
Financial Distress: Konsep dan Prediksi Kebangkrutan
Pendahuluan
Financial distress adalah fenomena krusial dalam dunia bisnis modern karena menandakan kondisi di mana perusahaan mengalami tekanan keuangan yang signifikan dan berpotensi menuju kebangkrutan jika tidak segera diatasi. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan finansial perusahaan, tetapi juga menimbulkan implikasi serius bagi berbagai pemangku kepentingan seperti investor, kreditur, manajer, dan pemerintah. Financial distress sering kali merupakan sinyal awal sebelum terjadinya kebangkrutan, sehingga memahami konsep, tahapan, faktor penyebab, serta model prediksi kebangkrutan menjadi penting untuk pencegahan dan pengambilan keputusan strategis. Penelitian dan literatur akademik telah mengkaji financial distress dari berbagai pendekatan, termasuk teori rasio keuangan, sistem peringatan dini, dan penerapan model statistik untuk mengevaluasi risiko kebangkrutan. Dengan demikian, ulasan komprehensif mengenai financial distress akan memberikan wawasan teoritis dan praktis yang berguna bagi stakeholders dalam mengelola risiko perusahaan. Sumber-sumber akademik ini akan dijadikan dasar dalam pembahasan berikut agar artikel ini memiliki landasan ilmiah yang kuat dan relevan terhadap perkembangan riset terbaru.
Definisi Financial Distress
Definisi Financial Distress Secara Umum
Financial distress secara umum didefinisikan sebagai suatu kondisi perusahaan yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban finansialnya. Financial distress mencerminkan turunnya kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum fase kebangkrutan atau likuidasi, di mana perusahaan tidak mampu lagi membayar kewajiban kepada kreditor dan mengalami penurunan kinerja keuangan yang signifikan. Kondisi ini sering terlihat dari kinerja rasio keuangan seperti profitabilitas negatif, likuiditas yang buruk, dan nilai ekuitas yang menurun. Semakin parah kondisi ini, semakin tinggi kemungkinan perusahaan berada di zona distress yang berujung pada kebangkrutan bila tidak ditangani dengan langkah perbaikan yang efektif. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Definisi Financial Distress dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah financial distress tidak ditemukan sebagai istilah tunggal karena merupakan istilah teknis dalam bahasa Inggris. Namun jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, istilah ini merujuk pada kondisi “kesulitan keuangan” yang dialami oleh perusahaan, di mana perusahaan mengalami hambatan dalam memenuhi kewajiban finansialnya seperti pembayaran hutang jangka pendek dan jangka panjang, atau kesulitan mendapatkan likuiditas. Penerapan istilah ini secara teknis dihimpun dari berbagai kajian manajemen keuangan yang mendefinisikan financial distress sebagai kondisi tekanan finansial yang serius yang mempengaruhi keberlanjutan operasional perusahaan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Definisi Financial Distress Menurut Para Ahli
Menurut Platt dan Platt (2002), financial distress adalah bentuk penurunan kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum kebangkrutan atau likuidasi, di mana perusahaan berada dalam fase tekanan finansial yang signifikan sebelum akhirnya mengalami kegagalan operasional. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Damodaran (1997) menyatakan bahwa kondisi financial distress terjadi ketika perusahaan gagal dalam mengelola arus kasnya sehingga penerimaan tidak mencukupi untuk menutupi beban operasi serta kewajiban pembayaran hutang, sehingga ini menjadi tanda penting bahwa perusahaan berada dalam situasi rentan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Menurut penelitian Rejimon & Usha (2024), financial distress merupakan suatu keadaan di mana perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya serta mengalami defisit likuiditas dan profitabilitas yang berkepanjangan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kebangkrutan. ([Lihat sumber Disini - dialnet.unirioja.es])
Lau (2021) juga menjelaskan financial distress sebagai alat evaluasi penting terutama oleh auditor dan pemangku kepentingan untuk menilai apakah suatu perusahaan dalam risiko keuangan tinggi dan mungkin tidak dapat melanjutkan operasinya (“going concern”). ([Lihat sumber Disini - jurnal.publikasi-untagcirebon.ac.id])
Tahapan Terjadinya Financial Distress
Tahapan terjadinya financial distress bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah perjalanan progresif dari perusahaan yang awalnya sehat hingga menuju kondisi krisis keuangan serius. Tahapan ini sering digambarkan sebagai berikut:
Tahap Normal / Sehat
Pada tahap awal, perusahaan beroperasi secara finansial sehat dengan rasio-rasio keuangan yang positif, likuiditas yang memadai, dan profitabilitas stabil. Perusahaan dapat memenuhi kewajiban dalam jangka pendek maupun jangka panjang secara normal.
Tahap Awal Tekanan Keuangan
Kemudian, perusahaan mulai mengalami tekanan keuangan yang ditandai dengan menurunnya rasio profitabilitas dan likuiditas, di mana hasil operasi perusahaan mulai tidak cukup menutupi biaya operasional atau kewajiban finansial tertentu. Pada tahap ini perusahaan masih dapat melakukan langkah perbaikan internal seperti efisiensi biaya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Tahap Distress Moderat
Pada tahapan ini, tekanan keuangan semakin nyata dan berkelanjutan. Perusahaan mungkin mengalami kerugian operasional berulang, likuiditas yang semakin menipis, atau kesulitan membayar sebagian kewajiban. Indikator seperti negatifnya laba operasi serta nilai buku ekuitas yang menurun sering digunakan untuk mengukur kondisi ini. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Tahap Distress Parah atau Pre-Kebangkrutan
Jika dalam tahap distress moderat tidak diatasi, perusahaan akan memasuki fase tekanan keuangan yang berat, di mana kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban sangat terganggu dan risiko default atau gagal bayar menjadi tinggi. Pada fase ini, perusahaan berada di ambang kebangkrutan dan perlu tindakan drastis seperti restrukturisasi utang atau merombak strategi operasi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Faktor-Faktor Penyebab Financial Distress
Financial distress tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal di lingkungan perusahaan. Beberapa faktor utama penyebab financial distress antara lain:
1. Arus Kas yang Tidak Memadai
Arus kas operasi yang kurang kuat akan menyebabkan perusahaan tidak mampu menutupi biaya operasional dan kewajiban finansialnya. Hal ini sering terjadi ketika pendapatan turun atau terjadi penurunan volume penjualan secara signifikan tanpa diimbangi dengan pengendalian biaya yang tepat. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
2. Tingginya Struktur Hutang
Perusahaan dengan struktur hutang yang tinggi lebih rentan terhadap tekanan keuangan jika terjadi kenaikan biaya bunga atau kondisi ekonomi yang memburuk karena beban hutang yang besar harus dibayar secara teratur. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
3. Profitabilitas Negatif
Kerugian yang berkelanjutan membuat modal perusahaan semakin tergerus dan mengurangi kemampuan perusahaan untuk membiayai aktivitas operasional maupun investasi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
4. Tekanan Eksternal
Perubahan regulasi, fluktuasi suku bunga, krisis ekonomi, atau perubahan teknologi pasar dapat menekan performa perusahaan dan berdampak pada likuiditas serta profitabilitasnya. ([Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id])
5. Manajemen yang Buruk
Pengambilan keputusan yang tidak efektif, kurangnya perencanaan strategis, dan kelemahan dalam pengendalian internal dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan dan mempercepat terjadinya financial distress. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])
Model Prediksi Kebangkrutan
Model prediksi kebangkrutan merupakan alat penting untuk memperkirakan kemungkinan perusahaan mengalami financial distress yang berat dan akhirnya bangkrut. Beberapa model prediksi yang telah banyak digunakan dalam penelitian ilmiah antara lain:
Altman Z-Score
Model ini merupakan salah satu pendekatan paling populer dalam memprediksi kebangkrutan berdasarkan kombinasi rasio keuangan tertentu. Altman Z-Score menggabungkan rasio likuiditas, profitabilitas, leverage, dan aktivitas untuk menghasilkan skor yang menunjukkan tingkat risiko kebangkrutan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Springate dan Zmijewski
Model Springate menggunakan kombinasi rasio keuangan yang berbeda untuk memperkirakan risiko gagal bayar, sementara model Zmijewski mengkombinasikan indikator profitabilitas dan leverage. Kedua model ini sering dibandingkan dengan model Altman dalam akurasi prediksi. ([Lihat sumber Disini - ejournal.utmj.ac.id])
Ohlson O-Score dan CA-Score
Ohlson O-Score dan CA-Score adalah model statistik lain yang memberikan prediksi tentang kemungkinan kebangkrutan berdasarkan berbagai faktor keuangan perusahaan. CA-Score dalam beberapa penelitian menunjukkan tingkat akurasi tinggi dalam memprediksi financial distress dibandingkan model lainnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id])
Model Logit dan Probability-Based
Dalam literatur terbaru ditemukan penggunaan model probabilitas seperti logit model yang digunakan bersama model statistik untuk mengevaluasi kemungkinan perusahaan jatuh dalam kondisi distress berdasarkan variabel rasio keuangan tertentu. ([Lihat sumber Disini - dialnet.unirioja.es])
Dampak Financial Distress terhadap Perusahaan
Financial distress memiliki dampak luas bagi organisasi dan stakeholders-nya. Beberapa dampak utama meliputi:
Penurunan Kepercayaan Investor
Investor semakin berhati-hati melakukan investasi pada perusahaan yang menunjukkan tanda-tanda financial distress karena potensi kerugian yang tinggi.
Kesulitan Mendapatkan Pembiayaan
Bank dan kreditur mungkin enggan memberikan pinjaman baru atau memperketat persyaratan kredit jika perusahaan menunjukkan risiko gagal bayar yang tinggi.
Pengurangan Daya Saing
Ketika perusahaan terfokus pada penyelesaian masalah keuangan, alokasi sumber daya kepada inovasi dan ekspansi pasar bisa berkurang yang berdampak pada daya saing jangka panjang.
Risiko Kebangkrutan
Jika kondisi financial distress tidak diatasi, risiko kebangkrutan menjadi sangat tinggi, yang mengakhiri operasional perusahaan dan mempengaruhi karyawan, pemasok, serta komunitas bisnis secara keseluruhan.
Financial Distress dan Keputusan Manajemen
Manajemen perusahaan memainkan peran penting dalam mengatasi financial distress. Keputusan strategis seperti restrukturisasi utang, pengendalian biaya, diversifikasi produk, dan peningkatan efisiensi operasional dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Selain itu, penggunaan sistem peringatan dini berbasis model prediksi financial distress dapat memberikan manajemen waktu untuk mengambil tindakan korektif sebelum kondisi semakin memburuk.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, financial distress adalah kondisi tekanan keuangan yang serius yang dapat menempatkan perusahaan di ambang kebangkrutan jika tidak segera ditangani. Financial distress bukan hanya masalah internal tetapi dipengaruhi juga oleh faktor eksternal yang kompleks. Dengan memahami definisi, tahapan, penyebab, dampak, dan model prediksi kebangkrutan secara sistematis, pemangku kepentingan dapat membuat keputusan yang lebih informatif untuk mengantisipasi risiko dan mengambil langkah strategis yang tepat. Model prediksi seperti Altman Z-score, Springate, Ohlson, dan CA-Score terbukti bermanfaat sebagai sistem peringatan dini yang dapat membantu manajemen memperbaiki kinerja keuangan sebelum kondisi menjadi tidak terkendali. Pemahaman menyeluruh mengenai financial distress dan prediksi kebangkrutan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan dan stabilitas perusahaan di tengah dinamika ekonomi global.