
Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya
Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini membuat kebutuhan akan sistem informasi (SI) semakin meningkat di berbagai sektor, pemerintahan, bisnis, pendidikan, hingga layanan publik. Untuk menghasilkan sistem informasi yang andal, sesuai kebutuhan pengguna, dan mudah dikelola dalam jangka panjang, dibutuhkan kerangka kerja yang sistematis dalam pengembangannya. Salah satu kerangka kerja yang paling umum digunakan adalah Software Development Life Cycle (SDLC). Artikel ini membahas secara mendalam apa itu pengembangan sistem informasi, bagaimana tahapan SDLC, perbandingan antara metode pengembangan seperti Waterfall dan Agile, serta contoh penerapannya dalam proyek nyata. Harapannya, pembaca, baik pengembang, manajer proyek, maupun mahasiswa, dapat memahami konsep dan praktik terbaik dalam membangun sistem informasi.
Definisi Pengembangan Sistem Informasi
Definisi Pengembangan Sistem Informasi Secara Umum
Pengembangan sistem informasi adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan untuk merancang, membangun, menguji, dan memelihara sistem informasi berbasis komputer agar sesuai dengan kebutuhan organisasi maupun pengguna. Tujuannya adalah menghasilkan sistem informasi berkualitas tinggi, efisien, dan dapat mendukung operasi bisnis atau organisasi secara optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.polgan.ac.id]
Definisi Pengembangan Sistem Informasi dalam KBBI
Menurut arti umum “pengembangan” dan “sistem informasi”, pengembangan sistem informasi dapat diartikan sebagai proses pengembangan atau pembuatan sistem informasi, dari tahap perencanaan hingga implementasi dan pemeliharaan, yang mendukung pengolahan data dan informasi secara terstruktur. Meskipun KBBI mungkin tidak memiliki entri khusus “pengembangan sistem informasi”, penggabungan arti “pengembangan” (pembuatan, perbaikan) dan “sistem informasi” secara literal mencerminkan arti tersebut.
Definisi Pengembangan Sistem Informasi Menurut Para Ahli
Beberapa literatur akademik mendefinisikan pengembangan sistem informasi sebagai berikut:
- Menurut penelitian di jurnal “Analisis Metode Pengembangan Sistem Informasi Berbasis Website” (2023), pengembangan sistem informasi adalah proses pembuatan sistem melalui metodologi SDLC agar menghasilkan sistem berkualitas tinggi sesuai kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - jurnal.polgan.ac.id]
- Dalam literatur umum, SDLC disebut sebagai kerangka kerja terstruktur untuk merencanakan, mengembangkan, menguji, dan memelihara perangkat lunak atau sistem informasi. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id]
- Jurnal akademik juga menyatakan bahwa pengembangan sistem informasi mencakup seluruh siklus hidup sistem: dari analisis kebutuhan, desain, implementasi, hingga pemeliharaan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Sumber lain menekankan bahwa metode dan model yang dipilih dalam pengembangan menjadi faktor penting yang menentukan kualitas, efektivitas, dan keberhasilan sistem yang dikembangkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan sistem informasi adalah proses sistematis dan terstruktur yang bertujuan menghasilkan sistem sesuai dengan kebutuhan pengguna dan organisasi.
SDLC (Requirement, Design, Development, Testing, Deployment, Maintenance)

SDLC, kerangka kerja siklus hidup pengembangan sistem, membagi proses pengembangan sistem informasi ke dalam beberapa tahap atau fase. Hal ini membantu tim pengembang dalam mengelola proyek dengan lebih terstruktur, mengurangi risiko kesalahan, serta memastikan kualitas hasil akhir. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id]
Berikut gambaran tahapan SDLC secara umum:
- Requirement / Analisis Kebutuhan
Pada fase ini, dilakukan identifikasi dan pengumpulan kebutuhan pengguna (user) baik kebutuhan fungsional maupun non-fungsional. Tujuannya agar seluruh fitur, batasan, dan ekspektasi sistem tercatat dengan jelas sebagai dasar pengembangan. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id] - Design / Perancangan Sistem
Setelah kebutuhan ditetapkan, dilakukan perancangan sistem, meliputi arsitektur sistem, desain basis data, antarmuka pengguna, alur kerja (workflow), serta struktur teknis sistem. Tahap ini memastikan semua aspek teknis dan fungsional dipersiapkan secara matang. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id] - Development / Pengembangan
Pada fase ini, tim pengembang mulai menulis kode source sesuai dengan desain yang telah disetujui sebelumnya. Semua komponen, front-end, back-end, database, dikembangkan dan diintegrasikan menjadi sistem utuh. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id] - Testing / Pengujian
Setelah pengembangan selesai, sistem diuji untuk memastikan bahwa semua fitur bekerja sesuai spesifikasi, serta bebas dari bug, error, atau masalah performa. Pengujian ini penting agar sistem stabil, andal, dan memenuhi kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id] - Deployment / Implementasi
Setelah lolos pengujian, sistem di-deploy ke lingkungan produksi dan mulai digunakan oleh pengguna akhir. Kadang juga dilengkapi pelatihan bagi pengguna, dokumentasi, dan konfigurasi lingkungan produksi. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id] - Maintenance / Pemeliharaan
Setelah implementasi, sistem terus dipantau, diperbaiki, serta diperbaharui sesuai kebutuhan, baik itu penambahan fitur, perbaikan bug, maupun penyesuaian agar sistem tetap relevan dan aman. [Lihat sumber Disini - dti-jkt.telkomuniversity.ac.id]
Melalui tahapan tersebut, SDLC mampu menyediakan kerangka kerja yang jelas dan metode yang terstruktur, sehingga risiko dalam pengembangan sistem informasi dapat diminimalkan dan hasil akhir sesuai harapan. [Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id]
Metode Waterfall

Metode Waterfall adalah salah satu model SDLC yang paling klasik dan banyak digunakan. Pendekatan ini linier, artinya setiap fase dilakukan secara berurutan, dan satu fase harus selesai sebelum fase berikutnya dimulai. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Keunggulan dari metode Waterfall antara lain:
- Struktur yang jelas dan teratur: karena fase-fase terdefinisi dengan baik dan berurutan, manajemen proyek menjadi lebih mudah dan terstruktur. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Dokumentasi baik: setiap fase menghasilkan deliverable (dokumen requirement, desain, hasil coding, test plan) sehingga sistem terdokumentasi dengan rapi. [Lihat sumber Disini - djournals.com]
- Cocok untuk proyek dengan kebutuhan dan spesifikasi stabil: ketika requirement sudah jelas di awal dan diperkirakan tidak banyak berubah, Waterfall dapat efisien dan efektif. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
Namun, Waterfall juga memiliki keterbatasan:
- Kurang fleksibel terhadap perubahan: jika di tengah jalan ada perubahan kebutuhan, sulit untuk kembali ke fase sebelumnya tanpa mengulang proses. [Lihat sumber Disini - hostjournals.com]
- Waktu pengembangan bisa lama, terutama jika requirement awal belum matang. [Lihat sumber Disini - journal.stiestekom.ac.id]
- Risiko ketidaksesuaian dengan kebutuhan pengguna jika requirement tidak dikumpulkan secara komprehensif di awal.
Banyak penelitian di Indonesia yang menunjukkan bahwa Waterfall masih populer dan banyak digunakan dalam pengembangan sistem informasi berbasis web maupun aplikasi bisnis. [Lihat sumber Disini - jurnal.polgan.ac.id]
Metode Agile

Metode Agile menawarkan pendekatan berbeda, lebih fleksibel, iteratif, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan. Dalam beberapa jurnal di Indonesia, model Agile (misalnya menggunakan framework Scrum) banyak dipakai untuk proyek sistem informasi berbasis web, terutama di bidang bisnis. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]
Keunggulan metode Agile antara lain:
- Fleksibilitas tinggi: Agile memungkinkan tim merespons perubahan requirement di tengah proyek tanpa harus mengulang seluruh fase. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
- Iteratif & incremental: Sistem dibangun dalam beberapa iterasi kecil, sehingga bagian dari sistem bisa segera dipakai lebih awal dan dievaluasi, meminimalisir risiko kegagalan besar di akhir proyek. [Lihat sumber Disini - publikasi.dinus.ac.id]
- Cocok untuk proyek dengan kebutuhan dinamis atau tidak stabil: terutama proyek di mana kebutuhan pengguna bisa berubah sewaktu-waktu. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
Namun Agile juga memiliki kekurangan:
- Butuh koordinasi intensif antara tim dan pengguna/klien, jika komunikasi tidak baik, iterasi bisa kacau atau hasil tidak sesuai harapan.
- Dokumentasi bisa kurang detail jika tim terlalu fokus pada kecepatan dan iterasi.
- Tidak cocok jika proyek butuh dokumentasi ketat atau spesifikasi awal yang sangat jelas dan stabil.
Menurut studi tahun 2025, perbandingan antara Waterfall dan Agile pada proyek sistem informasi perpustakaan menunjukkan bahwa Waterfall cocok untuk sistem stabil, sedangkan Agile unggul dalam fleksibilitas dan adaptasi terhadap perubahan kebutuhan. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
Contoh Penerapan SDLC di Proyek Sistem Informasi
Berikut beberapa contoh penerapan SDLC dalam proyek nyata berdasarkan literatur/jurnal terkini (2023-2025):
- Pembuatan sistem informasi akademik berbasis web di sebuah institusi pendidikan menggunakan SDLC, hasilnya sistem terintegrasi yang memudahkan mahasiswa dan staf mendapatkan data akademik secara efisien. [Lihat sumber Disini - jurnal.uts.ac.id]
- Pengembangan dashboard laporan pengaduan berbasis website untuk unit Access Service Operation, menggunakan SDLC model prototipe, menunjukkan bahwa SDLC fleksibel untuk digabung dengan model lain saat dibutuhkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekharber.ac.id]
- Penerapan sistem informasi di perpustakaan berbasis web dengan model Waterfall: analisis kebutuhan → desain → coding → pemeliharaan, menghasilkan sistem perpustakaan digital yang membantu akses pengguna. [Lihat sumber Disini - journal.lontaradigitech.com]
- Studi perbandingan metodologi pada proyek kepatuhan, menunjukkan bahwa pemilihan antara Waterfall atau Agile sangat dipengaruhi kebutuhan sistem: stabilitas vs fleksibilitas. [Lihat sumber Disini - hostjournals.com]
Kesimpulan
Pengembangan sistem informasi adalah proses krusial untuk menghasilkan sistem yang sesuai kebutuhan pengguna dan organisasi. Kerangka kerja seperti SDLC memberikan struktur yang jelas: dari perencanaan, analisis, perancangan, pengembangan, pengujian, implementasi, hingga pemeliharaan. Metode pengembangan seperti Waterfall dan Agile masing-masing memiliki karakteristik, kelebihan, serta kelemahan, sehingga pemilihan metode harus disesuaikan dengan kebutuhan proyek. Waterfall cocok untuk proyek dengan requirement stabil dan dokumentasi terstruktur; sementara Agile lebih tepat untuk proyek dengan kebutuhan dinamis dan perlu fleksibilitas. Contoh-contoh nyata dari literatur menunjukkan bahwa SDLC tetap relevan dan efektif dalam berbagai konteks, dari pendidikan, layanan publik, hingga aplikasi bisnis.