Terakhir diperbarui: 06 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 6 December). CI/CD dalam Pengembangan Sistem Modern. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/cicd-dalam-pengembangan-sistem-modern  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

CI/CD dalam Pengembangan Sistem Modern - SumberAjar.com

CI/CD dalam Pengembangan Sistem Modern

Pendahuluan

Perkembangan industri perangkat lunak dewasa ini menuntut kecepatan, ketepatan, dan kualitas dalam setiap tahap, dari penulisan kode, pengujian, hingga penyebaran (deployment). Model pengembangan tradisional yang mengandalkan proses manual, integrasi manual, dan deployment manual cenderung membawa risiko konflik kode, bug laten, ketidak-konsistenan lingkungan, dan waktu rilis yang lama. Karena itu, praktik otomatisasi seperti Continuous Integration (CI) dan Continuous Delivery / Continuous Deployment (CD), secara kolektif dikenal sebagai CI/CD, menjadi tulang punggung pendekatan modern dalam pengembangan perangkat lunak. CI/CD membantu menyatukan tim pengembang dan operasi dalam satu alur kerja otomatis, memungkinkan rilis yang cepat, aman, dan konsisten. Banyak penelitian dan implementasi nyata menunjukkan bahwa CI/CD dapat meningkatkan produktivitas, kualitas perangkat lunak, dan responsivitas terhadap perubahan kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

CI/CD bukan sekadar “mode rilis cepat”, ini adalah pendekatan strategis dalam siklus hidup perangkat lunak untuk meningkatkan kolaborasi, transparansi, dan keandalan. Artikel ini akan mengulas definisi CI/CD, komponen utama pipeline, tools populer, cara membangun pipeline, manfaat yang diperoleh, contoh workflow, serta tantangan dalam implementasinya.


Definisi CI/CD

Definisi CI/CD Secara Umum

CI/CD adalah gabungan praktik di mana perubahan kode dari pengembang digabung (merge) secara berkala ke cabang bersama, lalu secara otomatis dibangun (build), diuji, dan disiapkan untuk disebarkan (deliver/deploy). CI (Continuous Integration) mengacu pada integrasi kode secara kontinu, setiap perubahan atau commit dikombinasikan dengan basis kode utama untuk mendeteksi konflik sedini mungkin. CD (Continuous Delivery atau Deployment) memperluas CI dengan otomatisasi tahap setelah build/tests, sehingga software selalu dalam keadaan siap rilis (delivery), atau langsung dideploy ke produksi (deployment). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dengan pipeline CI/CD, software dapat dikirim ke pengguna dengan frekuensi tinggi, waktu rilis singkat, dan konsistensi lingkungan tinggi, berbeda dengan metode tradisional yang cenderung lambat dan rawan kesalahan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi CI/CD dalam KBBI

Karena istilah “CI/CD” adalah terminologi teknis dalam bidang rekayasa perangkat lunak, tidak ada entri resmi di kamus umum seperti KBBI untuk akronim ini. Oleh karena itu, definisi berdasarkan KBBI kurang relevan. Umumnya definisi CI/CD bersifat teknis dan digambarkan dalam literatur software engineering, bukan dalam kamus bahasa sehari-hari. Namun, jika ditinjau secara harfiah: “continuous” berarti terus-menerus/berkelanjutan, “integration” berarti penggabungan, “delivery/deployment” berarti pengiriman/penyebaran, sehingga CI/CD dapat diartikan sebagai “penggabungan dan penyebaran perangkat lunak secara berkelanjutan”.

Definisi CI/CD Menurut Para Ahli

  • Menurut penulis dalam artikel “Implementing Continuous Integration and Continuous Deployment (CI/CD) in Modern Software Development”, CI/CD dipandang sebagai praktik esensial dalam rekayasa perangkat lunak modern; CI memungkinkan integrasi perubahan kode secara sering dan deteksi bug sedini mungkin, sedangkan CD mengotomatisasi deploy sehingga proses delivery lebih cepat, andal, dan berulang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Dalam ulasan sistematis keamanannya, praktik CI/CD, bersama dengan continuous delivery (CDE) dan continuous deployment (CD), disebut sebagai komponen inti dalam rekayasa perangkat lunak modern, terutama untuk mendukung cloud deployment, kolaborasi tim besar, dan rilis software yang konsisten. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]

  • Penelitian di Indonesia oleh Danur Wijayanto (2021) menekankan bahwa implementasi CI/CD mempercepat proses integrasi dan delivery perangkat lunak, serta mengurangi ketergantungan antar tim (pengembang vs operasi). [Lihat sumber Disini - jurnal.amikom.ac.id]

  • Studi kasus implementasi CI/CD untuk aplikasi web berbasis container (menggunakan Docker) dan otomatisasi dengan alat seperti GitHub Actions menunjukkan bahwa CI/CD dapat memangkas waktu deployment secara signifikan dibanding metode manual, meningkatkan efisiensi dan konsistensi lingkungan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]


Komponen Utama CI/CD Pipeline

Beberapa elemen utama yang biasanya ada dalam pipeline CI/CD:

  • Version Control System (VCS): Menyimpan kode sumber dan perubahan (commit), memungkinkan kolaborasi tim dan tracking riwayat kode. Dalam banyak proyek modern, digunakan sistem version control seperti Git. Praktik CI menyarankan semua build dapat dilakukan dari “clean checkout” agar konsisten. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Automated Build: Setiap commit di-trigger build otomatis, di mana kode dikompilasi, dependensi ditarik, dan build artefak dihasilkan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Automated Testing: Setelah build, pipeline menjalankan tes otomatis (unit test, integration test, static analysis, dsb.) untuk menjamin kualitas kode sebelum lanjut ke tahap deployment. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Artifact Repository / Packaging: Hasil build dapat dikemas sebagai artefak, misalnya kontainer (Docker), binary, paket, dan disimpan agar bisa dipakai untuk deployment. Banyak implementasi modern menggunakan containerization. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]

  • Deployment / Delivery Automation: Setelah build dan tes valid, pipeline mengotomatisasi proses penyebaran, ke staging, testing environment, atau langsung ke produksi, tergantung strategi CD (delivery vs deployment). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Monitoring & Feedback (opsional tapi dianjurkan): Setelah deployment, sistem monitoring dimanfaatkan untuk mendeteksi kesalahan runtime, performa, dan memungkinkan respons cepat bila ada masalah. Banyak pipeline modern mendukung fase ini sebagai bagian dari CI/CD. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Tools CI/CD (GitHub Actions, GitLab, Jenkins, dll.)

Beberapa alat populer yang sering digunakan untuk mengimplementasikan CI/CD:

  • GitHub Actions, Platform CI/CD terintegrasi di GitHub. Banyak proyek menggunakan GitHub Actions bersama Docker untuk otomatisasi build, test, dan deploy. Studi di 2024 menunjukkan implementasi GitHub Actions pada proyek web berhasil meningkatkan efisiensi dan mengurangi waktu deploy serta kesalahan manual. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]

  • **Jenkins, Salah satu tool CI/CD open-source paling populer dan fleksibel. Cocok untuk berbagai bahasa dan stack, serta bisa dikombinasikan dengan plugin untuk deployment, containerization, monitoring, dsb. Banyak riset di Indonesia menggunakan Jenkins dalam implementasi CI/CD untuk aplikasi web dan layanan. [Lihat sumber Disini - ojs.mahadewa.ac.id]

  • **GitLab CI/CD, Tool bawaan GitLab yang mendukung pipeline CI/CD secara otomatis bagi proyek yang menggunakan GitLab sebagai VCS. Dalam studi perbandingan, GitLab CI/CD menawarkan konfigurasi lebih sederhana dibanding Jenkins, meskipun dalam beberapa kasus Jenkins menunjukkan performa build/deploy lebih cepat. [Lihat sumber Disini - repository.telkomuniversity.ac.id]

  • Kombinasi dengan containerization (misalnya Docker, serta dalam beberapa implementasi menggunakan Kubernetes untuk orkestrasi), praktik ini membuat lingkungan build dan deploy konsisten, serta mempermudah skala dan manajemen. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Tools pendukung lain: sistem manajemen proses (misalnya dalam studi disebut “Process Manager 2”) untuk mengatur proses CI/CD pada aplikasi tertentu. [Lihat sumber Disini - jurnal.amikom.ac.id]


Langkah-Langkah Membangun Pipeline CI/CD

Berikut pola umum dalam membangun pipeline CI/CD:

  1. Siapkan repositori kode dalam VCS (misalnya Git, di GitHub atau GitLab). Pastikan setiap perubahan (commit) akan dipantau.

  2. Konfigurasi pipeline: definisikan file konfigurasi (misalnya .yaml untuk GitHub Actions / GitLab CI / Jenkins pipeline) yang menetapkan tahap build, compile/package, testing, artefak, deploy.

  3. Setup automated build & test: pastikan setiap commit memicu build otomatis, diikuti oleh serangkaian tes otomatis (unit, integration, linting, dsb.).

  4. Package artefak: setelah build & test sukses, hasilnya dikemas sebagai artefak (binary, kontainer, dll.) dan disimpan di registry/repositori artefak.

  5. Deploy otomatis atau semi otomatis: tergantung strategi, bisa terus menerus deploy ke environment staging/testing, atau otomatis deploy ke produksi (continuous deployment), atau hanya menyiapkan artefak siap deploy (continuous delivery).

  6. Monitoring & feedback (opsional tapi disarankan): setelah deploy, pantau aplikasi, log, performa, error, untuk mendeteksi permasalahan secara cepat dan memungkinkan rollback bila diperlukan.

  7. Iterasi & optimasi: evaluasi pipeline, perbaiki tes, konfigurasi, environment, dan optimasi untuk efisiensi, stabilitas, dan skalabilitas.

Model ini dapat disesuaikan tergantung tim, ukuran proyek, dan kompleksitas aplikasi, misalnya menambahkan tahap validasi keamanan (security testing), code quality scan, migrasi database, dsb.


Manfaat CI/CD dalam Pengembangan Modern

Implementasi CI/CD membawa sejumlah keuntungan signifikan:

  • Kecepatan dan frekuensi rilis lebih tinggi: perubahan kode dapat diintegrasikan, diuji, dan disebarkan secara rutin dan otomatis, mempercepat time-to-market fitur baru. Banyak studi menunjukkan bahwa CI/CD mempercepat delivery dibanding cara manual. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]

  • Kualitas dan keandalan lebih baik: dengan build dan testing otomatis, bug atau regresi dapat dideteksi sedini mungkin, sebelum menyebar ke produksi. Hal ini mengurangi risiko error dan downtime. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Konsistensi lingkungan: dengan menggunakan container (misalnya Docker) dan pipeline otomatis, lingkungan build, test, dan produksi bisa konsisten, menghindari bug lingkungan yang “hanya muncul di server tertentu”. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]

  • Efisiensi tim dan kolaborasi lebih baik: tim pengembang dan operasi (ops) bisa bekerja sama lebih mulus, meminimalkan ketergantungan manual antar tim. Hal ini mengurangi overhead koordinasi dan memudahkan skalabilitas tim. [Lihat sumber Disini - jurnal.amikom.ac.id]

  • Respon cepat terhadap perubahan: dalam proyek dengan kebutuhan fitur baru atau perbaikan bug secara intensif, CI/CD memungkinkan iterasi cepat tanpa mengorbankan stabilitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Penerapan praktik DevOps & otomasi modern: CI/CD menjadi fondasi bagi praktik DevOps, Infrastruktur sebagai Kode (IaC), otomasi testing & deployment, dan orkestrasi container, penting untuk sistem berskala besar atau berbasis cloud/microservices. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Contoh Workflow CI/CD

Misalnya, sebuah tim mengembangkan aplikasi web menggunakan Git + Docker + GitHub. Workflow CI/CD bisa berjalan seperti ini:

  • Developer membuat fitur di branch terpisah → melakukan commit ke repository.

  • Commit memicu pipeline di GitHub Actions → build kontainer Docker → menjalankan unit + integration test otomatis.

  • Jika semua test lulus → artefak (kontainer) disimpan ke registry → pipeline otomatis deploy ke environment staging (atau produksi, tergantung kebijakan).

  • Setelah deploy, monitoring dijalankan; jika ada error, pipeline bisa rollback atau alert dikirim ke tim.

Dalam studi “Implementasi CI/CD Menggunakan GitHub Actions Untuk Pengembangan Web Landing Page UMKM XYZ” disebutkan bahwa workflow ini berhasil meningkatkan efisiensi proses, mempercepat deploy, dan mengurangi kesalahan manual. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]

Atau contoh lain, tim menggunakan Jenkins + Kubernetes: pipeline mencakup build, test, packaging ke Docker, deploy otomatis ke cluster Kubernetes, serta auto-scaling dan load-balancing lingkungan produksi, cocok untuk aplikasi yang membutuhkan skalabilitas dan kontinuitas tinggi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Tantangan Implementasi CI/CD

Meskipun banyak manfaat, implementasi CI/CD juga punya tantangan nyata:

  • Konfigurasi dan setup awal bisa kompleks: terutama jika tim belum terbiasa dengan tooling (misalnya Jenkins butuh konfigurasi mendalam). [Lihat sumber Disini - repository.telkomuniversity.ac.id]

  • Pemeliharaan pipeline dan dependensi: pipeline harus terus diperbarui seiring perubahan kode, dependencies, environment, dll. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa jadi proses build/test/deploy jadi rapuh atau gagal. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]

  • Perubahan budaya kerja tim: tim perlu adaptasi ke commit sering, test otomatis, deployment cepat, ini memerlukan disiplin, komunikasi, dan kesepakatan workflow.

  • Kebutuhan resource & infrastruktur: misalnya server build otomatis, registry artefak, container registry, mungkin orchestration (Docker/Kubernetes), bisa jadi overhead jika proyek kecil atau tim kurang sumber daya.

  • Masalah keamanan & kontrol akses: otomatisasi deployment berarti potensi risiko jika pipeline disalahgunakan, perlu pengamanan, monitoring, dan kontrol akses yang ketat. Studi literatur menunjukkan ada gap dalam aspek keamanan CI/CD di cloud. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]

  • Kompleksitas testing & regressi: meskipun otomatisasi membantu, jika tes tidak memadai atau tidak diperbarui, bug bisa lolos, terutama di proyek besar, multi-lingkungan, atau monorepo.


Kesimpulan

CI/CD, kombinasi Continuous Integration dan Continuous Delivery/Deployment, adalah fondasi penting dalam pengembangan perangkat lunak modern. Dengan pipeline yang otomatis dan terstruktur: build, test, deployment, tim bisa merilis software lebih cepat, lebih sering, dengan kualitas lebih tinggi dan risiko lebih kecil dibanding metode manual tradisional. Walau ada tantangan seperti konfigurasi awal, pemeliharaan pipeline, kebutuhan infrastruktur, dan perubahan budaya tim, banyak penelitian dan implementasi nyata di Indonesia maupun global menunjukkan bahwa manfaat CI/CD jauh melebihi biaya dan usaha awal.

Bagi tim pengembang yang ingin meningkatkan efisiensi, kolaborasi, dan kecepatan rilis, mengadopsi CI/CD, dengan tools seperti GitHub Actions, Jenkins, GitLab CI/CD, serta integrasi containerization dan orkestrasi, adalah langkah strategis yang relevan di era DevOps dan pengembangan software modern.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

CI/CD adalah praktik otomasi dalam proses pengembangan perangkat lunak yang mencakup Continuous Integration (integrasi kode secara berkala) dan Continuous Delivery/Deployment (otomatisasi pengiriman atau penyebaran aplikasi). Tujuannya untuk mempercepat rilis, meningkatkan kualitas, dan meminimalkan kesalahan manual.

Manfaat CI/CD meliputi kecepatan rilis yang lebih tinggi, kualitas aplikasi yang lebih stabil, deteksi bug lebih cepat, konsistensi lingkungan, efisiensi kolaborasi tim, dan proses deployment yang lebih aman serta otomatis.

Beberapa tools populer untuk CI/CD antara lain GitHub Actions, GitLab CI/CD, Jenkins, Bitbucket Pipelines, CircleCI, dan Azure DevOps. Masing-masing memiliki keunggulan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

Tahapan membangun pipeline CI/CD meliputi pengaturan repository, konfigurasi build otomatis, menjalankan testing otomatis, membuat artefak build, deployment otomatis ke staging atau produksi, lalu monitoring pasca-deployment untuk memastikan kestabilan aplikasi.

Tantangannya termasuk konfigurasi awal yang kompleks, kebutuhan infrastruktur tambahan, pemeliharaan pipeline, perubahan budaya kerja tim, serta penanganan keamanan dalam pipeline otomatis yang harus dikelola dengan baik.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya Manajemen Proyek & Dokumentasi Sistem Manajemen Proyek & Dokumentasi Sistem Metodologi Pengembangan Sistem Metodologi Pengembangan Sistem Metode Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan Metode Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan Pemodelan & Diagram Sistem Pemodelan & Diagram Sistem Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Integrasi Sistem & Teknologi Pendukung Integrasi Sistem & Teknologi Pendukung Sistem: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi Sistem: Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi Metode RAD (Rapid Application Development) Metode RAD (Rapid Application Development) Sistem Web untuk Pemantauan Hasil Belajar Sistem Web untuk Pemantauan Hasil Belajar Teknologi Web Modern Teknologi Web Modern Metode Waterfall: Tahapan, Kelebihan, dan Kekurangan Metode Waterfall: Tahapan, Kelebihan, dan Kekurangan Metode Agile: Konsep, Prinsip, dan Contoh Metode Agile: Konsep, Prinsip, dan Contoh Konsep Dasar Sistem Informasi Berbasis Web dalam Dunia Pendidikan Konsep Dasar Sistem Informasi Berbasis Web dalam Dunia Pendidikan Metode Prototyping dalam Pengembangan Sistem Metode Prototyping dalam Pengembangan Sistem Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern SDLC: Pengertian, Tahapan, dan Contoh SDLC: Pengertian, Tahapan, dan Contoh Arsitektur Sistem & Patterns Modern Arsitektur Sistem & Patterns Modern Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Penelitian Pendidikan Modern: Ciri dan Contohnya Penelitian Pendidikan Modern: Ciri dan Contohnya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…