Terakhir diperbarui: 09 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 9 December). Psikologi Ibu Hamil Trimester Ketiga. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/psikologi-ibu-hamil-trimester-ketiga  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Psikologi Ibu Hamil Trimester Ketiga - SumberAjar.com

Psikologi Ibu Hamil Trimester Ketiga

Pendahuluan

Kehamilan adalah periode penting yang tidak hanya membawa perubahan fisik bagi calon ibu, tetapi juga perubahan psikologis yang signifikan. Terutama pada trimester ketiga, ketika usia kehamilan memasuki tahap akhir, banyak ibu mengalami berbagai perasaan, pikiran, dan kekhawatiran jelang persalinan. Kondisi psikologis ibu pada fase ini berperan besar dalam kesehatan ibu dan janin, kesiapan persalinan, serta hasil kehamilan. Oleh karena itu penting untuk memahami aspek psikologis ibu hamil trimester ketiga secara mendalam: perubahan emosional, faktor stres, dukungan lingkungan, kebutuhan psikologis, peran tenaga kesehatan, hingga dampaknya terhadap janin. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi aspek-aspek tersebut berdasarkan literatur ilmiah.


Definisi Psikologi Ibu Hamil Trimester Ketiga

Definisi Secara Umum

“Psikologi ibu hamil trimester ketiga” mengacu pada kondisi psikologis (emosi, pikiran, stres, kecemasan, ketenangan batin, kesiapan mental) yang dialami seorang ibu ketika kehamilan telah memasuki periode trimester ketiga (sekitar bulan ke-7 sampai ke-9 kehamilan). Pada fase ini, ibu hamil tidak hanya bersiap secara fisik untuk persalinan, tetapi juga mengalami adaptasi psikologis terhadap perubahan tubuh, harapan, ketakutan, dan anticipasi lahirnya bayi.

Definisi dalam KBBI

Secara terminologi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “psikologi” berarti ilmu yang mempelajari jiwa dan perilaku manusia. Kombinasi dengan “ibu hamil trimester ketiga” merujuk pada aspek jiwa, yaitu proses mental, perasaan, dan kondisi emosional, ibu pada tahap akhir kehamilan. Dengan demikian, definisi dari sudut KBBI: “kondisi jiwa dan perilaku seorang wanita saat hamil pada trimester ketiga.”

Definisi Menurut Para Ahli

Beberapa kajian dan literatur kebidanan / psikologi kehamilan mendefinisikan aspek psikologis pada kehamilan lanjutan sebagai berikut:

  • Menurut penelitian “Description of Anxiety Levels among Third-Trimester Pregnant Women” (2025), trimester ketiga seringkali diiringi kecemasan terkait persalinan, yang dapat mempengaruhi kondisi mental ibu secara signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.uniqhba.ac.id]

  • Dalam kajian “Effects of Stress During Pregnancy on Maternal and Fetal Health: A Systematic Review” (2024), stres dan kecemasan prenatal terutama pada trimester tiga dijelaskan sebagai faktor yang bisa mempengaruhi hasil kehamilan serta perkembangan janin. [Lihat sumber Disini - advancesinresearch.id]

  • Kajian di Indonesia menunjukkan bahwa kombinasi keluhan fisik (misalnya ketidaknyamanan tubuh, nyeri, perubahan hormon) dan perubahan hormon kehamilan dapat menyebabkan perubahan psikologis, emosi berubah, mood labil, kemunculan stres atau kecemasan. [Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com]

  • Literatur pendidikan kebidanan menekankan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis ibu sebagai komponen integral dari asuhan kehamilan, bukan hanya aspek fisik, karena dampaknya bisa luas bagi ibu dan janin. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]

Dengan demikian, psikologi ibu hamil trimester ketiga mencakup kondisi mental dan emosional yang kompleks, dipengaruhi oleh hormon, fisik, persepsi, kecemasan terhadap persalinan, serta dukungan lingkungan.


Perubahan Emosional pada Trimester Akhir

Pada trimester ketiga, banyak ibu hamil melaporkan perubahan emosi yang cukup signifikan. Beberapa perubahan umum yang tercatat dalam penelitian:

Perubahan emosional ini merupakan respons adaptif terhadap kombinasi perubahan hormon, fisik, harapan, dan ketidakpastian terkait persalinan. Namun bila tidak dikelola dengan baik, bisa mengarah pada stres berkepanjangan atau kecemasan kronis.


Faktor Stres dan Kekhawatiran Menjelang Persalinan

Beberapa faktor umum yang menjadi pemicu stres dan kekhawatiran ibu pada trimester ketiga:

  • Ketidaknyamanan atau keluhan fisik, seperti nyeri tubuh, sulit tidur, pembengkakan, pegal. Penelitian di Puskesmas Sidomulyo (2025) melaporkan bahwa keluhan fisik pada ibu hamil trimester III berkorelasi signifikan dengan meningkatnya tingkat stres. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kekhawatiran terhadap proses persalinan: rasa takut terhadap nyeri persalinan, komplikasi, keamanan ibu dan bayi, metode persalinan, dan outcome kelahiran. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]

  • Kurangnya pengetahuan atau misunderstanding tentang proses persalinan dan persiapan, ibu dengan informasi minim lebih rentan terhadap kecemasan. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]

  • Kurangnya dukungan sosial, baik dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan. Dukungan suami/family terbukti berpengaruh terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester III. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

  • Tekanan sosial-ekonomi, kekhawatiran biaya, akses kesehatan, serta perubahan gaya hidup dan peran (siap menjadi ibu, tanggung jawab baru). Dalam tinjauan sistematik 2024, stres prenatal tidak hanya berasal dari faktor psikologis dan fisik, tetapi juga dari kondisi sosial ekonomi. [Lihat sumber Disini - advancesinresearch.id]

Faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi, misalnya, ketidaknyamanan fisik memperkuat kecemasan tentang persalinan, sementara kurangnya dukungan memperparah stres.


Pengaruh Dukungan Suami terhadap Kesehatan Mental

Dukungan dari pasangan (suami) dan keluarga menjadi kunci penting untuk menjaga stabilitas psikologis ibu hamil, terutama di trimester ketiga:

  • Sebuah penelitian di Sleman (2024) menemukan bahwa ada hubungan signifikan antara dukungan suami dengan kecemasan pada ibu hamil trimester III, semakin kuat dukungan suami, semakin rendah tingkat kecemasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

  • Ketika dukungan suami dan keluarga rendah, ibu punya kecenderungan lebih tinggi terhadap kecemasan, ketakutan, dan stres berlebihan menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]

  • Dukungan suami bisa berwujud emosional (perhatian, pengertian), informatif (memberi penjelasan, membantu persiapan), dan praktis (membantu aktivitas sehari-hari, persiapan persalinan). Kombinasi ini membantu menurunkan distress, meningkatkan rasa aman, dan kesiapan mental ibu. Banyak literatur menyarankan agar asuhan prenatal memasukkan edukasi untuk suami dan keluarga tentang pentingnya dukungan psikis. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]

Sehingga dukungan suami bukan sekadar “pelengkap”, melainkan bagian integral dari kesehatan mental ibu hamil, yang dapat berpengaruh pada hasil kehamilan.


Kebutuhan Psikologis Ibu Trimester Ketiga

Ibu hamil di trimester tiga memiliki beberapa kebutuhan psikologis penting:

  • Rasa aman dan tenang, tentang persalinan, kesehatan janin, kondisi fisik, dan dukungan keluarga.

  • Informasi yang benar, jelas, dan memadai mengenai persalinan, proses persalinan, risiko, persiapan, perawatan, agar kekhawatiran dapat diminimalkan.

  • Dukungan emosional dan sosial, dari pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, teman, untuk mengurangi stres, kecemasan, dan beban mental.

  • Kesenjangan antara asuhan fisik dan aspek psikologis: banyak layanan antenatal fokus pada aspek medis/fisik, tapi kurang memberi ruang pada counseling psikologis. Penelitian di DIY (2023) menunjukkan bahwa aspek psikologis & spiritual pada ibu hamil sering diabaikan, padahal sangat penting. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]

  • Intervensi non-farmakologis untuk manajemen stres: relaksasi, senam prenatal/yoga, konseling, agar ibu dapat mengelola stres, tidur lebih baik, dan persiapan batin untuk persalinan. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]

Memenuhi kebutuhan psikologis ini berperan penting agar ibu dapat melewati masa kehamilan dengan sehat secara mental dan fisik, dan mempersiapkan persalinan secara optimal.


Peran Tenaga Kesehatan dalam Konseling

Peran tenaga kesehatan, bidan, dokter, perawat, konselor, sangat menentukan dalam mendampingi ibu hamil secara holistik:

  • Memberikan edukasi komprehensif: bukan hanya tentang aspek fisik (gizi, pemeriksaan, persalinan), tetapi juga aspek psikologis: apa yang normal, apa yang harus diwaspadai, bagaimana mengelola stres dan kecemasan. Banyak ibu cemas karena kurang informasi atau mitos yang beredar. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]

  • Melakukan screening rutin terhadap stres, kecemasan, ketidaknyamanan fisik yang bisa mempengaruhi mental, misalnya merespon keluhan fisik yang dapat memicu stres secara langsung. Penelitian 2025 di Puskesmas Sidomulyo menunjukkan pentingnya pemantauan keluhan fisik dan mental ibu secara rutin. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Menyediakan intervensi: seperti relaksasi, prenatal yoga, konseling psikologis, teknik relaksasi, dukungan spiritual/emosional, agar ibu mendapat kesempatan mengelola stres. Dalam penelitian 2024, ibu yang mengikuti prenatal yoga cenderung memiliki distress psikologis lebih rendah daripada yang tidak mengikuti. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]

  • Mendorong partisipasi pasangan dan keluarga dalam asuhan prenatal, agar ibu mendapat dukungan sosial yang memadai. Hal ini juga penting untuk mencegah kecemasan berlebihan menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

Dengan demikian, tenaga kesehatan memegang peranan kunci dalam memberikan asuhan kehamilan yang benar-benar holistik, fisik dan mental.


Hubungan Psikologi Ibu dengan Kesiapan Persalinan

Kesiapan persalinan bukan hanya soal kesiapan fisik, tapi juga kesiapan mental. Berikut beberapa kaitannya:

  • Ibu dengan psikologis stabil, rendah stres dan kecemasan, mendapat dukungan, cenderung lebih siap menghadapi persalinan secara emosional, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan dengan tenang.

  • Sebaliknya, ibu yang stres atau cemas berat mungkin mengalami ketakutan berlebihan terhadap persalinan, ini bisa mempengaruhi persepsi rasa sakit, toleransi persalinan, dan bisa berujung pada intervensi medis yang tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]

  • Psikologi ibu yang sehat juga membantu bonding dengan janin sejak kehamilan, menguatkan ikatan emosional sebelum kelahiran, yang penting untuk kesehatan mental ibu dan perkembangan janin/anak. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]

Sehingga, mempersiapkan mental sama pentingnya dengan persiapan fisik dalam menghadapi persalinan.


Dampak Psikologis terhadap Kondisi Janin

Terdapat bukti bahwa kondisi psikologis ibu, stres, kecemasan, distress, pada trimester ketiga bisa berdampak terhadap janin, baik jangka pendek maupun jangka panjang:

  • Dalam tinjauan sistematik (2024), stres prenatal dikaitkan dengan hasil kehamilan yang kurang baik, seperti kelahiran prematur, berat lahir rendah (BBLR), serta gangguan perkembangan neurokognitif janin. [Lihat sumber Disini - advancesinresearch.id]

  • Aktivasi hormonal akibat stres (misalnya hormon stres seperti kortisol melalui respons Hypothalamic-Pituitary-Adrenal axis / HPA) dapat mempengaruhi aliran darah ke plasenta, suplai oksigen, dan pertumbuhan janin, sehingga risiko komplikasi seperti retardasi tumbuh, gangguan perkembangan janin meningkat. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]

  • Selain itu, anak yang terpapar kecemasan prenatal dilaporkan memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan emosi, perilaku, atau perkembangan psikologis di masa kanak-kanak, terutama bila stres ibu bersifat kronis. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental ibu selama trimester ketiga sangat penting tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk masa depan bayi.


Kesimpulan

Psikologi ibu hamil trimester ketiga adalah aspek krusial yang meliputi kondisi emosional, mental, dan psikologis ibu ketika memasuki tahap akhir kehamilan. Pada fase ini, ibu sering mengalami perubahan emosi, kenghawatiran, stres, kecemasan, disertai ketidaknyamanan fisik. Faktor-faktor seperti keluhan fisik, kekhawatiran tentang persalinan, kurangnya informasi, serta minimnya dukungan sosial/keluarga dapat meningkatkan beban psikologis.

Dukungan dari suami, keluarga, dan tenaga kesehatan, melalui edukasi, konseling, dan tindakan preventif, sangat berperan dalam menjaga kesehatan mental ibu. Kesiapan persalinan bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental; psikologi ibu mempengaruhi proses persalinan, bonding dengan janin, sekaligus hasil kehamilan.

Lebih jauh, stres atau kecemasan berlebih selama trimester ketiga dapat berdampak negatif pada janin, mulai dari pertumbuhan hingga perkembangan neurokognitif mereka setelah lahir. Oleh karena itu, aspek psikologis harus menjadi bagian integral dari asuhan kehamilan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Psikologi ibu hamil trimester ketiga mengacu pada kondisi mental dan emosional yang dialami ibu ketika memasuki tahap akhir kehamilan, termasuk perubahan mood, kecemasan menjelang persalinan, serta kebutuhan psikologis untuk merasa aman dan didukung.

Stres pada trimester ketiga sering muncul akibat perubahan fisik yang makin berat, rasa takut terhadap proses persalinan, kurangnya informasi, dan minimnya dukungan sosial atau pasangan.

Dukungan suami berperan penting dalam menurunkan kecemasan dan stres pada ibu hamil. Bantuan emosional, informasi, dan keterlibatan suami membuat ibu merasa aman dan lebih siap menghadapi persalinan.

Stres dan kecemasan berlebih pada ibu hamil dapat memengaruhi pertumbuhan janin, meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat lahir rendah, hingga gangguan perkembangan jangka panjang.

Beberapa cara yang efektif meliputi konseling dengan tenaga kesehatan, mengikuti kelas prenatal, teknik relaksasi, mendapatkan dukungan suami, serta mempersiapkan persalinan secara informasi dan mental.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Ketidaknyamanan Trimester Ketiga: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Solusi Ketidaknyamanan Trimester Ketiga: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Solusi Faktor yang Mempengaruhi Ketidaknyamanan Trimester Ketiga Faktor yang Mempengaruhi Ketidaknyamanan Trimester Ketiga Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Trimester Ketiga Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Trimester Ketiga Senam Hamil: Konsep, Manfaat, dan Prinsip Pelaksanaan Senam Hamil: Konsep, Manfaat, dan Prinsip Pelaksanaan Psikologi Ibu Trimester Akhir: Konsep, Perubahan Emosi, dan Kesiapan Psikologi Ibu Trimester Akhir: Konsep, Perubahan Emosi, dan Kesiapan Ketidaknyamanan Trimester Pertama: Konsep, Penyebab, dan Penanganan Ketidaknyamanan Trimester Pertama: Konsep, Penyebab, dan Penanganan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pengetahuan tentang Senam Hamil Pengetahuan tentang Senam Hamil Yoga Hamil: Konsep, Kebugaran, dan Kesiapan Persalinan Yoga Hamil: Konsep, Kebugaran, dan Kesiapan Persalinan Hubungan Aktivitas Fisik dengan Tingkat Kebugaran Ibu Hamil Hubungan Aktivitas Fisik dengan Tingkat Kebugaran Ibu Hamil Ketidaknyamanan Trimester Pertama Ketidaknyamanan Trimester Pertama Peran Kelas Ibu Hamil: Konsep, Edukasi, dan Kesiapan Persalinan Peran Kelas Ibu Hamil: Konsep, Edukasi, dan Kesiapan Persalinan Efektivitas Senam Yoga dalam Mengurangi Nyeri Punggung Ibu Hamil Efektivitas Senam Yoga dalam Mengurangi Nyeri Punggung Ibu Hamil Pengaruh Yoga Hamil terhadap Kesiapan Persalinan Pengaruh Yoga Hamil terhadap Kesiapan Persalinan Kecemasan Ibu Menjelang Persalinan Kecemasan Ibu Menjelang Persalinan Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pola Aktivitas Ibu Hamil Pola Aktivitas Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Konsep Dasar Psikologi Terapan Konsep Dasar Psikologi Terapan Evaluasi Konsumsi Suplemen oleh Ibu Hamil Evaluasi Konsumsi Suplemen oleh Ibu Hamil
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…