
Kecemasan Ibu Menjelang Persalinan
Pendahuluan
Kehamilan adalah momen penting dan transformasional dalam kehidupan seorang wanita, melibatkan perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang kompleks. Menjelang hari persalinan, banyak ibu hamil mengalami kecemasan, kekhawatiran, atau ketakutan terkait proses bersalin, kesehatan janin, serta kemampuan dirinya menjalani persalinan dengan aman. Kondisi kecemasan ini bukan hanya berdampak pada kesehatan mental ibu, tetapi juga berpotensi mempengaruhi proses persalinan dan hasil kesehatan bagi ibu dan bayi. Oleh karena itu penting untuk memahami kecemasan menjelang persalinan, definisinya, faktor penyebab, dampaknya, serta upaya pencegahan dan manajemen, khususnya dalam konteks Indonesia.
Definisi “Kecemasan Menjelang Persalinan”
Definisi secara umum
Kecemasan menjelang persalinan dapat dipahami sebagai respons psikologis berupa rasa takut, khawatir, atau kekhawatiran yang dialami seorang ibu hamil saat mendekati waktu persalinan. Perasaan ini bisa mencakup kekhawatiran tentang rasa sakit persalinan, kondisi kesehatan janin dan ibu, proses persalinan itu sendiri, serta adaptasi pascapersalinan.
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kecemasan” didefinisikan sebagai perasaan gelisah, takut yang menetap tanpa ada objek tertentu, bisa berupa perasaan khawatir, tegang, atau gelisah secara terus-menerus. Ketika dikaitkan dengan “menjelang persalinan”, istilah ini menggambarkan kondisi psikologis ibu yang mengalami kekhawatiran tentang proses persalinan dan kelahiran.
Definisi menurut para ahli
Beberapa peneliti mendefinisikan kecemasan kehamilan berbeda:
-
Kurniawati dkk. (2025) menjelaskan bahwa kecemasan terkait kehamilan, “pregnancy-related anxiety”, adalah jenis kecemasan kontekstual yang spesifik pada kehamilan dan persalinan, berbeda dari kecemasan umum. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi oleh Rachma, Irwanto & Izzati (2024) menunjukkan bahwa tingkat kecemasan ibu hamil berbeda antar trimester, dengan trimester III menunjukkan peningkatan gejala kecemasan menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Penelitian Herlina (2023) menggambarkan bahwa pada ibu hamil trimester III, sebagian besar mengalami tingkat kecemasan ringan hingga sedang, dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat. [Lihat sumber Disini - ojsstikesbanyuwangi.com]
-
Sari (2022) pada analisis fenomena kecemasan ibu hamil dalam menghadapi persalinan menunjukkan bahwa banyak ibu mengalami ketakutan aktif, sebagai akibat dari ketidakpastian proyeksi persalinan, kondisi ekonomi, dan dukungan sosial. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecemasan menjelang persalinan adalah bentuk kecemasan kontekstual yang dialami ibu hamil, yang intensitas dan dampaknya bisa bervariasi tergantung kondisi kehamilan, pengalaman, dukungan sosial, dan pengetahuan.
Gambaran Umum Kecemasan pada Ibu Hamil
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kecemasan pada ibu hamil, terutama menjelang persalinan, cukup umum. Misalnya, skripsi oleh Lisda (2023) di Kabupaten Padang Lawas Utara menemukan bahwa banyak ibu hamil mengalami berbagai tingkat kecemasan dalam menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Sebuah studi di pusat kesehatan di Surabaya menemukan bahwa pada trimester III, lebih dari separuh responden mengalami kecemasan ringan-sedang. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Herlina (2023) mencatat bahwa pada ibu trimester III di Puskesmas Kasihan II, sebagian besar mengalami kecemasan, dengan presentase kecemasan ringan, sedang, dan sejumlah kecil kecemasan berat. [Lihat sumber Disini - ojsstikesbanyuwangi.com]
Temuan lain menunjukkan bahwa prevalensi gangguan kecemasan pada kehamilan di Indonesia bisa mencapai sekitar 28, 7%. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
Dengan demikian, gambaran umum menunjukkan bahwa kecemasan menjelang persalinan adalah masalah kesehatan mental yang nyata dan cukup prevalen di kalangan ibu hamil di Indonesia.
Faktor Penyebab Kecemasan Menjelang Persalinan
Berbagai penelitian menyebut sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan pada ibu hamil menjelang persalinan, antara lain:
-
Status kehamilan (primigravida vs multigravida, paritas), Ibu hamil primigravida (hamil pertama) cenderung memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan multigravida. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Usia, pendidikan, dan status ekonomi, Faktor demografis seperti usia, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi dapat memengaruhi tingkat kecemasan. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan pendidikan lebih rendah lebih rentan mengalami kecemasan tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kurangnya pengetahuan tentang proses persalinan / kehamilan, Ibu dengan pengetahuan rendah tentang persiapan kelahiran cenderung merasa khawatir dan cemas lebih besar. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kurangnya dukungan suami atau keluarga / sosial, Dukungan emosional, informasi, dan material dari suami dan keluarga berperan penting untuk menurunkan tingkat kecemasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Faktor psikologis dan pengalaman sebelumnya, Ibu dengan pengalaman persalinan traumatis sebelumnya, atau dengan kondisi psikologis rentan, bisa lebih rentan terhadap kecemasan dan ketakutan persalinan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Kesiapan dan persiapan persalinan (fisik, informasi, kelas ibu hamil, kunjungan antenatal), Ibu yang belum siap secara fisik dan informasi sering merasa tidak yakin, yang memicu kecemasan. [Lihat sumber Disini - rumahjurnal.or.id]
Peran Dukungan Suami dan Keluarga
Dukungan dari suami dan keluarga, baik dalam bentuk emosional, fisik, material, maupun informasi, terbukti sangat berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil. Penelitian di wilayah kerja Puskesmas Limboto menunjukkan bahwa ibu hamil yang mendapatkan dukungan keluarga tinggi cenderung memiliki tingkat stres ringan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Selain itu, studi di RSUD/Klinik ibu hamil menunjukkan bahwa dukungan suami dan partisipasi suami dalam perawatan antenatal dan persiapan persalinan secara signifikan berhubungan dengan penurunan kecemasan. [Lihat sumber Disini - rumahjurnal.or.id]
Karena itu, peran keluarga, terutama suami, sangat krusial dalam membantu ibu menghadapi persalinan dengan lebih tenang, melalui komunikasi, pendampingan, edukasi bersama, dan penyediaan dukungan psikososial.
Teknik Manajemen Kecemasan dalam Kehamilan
Berbagai intervensi telah diteliti untuk membantu mengurangi kecemasan ibu hamil menjelang persalinan. Berikut beberapa teknik dan strategi yang menunjukkan hasil positif:
-
Relaksasi napas dan aromaterapi / terapi musik, Penelitian tahun 2025 melaporkan bahwa kombinasi relaksasi napas diafragma dan aromaterapi (misalnya dengan lavender) serta terapi musik membantu ibu hamil meningkatkan kesiapan psikologis dan ketenangan menghadapi persalinan. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Olahraga ringan / prenatal yoga, Studi 2024 menunjukkan bahwa prenatal yoga dapat menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III. [Lihat sumber Disini - ijahst.org]
-
Edukasi melalui kelas prenatal / antenatal / aplikasi edukasi kehamilan, Partisipasi dalam kelas ibu hamil atau edukasi kehamilan (termasuk via aplikasi) terbukti menurunkan kecemasan secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Dukungan suami dan keluarga serta konseling psikologis, Memberikan informasi cukup, dukungan emosional dan material, serta konseling jika perlu, dapat membantu menurunkan kecemasan dan mempersiapkan ibu secara mental. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa intervensi psikososial dan non-farmakologis cukup efektif, relatif murah, dan dapat diterapkan di layanan antenatal di Indonesia.
Dampak Kecemasan terhadap Proses Persalinan
Kecemasan dan stres yang tinggi menjelang persalinan dapat membawa dampak negatif bagi proses persalinan dan kesehatan ibu & bayi. Beberapa penelitian menemukan:
-
Kecemasan yang tinggi dapat menghambat kontraksi uterus, menyebabkan persalinan menjadi lebih lama. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]
-
Stres prenatal juga berisiko memengaruhi kesehatan mental ibu pascapersalinan, serta kesehatan bayi, baik fisik maupun perkembangan psikologis. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Ibu yang mengalami kecemasan berat atau tidak tertangani memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami komplikasi obstetri. [Lihat sumber Disini - rumahjurnal.or.id]
Dengan demikian, kecemasan bukan hanya masalah psikologis, tapi juga bisa berdampak nyata terhadap hasil persalinan dan kesehatan jangka panjang ibu dan bayi.
Hubungan Pengetahuan dengan Tingkat Kecemasan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan, persalinan dan perawatan antenatal berhubungan signifikan dengan tingkat kecemasan yang mereka rasakan. Misalnya: Ibu dengan pengetahuan rendah cenderung memiliki kecemasan lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Sebuah penelitian di Puskesmas Kintamani menunjukkan rata-rata pengetahuan sebagian besar ibu termasuk kategori “kurang”, dan tingkat kecemasan rata-rata termasuk “sedang”, menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan berkorelasi dengan kecemasan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
Artinya: edukasi kehamilan dan persalinan, melalui media apapun: kelas prenatal, konseling, aplikasi, antar-jemput informasi, penting untuk meningkatkan kesiapan psikologis ibu dan menurunkan kecemasan.
Upaya Tenaga Kesehatan dalam Menurunkan Kecemasan
Para tenaga kesehatan, bidan, dan penyedia layanan antenatal memiliki peran strategis dalam membantu menurunkan kecemasan ibu hamil menjelang persalinan. Upaya-upaya yang bisa dilakukan antara lain:
-
Menyelenggarakan kelas ibu hamil / prenatal education untuk calon ibu (terutama primigravida), termasuk materi tentang proses persalinan, manajemen nyeri, perawatan bayi, persiapan fisik dan mental. Penelitian menunjukkan kelas prenatal mampu menurunkan kecemasan ibu. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Menyediakan konseling psikologis atau konseling kehamilan, membantu ibu mengungkap kekhawatiran, mengenali rasa cemas, dan mendapatkan strategi koping seperti relaksasi, pernapasan, atau yoga.
-
Memfasilitasi dukungan keluarga / suami, misalnya melibatkan suami dalam kunjungan antenatal, memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya dukungan, memberi pendampingan saat persalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
-
Mendorong praktik relaksasi, yoga, dan terapi komplementer (musik, aromaterapi) sebagai bagian dari perawatan kehamilan, yang dapat membantu meredakan kecemasan secara non-farmakologis. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Memberi informasi dan literatur, melalui media cetak, digital, atau aplikasi kehamilan, agar ibu memiliki pengetahuan cukup tentang proses persalinan dan perawatan postpartum, yang membantu mengurangi ketidakpastian dan kecemasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Kesimpulan
Kecemasan menjelang persalinan adalah fenomena psikologis yang cukup umum di kalangan ibu hamil, terutama dalam trimester akhir kehamilan, dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor: status kehamilan, pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga, pengalaman sebelumnya, serta kondisi psikosocial lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, kecemasan dapat berakibat negatif pada proses persalinan, kesehatan ibu dan bayi, serta masa postpartum.
Namun, banyak penelitian, terutama dari Indonesia, menunjukkan bahwa intervensi sederhana seperti edukasi prenatal, dukungan keluarga, konseling, relaksasi, yoga, dan komunitas ibu hamil dapat secara signifikan mengurangi tingkat kecemasan. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan kesehatan, keluarga, dan masyarakat untuk mendukung ibu hamil secara komprehensif: fisik, mental, dan emosional, agar proses persalinan dan masa persalinan bisa berjalan lebih aman, tenang, dan sehat.