Terakhir diperbarui: 06 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 6 December). DevOps dalam Pengembangan Sistem Modern. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/devops-dalam-pengembangan-sistem-modern  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

DevOps dalam Pengembangan Sistem Modern - SumberAjar.com

DevOps dalam Pengembangan Sistem Modern

Pendahuluan

Dalam era pengembangan perangkat lunak modern, kebutuhan terhadap kecepatan, efisiensi, dan kualitas sudah menjadi hal yang mutlak. Model tradisional, seperti waterfall, sering kali kurang mampu menjawab tuntutan perubahan cepat, pengiriman fitur reguler, dan kolaborasi antara tim pengembangan (development) dan operasional (ops). Pendekatan DevOps muncul sebagai solusi yang menggabungkan aspek budaya, proses, dan alat (tools) untuk mempercepat siklus hidup perangkat lunak tanpa mengorbankan kualitas. DevOps memungkinkan organisasi untuk beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan, merilis fitur dengan lebih sering, serta menjaga stabilitas sistem produksi.

Pada artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang DevOps, mulai dari definisi, prinsip, hubungan dengan CI/CD, tools populer, pipeline pengembangan, manfaat, hingga tantangan implementasinya.


Definisi DevOps

Definisi DevOps Secara Umum

DevOps merupakan pendekatan kolaboratif antara tim pengembangan (development) dan tim operasional (operations). Tujuan utamanya adalah menghilangkan silo tradisional antara kedua tim tersebut agar proses pengembangan, pengujian, deployment sampai operasional dapat dilakukan secara cepat, efisien, dan andal. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan aspek teknis, tetapi juga budaya kerja, komunikasi, dan kolaborasi yang lebih intensif. [Lihat sumber Disini - papers.ssrn.com]

Definisi DevOps menurut Literatur/Standar

Dalam kajian ilmiah modern, DevOps sering diartikan sebagai kumpulan “kapabilitas” atau kemampuan yang dapat meningkatkan proses siklus hidup perangkat lunak (software life-cycle processes / LCP). Sebagai contoh, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa DevOps Capabilities mampu meningkatkan kualitas, keandalan, dan kecepatan pengiriman perangkat lunak. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Dari perspektif manajemen dan praktik, DevOps dipandang sebagai integrasi otomatisasi, kolaborasi, serta praktik terbaik (best practices) dalam build, test, deploy, dan maintenance aplikasi. [Lihat sumber Disini - journal.uinsi.ac.id]

Definisi DevOps Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi menurut para ahli / penelitian ilmiah:

  • Menurut studi literatur sistematik, DevOps adalah suatu pendekatan yang “menekankan komunikasi dan kolaborasi antara tim development dan operations” untuk memperlancar proses dan meningkatkan kecepatan rilis perangkat lunak. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Dalam penelitian empiris, adopsi praktik DevOps, termasuk otomatisasi, pengujian berkesinambungan, dan kolaborasi, terbukti meningkatkan kinerja organisasi dalam hal delivery perangkat lunak. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Sebuah artikel akademik menyebut bahwa DevOps memungkinkan penggabungan SCM (source control management), integrasi berkesinambungan, dan deployment otomatis, sehingga mendukung produktivitas R&D, pengelolaan resource, serta stabilitas kode. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Menurut peneliti lain, nilai inti DevOps meliputi aspek budaya (culture), otomatisasi (automation), pengukuran/performa (measurement), dan berbagi (sharing), sering disingkat sebagai “CAMS”. [Lihat sumber Disini - repository.nurulfikri.ac.id]


Prinsip-Prinsip DevOps

Dalam implementasinya, DevOps dibangun di atas beberapa prinsip fundamental:

  • Kolaborasi dan komunikasi lintas tim, DevOps memecah batas antara tim development dan operations, memungkinkan kerja sama lebih erat, pemahaman bersama terhadap tujuan, tanggung jawab, dan hasil. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Otomatisasi proses (Automation), Mulai dari build, test, sampai deployment, banyak tahapan yang diotomatisasi untuk mengurangi human error, mempercepat alur kerja, dan menjaga konsistensi. [Lihat sumber Disini - journal.uinsi.ac.id]

  • Integrasi berkesinambungan dan pengiriman terus-menerus (CI/CD), Integrasi dan deployment secara terus-menerus memungkinkan perubahan kode digabung, diuji, dan dideploy lebih cepat dan sering. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Pengukuran dan monitoring, DevOps mendorong penggunaan metrik, monitoring, dan feedback loop agar tim bisa mengevaluasi performa, mendeteksi masalah lebih dini, dan memperbaiki proses secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Continuous improvement dan budaya berbagi (sharing), Tim didorong untuk terus memperbaiki proses, berbagi pengetahuan, dan belajar dari pengalaman, menjadikan DevOps sebagai budaya, bukan sekadar alat atau proses. [Lihat sumber Disini - repository.nurulfikri.ac.id]


Hubungan DevOps dengan CI/CD

Praktik Continuous Integration (CI) dan Continuous Delivery / Continuous Deployment (CD) adalah bagian integral dari DevOps, sering dianggap sebagai “tulang punggung” alur kerja DevOps. [Lihat sumber Disini - fr.wikipedia.org]

  • CI fokus pada integrasi kode: pengembang rutin menggabungkan perubahan ke repositori bersama (shared repository). Setelah itu build dan test otomatis dijalankan untuk memeriksa kesalahan secepat mungkin. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • CD memperluas CI dengan otomatisasi pengiriman aplikasi ke lingkungan staging atau produksi, sehingga fitur baru atau perbaikan bug bisa dirilis dengan cepat, aman, dan andal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kombinasi DevOps + CI/CD memungkinkan tim merespon permintaan perubahan dengan gesit, mengurangi lead-time antara perubahan dan rilis, serta menjaga kualitas lewat otomatisasi build dan test. [Lihat sumber Disini - journal.stmikjayakarta.ac.id]

Studi empiris menunjukkan bahwa adopsi praktik DevOps + CI/CD berkontribusi signifikan terhadap peningkatan frekuensi rilis, penurunan waktu perubahan (lead time), dan peningkatan kualitas perangkat lunak dalam lingkungan Agile. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Tools DevOps (misalnya Docker, Kubernetes, Jenkins)

Dalam implementasi DevOps, sejumlah tools populer digunakan untuk mendukung otomatisasi, orkestrasi, dan manajemen siklus hidup aplikasi. Beberapa di antaranya:

  • Docker, platform containerization yang memungkinkan aplikasi dan dependensinya dikemas dalam container, sehingga lingkungan development, test, staging, dan produksi bisa konsisten.

  • Kubernetes, sistem orkestrasi container yang membantu pengelolaan deployment, scaling, dan manajemen lifecycle container secara otomatis dan terstruktur.

  • Jenkins, tool otomasi build, test, dan deployment, sering digunakan dalam pipeline CI/CD untuk mengautomasi build & test dan mengotomatiskan deployment.

  • Tools lainnya: selain container & orchestration, DevOps sering melibatkan sistem version control (Git), monitoring & logging, automated testing, infrastruktur sebagai kode (Infrastructure as Code / IaC), dll. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Penggunaan tools ini memungkinkan tim untuk meminimalkan kesalahan manusia, menjaga konsistensi lingkungan, mempercepat deployment, serta mendukung skala dan kompleksitas aplikasi modern, terutama ketika menggunakan arsitektur mikroservis atau cloud-native. [Lihat sumber Disini - ijcat.com]


Pipeline DevOps dalam Pengembangan Sistem

Pipeline DevOps (atau CI/CD pipeline) menggambarkan rangkaian tahapan otomatis dari kode hingga deployment. Tahapan umum dalam pipeline DevOps meliputi:

  • Code & version control, code dikembangkan dan dikelola di sistem version control (seperti Git).

  • Build, aplikasi dibangun (compiled / packaged) secara otomatis.

  • Automated testing, uji otomatis (unit test, integration test, static analysis, dsb) dijalankan untuk memastikan kualitas.

  • Deployment, hasil build & test di-deploy ke lingkungan staging atau produksi.

  • Monitoring & feedback, setelah deployment, aplikasi dimonitor untuk performa, bug, logging; feedback kembali ke tim dev/ops.

  • Iterasi / continuous improvement, berdasarkan feedback & monitoring, perbaikan dilakukan, kode diupdate, pipeline berjalan lagi.

Pipeline ini memungkinkan organisasi untuk mengirim pembaruan perangkat lunak lebih cepat, lebih sering, dan lebih dapat diandalkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa otomatisasi pipeline secara signifikan mengurangi waktu deployment dan tingkat kesalahan dibandingkan deployment manual. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Lebih jauh, dalam konteks adopsi DevOps secara luas, pipeline ini adalah inti dari bagaimana DevOps diterapkan dalam siklus hidup perangkat lunak modern, dari pengembangan hingga operasional dan maintenance. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Manfaat DevOps bagi Tim Development

Adopsi DevOps membawa berbagai manfaat nyata bagi tim dan organisasi perangkat lunak. Berdasarkan literatur dan studi empiris:

  • Waktu ke pasar lebih cepat, DevOps memungkinkan rilis fitur dan perbaikan bug lebih cepat dan sering, sehingga respons terhadap kebutuhan bisnis atau pengguna bisa lebih gesit. [Lihat sumber Disini - researchportal.ulisboa.pt]

  • Kolaborasi dan komunikasi lebih baik, DevOps menghilangkan silo antara dev dan ops, sehingga tim bekerja bersama, berbagi tanggung jawab, dan mempunyai pemahaman bersama terhadap tujuan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kualitas & stabilitas perangkat lunak meningkat, Dengan otomatisasi build, testing, dan deployment, kesalahan manusia berkurang, dan proses menjadi lebih konsisten. Ini membantu menjaga keandalan aplikasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Efisiensi operasional dan produktivitas tim, Otomatisasi dan pipeline memungkinkan tim fokus pada pengembangan fitur, bukan urusan manual deployment atau fix-fix darurat. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Kemampuan untuk merespons perubahan cepat, Dalam lingkungan bisnis atau pasar yang dinamis, DevOps memberi fleksibilitas untuk beradaptasi, memperbaiki, dan merilis update dengan cepat. [Lihat sumber Disini - indonet.id]

  • Kolaborasi lintas disiplin & budaya DevOps, DevOps bukan cuma soal tools, tapi juga budaya kolaborasi, transparansi, continuous learning dan sharing. Hal ini membentuk tim yang lebih solid dan responsif. [Lihat sumber Disini - repository.nurulfikri.ac.id]


Tantangan Implementasi DevOps

Meskipun banyak manfaat, implementasi DevOps tidak selalu mulus, sejumlah tantangan sering muncul:

  • Resistensi budaya dan hambatan komunikasi, Perubahan dari silo tradisional ke kolaboratif kadang sulit, terutama jika tim sudah terbiasa dengan proses lama. Kurangnya pemahaman atau komitmen terhadap budaya DevOps bisa menghambat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kurangnya pedoman atau standar yang jelas, Banyak organisasi bingung bagaimana memulai, tool apa yang dipilih, atau bagaimana pipeline diatur sehingga mengakibatkan adopsi yang terfragmentasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Kompleksitas tool & infrastruktur, Kombinasi banyak tools (containerization, orchestration, testing, monitoring, dll) bisa sulit dipelajari dan dikelola, apalagi untuk tim kecil. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Keamanan dan compliance, Otomatisasi dan deployment cepat bisa membawa risiko keamanan jika pipeline dan infrastruktur tidak dikonfigurasi dengan benar. Studi bahkan menunjukkan bahwa aspek keamanan dalam CI/CD terutama di lingkungan cloud perlu perhatian khusus. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]

  • Dampak pada beban kerja dan kompleksitas manajemen, Meskipun DevOps meningkatkan produktivitas, tidak jarang tim merasa beban administratif atau kompleksitas meningkat, terutama saat tim harus mengelola pipeline, monitoring, dan operasi secara terus-menerus. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Tantangan adopsi di organisasi besar atau sistem legacy, Migrasi ke DevOps bisa sulit ketika sistem lama atau proses tradisional terlalu kaku, atau ketika tim belum terbiasa dengan otomatisasi dan agile workflows. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Implementasi DevOps di Konteks Industri / Kasus Nyata

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa implementasi DevOps melalui CI/CD secara nyata memberikan dampak positif pada organisasi. Misalnya, studi di sebuah perusahaan (kasus dalam jurnal 2025) menunjukkan bahwa penerapan pipeline CI/CD membantu meningkatkan kecepatan, kualitas, dan responsivitas layanan, serta mengurangi risiko kesalahan pengujian dan deployment. [Lihat sumber Disini - journal.stmikjayakarta.ac.id]

Dalam skala internasional, analisis terhadap praktik DevOps di banyak organisasi menunjukkan bahwa adopsi DevOps terkait erat dengan frequent release, peningkatan produktivitas R&D, pengelolaan resource yang lebih baik, dan stabilitas kode melalui version control & integrasi berkesinambungan. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

Lebih lanjut, penelitian sistematik mengindikasikan bahwa DevOps, bila diimplementasikan secara konsisten, dapat memperpendek lead time, meningkatkan frekuensi rilis, mengurangi change failure rate, dan memperbaiki kolaborasi antar tim. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Kesimpulan

DevOps merupakan pendekatan holistik, bukan sekadar alat atau proses, yang menggabungkan budaya kolaboratif, otomatisasi, dan praktik terbaik untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pengembangan perangkat lunak. Dengan dukungan CI/CD, DevOps memungkinkan tim untuk merilis lebih cepat, lebih sering, dan dengan risiko lebih kecil.

Manfaatnya banyak: dari kecepatan time-to-market, peningkatan kualitas, efisiensi, sampai fleksibilitas dalam merespon kebutuhan bisnis. Namun demikian, implementasinya juga menuntut komitmen terhadap perubahan budaya, pemilihan tools dan proses yang tepat, perhatian terhadap keamanan, serta kesiapan dalam mengelola kompleksitas.

Bagi tim pengembangan modern, terutama yang bekerja dalam lingkungan Agile, penggunaan mikroservis, atau cloud, DevOps bisa menjadi fondasi penting untuk mencapai efisiensi, stabilitas, dan kontinuitas. Tetapi keberhasilan bergantung bagaimana DevOps diterapkan, bukan asal pakai tools, melainkan membangun budaya, proses, dan infrastruktur yang mendukung secara konsisten.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

DevOps adalah pendekatan yang menggabungkan tim development dan operations untuk mempercepat pengembangan, pengujian, dan deployment aplikasi melalui kolaborasi, otomatisasi, serta integrasi berkesinambungan.

Manfaat DevOps meliputi percepatan rilis aplikasi, peningkatan kualitas perangkat lunak, pengurangan kesalahan deployment, efisiensi operasional, serta kolaborasi tim yang lebih baik.

DevOps dan CI/CD saling melengkapi. CI/CD adalah praktik otomatisasi build, test, dan deployment dalam pipeline yang menjadi inti dari implementasi DevOps modern.

Beberapa tools DevOps yang populer antara lain Docker untuk containerization, Kubernetes untuk orkestrasi container, Jenkins untuk otomatisasi CI/CD, serta Git untuk version control.

Tantangan DevOps mencakup perubahan budaya organisasi, resistensi dari tim, kompleksitas penggunaan berbagai tools, serta kebutuhan untuk mengelola keamanan dan infrastruktur secara konsisten.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Infrastruktur Deployment & DevOps Infrastruktur Deployment & DevOps Pengembangan Sistem Berbasis Microservices Pengembangan Sistem Berbasis Microservices Manajemen Konfigurasi Sistem Manajemen Konfigurasi Sistem Arsitektur Sistem & Patterns Modern Arsitektur Sistem & Patterns Modern CI/CD dalam Pengembangan Sistem Modern CI/CD dalam Pengembangan Sistem Modern Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya Manajemen Proyek & Dokumentasi Sistem Manajemen Proyek & Dokumentasi Sistem Metodologi Pengembangan Sistem Metodologi Pengembangan Sistem Metode Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan Metode Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan Pemodelan & Diagram Sistem Pemodelan & Diagram Sistem Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Integrasi Sistem & Teknologi Pendukung Integrasi Sistem & Teknologi Pendukung Sistem: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi Sistem: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi Metode RAD (Rapid Application Development) Metode RAD (Rapid Application Development) Sistem Web untuk Pemantauan Hasil Belajar Sistem Web untuk Pemantauan Hasil Belajar Teknologi Web Modern Teknologi Web Modern Metode Waterfall: Tahapan, Kelebihan, dan Kekurangan Metode Waterfall: Tahapan, Kelebihan, dan Kekurangan Metode Agile: Konsep, Prinsip, dan Contoh Metode Agile: Konsep, Prinsip, dan Contoh Konsep Dasar Sistem Informasi Berbasis Web dalam Dunia Pendidikan Konsep Dasar Sistem Informasi Berbasis Web dalam Dunia Pendidikan Metode Prototyping dalam Pengembangan Sistem Metode Prototyping dalam Pengembangan Sistem
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…