
Mother-Infant Bonding
Pendahuluan
Pentingnya ikatan emosional antara ibu dan bayi (mother-infant bonding) sejak masa kehamilan, kelahiran, dan periode awal kehidupan bayi telah banyak diteliti oleh para ahli. Ikatan ini bukan sekadar kedekatan fisik, melainkan fondasi emosional dan psikologis yang berpotensi memengaruhi perkembangan anak jangka panjang, mulai dari rasa aman, keterikatan emosional, hingga kemampuan sosial dan kognitif. Oleh karena itu, memahami definisi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta peran praktik seperti kontak kulit dan menyusui terhadap bonding sangat penting bagi orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Artikel ini akan membahas secara mendalam konsep bonding ibu-bayi, faktor yang mempengaruhi, peran kontak fisik dan menyusui, hambatan serta peran lingkungan keluarga, dan dampaknya terhadap perkembangan bayi.
Definisi Mother-Infant Bonding
Definisi Secara Umum
Secara umum, “mother-infant bonding” menggambarkan proses terbentuknya ikatan emosional antara ibu dan bayinya, ikatan batin yang menciptakan rasa aman, nyaman, dan kedekatan emosional. Ikatan ini berkembang melalui interaksi, perhatian, dan respons emosional ibu terhadap kebutuhan bayi (seperti menangis, lapar, rasa tidak nyaman). Ikatan ini memungkinkan bayi merasa aman dan membantu membangun fondasi kepercayaan awal terhadap lingkungan. [Lihat sumber Disini - morulaivf.co.id]
Definisi dalam KBBI
Istilah “bonding” seperti itu mungkin belum secara eksplisit muncul di KBBI sebagai “mother-infant bonding”. Namun secara istilah “ikatan ibu-bayi” dalam literatur Indonesia sering dipahami sebagai “ikatan kasih sayang dan keterikatan batin antara ibu dan bayi”, yaitu hubungan emosional timbal balik yang terbangun sejak dini. Misalnya, literatur kesehatan dan kebidanan menyebut “bonding attachment” sebagai ikatan batin dan kasih sayang antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut definisi bonding/attachment menurut beberapa peneliti/ahli:
-
Menurut Widiyawati (dalam tinjauan teori “Bounding Attachment”), bounding attachment adalah ikatan antara ibu dan bayi pada masa neonatus, dalam bentuk kasih sayang dan belaian. Ini bukan proses instan atau “magis”, melainkan perkembangan hubungan emosional yang terus berjalan selama waktu, bahkan seumur hidup setelah kelahiran. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Menurut hasil tinjauan literatur dalam artikel “Interaksi Ibu, Bayi: A Literature Review” (2025), interaksi dan bonding ibu-bayi melibatkan aspek emosional, perilaku, dan kognitif; bonding dipahami sebagai perasaan psikologis ibu yang terhubung dengan bayi, termasuk rasa cinta, perhatian, dan respons terhadap bayi. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suska.ac.id]
-
Dalam studi kuantitatif korelasi antara bonding dan inisiasi menyusui dini (IMD) di tahun 2021, bonding dihitung melalui skala tertentu (Mother Infant Bonding Scale, MIBS), menunjukkan bahwa bonding merupakan proses sejak kehamilan sampai setelah persalinan, mempengaruhi keputusan dan kualitas IMD. [Lihat sumber Disini - library.fk.ui.ac.id]
-
Dalam konteks praktik kebidanan, “bonding attachment” didefinisikan sebagai hubungan kasih sayang dan pemenuhan emosional antara ibu dan bayi, yang dibangun melalui interaksi intens, kontak fisik, dan perawatan neonatal awal. [Lihat sumber Disini - ejurnal.biges.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Bonding
Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan bonding ibu dan bayi:
-
Pengetahuan ibu: Ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang bonding attachment sejak masa nifas cenderung lebih mampu melaksanakan bonding secara optimal. Dalam penelitian di UPT Puskesmas Sawah Kabupaten Kampar ditemukan bahwa pengetahuan ibu nifas berkorelasi signifikan dengan pelaksanaan bonding attachment. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
-
Dukungan keluarga/lingkungan: Dukungan emosional, informasi, dan instrumental (seperti membantu perawatan bayi atau mendampingi ibu) dari suami atau keluarga besar sangat berpengaruh. Sebuah penelitian pada ibu remaja menunjukkan bahwa semakin baik dukungan keluarga, semakin kuat ikatan tali kasih ibu-bayi. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
-
Kondisi psikologis ibu: Ibu yang lelah, stres, atau mengalami postpartum distress (misalnya baby blues / depresi pascapersalinan) seringkali sulit menjalin ikatan batin dengan bayi. Dalam studi tentang bonding pada ibu dan bayi baru lahir disebut bahwa kesehatan emosional ibu menjadi faktor penentu dalam keberhasilan bonding. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Metode persalinan dan intervensi neonatal awal: Praktik persalinan dan perawatan awal setelah lahir, apakah memungkinkan kontak kulit (skin-to-skin), apakah bayi segera dilakukan IMD, dan apakah ibu diberi kesempatan untuk bonding sejak menit awal, memengaruhi kualitas bonding. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukwms.ac.id]
-
Karakteristik bayi: Faktor seperti temperamen bayi (misalnya bayi susah, rewel, atau kondisi medis tertentu) dapat memengaruhi kemampuan interaksi dan bonding. Dalam penelitian pada ibu remaja, temperamen bayi yang sulit menjadi salah satu variabel yang diperhatikan sebagai penghambat bonding. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
Peran Kontak Kulit dalam Pembentukan Ikatan
Kontak kulit langsung antara ibu dan bayi segera setelah persalinan adalah salah satu praktik kunci dalam membentuk bonding awal. Banyak penelitian mendukung hal ini:
-
Studi tentang efek kontak kulit (skin-to-skin contact, SSC) menunjukkan bahwa SSC segera setelah lahir memberikan banyak manfaat untuk memulai menyusui, stabilisasi fisiologis bayi (suhu tubuh, detak jantung), dan meningkatkan kenyamanan bayi, kondisi ini mendukung terbentuknya bonding lebih kuat antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Dalam penelitian di RS atau fasilitas persalinan di Indonesia, praktik bonding attachment melalui SSC dan IMD terbukti efektif dalam meningkatkan keterikatan emosional ibu-bayi. Misalnya, di PMB Entik, quasi-eksperimen menunjukkan bahwa ibu yang melakukan bonding attachment via IMD memiliki skor bonding lebih baik dibandingkan yang tidak. [Lihat sumber Disini - jik.stikesalifah.ac.id]
-
Kontak kulit membantu bayi merasa aman, bayi dapat merasakan kehangatan, detak jantung ibu, dan kenyamanan fisik yang mendekatkan secara emosional; ini membantu pembentukan rasa aman dan kelekatan awal. [Lihat sumber Disini - morulaivf.co.id]
Dampak Menyusui terhadap Bonding
Menyusui memainkan peran penting dalam memperkuat bonding ibu-bayi, bukan hanya dari sudut nutrisi, tetapi juga dari aspek emosional dan psikologis:
-
Proses menyusui membantu produksi hormon seperti oksitosin, yang dikenal dapat meningkatkan rasa kasih sayang, ikatan emosional, serta perasaan nyaman bagi ibu dan bayi, faktor yang mendukung bonding. [Lihat sumber Disini - morulaivf.co.id]
-
Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan inisiasi menyusui dini (IMD) berkorelasi dengan bonding attachment ibu-bayi. Sebuah studi di 2024 (yaitu di Kabupaten Tabanan) menunjukkan bahwa IMD secara signifikan meningkatkan bonding attachment (p = 0, 001). [Lihat sumber Disini - saripediatri.org]
-
Hubungan antara kedekatan emosional/ bonding dan kualitas ASI eksklusif juga ditemukan: bonding yang kuat berkorelasi dengan keberhasilan dan kualitas pemberian ASI eksklusif. Sebuah studi di Medan (2024) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara emotional bonding dan kualitas ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Selain itu, proses menyusui memberikan peluang interaksi intensif, sentuhan, tatapan, suara ibu, yang memperkuat ikatan batin dan rasa aman dalam diri bayi. [Lihat sumber Disini - morulaivf.co.id]
Hambatan dalam Proses Bonding
Meski bonding sangat penting, tidak selalu prosesnya mulus. Beberapa hambatan yang sering ditemui:
-
Kurangnya pengetahuan ibu: Ibu nifas yang belum mendapat edukasi atau informasi cukup tentang pentingnya bonding attachment, IMD, atau kontak dini mungkin tidak melaksanakan praktik bonding dengan optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
-
Dukungan keluarga minim: Tanpa dukungan emosional atau instrumental dari suami/keluarga, ibu bisa kewalahan mengurus bayi sehingga bonding terganggu. Penelitian pada ibu remaja menunjukkan dukungan keluarga sangat menentukan ikatan kasih ibu-bayi. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
-
Kondisi psikologis atau fisik ibu: Fatigue, stres pascapersalinan, atau bahkan trauma, seperti pada kasus tertentu (misalnya ibu korban kekerasan), bisa menghambat rasa nyaman untuk bonding. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Hambatan prosedural di fasilitas persalinan: Jika persalinan dilakukan secara caesar tanpa memperhatikan protokol SSC atau IMD, bayi bisa kehilangan kesempatan bonding dini. Penelitian menunjukkan bahwa sectio caesarea dapat menyulitkan pelaksanaan skin-to-skin contact awal. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukwms.ac.id]
-
Faktor bayi (temperamen, kondisi kesehatan): Bayi yang sulit, rewel, atau memerlukan perawatan khusus dapat membuat proses bonding jadi lebih menantang. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
Peran Ayah dan Lingkungan Keluarga
Bonding bukan hanya tugas ibu, lingkungan keluarga, terutama ayah dan anggota keluarga lain, punya peran besar:
-
Dukungan emosional, informasi, dan instrumental dari suami/keluarga membantu ibu dalam masa nifas dan perawatan bayi, dengan dukungan baik, bonding ibu-bayi bisa lebih optimal. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
-
Lingkungan keluarga yang kondusif, penuh rasa aman dan perhatian terhadap bayi, membantu terciptanya ikatan batin yang stabil dan suportif bagi bayi. [Lihat sumber Disini - journal.ummat.ac.id]
-
Selain itu, interaksi antara bayi dengan anggota keluarga lain juga bisa memperkaya lingkungan emosional bayi, mendukung perkembangan sosial-emosional bayi secara lebih luas. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Dampak Bonding terhadap Perkembangan Bayi
Bonding yang kuat sejak awal kehidupan bayi memiliki sejumlah dampak positif bagi perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kognitif bayi:
-
Memberi rasa aman bagi bayi, bayi merasa dilindungi, nyaman, dan percaya bahwa lingkungannya responsif terhadap kebutuhannya. Hal ini menjadi fondasi rasa percaya diri dan keamanan emosional pada masa mendatang. [Lihat sumber Disini - morulaivf.co.id]
-
Mendukung keberhasilan menyusui dan ASI eksklusif, bonding berperan dalam keberhasilan IMD dan kelanjutan menyusui, yang berdampak pada kesehatan fisik bayi (tumbuh kembang, imunitas, nutrisi optimal). [Lihat sumber Disini - saripediatri.org]
-
Membantu perkembangan psikologis dan kognitif bayi, lewat interaksi emosional, stimulasi, dan rutinitas kasih sayang, bayi bisa tumbuh dengan rasa aman, kelekatan emosional sehat, dan potensi perkembangan maksimal. [Lihat sumber Disini - journal.ummat.ac.id]
-
Mencegah dampak negatif terkait pengabaian atau kurangnya perhatian, bayi yang gagal mendapatkan bonding bisa menunjukkan reaksi seperti kecemasan, ketidakamanan, atau masalah perkembangan emosi/lingkungan di masa depan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.biges.ac.id]
Kesimpulan
Mother-infant bonding adalah proses penting dan fundamental dalam kehidupan awal manusia, sebuah ikatan emosional antara ibu dan bayi yang terbentuk melalui interaksi, perhatian, kontak fisik, dan praktik perawatan awal. Bonding tidak muncul otomatis; banyak faktor yang mempengaruhi, mulai dari pengetahuan dan kondisi ibu, dukungan keluarga, metode persalinan dan perawatan neonatal, hingga karakteristik bayi. Praktik seperti kontak kulit (skin-to-skin) dan menyusui, terutama inisiasi menyusui dini (IMD), memainkan peran sentral dalam memperkuat bonding. Di sisi lain, hambatan seperti kurangnya dukungan, kondisi psikologis ibu, atau prosedur persalinan yang kurang mendukung bisa mengganggu proses bonding.
Bonding yang kuat membawa dampak positif besar: memastikan bayi merasa aman, mendukung tumbuh kembang fisik, emosional, dan kognitif, serta memperkuat kualitas hubungan jangka panjang antara anak dan orang tua. Oleh karena itu, penting bagi ibu, ayah, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk memahami, mendukung, dan menerapkan praktik-praktik yang mendukung bonding sejak masa kehamilan, kelahiran, dan periode neonatal.