Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/logika-formal-dalam-argumentasi-penelitian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian - SumberAjar.com

Logika Formal dalam Argumentasi Penelitian

Pendahuluan

Dalam setiap penelitian ilmiah, penyusunan argumen yang kuat dan logis menjadi fondasi utama agar temuan dan kesimpulan dapat diterima dengan baik. Di sinilah Logika Formal berperan krusial: sebagai kerangka teoretis yang membantu membedakan argumen valid dari yang lemah atau keliru. Artikel ini membahas pengertian logika formal, unsur-unsurnya, bentuk argumen, penerapan silogisme, potensi kesalahan logis, serta perannya dalam penulisan akademik; dan menutup dengan contoh argumentasi penelitian berdasarkan logika formal. Tujuannya untuk memperjelas bagaimana logika formal mendasari argumentasi ilmiah agar berlandaskan pada struktur penalaran yang benar.


Definisi Logika Formal

Definisi Logika Formal Secara Umum

Logika formal dapat dimaknai sebagai cabang logika yang mempelajari bagaimana suatu kesimpulan (konklusi) diturunkan secara sah, artinya, struktur argumen itu dirancang sedemikian rupa sehingga jika premis premisnya benar, maka konklusinya tidak mungkin salah. Logika formal fokus pada bentuk (struktur) argumen, bukan pada konten tertentu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Sebagai “ilmu penalaran yang benar dan sistematis, ” logika formal berusaha memastikan bahwa penalaran manusia, terutama dalam konteks ilmiah, bersifat konsisten, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.insuriponorogo.ac.id]

Definisi Logika Formal dalam KBBI

Menurut definisi umum logika, seperti dijelaskan dalam literatur bahasa/filosofi, logika adalah ilmu yang membahas kaidah berpikir, asas-asas, dan metode atau prosedur dalam mencapai kebenaran melalui penalaran. [Lihat sumber Disini - tajdid.uinjambi.ac.id]

Dengan demikian, logika formal dapat dipahami sebagai bagian dari logika yang menekankan aspek formalitas (struktur) dalam berpikir, yaitu penalaran yang sistematis dan rasional, bukan semata-mata ungkapan opini atau retorika.

Definisi Logika Formal Menurut Para Ahli

Para ahli dalam kajian logika dan filsafat ilmu memberikan definisi serta penekanan yang sedikit berbeda, namun tetap mengacu pada aspek struktur dan validitas. Beberapa pendapat sebagai berikut:

  • Menurut sumber dari Universitas Muhammadiyah (2023), logika formal dibagi menjadi logika tradisional (klasik) dan logika modern (logika simbolik). Logika formal memungkinkan analisis struktur argumen secara abstrak tanpa bergantung pada konten spesifik. [Lihat sumber Disini - repository.um.ac.id]

  • Dalam kajian “SILOGISME ARISTOTELES: FONDASI LOGIKA FORMAL DALAM PEMIKIRAN FILSAFAT” dinyatakan bahwa logika formal, terutama melalui metode silogisme Aristoteles, memanfaatkan premis mayor, premis minor, serta istilah-istilah seperti subjek, predikat, dan istilah tengah untuk menghasilkan kesimpulan logis. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.unisda.ac.id]

  • Kajian dalam konteks penalaran ilmiah menekankan bahwa logika formal menjadi dasar dalam merumuskan premis dan kesimpulan secara konsisten, sehingga argumentasi dalam penelitian bersifat sah dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. [Lihat sumber Disini - ejournal.insuriponorogo.ac.id]

  • Dalam literatur pendidikan dan penulisan ilmiah, logika formal bersama dengan penalaran deduktif dijelaskan sebagai alat untuk menarik kesimpulan spesifik dari premis umum, yang sangat relevan dalam struktur argumen penelitian. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa logika formal adalah pendekatan dalam berpikir/berargumentasi yang menekankan struktur, konsistensi, validitas, dan objektivitas, aspek yang sangat penting dalam penelitian ilmiah.


Unsur Dasar Logika Formal (Premis, Konklusi, Validitas)

Dalam logika formal, argumen dibangun atas tiga unsur dasar: premis, konklusi, dan validitas, yang secara bersama-sama menentukan kekuatan dan kesahihan argumen.

Premis

Premis merupakan pernyataan dasar atau proposisi yang menjadi landasan argumen. Dalam argumen deduktif, umumnya terdapat dua premis: premis mayor dan premis minor. Premis mayor biasanya menyatakan generalisasi atau prinsip umum, sedangkan premis minor menyatakan kasus atau kondisi spesifik. Jika kedua premis diterima sebagai benar, maka konklusi dapat ditarik secara logis. [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]

Konklusi

Konklusi (kesimpulan) adalah pernyataan yang diturunkan dari premis-premis. Dalam logika formal, konklusi valid hanya dapat ditarik jika struktur argumen benar serta premis-premis mendukung secara logis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Validitas

Validitas adalah karakteristik argumen di mana secara struktural, jika premis-premisnya benar maka konklusinya tidak mungkin salah. Penting untuk dicatat bahwa validitas hanya menyangkut struktur, bukan kebenaran premis. Jadi argumen bisa valid meski premisnya salah, asalkan bentuk logisnya tepat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Selain validitas, dalam konteks penelitian, idealnya argumen juga “sound”, yaitu premis-premisnya benar dalam kenyataan, sehingga konklusinya tidak hanya valid secara struktural tetapi juga benar secara substansi.


Bentuk-Bentuk Argumen dalam Penelitian

Dalam praktik penelitian akademik, argumen bisa dibangun melalui berbagai bentuk penalaran, terutama deduktif dan induktif, tergantung sifat data dan tujuan penarikan kesimpulan.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif bergerak dari premis umum ke kesimpulan khusus. Bila premis benar dan struktur logis dijaga, maka kesimpulan akan sahih. Bentuk ini sangat cocok untuk penelitian teoritis, analisis konseptual, atau ketika ingin menguji teori terhadap kasus spesifik. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Penalaran Induktif (dan Kombinasi Deduktif-Induktif)

Selain deduktif, penelitian sering menggunakan penalaran induktif, yaitu menarik generalisasi berdasarkan pengamatan atau data spesifik. Meskipun demikian, argumen induktif tidak menjamin kesimpulan mutlak seperti deduktif; melainkan bersifat probabilistik atau umum berdasarkan pola. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Seringkali, kombinasi deduktif dan induktif dibutuhkan: teori atau premis (deduktif) diuji dengan data/observasi (induktif) untuk menghasilkan argumen dan kesimpulan yang lebih komprehensif dan kuat. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Penggunaan Silogisme dalam Analisis Ilmiah

Salah satu metode klasik dalam logika formal, dan sering digunakan sebagai kerangka argumen dalam penelitian, adalah Silogisme.

Silogisme adalah bentuk penalaran deduktif di mana dua premis (premis mayor dan premis minor) digabungkan untuk menghasilkan konklusi. Pendekatan ini telah digunakan sejak zaman kuno (oleh Aristoteles) dan masih relevan dalam tradisi logika formal modern. [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]

Dalam silogisme klasik, ada istilah-istilah seperti “subjek”, “predikat”, dan “term tengah” yang menyusun premis-premis. Misalnya: premis mayor menyebut subjek & term tengah; premis minor menyebut term tengah & predikat; lalu konklusi menggabungkan subjek dan predikat. Struktur semacam ini memungkinkan kesimpulan logis jika premis benar dan bentuk dijaga. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.unisda.ac.id]

Dalam konteks penelitian, silogisme membantu memformulasikan argumen dengan tegas dan sistematis, misalnya ketika menjelaskan teori dasar (premis mayor), menyatakan kondisi atau temuan khusus (premis minor), lalu menarik implikasi atau kesimpulan (konklusi).


Kesalahan Logis (Logical Fallacies)

Meskipun logika formal bertujuan pada argumentasi sah, ada potensi kesalahan logis, yaitu struktur argumen yang cacat sehingga konklusi tidak dapat dibenarkan meskipun premis tampak benar. Kesalahan ini dikenal sebagai fallacies (kekeliruan logis). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Fallacies bisa bersifat formal (kesalahan struktur) atau informal (kesalahan dalam konten, asumsi, relevansi, atau penggunaan bahasa). Dalam penelitian akademik, fallacies formal, seperti menyimpulkan tanpa premis yang memadai, mengabaikan validitas, atau menarik generalisasi berlebihan, harus sangat dihindari. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Ketidakpahaman terhadap prinsip logika sering menyebabkan argumen lemah, bias, atau bahkan keliru, yang pada akhirnya merusak kredibilitas penelitian. Karena itu, peneliti perlu mewaspadai dan memeriksa struktur argumen mereka secara kritis.


Peran Logika Formal dalam Penyusunan Argumen Akademik

Logika formal memegang peran strategis dalam penelitian akademik melalui beberapa aspek berikut:

  • Menjamin konsistensi dan kejelasan argumen: Dengan struktur logis yang jelas (premis, konklusi), pembaca dapat mengikuti alur pemikiran secara sistematis, meminimalkan ambiguitas dan interpretasi subjektif.

  • Meningkatkan validitas dan kredibilitas: Argumen yang berbasis logika formal lebih mudah dipertanggungjawabkan; terutama ketika digunakan untuk mendukung hipotesis atau temuan penelitian.

  • Membantu penalaran kritis dan evaluasi bukti: Dengan memahami logika formal, peneliti mampu mengevaluasi apakah suatu klaim, data, atau teori mendukung kesimpulan secara logis, dan mengenali kelemahan atau asumsi tersembunyi.

  • Sebagai fondasi metodologis dalam penelitian ilmiah: Dalam kerangka epistemologi, logika formal menjadi bagian dari struktur penalaran ilmiah, mendasari bagaimana pengetahuan disusun, diuji, dan disimpulkan. [Lihat sumber Disini - library.instiperjogja.ac.id]

  • Memfasilitasi penyusunan argumen yang koheren dan sistematis dalam tulisan akademik: Baik dalam tinjauan teori, analisis data, maupun diskusi hasil, logika formal membantu menyusun argumen yang teratur dan mudah dipahami.


Contoh Argumentasi Penelitian Berdasarkan Logika Formal

Untuk memperjelas bagaimana logika formal diterapkan dalam penelitian, berikut contoh sederhana argumentasi penelitian menggunakan struktur premis, konklusi (silogisme deduktif):

  • Premis mayor: Semua teori yang dibangun berdasarkan kerangka logis dan metode sistematis cenderung menghasilkan kesimpulan yang valid.

  • Premis minor: Penelitian ini menggunakan kerangka logis formal dan metode sistematis dalam analisis data.

  • Konklusi: Oleh karena itu, kesimpulan dalam penelitian ini cenderung valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh ini menunjukkan bahwa jika kita mendasarkan penelitian pada logika formal (struktur, metodologi, konsistensi), maka argumen dan kesimpulan yang dihasilkan memiliki landasan rasional dan logis, sesuai dengan prinsip logika formal.


Kesimpulan

Logika formal merupakan fondasi utama dalam membangun argumentasi penelitian yang sah, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui penggunaan premis, konklusi, dan struktur yang valid (seperti silogisme), peneliti dapat menyusun argumen yang kuat, rasional, dan bebas dari kekeliruan logis. Selain itu, kombinasi antara penalaran deduktif dan induktif memungkinkan fleksibilitas dalam mendekati permasalahan penelitian, baik dari sudut teori maupun empiris. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan logika formal sangat penting dalam setiap tahap penelitian, dari perumusan hipotesis, analisis data, hingga penarikan kesimpulan.

Dengan demikian, logika formal bukan sekadar teori abstrak: melainkan alat praktis dan esensial dalam memastikan bahwa penelitian akademik tidak hanya menarik dan terstruktur, tetapi juga kredibel dan ilmiah.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Logika formal adalah cabang logika yang menekankan struktur atau bentuk argumen untuk menentukan apakah suatu konklusi valid berdasarkan premis-premisnya. Fokusnya bukan pada isi argumen, tetapi pada susunan dan hubungan antar elemen penalaran.

Dalam penelitian, logika formal memastikan bahwa argumen disusun secara sistematis, konsisten, serta dapat dipertanggungjawabkan. Dengan logika formal, peneliti dapat menarik kesimpulan yang valid dan menghindari kekeliruan penalaran.

Tiga unsur dasar logika formal adalah premis, konklusi, dan validitas. Premis adalah pernyataan dasar, konklusi adalah hasil penalaran, dan validitas menunjukkan apakah struktur argumen memungkinkan konklusi benar jika premis benar.

Silogisme adalah bentuk penalaran deduktif yang terdiri dari premis mayor, premis minor, dan konklusi. Struktur ini digunakan untuk menarik kesimpulan secara logis berdasarkan dua proposisi yang saling berkaitan.

Kesalahan logis adalah kekeliruan dalam struktur atau proses penalaran yang menyebabkan argumen menjadi tidak valid. Contohnya antara lain generalisasi berlebihan, argumentum ad hominem, dan kesalahan sebab-akibat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Argumentasi Induktif: Ciri dan Aplikasinya Logika Analitik dalam Kajian Riset Logika Analitik dalam Kajian Riset Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Teknologi Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Teknologi Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh Logika Formal: Pengertian, Jenis, dan Contoh Argumentasi: Pengertian, Struktur, dan Contoh dalam Ilmiah Argumentasi: Pengertian, Struktur, dan Contoh dalam Ilmiah Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Argumentasi Deduktif: Struktur dan Contohnya Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya dalam Ilmiah Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya dalam Ilmiah Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sosial Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sosial Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sains Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Sains Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Pendidikan Logika: Pengertian, Jenis, dan Contohnya di bidang Pendidikan Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Argument Logis: Ciri, Jenis, dan Contohnya dalam Kajian Ilmiah Pendekatan Deduktif dan Induktif dalam Proses Berpikir Ilmiah Pendekatan Deduktif dan Induktif dalam Proses Berpikir Ilmiah Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Prinsip Rasionalitas Ilmiah dalam Penalaran Akademik Prinsip Rasionalitas Ilmiah dalam Penalaran Akademik Logika Deduktif dan Induktif dalam Penelitian Logika Deduktif dan Induktif dalam Penelitian Argumentatif: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Penulisan Ilmiah Argumentatif: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Penulisan Ilmiah Prinsip Konsistensi dalam Penalaran Akademik Prinsip Konsistensi dalam Penalaran Akademik Premis dan Konklusi: Definisi dan Contoh Penarikan Kesimpulan Premis dan Konklusi: Definisi dan Contoh Penarikan Kesimpulan Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penalaran Logis: Pengertian, Jenis, dan Contoh
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…