
Pola Mobilitas Post Operasi
Pendahuluan
Mobilitas setelah operasi merupakan aspek penting dalam pemulihan pasien. Proses pemulihan tidak hanya bergantung pada penyembuhan luka, tetapi juga pada kemampuan pasien untuk kembali melakukan aktivitas fisik, baik aktivitas dasar sehari-hari maupun aktivitas yang lebih kompleks. Mobilitas post operasi memengaruhi banyak hal, termasuk kecepatan penyembuhan, pencegahan komplikasi, pemulihan fungsi tubuh, dan kualitas hidup setelah operasi. Oleh karena itu, memahami pola mobilitas post operasi, faktor yang mempengaruhi, tantangan, serta strategi intervensi seperti mobilisasi dini sangat penting bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat, untuk memandu perawatan pasien secara optimal.
Definisi Mobilitas Post Operasi
Definisi Mobilitas Post Operasi Secara Umum
Mobilitas post operasi merujuk pada kemampuan dan proses pasien untuk melakukan gerakan fisik, seperti mengubah posisi, duduk, berdiri, berjalan, setelah menjalani tindakan bedah. Mobilitas ini mencakup pergerakan ringan sampai aktivitas dasar (seperti duduk, berpindah posisi) serta, seiring pemulihan, kemampuan untuk beraktivitas lebih bebas secara mandiri dan aman.
Definisi Mobilitas Post Operasi dalam KBBI
Menurut pengertian umum “mobilitas” dalam sumber kamus: mobilitas berarti kemampuan untuk bergerak atau berpindah tempat dengan mudah. Dikombinasikan dengan konteks “post operasi”, maka “mobilitas post operasi” dapat dipahami sebagai kemampuan bergerak/pindah posisi setelah tindakan operasi.
Definisi Mobilitas Post Operasi Menurut Para Ahli
Sebagian literatur keperawatan dan rehabilitasi mendefinisikan mobilitas post operasi sebagai kondisi “aktivitas fisik” pasca bedah yang mencakup gerakan ringan hingga aktivitas berat secara bertahap, dengan tujuan memulihkan fungsi fisik, mencegah komplikasi, serta memfasilitasi kemandirian pasien. Misalnya:
-
Dalam studi oleh Lasmini dkk (2024), pada pasien post-operasi fraktur (ORIF), mobilitas dini diidentifikasi sebagai kemampuan “early mobilization ability” yang dipengaruhi oleh intensitas nyeri dan self-efficacy. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Dalam tinjauan literatur 2025, mobilisasi dini pasca operasi terbukti menurunkan kejadian mual dan muntah (PONV), meningkatkan oxygenasi dan fungsi tubuh, serta mempercepat pemulihan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam konteks post-operasi sectio caesarea, mobilisasi dini diartikan sebagai intervensi keperawatan yang dimulai beberapa jam pasca operasi, dengan gerakan progresif dari ringan ke berdiri/berjalan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
Dengan demikian, mobilitas post operasi, menurut literatur keperawatan/rehabilitasi, mencakup upaya sistematis pemulihan gerakan fisik setelah operasi, yang direncanakan dan dibimbing secara profesional.
Pengertian Mobilitas Pasca Operasi
Mobilitas pasca operasi adalah fase rehabilitasi di mana pasien mulai melakukan gerakan tubuh setelah menjalani operasi, bertujuan mengembalikan fungsi fisik, meminimalkan komplikasi, mempercepat penyembuhan, dan meningkatkan kemandirian. Mobilitas pasca operasi umumnya meliputi: perubahan posisi di tempat tidur, duduk, berdiri, dan berjalan sesuai kondisi klinis dan jenis operasi.
Mobilitas ini bukan sesuatu yang dilakukan sembarangan, melainkan direncanakan, bertahap, dan disesuaikan dengan kondisi pasien: keadaan luka, sensasi nyeri, efek anestesi, stabilitas vital, dan daya tahan tubuh. Intervensi mobilisasi perlu dilakukan secara hati-hati namun konsisten untuk memaksimalkan hasil pemulihan.
Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Post Operasi
Beberapa faktor dapat mempengaruhi seberapa cepat dan seberapa efektif pasien dapat melakukan mobilitas pasca operasi. Berdasarkan literatur terkini:
-
Intensitas nyeri, Nyeri adalah hambatan signifikan untuk mobilitas. Dalam studi pada pasien post-ORIF, ditemukan bahwa intensitas nyeri berhubungan negatif dengan kemampuan mobilisasi dini: makin tinggi nyeri, makin rendah kemampuan mobilisasi. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Kepercayaan diri / self-efficacy, Rasa percaya diri untuk bisa bergerak setelah operasi (self-efficacy) berhubungan erat dengan keberhasilan mobilisasi dini. Studi yang sama menunjukkan bahwa pasien dengan self-efficacy tinggi lebih mampu melakukan mobilisasi dini. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Jenis operasi & lokasi luka, Operasi besar, atau operasi pada ekstremitas bawah / abdomen (misalnya fraktur, sectio caesarea, laparatomi) cenderung mempengaruhi mobilitas lebih kuat dibanding operasi minor. Luka besar, nyeri intens, dan efek anestesi membuat mobilitas lebih sulit. Studi laparatomi menunjukkan bahwa mobilisasi dini penting untuk penyembuhan luka, tetapi harus disesuaikan kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
-
Efek anestesi dan sisa obat bius, Pasien yang baru selesai anestesi umumnya mengalami kelemahan, mual, pusing, atau demotivasi untuk bergerak, sehingga mobilitas post operasi bisa tertunda. Studi menunjukkan bahwa mobilisasi dini dapat membantu mempercepat ekskresi sisa anestesi dan menurunkan mual/muntah post-operasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikstellamarismks.ac.id]
-
Dukungan perawat / tenaga kesehatan, Keberhasilan mobilisasi dipengaruhi oleh edukasi, pengawasan, dan intervensi keperawatan. Jika tidak ada bimbingan, pasien bisa takut, enggan, atau salah melakukan gerakan, sehingga mobilitas tertunda atau tidak optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Motivasi pasien & dukungan lingkungan (keluarga), Faktor psikososial seperti motivasi, dukungan keluarga, dan lingkungan juga berperan. Ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara dukungan keluarga dan keberhasilan mobilisasi dini. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Hambatan Umum Mobilitas Pasca Bedah (Nyeri, Luka, Anestesi, dll.)
Pasca bedah, pasien sering menghadapi berbagai kendala yang dapat menghambat mobilitas fisik:
-
Nyeri & ketidaknyamanan, Sayatan bedah menyebabkan nyeri, sensasi tertarik, kaku, dan perasaan kurang nyaman ketika mencoba bergerak. Kombinasi nyeri dan kecemasan terkadang membuat pasien enggan melakukan mobilisasi.
-
Luka, edema, dan kekakuan otot/sendi, Lukanya belum sembuh sempurna, bisa ada pembengkakan, kaku otot atau sendi, sehingga gerakan terasa sulit atau malah membahayakan.
-
Efek anestesi / obat bius / obat pereda nyeri, Anestesi dan obat pasca operasi bisa menyebabkan lemas, pusing, mual, mual-muntah (PONV), serta koordinasi tubuh menurun; hal ini menyulitkan mobilisasi awal. Studi menunjukkan mobilisasi dini membantu menurunkan PONV serta mempercepat klarifikasi fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikstellamarismks.ac.id]
-
Ketakutan pasien (fear, kecemasan, kurang percaya diri), Rasa takut luka terbuka memburuk, takut nyeri, takut jatuh, atau trauma psikis pasca operasi sering membuat pasien ragu untuk melakukan gerakan.
-
Keterbatasan pengetahuan & kurang edukasi, Jika pasien (atau keluarga) tidak diberikan informasi memadai mengenai manfaat dan cara mobilisasi pasca operasi, mereka cenderung tidak berinisiatif melakukan gerakan atau salah melakukan gerakan, yang bisa memperlambat pemulihan.
-
Kurangnya dukungan / pengawasan dari tenaga kesehatan, Tanpa bimbingan, evaluasi, dan supervisi, mobilisasi bisa tidak tepat dilakukan, bahkan membahayakan.
Penilaian Kemampuan Mobilitas Pasca Operasi
Penilaian mobilitas pasca operasi penting dilakukan untuk mengetahui kapan pasien siap untuk bergerak dan seberapa banyak gerakan yang aman. Aspek yang biasa dinilai:
-
Intensitas nyeri, menggunakan skala nyeri (NRS atau skala lain), untuk mengevaluasi apakah nyeri pasien memungkinkan mobilisasi tanpa risiko. Dalam studi pada pasien pasca-ORIF, intensitas nyeri berhubungan signifikan dengan kemampuan mobilisasi dini. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Status luka (insisi), penyembuhan, stabilitas luka, apakah luka telah stabil, ada edema, perdarahan, infeksi, atau komplikasi yang menghambat gerakan.
-
Kesadaran dan stabilitas hemodinamik, pasien harus sadar, orientasi baik, tekanan darah, denyut nadi, respirasi stabil sebelum melanjutkan ke mobilisasi.
-
Kemampuan fisik dasar: kekuatan otot, koordinasi, kemandirian, misalnya kemampuan mengubah posisi, duduk, berdiri, transfer, berjalan. Studi pada pasien fraktur ekstremitas bawah menunjukkan bahwa mobilisasi dini signifikan meningkatkan kemampuan aktivitas harian (ADL). [Lihat sumber Disini - jprokep.jurnal.centamaku.ac.id]
-
Motivasi dan kepercayaan diri pasien, aspek psikologis seperti self-efficacy dapat mempengaruhi keberhasilan mobilisasi. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Dukungan lingkungan & edukasi keperawatan, apakah ada bimbingan dari perawat/terapis, apakah keluarga mendukung, fasilitas pendukung tersedia (misalnya alat bantu, ruang aman)
Penilaian ini harus dilakukan secara berkala, dari fase awal pasca operasi sampai pasien bisa bergerak mandiri, untuk menyesuaikan intervensi mobilisasi lebih lanjut.
Intervensi Mobilisasi Dini dan Latihan Bertahap
Intervensi mobilisasi dini (early mobilization) setelah operasi telah banyak diteliti dan terbukti memberi manfaat bagi pemulihan. Berikut poin-poin penting:
-
Mobilisasi dini biasanya dimulai dalam hitungan jam setelah stabilnya kondisi vital dan setelah luka serta insisi dinilai aman. Pada kasus post-operasi seperti sectio caesarea, penelitian menunjukkan mobilisasi mulai 4, 6 jam pasca operasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Latihan awal bisa berupa gerakan ringan di tempat tidur: menggerakkan tangan/kaki, perubahan posisi, latihan sendi, kemudian secara bertahap ke duduk, berdiri, dan berjalan jika memungkinkan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]
-
Manfaat mobilisasi dini antara lain: mempercepat penyembuhan luka, mengurangi risiko komplikasi seperti infeksi, trombosis, tromboemboli; mempertahankan sirkulasi darah; mencegah kekakuan otot/sendi; mempercepat kembalinya fungsi organ (seperti sistem pencernaan, pernapasan, sirkulasi) dan meningkatkan kemandirian. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Mobilisasi dini juga membantu mengurangi mual dan muntah pasca anestesi (PONV) serta mempercepat ekskresi sisa anestesi, sebagaimana ditemukan dalam review literatur 2025. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pelaksanaan harus dilakukan secara bertahap dan terkontrol, dengan pengawasan tenaga kesehatan (perawat/terapis), memperhatikan respons pasien dan stabilitas luka/keadaan umum.
Peran Perawat dalam Mobilisasi Pasien
Perawat memiliki peran sentral dalam mendukung mobilitas post operasi, meliputi:
-
Melakukan penilaian awal terhadap kondisi pasien: luka, nyeri, stabilitas vital, kesadaran, kesiapan fisik, untuk menentukan kapan mobilisasi bisa dimulai.
-
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manfaat mobilisasi dini, cara melakukannya, pentingnya mengikuti instruksi, dan potensi risiko jika mobilisasi tertunda atau tidak dilakukan.
-
Menyusun dan melaksanakan protokol mobilisasi: menentukan tahapan mobilisasi (gerakan ringan, duduk, berdiri, berjalan), memonitor respons pasien, memodifikasi sesuai kondisi. Banyak penelitian kasus menunjukkan bahwa dengan intervensi keperawatan yang baik, mobilisasi dini meningkatkan kekuatan otot, menurunkan nyeri, mempercepat penyembuhan, dan mengembalikan fungsi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Memberi dukungan fisik dan emosional: membantu pasien saat perubahan posisi, berjalan, menjaga keamanan, serta memberikan dorongan motivasi, penguatan self-efficacy supaya pasien berani dan percaya diri untuk bergerak. Studi menunjukkan self-efficacy dan nyeri berpengaruh besar pada kemampuan mobilisasi. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Monitoring dan evaluasi berkala: memantau luka, rasa nyeri, kemampuan gerak, serta komplikasi, menyesuaikan intervensi jika diperlukan agar mobilisasi tetap aman dan efektif.
Contoh Kasus Mobilitas Pasca Operasi
Sebagai ilustrasi, berikut contoh kasus dari penelitian di Indonesia:
-
Dalam studi kasus di RSUD Arjawinangun, untuk pasien post-sectio caesarea, mobilisasi dini dilakukan beberapa jam setelah operasi, dengan gerakan ringan di tempat tidur, perubahan posisi, kemudian duduk dan latihan berjalan. Hasilnya, pasien menunjukkan peningkatan kemampuan gerak, penurunan nyeri, serta percepatan pemulihan fisik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Untuk pasien fraktur ekstremitas bawah pasca operasi, penelitian di RSUD Rembang menunjukkan bahwa pemberian mobilisasi dini secara signifikan meningkatkan kemampuan aktivitas harian (ADL) pada kelompok intervensi dibanding kontrol. [Lihat sumber Disini - jprokep.jurnal.centamaku.ac.id]
-
Pada pasien pasca laparatomi, operasi besar pada abdomen, tinjauan literatur menemukan bahwa mobilisasi dini, jika dilakukan sekitar 6 jam setelah operasi dan dilanjutkan secara terstruktur, berdampak positif terhadap penyembuhan luka dan mengurangi komplikasi. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
Kasus-kasus ini menegaskan bahwa mobilisasi post operasi, khususnya mobilisasi dini, bila diterapkan dengan tepat, aman, dan dikontrol, dapat mempercepat pemulihan, meminimalkan komplikasi, dan meningkatkan kemandirian pasien.
Kesimpulan
Mobilitas pasca operasi adalah bagian integral dari proses pemulihan pasien bedah. Dengan definisi yang jelas dan dukungan literatur, mobilitas post operasi, terutama melalui mobilisasi dini dan latihan bertahap, terbukti memberikan banyak manfaat: mempercepat penyembuhan, mengembalikan fungsi fisik, mengurangi komplikasi, serta meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup. Keberhasilan mobilitas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti nyeri, kondisi luka, efek anestesi, motivasi pasien, dan peran perawat. Oleh karena itu, intervensi mobilisasi harus direncanakan, diawasi, dan dievaluasi dengan baik, termasuk melalui edukasi bagi pasien dan keluarga serta pemantauan berkala. Mengingat banyak penelitian terbaru (2023, 2025) mendukung efektivitas mobilisasi dini, maka praktik ini layak dijadikan bagian standard dalam asuhan keperawatan post-operasi.