kehidupan sambil tetap mengakui adanya aspek negatif. Pendekatan ini memberi ruang bagi pengalaman emosi yang lengkap dan realistis, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan. Dalam positivitas sehat, seseorang menerima emosi negatif sebagai bagian dari proses pertumbuhan dan pembelajaran emosional. Hal ini ditunjang oleh teori psikologi seperti emotional regulation di mana seseorang mengakui, memahami, dan menyampaikan emosi secara sehat tanpa menekannya secara berlebihan. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Sebaliknya, toxic positivity mengharuskan atau mendorong individu untuk terlihat atau merasa baik sepanjang waktu, meskipun situasinya sulit. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada sikap terhadap emosi negatif:
Positivitas Sehat: Mengakui dan memproses emosi negatif; memberi tempat pada emosi yang beragam; melihat sisi positif tanpa menyangkal realitas.
Toxic Positivity: Menekan atau menolak semua emosi negatif; menyamaratakan semua pengalaman sebagai sesuatu yang harus dilihat dari sisi positif saja; mengabaikan konteks emosional. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Perbedaan ini sangat penting karena berdampak langsung pada kesehatan mental seseorang. Positivitas sehat dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghadapi stres, memperkuat hubungan interpersonal, dan mengembangkan resilensi emosional. Sementara toxic positivity justru dapat menyebabkan perasaan tidak valid, kesepian emosional, atau kecemasan karena individu merasa harus selalu mempertahankan citra positif. [Lihat sumber Disini - ijip.in]
Faktor Sosial dan Budaya dalam Toxic Positivity
Budaya sosial dan dinamika lingkungan turut memainkan peran signifikan dalam penyebaran toxic positivity. Dalam konteks masyarakat modern, terutama dengan kehadiran media sosial, sering kali muncul representasi kehidupan yang tampak ideal, selalu ceria, dan tanpa masalah. Konten seperti hashtag #PositiveVibesOnly atau pesan motivasi yang berulang dapat menciptakan tekanan sosial untuk selalu terlihat positif, bahkan dalam situasi yang sangat sulit. Representasi semacam ini sering kali tidak mencerminkan realitas kehidupan, tetapi memberikan tekanan pada individu untuk menyembunyikan atau meremehkan emosi negatif mereka. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Selain itu, norma budaya tertentu yang menghargai kekuatan, ketahanan, atau kewajiban untuk selalu terlihat bahagia dapat turut memperkuat toxic positivity. Dalam budaya di mana emosi negatif dianggap sebagai kelemahan, individu mungkin merasa malu atau takut dihakimi jika menunjukkan ketidakbahagiaan atau stres. Hal tersebut mendorong terjadinya emotional suppression atau penekanan terhadap emosi negatif demi penerimaan sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Peran interaksi sosial juga penting dalam konteks toxic positivity. Misalnya dalam hubungan interpersonal, saat seseorang memberikan pesan-pesan yang mendorong hanya untuk fokus pada hal positif, hal ini bisa tidak mendukung kebutuhan emosional orang yang sedang mengalami kesulitan. Akhirnya, individu bisa merasa disentuh oleh pesan tersebut sebagai bentuk penolakan emosional, bukan dukungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimed.ac.id]
Dampak Toxic Positivity terhadap Emosi Negatif
Toxic positivity memiliki dampak signifikan terhadap emosional dan kesehatan mental seseorang. Ketika emosi negatif ditekan secara terus-menerus demi mempertahankan citra positif, individu tidak diberi ruang untuk memproses pengalaman emosional secara utuh. Penekanan emosi ini dapat menghambat kemampuan seseorang untuk memahami sumber stres, berhubungan dengan orang lain secara otentik, dan mengembangkan keterampilan emotional regulation. [Lihat sumber Disini - ijip.in]
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa toxic positivity dapat menimbulkan atau memperburuk masalah kesehatan mental seperti kecemasan, tekanan emosional, dan kemungkinan burnout apabila individu merasa tidak mampu mengekspresikan perasaan mereka secara jujur. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Dalam konteks hubungan, terlalu banyak pesan positif saja tanpa ruang bagi ekspresi negatif dapat merusak keaslian hubungan interpersonal. Individu mungkin merasa tertekan untuk menyembunyikan perasaan mereka sendiri demi mempertahankan citra hubungan yang ‘sempurna’, sehingga membatasi kedalaman emosional dalam hubungan tersebut. [Lihat sumber Disini - humaniora.ojs.co.id]
Kritik Psikologis terhadap Toxic Positivity
Dalam kajian psikologis, toxic positivity dikritik karena beberapa alasan kunci. Pertama, toxic positivity dianggap sebagai bentuk denial terhadap emosi negatif, yang merupakan bagian alami dari pengalaman manusia. Sikap ini dapat menghambat proses adaptasi emosional yang sehat dan memblokir keterampilan koping yang diperlukan untuk menghadapi stres atau trauma. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kedua, toxic positivity kerap dikaitkan dengan emotional suppression yaitu penekanan terhadap emosi negatif sehingga individu tidak memiliki peluang untuk memproses atau mengungkapkannya secara sehat. Kondisi ini dapat berujung pada peningkatan kecemasan, depresi, atau gangguan psikologis lainnya. [Lihat sumber Disini - ijip.in]
Ketiga, konsepsi positivity mandate yang sering dipromosikan dalam budaya populer sering kali tidak mempertimbangkan konteks sosial dan budaya yang lebih luas, termasuk ketidaksetaraan, trauma lintas generasi, atau kondisi psikososial yang kompleks. Hal ini menimbulkan kritik bahwa toxic positivity tidak hanya berisiko bagi individu, tetapi juga bisa menegaskan standar emosional yang tidak realistis dan tidak adil. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pendekatan Emosi yang Lebih Adaptif
Menghadapi toxic positivity memerlukan pendekatan emosional yang lebih seimbang dan adaptif. Salah satu strategi utama adalah mengembangkan kemampuan emotional regulation yang mencakup pengakuan, pemahaman, dan penerimaan terhadap spektrum penuh emosi, termasuk yang negatif. Alih-alih menekan atau menolak emosi yang dirasakan, individu diajak untuk mengalami dan memprosesnya secara sehat. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Pendekatan adaptif juga mencakup keterampilan empati dan komunikasi yang sehat dalam hubungan interpersonal. Ini berarti memberi ruang bagi orang lain untuk mengekspresikan emosi mereka tanpa mencoba memaksa pesan positif yang sekadar meremehkan pengalaman mereka. Secara sosial, membangun kultur yang menghargai keterbukaan emosional dapat membantu mengurangi tekanan yang berasal dari norma toxic positivity. [Lihat sumber Disini - feb.ugm.ac.id]
Dalam psikoterapi atau konseling, profesional sering mendorong klien untuk mengeksplorasi dan memahami emosi mereka secara bertahap, bukan menutupinya dengan sikap optimis yang tidak realistis. Kesadaran emosional yang diperkuat dapat membantu individu dalam menghadapi tantangan secara lebih adaptif dan membangun kesejahteraan psikologis jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ijip.in]
Kesimpulan
Toxic positivity adalah fenomena psikologis dan sosial yang menekankan pemikiran positif secara berlebihan dan tanpa pengecualian, sehingga mengabaikan atau meremehkan emosi negatif yang normal dialami manusia. Berbeda dari positivitas sehat yang memberi ruang bagi spektrum penuh emosi, toxic positivity dapat menekan pengalaman emosional yang penting untuk perkembangan psikologis dan kesehatan mental yang baik. Faktor sosial seperti budaya media sosial dan norma budaya yang menghargai citra selalu positif turut memperkuat fenomena ini. Secara psikologis, toxic positivity dikritik karena menolak validasi pengalaman emosional autentik dan berpotensi memperburuk kondisi mental serta hubungan interpersonal. Pendekatan adaptif yang lebih seimbang dalam mengakui dan memproses emosi, termasuk emosi negatif, merupakan salah satu cara yang lebih sehat dalam menghadapi tantangan emosional kehidupan.