Terakhir diperbarui: 16 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 16 November). Premis dan Konklusi: Definisi dan Contoh Penarikan Kesimpulan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/premis-dan-konklusi-definisi-dan-contoh-penarikan-kesimpulan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Premis dan Konklusi: Definisi dan Contoh Penarikan Kesimpulan - SumberAjar.com

Premis dan Konklusi: Definisi dan Contoh Penarikan Kesimpulan

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah ilmiah, kita sering dihadapkan pada situasi di mana dari beberapa pernyataan atau fakta ditarik sebuah kesimpulan. Contoh sederhana: “Semua manusia akan meninggal. Saya seorang manusia. Maka saya akan meninggal.” Pernyataan semacam itu memuat dua bagian penting,yaitu dasar atau alasan (yang disebut premis) dan hasil dari alasan tersebut (yang disebut konklusi). Pemahaman yang jelas tentang apa itu premis dan konklusi, bagaimana hubungan keduanya bekerja dalam logika atau penalaran, serta bagaimana penarikan kesimpulan dilakukan, menjadi sangat penting terutama bagi siapapun yang ingin berpikir secara kritis, sistematis, dan valid. Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian premis dan konklusi: mulai dari definisi secara umum, definisi dalam KBBI (atau kamus bahasa Indonesia), definisi menurut para ahli, hingga kemudian mengeksplorasi contoh-penarikan kesimpulan, jenis-jenis, serta implikasi dan kesalahan yang mungkin terjadi. Dengan demikian diharapkan pembaca mendapatkan fondasi yang kuat untuk mengenali struktur argumen, menganalisis validitasnya, dan menerapkannya dalam berbagai konteks akademik maupun praktis.


Definisi Premis dan Konklusi

Definisi Premis dan Konklusi Secara Umum

Secara umum, premis dapat dipahami sebagai pernyataan atau proposisi yang diajukan sebagai dasar atau alasan untuk menarik suatu kesimpulan. Dalam sebuah argumen atau alasan logis, premis-premis itulah yang mendahului dan menjadi landasan bagi kesimpulan yang akan diambil. Sebaliknya, konklusi (atau kesimpulan) adalah pernyataan baru yang ditarik berdasarkan premis-premis tersebut. Jadi secara garis besar bisa dikatakan: premis adalah titik awal argumentasi, sedangkan konklusi adalah titik akhirnya.
Misalnya: “Semua burung bisa terbang. Elang adalah burung. Oleh karena itu, elang bisa terbang.” Dalam contoh ini dua pernyataan pertama adalah premis, dan pernyataan terakhir adalah konklusi.
Pemahaman umum ini cocok untuk konteks sehari-hari dan pengantar logika dasar: premis sebagai alasan, konklusi sebagai hasil. Sebagai tambahan, proses yang menghubungkan premis dan konklusi disebut penalaran atau inferensi: yaitu aktivitas berpikir yang menarik kesimpulan dari premis yang diketahui atau diasumsikan. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Penting juga dicatat bahwa meskipun secara umum premis mendahului konklusi, kualitas argumen sangat bergantung pada dua aspek utama: ke-benaran (atau ke-andalan) premis dan validitas bentuk/logika argumen yang menghubungkan premis ke konklusi. Jika salah satu aspek itu terganggu, maka kesimpulan bisa jadi tidak sah atau tidak meyakinkan.

Definisi Premis dan Konklusi dalam KBBI

Berdasarkan sumber kamus bahasa Indonesia, pengertian premis dapat ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai “pernyataan mengenai apa yang dianggap benar sebagai dasar penarikan kesimpulan; dasar pemikiran; alasan.” Untuk konklusi (atau kesimpulan) secara literal berarti pernyataan akhir yang ditarik sebagai hasil pemikiran atau argumentasi. Misalnya dalam sebuah artikel disebut: “Dalam logika, keterangannya disebut premis, sedangkan keterangan yang diturunkannya disebut kesimpulan.” [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Dengan demikian, definisi KBBI menegaskan dua hal: bahwa premis adalah landasan pemikiran, dan bahwa konklusi adalah hasil dari pemikiran itu. Karena itu, secara bahasa kita bisa memahami bahwa dalam susunan argumen yang baik, premis harus lebih dulu, baru konklusi muncul sebagai akibat atau tanggapan dari premis.

Definisi Premis dan Konklusi Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa definisi menurut para ahli yang relevan:

  1. Menurut R. G. Soekadijo dalam konteks silogisme, “proposisi yang menjadi dasar penyimpulan disebut premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut konklusi (consequence)”. [Lihat sumber Disini - tajdid.uinjambi.ac.id]
  2. Menurut Suwardi Endaswara (mengutip Muhtar) bahwa dalam logika, penalaran adalah proses berpikir di mana premis-premis menjadi landasan dan konklusi adalah hasilnya. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
  3. Menurut M. H. Hidayatullah (dalam penelitian tentang penalaran) bahwa: “Penalaran adalah proses berpikir yang melibatkan logika untuk sampai pada kesimpulan atau pernyataan baru berdasarkan pada beberapa pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar yang disebut premis.” [Lihat sumber Disini - repo-dosen.ulm.ac.id]
  4. Menurut Y. Gardenia (2022) bahwa: “Penarikan kesimpulan tentang validasi argumen dinamakan logika deduktif, dimana nilai kebenaran kesimpulan harus mengikuti kebenaran premis‐premisnya.” [Lihat sumber Disini - eprints.universitassuryadarma.ac.id]
  5. Menurut artikel oleh S. Ishak (2023) yang menekankan bahwa dalam logika deduktif, premis-premis dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor, sementara kesimpulan merupakan pengetahuan yang diperoleh dari kedua premis tersebut. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisai.ac.id]
    Berdasarkan berbagai definisi di atas, kita dapat merumuskan bahwa:

Premis = proposisi yang diajukan sebagai landasan untuk menarik kesimpulan.
Konklusi (kesimpulan) = proposisi yang ditarik kemudian sebagai hasil dari premis-premis.
Serta bahwa proses penarikan ini harus memenuhi kaidah logika agar kesimpulan dapat dianggap valid atau sah.


Penarikan Kesimpulan: Proses, Jenis, dan Contoh

Proses Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan (inferensi) adalah proses berpikir yang menghubungkan premis-premis dengan kesimpulan. Proses ini dapat dilakukan secara deduktif maupun induktif.

  • Penalaran deduktif bergerak dari pernyataan umum ke pernyataan khusus. Bila semua premis benar dan argumen valid, maka kesimpulan harus benar. Sebagai contoh silogisme klasik:
    “Semua manusia makhluk hidup. Socrates manusia. Maka Socrates makhluk hidup.”
    Dalam logika deduktif, kebenaran premis memastikan kebenaran kesimpulan,namun validitas bentuk argumentasi tetap harus diperhatikan. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
  • Penalaran induktif bergerak dari pernyataan khusus ke pernyataan umum. Hasilnya bersifat probabilistik, bukan pasti. Misalnya: “Banyak angsa yang saya amati berwarna putih. Maka semua angsa berwarna putih.” Meskipun premis-premis benar, kesimpulan bisa saja salah. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
    Proses penarikan kesimpulan yang baik mensyaratkan: premis relevan dan benar (atau setidaknya dapat dipercaya), hubungan logis antara premis dan kesimpulan, dan kesimpulan diambil secara sistematis sesuai kaidah logika.

Jenis-Jenis Penarikan Kesimpulan

Berikut beberapa jenis atau pola penarikan kesimpulan yang umum dalam argumen logis:

  • Silogisme kategorik: terdiri dari dua premis (mayor + minor) dan satu kesimpulan. Contoh: “Semua pahlawan orang berjasa. Kartini pahlawan. Maka Kartini orang berjasa.” [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]
  • Modus ponens: bentuk “Jika P maka Q. P. Maka Q.” Contoh: “Jika hujan turun maka tanah basah. Hujan turun. Maka tanah basah.” [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Modus tollens: bentuk “Jika P maka Q. ~Q. Maka ~P.” Contoh: “Jika mesin rusak maka mobil tidak bergerak. Mobil bergerak. Maka mesin tidak rusak.” [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  • Induksi generalisasi: dari fakta khusus ke kesimpulan umum. Contoh: “Banyak siswa di kelas A lulus. Maka kemungkinan besar semua siswa di kelas A lulus.” [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]
  • Analogi: menarik kesimpulan berdasarkan persamaan antar kasus. Contoh: “Tim A berlatih tiap hari dan berhasil menang. Tim B berlatih tiap hari. Maka tim B akan berhasil menang juga (meskipun ini hanya analogi).” [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]
    Jenis-jenis ini membantu memahami bagaimana struktur argumen dibangun dan bagaimana kesimpulan dihasilkan.

Contoh Penarikan Kesimpulan

Berikut beberapa contoh yang lebih konkret agar pemahaman lebih tajam:

Contoh 1 – Deduktif (silogisme):
Premis mayor: Semua pekerja industri harus mematuhi prosedur keselamatan kerja.
Premis minor: Budi adalah pekerja industri.
Kesimpulan: Maka Budi harus mematuhi prosedur keselamatan kerja.
Dalam kondisi premis benar dan argumen valid, maka kesimpulan sah.

Contoh 2 – Induktif (generalisasi):
Premis: Dalam survei terhadap 100 pelanggan, 90 % menyatakan puas.
Kesimpulan: Maka kemungkinan besar mayoritas pelanggan akan puas.
Kesimpulan ini bersifat probabilistik, bukan mutlak.

Contoh 3 – Analogi:
Premis: Perangkat lunak A dengan fitur X dan Y berhasil digunakan di perusahaan besar.
Premis: Perangkat lunak B juga memiliki fitur X dan Y.
Kesimpulan: Maka perangkat lunak B kemungkinan juga berhasil digunakan di perusahaan besar.
Hasilnya hanya dugaan kuat, bukan kepastian logis.


Validitas dan Kesalahan yang Umum Terjadi

Kita harus waspada bahwa tidak semua kesimpulan layak diterima,ada dua aspek yang penting: kebenaran premis dan validitas struktur argumen. Misalnya, jika premis salah, maka meskipun struktur bagus, kesimpulan bisa salah. Atau, jika premis benar tapi struktur argumen cacat, maka kesimpulan bisa tidak sah.
Beberapa kesalahan umum: generalisasi terburu-buru (mengambil kesimpulan umum dari sedikit data), post hoc (mengasumsikan sebab-akibat tanpa bukti cukup), menggunakan analogi yang tidak relevan, serta silogisme dengan term tengah yang tidak tepat sehingga kesimpulan invalid. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Dalam ranah penelitian ilmiah, penarikan kesimpulan juga harus memperhatikan bahwa premis yang digunakan memang benar atau setidak-nya dapat dipertanggung-jawabkan, dan bahwa proses penalaran dilakukan secara sistematis agar hasilnya dapat dibenarkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.pancabudi.ac.id]


Implikasi dan Relevansi dalam Berpikir Akademik dan Praktis

Pemahaman mengenai premis dan konklusi mempunyai implikasi luas,baik dalam penulisan akademik, penelitian, argumentasi publik, maupun dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Berikut beberapa poin relevansi:

  • Dalam penulisan akademik (essai, makalah, skripsi, laporan), penulis harus menyusun argumen dengan jelas: premis apa yang digunakan, dan kesimpulan apa yang akan ditarik. Struktur yang baik membantu pembaca mengikuti logika argumen dan mengevaluasi kekuatan argumen.
  • Dalam penelitian, peneliti harus memastikan bahwa data (premis) yang dikumpulkan valid, relevan, dan cukup untuk menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus sesuai dengan data dan metode yang digunakan, serta diakui dalam konteks keilmuan.
  • Dalam kehidupan praktis seperti pengambilan keputusan atau debat publik, mengenali struktur premis-konklusi membantu seseorang membaca argumen orang lain: apakah premisnya jelas dan benar, apakah hubungannya ke kesimpulan logis, apakah ada kesalahan logika.
  • Dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengenali premis dan konklusi memungkinkan kita menolak argumen yang lemah atau menyusun argumen yang lebih meyakinkan.
    Dengan demikian, pemahaman ini bukan semata teori logika, tetapi sangat fungsional.

Kesimpulan

Sebagai penutup, dapat dirangkum beberapa poin kunci:

  1. Premis adalah proposisi atau pernyataan yang diajukan sebagai dasar atau alasan dalam suatu argumen; konklusi adalah proposisi yang ditarik sebagai hasil dari premis-premis tersebut.
  2. Berdasarkan definisi KBBI dan para ahli, hubungan antara premis dan konklusi merupakan inti dari proses penalaran logis (inferensi).
  3. Penarikan kesimpulan dapat dilakukan melalui dua jalur utama: deduktif (dari umum ke khusus) dan induktif (dari khusus ke umum), serta dapat menggunakan pola-pola seperti silogisme, modus ponens, analogi.
  4. Validitas argumen tidak hanya bergantung pada benar atau tidaknya premis, namun juga pada kebenaran struktur logika yang menghubungkan premis dan konklusi. Error dalam kedua aspek itu dapat merusak kesimpulan.
  5. Pemahaman mengenai premis dan konklusi sangat berguna dalam berbagai konteks: akademik, penelitian, debat, serta kehidupan sehari-hari. Dengan memahami struktur premis-konklusi, kita dapat berpikir lebih kritis, menilai argumen secara lebih baik, dan menyusun argumen yang lebih kokoh.
    Dengan demikian, bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas berpikir, menulis, dan berargumentasi, memahami premis dan konklusi adalah langkah dasar yang tidak boleh diabaikan.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Premis adalah pernyataan atau proposisi yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan dalam suatu argumen. Premis dapat berupa fakta, asumsi, atau pernyataan yang dianggap benar.

Konklusi adalah hasil atau kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang telah disusun sebelumnya. Konklusi menjadi pernyataan akhir yang muncul setelah proses penalaran dilakukan.

Perbedaannya terletak pada fungsi: premis adalah dasar atau alasan yang digunakan untuk membangun argumen, sedangkan konklusi adalah pernyataan baru yang dihasilkan dari premis tersebut.

Contoh: Premis 1: Semua burung memiliki sayap. Premis 2: Elang adalah burung. Konklusi: Elang memiliki sayap. Contoh ini menggambarkan struktur dasar penalaran deduktif.

Pemahaman premis dan konklusi penting karena menentukan validitas dan kekuatan argumen dalam penelitian. Kesimpulan yang baik harus ditarik dari premis yang benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Prinsip Inferensi dalam Penarikan Kesimpulan Prinsip Inferensi dalam Penarikan Kesimpulan Deduksi: Definisi, Karakteristik, dan Contoh dalam Penalaran beserta sumber [PDF] Deduksi: Definisi, Karakteristik, dan Contoh dalam Penalaran beserta sumber [PDF] Inferensi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penalaran Inferensi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penalaran Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Prinsip Konsistensi dalam Penalaran Akademik Prinsip Konsistensi dalam Penalaran Akademik Teknik Penarikan Kesimpulan dalam Analisis Data Teknik Penarikan Kesimpulan dalam Analisis Data Pendekatan Deduktif dan Induktif dalam Proses Berpikir Ilmiah Pendekatan Deduktif dan Induktif dalam Proses Berpikir Ilmiah Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh Deduktif dan Induktif: Perbedaan, Ciri, dan Contoh dalam Penalaran Deduktif dan Induktif: Perbedaan, Ciri, dan Contoh dalam Penalaran Prinsip Deduksi dan Abduksi dalam Proses Penalaran Prinsip Deduksi dan Abduksi dalam Proses Penalaran Logika Deduktif dan Induktif dalam Penelitian Logika Deduktif dan Induktif dalam Penelitian Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh Logika Analitik dalam Kajian Riset Logika Analitik dalam Kajian Riset Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Pendidikan Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Pendidikan Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sosial Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sosial Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sains Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sains
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…