Terakhir diperbarui: 15 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 15 November). Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/argument-logis-ciri-jenis-dan-contohnya-dalam-kajian-ilmiah  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah - SumberAjar.com

Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah

Pendahuluan

Argumen logis merupakan elemen penting dalam penulisan dan penyajian penelitian ilmiah. Dalam konteks kajian ilmiah, bukan sekadar menyampaikan fakta atau opini, melainkan menyusun rangkaian alasan yang koheren, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Dengan semakin kompleksnya akses informasi dan meningkatnya tuntutan kualitas akademik, kemampuan untuk membangun argumentasi yang logis dan sistematis menjadi sangat krusial bagi peneliti, akademisi, maupun mahasiswa. Penelitian‐terkini menunjukkan bahwa pemikiran ilmiah yang kritis sangat tergantung pada kerangka logis yang digunakan dalam menyusun argumen. [Lihat sumber Disini - jurnal.ulb.ac.id]
Di sisi lain, pengabaian aspek logis dalam argumentasi dapat menyebabkan kesalahan penalaran, pengambilan kesimpulan yang tidak valid, atau bahkan penerimaan argumen yang tidak berdasar. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stpkat.ac.id]
Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara mendalam: definisi argument logis (secara umum, dalam KBBI, dan menurut para ahli), kemudian ciri-ciri argument logis dalam kajian ilmiah, jenis-jenisnya, serta contoh konkret penerapan dalam konteks penelitian ilmiah. Tujuannya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang kuat,bukan hanya secara teoretis, tetapi juga aplikatif,tentang bagaimana membangun argumen yang logis dan sahih dalam kajian ilmiah.


Definisi Argument Logis

Definisi Argument Logis Secara Umum

Secara umum, “argument” atau argumen dipahami sebagai rangkaian pernyataan yang digunakan untuk mendukung atau menolak suatu klaim atau pendapat. Seperti dinyatakan dalam salah satu kajian, argumen adalah “karangan yang berupaya memberikan alasan untuk menguatkan atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.” [Lihat sumber Disini - journal.aspirasi.or.id]
Dalam konteks “logis”, kata ini menunjuk pada proses berpikir yang masuk akal, konsisten, dan koheren, bukan berdasarkan emosi semata atau asumsi yang tidak diuji. Sebagai contoh, penelitian menyatakan bahwa berpikir logis melibatkan penggunaan aturan dan prinsip yang bermakna untuk membentuk argumen yang masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stpkat.ac.id]
Sehingga, jika digabungkan: argument logis dapat dimaknai sebagai argumen yang disusun secara sistematis dan rasional, dengan dukungan premis yang relevan dan kesimpulan yang mengikuti secara wajar dari premis tersebut.

Definisi Argument Logis dalam KBBI

Menurut Pusat Bahasa Kemdikbud / Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata logis berarti “masuk akal; rasional”. Sementara argumen adalah “alasannya atau penjelasannya tentang suatu pendapat atau pendirian”. (Catatan: KBBI daring dapat diverifikasi di situs resmi.)
Dengan demikian, menurut KBBI, argument logis berarti pendirian atau pendapat yang disertai alasan yang masuk akal atau rasional.
Catatan: Saya tidak menemukan definisi tunggal “argument logis” secara spesifik dalam KBBI yang membedakan dengan “argumentasi” atau “argument” dalam konteks ilmiah,namun kombinasi kedua istilah di atas secara umum dapat diterima.

Definisi Argument Logis Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi menurut para ahli yang relevan dalam kajian ilmiah dan logika/argumentasi:

  1. K. Sobur menyebut dalam konteks logika dan penalaran bahwa logika adalah alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti (premis). [Lihat sumber Disini - tajdid.uinjambi.ac.id]
  2. Aceng Hasani dikutip dalam kajian bahwa argumentasi adalah “sejenis karangan yang berusaha logika adalah membangun sebuah sistem cara atau metode dan prinsip-prinsip yang dapat digunakan sebagai kriteria ketika mengevaluasi argumen yang dilontarkan oleh orang lain maupun menuntun kita mengonstruksikan argumen kita sendiri.” [Lihat sumber Disini - ejurnal.stpkat.ac.id]
  3. Wahyu Sukma Ginanjar et al., dalam pembahasan argumentasi ilmiah, menyebut bahwa “argumentasi ilmiah adalah proses berpikir logis dan terstruktur yang bertujuan untuk mendukung atau menolak suatu klaim berdasarkan bukti empiris dan penalaran yang rasional.” [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
  4. Karimatul Zuraidah dalam penelitiannya menyebut bahwa “penalaran logis merupakan proses berpikir yang dilakukan oleh seseorang dalam upaya menarik suatu kesimpulan dengan memberikan argumen‐argumen logis”. [Lihat sumber Disini - digilib.uinsa.ac.id]

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa argument logis dalam kajian ilmiah adalah: rangkaian argumentasi yang disusun secara sistematis dan rasional, di mana premis-premis didukung oleh bukti atau data yang relevan, dan kesimpulan yang ditarik sesuai dengan aturan penalaran yang sahih.


Ciri-Ciri Argument Logis dalam Kajian Ilmiah

Dalam konteks kajian ilmiah,yang menuntut validitas, reliabilitas, dan akuntabilitas,argument logis memiliki ciri-ciri yang khas. Berikut uraian lengkapnya:

  1. Premis yang Jelas dan Relevan
    Argumen logis diawali dengan premis atau dasar penalaran yang jelas, terdefinisi, dan relevan terhadap topik atau isu yang dibahas. Premis ini harus didukung oleh data empiris atau bukti literatur yang kredibel. Tanpa premis yang jelas, argumen akan kehilangan fondasi logisnya.
  2. Keterkaitan antara Alasan dan Kesimpulan (Koherensi)
    Hubungan antara alasan (premis) dan kesimpulan harus terjalin secara koheren sehingga kesimpulan benar-benar mengikuti secara wajar dari premis. Logika mengharuskan bahwa jika premis benar dan penalaran benar, maka kesimpulan juga harus benar (untuk penalaran deduktif) atau paling tidak sangat mungkin benar (untuk penalaran induktif). Sebagai landasan, prinsip identitas, kontradiksi, dan eksklusi tengah dapat dijadikan acuan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stpkat.ac.id]
    Contoh: Jika premis A dan B benar, maka logis jika kesimpulan C muncul sebagai implikasi dari A dan B.
  3. Penggunaan Bukti atau Data yang Valid
    Dalam kajian ilmiah, argumen logis tidak cukup hanya dengan pernyataan subjektif; harus ada bukti yang mendukung , baik berupa hasil penelitian, data empiris, atau literatur yang relevan. Hal ini membedakan argumentasi ilmiah dari argumentasi sehari-hari yang hanya mungkin bersifat opini.
  4. Bahasa yang Objektif, Tidak Emosional Berlebihan
    Argumen logis menggunakan bahasa yang objektif, rasional, dan terhindar dari retorika emosional yang berlebihan. Menurut artikel tentang struktur teks argumentasi, salah satu cirinya adalah: “unsur subjektif dan emosional sangat dibatasi (hampir tidak ada)”. [Lihat sumber Disini - journal.aspirasi.or.id]
  5. Menghindari Kekeliruan Penalaran (Fallacy) dan Bias
    Argumen logis harus bebas dari kesalahan logika (logical fallacy) seperti generalisasi yang berlebihan, argumen ad hominem, circular reasoning, dan lainnya. Artikel-kajian terkini juga menunjukkan pentingnya mengenali kesalahan logika dalam silogisme dan argumentasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stiq-kepri.ac.id]
  6. Struktur yang Sistematis
    Argumen logis dalam kajian ilmiah biasanya mengikuti struktur yang runtut: pengenalan masalah → pemaparan premis/alasan → bukti/data → analisis → kesimpulan. Pembentukan kerangka logis ini membantu pembaca mengikuti alur pemikiran dan memahami bagaimana kesimpulan sampai.
  7. Kemungkinan Verifikasi dan Replikasi
    Karena bagian dari kajian ilmiah, argumen logis harus memungkinkan untuk diperiksa ulang,baik oleh peneliti lain atau pembaca akademik. Hal ini mensyaratkan transparansi dalam penyajian data, metode penalaran, dan referensi yang digunakan.

Dengan memahami dan menerapkan ciri-ciri di atas, seorang peneliti atau penulis ilmiah akan dapat membangun argumen yang bukan hanya “masuk akal”, tetapi juga memiliki bobot ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.


Jenis‐Jenis Argument Logis dalam Kajian Ilmiah

Dalam kajian ilmiah, terdapat beberapa jenis atau bentuk argumentasi logis yang umum digunakan. Berikut uraian lengkap jenisnya, beserta contoh singkat untuk masing-masing jenis:

1. Argumen Deduktif

Argumen deduktif adalah jenis argumentasi di mana kesimpulan ditarik dari premis-premis yang bersifat umum atau universal ke pernyataan yang lebih khusus. Jika premis benar dan penalaran valid, maka kesimpulan pasti benar. Sebagaimana dijelaskan dalam kajian logika klasik: “Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis‐premisnya.” [Lihat sumber Disini - tajdid.uinjambi.ac.id]
Contoh:
Premis 1: Semua sel manusia memerlukan oksigen.
Premis 2: Sel otak manusia adalah sel manusia.
Kesimpulan: Oleh karena itu, sel otak manusia memerlukan oksigen.
Dalam penelitian ilmiah, argumen deduktif dapat muncul ketika peneliti menyimpulkan hipotesis berdasarkan teori umum yang telah mapan.

2. Argumen Induktif

Argumen induktif adalah argumen yang menyimpulkan dari beberapa kasus khusus menuju pernyataan yang lebih umum atau probabilistik. Kesimpulan dalam argumen ini tidak bersifat pasti mutlak, melainkan kemungkinan atau probabilitas tinggi. Seperti dijelaskan: “Induksi adalah suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.” [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]
Contoh:
Observasi: Dalam lima eksperimen berbeda, zat X menurunkan tekanan darah subjek.
Kesimpulan: Mungkin zat X efektif menurunkan tekanan darah → Bisa diuji lebih lanjut.
Dalam kajian ilmiah, argumen induktif lazim dalam tahap penyusunan generalisasi dari data empiris sebelum diuji secara eksperimental.

3. Argumen Analogis

Argumen analogis menyusun kesimpulan berdasarkan kemiripan antara dua situasi atau objek. Walaupun tidak sebesar deduksi, analogi masih memiliki bobot logis jika kemiripan yang dibandingkan signifikan. Misalnya, jika penelitian pada spesies A menunjukkan hasil positif, maka spesies B yang sangat mirip mungkin bereaksi serupa.
Walau demikian, argumen analogis harus diterima dengan kehati-hatian, karena kemiripan tidak menjamin identitas semua faktor. Kajian bentuk argumen logis dalam hukum juga menyoroti analogi sebagai salah satu jenis penalaran. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

4. Argumen Kombinasi (Deduktif + Induktif)

Dalam banyak penelitian ilmiah, argumen logis tidak murni deduktif atau induktif, tetapi kombinasi keduanya. Sebagai contoh: teori umum diarahkan ke hipotesis (deduktif), kemudian data dikumpulkan dan digeneralisasi (induktif), lalu kembali ke teori atau pernyataan umum yang diperbarui. Model ini mendukung kerangka berpikir ilmiah yang dinamis. Kajian menunjukkan bahwa berpikir ilmiah tingkat tinggi melibatkan penggabungan logika induktif dan deduktif. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]

5. Argumen Kausal atau Sebab-Akibat

Argumen jenis ini menyimpulkan bahwa suatu peristiwa atau kondisi (efek) terjadi karena suatu sebab. Penalaran sebab-akibat harus didukung data empiris yang menunjukkan hubungan atau korelasi yang signifikan dan mekanisme yang masuk akal. Dalam argumen ilmiah, sering digunakan untuk menjelaskan fenomena atau implikasi penelitian.

6. Argumen Evaluatif atau Normatif

Dalam kajian ilmiah terutama sosial/humaniora, argumen logis juga dapat bersifat evaluatif,mengajukan klaim mengenai nilai, norma atau kebijakan,dan mendukung evaluasi tersebut dengan bukti empiris serta penalaran logis. Misalnya: “Program X lebih efektif dibandingkan program Y karena data menunjukkan … dan prinsip …”.

7. Argumen Berbasis Bukti (Evidence-Based Argumentation)

Jenis ini sangat relevan dalam penelitian ilmiah modern: argumen yang secara eksplisit menghubungkan klaim, bukti/data, dan justifikasi (warrant). Contohnya dalam pendidikan sains: argumentasi ilmiah yang baik menurut beberapa peneliti “terdiri atas klaim (claim), bukti (evidence) dan pertimbangan (justification)”. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Dalam kerangka ilmiah, jenis ini sering dianggap sebagai standar argumen yang kuat karena transparan dalam struktur logisnya.

Dengan mengenali jenis-jenis argumen ini, peneliti atau penulis artikel ilmiah dapat memilih dan mengembangkan bentuk argumentasi yang paling tepat sesuai tujuan penelitian atau kajiannya.


Contoh Penerapan Argument Logis dalam Kajian Ilmiah

Untuk memperjelas bagaimana jenis-jenis argument logis di atas diterapkan dalam konteks kajian ilmiah, berikut beberapa contoh skematis:

  1. Contoh Argumen Deduktif
    Penelitian: “Hipotesis bahwa pembelajaran berbasis masalah meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.”
    Logika: Teori umum menyebut bahwa aktivitas metakognitif akan meningkatkan keterampilan berpikir kritis → Maka jika metode pembelajaran diberi elemen metakognisi (sebagai pembelajaran berbasis masalah), maka keterampilan berpikir kritis siswa akan meningkat.
    Kesimpulan berdasarkan data eksperimen: Setelah penerapan pembelajaran berbasis masalah selama 8 minggu, skor keterampilan berpikir kritis meningkat secara signifikan dibanding kontrol.
    Argumen logis: Jika A (metakognisi) ⇒ B (peningkatan kritis), dan penerapan A dilakukan, maka wajar jika muncul B.
  2. Contoh Argumen Induktif
    Penelitian: “Analisis beberapa studi kasus efek penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran IPA.”
    Observasi: Dalam 5 studi berbeda ditemukan peningkatan motivasi dan pemahaman konsep oleh siswa yang menggunakan AR.
    Kesimpulan: Oleh karena itu, penggunaan AR mungkin efektif untuk pembelajaran IPA secara umum.
    Argumen logis: Dari sejumlah kasus khusus ke generalisasi yang bersifat probabilistik.
  3. Contoh Argumen Analogis
    Penelitian: “Pemanfaatan gamifikasi dalam kursus daring matematika untuk mahasiswa.”
    Logika analogis: Karena gamifikasi terbukti meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kursus daring berbahasa Inggris (studi A), maka dengan kondisi yang serupa, gamifikasi kemungkinan akan meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kursus daring matematika.
    Argumen logis: Memanfaatkan kemiripan situasi (kursus daring, keterlibatan mahasiswa) untuk mengambil kesimpulan.
  4. Contoh Argumen Evidence-Based
    Penelitian publikasi: “Evaluasi efektivitas intervensi sehari-hari terhadap kebiasaan membaca siswa.”
    Klaim: Intervensi A meningkatkan frekuensi membaca siswa.
    Bukti: Data survei, tes pra- dan pasca-intervensi menunjukkan peningkatan signifikan.
    Justifikasi: Berdasarkan teori motivasi belajar dan literatur yang relevan, peningkatan terjadi karena …
    Kesimpulan logis: Berdasarkan bukti dan teori, intervensi A terbukti efektif dan layak diterapkan lebih luas.
  5. Contoh Argumen Kausal
    Penelitian: “Hubungan stres kerja guru dengan kualitas pembelajaran.”
    Argumen: Data menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres guru maka semakin rendah skor kualitas pembelajaran yang dilaporkan siswa. Peneliti kemudian mengajukan bahwa stres kerja guru menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran melalui mekanisme X (misalnya: kelelahan, kurang persiapan mengajar).
    Argumen logis: Sebab → Akibat dengan bukti empiris yang mendukung.

Dengan menyediakan contoh-contoh di atas, pembaca atau peneliti dapat mengadaptasi format argumentasi logis sesuai jenis penelitian dan konteks disiplin ilmunya.


Kesimpulan

Dalam rangka memperkuat kualitas tulisan dan penelitian ilmiah, pemahaman terhadap argumen logis,mulai dari definisinya, ciri-ciri, jenis-jenisnya, hingga penerapan praktis,menjadi sangat penting. Berikut poin-ringkasannya:

  • Argumen logis adalah rangkaian argumentasi yang disusun secara sistematis dan rasional, dengan premis yang relevan serta kesimpulan yang mengikuti secara wajar.
  • Ciri-ciri utama argumen logis dalam kajian ilmiah meliputi: premis jelas, koherensi antara alasan dan kesimpulan, bukti/data valid, bahasa objektif, struktur sistematis, dan bebas dari kesalahan logika.
  • Jenis-jenis argumen logis (deduktif, induktif, analogis, kombinasi, kausal, evaluatif, evidence-based) memberikan kerangka yang fleksibel bagi peneliti untuk membangun argumentasi sesuai kebutuhan penelitian.
  • Penerapan konkret argumentasi logis dalam penelitian ilmiah membantu meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan kelayakan argumen yang diajukan.
    Dengan demikian, bagi peneliti atau penulis ilmiah, menguasai seni membangun argumentasi logis bukanlah sekadar kebutuhan teknis, melainkan fondasi utama untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya, dikritisi, dan dikembangkan lebih lanjut.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Argument logis adalah penalaran yang disusun secara rasional, sistematis, dan berbasis bukti untuk mendukung atau menolak suatu klaim dalam kajian ilmiah.

Ciri-ciri argument logis meliputi premis yang jelas, hubungan alasan dan kesimpulan yang koheren, penggunaan bukti valid, bahasa objektif, struktur sistematis, serta bebas dari kekeliruan penalaran.

Jenis-jenis argument logis meliputi argument deduktif, argument induktif, argument analogis, argument kausal, argument evaluatif, argument kombinasi, dan argument berbasis bukti.

Argument logis penting karena memastikan penalaran yang digunakan dalam penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terhindar dari bias, dan menghasilkan kesimpulan yang valid.

Contoh argument logis dapat berupa penalaran deduktif dalam menyusun hipotesis berdasarkan teori, penalaran induktif dari data observasi ke generalisasi, atau argument berbasis bukti yang menghubungkan klaim dengan data penelitian.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh Jenis Penelitian: Klasifikasi, Ciri, dan Contoh Jenis Penelitian: Klasifikasi, Ciri, dan Contoh Ciri-Ciri Penelitian Eksperimen yang Perlu Kamu Ketahui Ciri-Ciri Penelitian Eksperimen yang Perlu Kamu Ketahui Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Prinsip Keilmuan: Pengertian, Ciri, dan Contoh Prinsip Keilmuan: Pengertian, Ciri, dan Contoh Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Rasionalitas Akademik dan Penerapannya dalam Riset Rasionalitas Akademik dan Penerapannya dalam Riset Argumentatif: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Penulisan Ilmiah Argumentatif: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Penulisan Ilmiah Deduktif dan Induktif: Perbedaan, Ciri, dan Contoh dalam Penalaran Deduktif dan Induktif: Perbedaan, Ciri, dan Contoh dalam Penalaran Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Analisis Naratif: Ciri dan Contoh Penggunaan Analisis Naratif: Ciri dan Contoh Penggunaan Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Prinsip Inferensi dalam Penarikan Kesimpulan Prinsip Inferensi dalam Penarikan Kesimpulan Deduksi: Definisi, Karakteristik, dan Contoh dalam Penalaran beserta sumber [PDF] Deduksi: Definisi, Karakteristik, dan Contoh dalam Penalaran beserta sumber [PDF] Narasi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Narasi: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Wawancara Mendalam: Ciri, Fungsi, dan Contoh Wawancara Mendalam: Ciri, Fungsi, dan Contoh Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…