
Tingkat Depresi Pasien: Pengertian dan Faktor
Pendahuluan
Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum dan berdampak signifikan pada kualitas hidup seseorang. Gangguan ini tidak sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan kondisi klinis yang mempengaruhi emosi, pikiran, perilaku, serta fungsi sehari-hari. Banyak penelitian di Indonesia dan dunia menunjukkan peningkatan prevalensi depresi dalam berbagai kelompok umur, mulai dari remaja, dewasa muda, hingga lansia, serta beragam faktor pemicunya (biologis, psikososial, lingkungan). [Lihat sumber Disini - iicls.org]
Dalam konteks pelayanan keperawatan dan kesehatan mental di Indonesia, pemahaman mendalam tentang definisi, klasifikasi, faktor penyebab, serta metode penilaian dan intervensi sangat penting. Artikel ini berupaya mengulas secara komprehensif “tingkat depresi pasien”: mulai dari pengertian klinis, klasifikasi derajat keparahan, faktor penyebab, dampaknya terhadap proses penyembuhan, metode penilaian, hingga intervensi keperawatan dan contoh kasus. Tujuan utamanya agar tenaga kesehatan, perawat, maupun masyarakat umum mendapatkan gambaran menyeluruh dan bisa lebih peka terhadap tanda-tanda depresi, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Definisi Depresi
Definisi Depresi Secara Umum
Depresi secara umum dipahami sebagai gangguan suasana hati dimana seseorang mengalami perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat atau kesenangan terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, perasaan putus asa, perasaan tidak berharga, penurunan energi, dan gangguan fungsi lainnya (misalnya tidur, nafsu makan). [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Dalam literatur keperawatan, depresi sering disebut sebagai kondisi dimana emosi, motivasi, dan stabilitas psikologis seseorang terganggu, menyebabkan kualitas hidup dan kemampuan menjaga diri serta menjalani aktivitas sehari-hari menurun. [Lihat sumber Disini - jim.usk.ac.id]
Definisi Depresi Menurut KBBI
Menurut definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sebagai acuan norma bahasa Indonesia, “depresi” dapat diartikan sebagai keadaan perasaan sedih, susah dihibur, dan putus asa dalam waktu yang lama; suasana hati murung dan hilangnya minat untuk beraktivitas. (Catatan: definisi KBBI ini secara spesifik-kekinian sering diperluas dalam konteks kesehatan mental, sehingga pengertian klinis lebih detil.)
Definisi Depresi Menurut Para Ahli
Beberapa definisi menurut para peneliti dan ahli:
-
Dalam artikel “Pendidikan Kesehatan Jiwa tentang Depresi” disebut bahwa depresi adalah gangguan emosi atau suasana hati buruk, ditandai dengan kesedihan berkepanjangan, perasaan bersalah, putus harapan, dan hilangnya minat terhadap aktivitas. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Dalam studi keperawatan, depresi digambarkan sebagai kondisi dengan adanya penurunan stabilitas emosional dan motivasi, situasi yang sering dialami mahasiswa di masa tugas akhir atau skripsi. [Lihat sumber Disini - jim.usk.ac.id]
-
Di kalangan lansia dengan pendidikan rendah di Indonesia, depresi didefinisikan sebagai kondisi dimana adanya disabilitas fungsional (misalnya kesulitan aktivitas sehari-hari), penurunan fungsi fisik atau kesehatan kronis, berisiko tinggi memicu gangguan suasana hati yang signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.neurona.web.id]
-
Definisi dalam konteks panduan klinis internasional: menurut sistem diagnostik seperti DSM‑IV (diasosiasikan dalam studi-studi klinis) atau ICD‑10, depresi ditandai oleh kombinasi gejala termasuk mood depresi, kehilangan minat, penurunan energi, gangguan tidur, konsentrasi, perasaan bersalah/cemas/putus asa, dan penurunan kemampuan fungsi sehari-hari, selama minimal durasi tertentu agar memenuhi kriteria episode depresif. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa depresi bukan sekadar kesedihan ringan atau sementara, melainkan kondisi klinis serius yang memerlukan diagnosis dan perhatian profesional.
Klasifikasi Tingkat Depresi (Ringan, Berat)
Dalam praktik klinis dan penelitian, depresi diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan, ringan, sedang, berat, tergantung pada jumlah dan intensitas gejala serta dampaknya terhadap fungsi harian. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Depresi Ringan: Pada tingkat ini, gejala bisa relatif sedikit, misalnya kehilangan minat, sedih ringan, penurunan energi/semangat, dan walaupun ada penurunan fungsi, individu masih dapat menjalani aktivitas harian dengan sebagian besar fungsi masih berjalan. Dalam sistem diagnosa, misalnya dengan ICD-10, depresi ringan bisa didiagnosis jika paling sedikit ada dua dari tiga gejala utama (mood depresi, kehilangan minat, energi berkurang) dan beberapa gejala tambahan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Depresi Sedang (Moderate): Gejala lebih banyak dan lebih intens dibanding ringan; fungsi sosial dan pekerjaan mulai terganggu, produktivitas dan interaksi sehari-hari bisa menurun. Pasien umumnya menunjukkan kombinasi gejala psikologis, emosional, dan fisik yang lebih jelas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Depresi Berat (Severe): Gejala intens dan beragam, termasuk suasana hati sangat buruk, kehilangan minat yang mendalam, gangguan tidur/nafsu makan, penurunan energi parah, perubahan kognisi, muncul pikiran negatif serius, serta penurunan fungsi sosial dan pekerjaan secara signifikan. Pada tingkat ini, risiko komplikasi seperti ide bunuh diri bisa meningkat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Beberapa penelitian menggunakan klasifikasi tambahan seperti “depresi sangat berat” atau “depresi moderat-berat/moderately severe” tergantung pada instrumen penilaian yang digunakan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Faktor Penyebab Depresi pada Pasien
Depresi bisa dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor berikut banyak disebut dalam literatur Indonesia dan internasional.
-
Faktor Biologis & Kondisi Fisik, Penyakit kronis, disabilitas fisik, penurunan fungsi tubuh, gangguan kesehatan (misalnya hipertensi, arthritis, disabilitas fisik) berhubungan dengan risiko depresi, terutama pada lansia. Dalam satu studi pada lansia berpendidikan rendah, ditemukan bahwa kondisi seperti hipertensi, arthritis, disabilitas fisik, serta kesulitan dalam aktivitas sehari-hari (ADL, IADL) berkorelasi signifikan dengan depresi. [Lihat sumber Disini - ejournal.neurona.web.id]
-
Faktor Psikososial, Tekanan sosial, stres akademik atau pekerjaan, konflik keluarga, isolasi sosial, bullying, masalah hubungan interpersonal, dukungan sosial yang buruk, serta stigma terhadap kesehatan mental dapat memicu depresi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespangkalpinang.ac.id]
-
Lingkungan & Konteks Sosial, Lingkungan yang tidak mendukung, kesulitan ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, kurang akses ke layanan kesehatan mental, serta kurangnya edukasi tentang kesehatan jiwa dapat memperburuk atau memicu depresi. [Lihat sumber Disini - ojs.cahayamandalika.com]
-
Usia dan Transisi Kehidupan, Remaja dan dewasa muda berada pada fase transisi (pendidikan, pekerjaan, tekanan sosial) sehingga rentan mengalami stres yang bisa berkembang menjadi depresi. Penelitian di Asia Tenggara menunjukkan prevalensi depresi tinggi pada remaja dan dewasa muda. [Lihat sumber Disini - iicls.org]
-
Perubahan Hidup atau Trauma, Kehilangan, pengalaman stres berat, perubahan besar dalam hidup (keluarga, pekerjaan, kesehatan) bisa memicu depresi; juga ketidakmampuan menghadapi perubahan lingkungan / tuntutan hidup. Banyak literatur menyebut faktor psikologis dan fisiologis sebagai penyebab. [Lihat sumber Disini - urj.uin-malang.ac.id]
Dampak Depresi terhadap Proses Penyembuhan
Depresi pada pasien, terutama jika bersamaan dengan penyakit fisik atau kondisi kronis, dapat memperlambat proses penyembuhan dan memperburuk prognosis. Beberapa dampak yang umum dilaporkan:
-
Penurunan motivasi perawatan diri, seperti malas mengonsumsi obat, tidak menjalani terapi atau perawatan, mengabaikan jadwal kontrol kesehatan. Hal ini bisa memperburuk kondisi fisik.
-
Gangguan fungsi kehidupan sehari-hari: penurunan produktivitas, menurunnya kualitas interaksi sosial, isolasi, menarik diri, yang pada jangka panjang bisa memperburuk kondisi psikologis maupun fisik pasien.
-
Risiko komplikasi psikososial: depresi berat meningkatkan risiko pikiran negatif, ide bunuh diri, kecemasan, stres, yang dapat menghambat pemulihan atau memperparah kondisi kronis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penurunan kualitas hidup, secara keseluruhan kualitas hidup pasien bisa menurun, termasuk kesehatan mental, fisik, relasi sosial, pekerjaan atau aktivitas harian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
Dengan demikian, depresi bukan hanya “masalah psikologis”, tetapi bisa berdampak luas pada seluruh aspek kehidupan dan kesehatan, terutama pada pasien yang juga menghadapi penyakit fisik atau perawatan jangka panjang.
Penilaian Depresi (Beck, HAM-D, PHQ-9)
Penilaian atau skrining depresi penting dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat keparahan, memonitor respons terhadap terapi, dan menentukan intervensi yang tepat. Beberapa instrumen umum:
-
Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), merupakan kuesioner 9 item yang disusun berdasarkan kriteria diagnosa dari DSM (misalnya DSM-IV/DSM-5). Setiap item menilai frekuensi gejala dalam 2 minggu terakhir. Skor total 0, 27; interpretasinya sering: 5, 9 = depresi ringan, 10, 14 = sedang, 15, 19 = moderat-berat, ≥20 = berat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov] PHQ-9 telah divalidasi di Indonesia untuk berbagai populasi, termasuk pasien dengan penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - ejournal.infermia.com]
-
Hamilton Depression Rating Scale (HAM‑D), skala klinis yang umumnya digunakan oleh profesional. Salah satu versi memiliki 17 item (HAMD-17), dengan skor 0, 52. Interpretasinya: 0, 7 = normal, 8, 16 = ringan, 17, 23 = sedang, >24 = berat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beck Depression Inventory (BDI‑II), inventori self-report dengan banyak item tentang mood, pikiran, gejala fisik/emosional; banyak digunakan dalam penelitian dan setting klinis sebagai alat skrining dan penilaian tingkat depresinya individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Selain itu, dalam praktik keperawatan/pemantauan lanjutan, penilaian bisa ditambah dengan wawancara klinis mendalam sesuai pedoman diagnostik seperti DSM maupun pedoman nasional. Kombinasi skrining dan wawancara membantu menentukan diagnosis dan derajat keparahan dengan lebih akurat.
Intervensi Keperawatan untuk Pasien Depresi
Penanganan depresi pada pasien, khususnya oleh tenaga keperawatan, perlu bersifat holistik, mencakup aspek psikologis, sosial, edukasi, serta koordinasi dengan tim kesehatan mental. Beberapa intervensi yang direkomendasikan:
-
Deteksi dini dan skrining rutin, gunakan PHQ-9 atau BDI sebagai bagian dari asesmen awal pasien, terutama jika pasien memiliki faktor risiko (penyakit kronis, lansia, stres, perubahan hidup).
-
Dukungan psikososial dan konseling, memberikan konseling, mendengarkan keluh kesah pasien, membantu pasien mengekspresikan emosinya, mendampingi dalam manajemen stres, cemas, atau frustasi. Edukasi keluarga juga penting agar lingkungan mendukung pemulihan.
-
Manajemen kebutuhan dasar dan aktivitas harian (ADL/IADL), untuk pasien lansia atau dengan disabilitas, bantu aktivitas sehari-hari, aktivitas ringan, intervensi rehabilitasi atau fisioterapi bila perlu, agar pasien tetap aktif dan tidak isolasi.
-
Koordinasi dengan profesional kesehatan mental (psikiater, psikolog), bila gejala berat atau ada ide bunuh diri, rujuk ke layanan kesehatan jiwa untuk terapi atau medikasi.
-
Pemantauan berkala & evaluasi, lakukan penilaian ulang secara periodik menggunakan skala depresinya; dokumentasikan perkembangan; identifikasi faktor pemicu, serta adaptasi intervensi sesuai kebutuhan.
-
Pendidikan kesehatan dan penyuluhan, untuk pasien dan keluarga: beri informasi tentang depresi, gejala, pentingnya perawatan, serta stigma kesehatan mental. Hal ini membantu deteksi dini dan meningkatkan komitmen perawatan.
Contoh Kasus Penanganan Depresi
Misalnya, seorang pasien lansia dengan riwayat hipertensi dan arthritis, mengalami penurunan fungsi fisik dan kesulitan dalam aktivitas harian (ADL/IADL). Diagnosa awal menggunakan PHQ-9 menunjukkan skor ≥ 20, menunjukkan depresi berat. Berdasarkan hasil maka perawat melakukan pendekatan holistik: memberikan konseling rutin, membantu aktivitas harian, melibatkan keluarga dalam perawatan, memastikan pemenuhan kebutuhan dasar (nutrisi, tidur), dan merujuk ke psikiater untuk evaluasi lebih lanjut. Setelah 8 minggu intervensi terpadu, dilakukan penilaian ulang: gejala depresi menurun, suasana hati membaik, minat/interaksi sosial meningkat, dan kualitas hidup pasien membaik.
Kasus ini menunjukkan pentingnya penilaian awal, intervensi keperawatan yang komprehensif, serta keterlibatan keluarga dan tim kesehatan agar pemulihan optimal.
Kesimpulan
Depresi adalah gangguan suasana hati dan kesehatan mental yang serius, bukan sekadar sedih sementara. Definisi depresi mencakup aspek emosional, kognitif, dan fisik, serta mempengaruhi fungsi harian dan kualitas hidup. Klasifikasi ringan, sedang, dan berat membantu menentukan derajat keparahan dan intervensi yang sesuai. Banyak faktor memicu depresi: kondisi fisik, penyakit kronis, faktor psikososial, lingkungan, serta perubahan hidup.
Penilaian dengan instrumen seperti PHQ-9, HAM-D, dan BDI sangat krusial, terutama untuk deteksi dini. Intervensi keperawatan yang holistik, dukungan sosial, pendidikan, manajemen kebutuhan dasar, serta koordinasi dengan layanan kesehatan jiwa bisa membantu proses penyembuhan. Dengan pendekatan tepat dan dini, depresi pada pasien dapat ditangani, sehingga risiko komplikasi serta dampak terhadap kualitas hidup dapat diminimalkan.