Terakhir diperbarui: 27 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 27 January). Financial Distress: Konsep dan Prediksi Kebangkrutan. SumberAjar. Retrieved 27 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/financial-distress-konsep-dan-prediksi-kebangkrutan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Financial Distress: Konsep dan Prediksi Kebangkrutan - SumberAjar.com

Financial Distress: Konsep dan Prediksi Kebangkrutan

Pendahuluan

Financial distress adalah fenomena krusial dalam dunia bisnis modern karena menandakan kondisi di mana perusahaan mengalami tekanan keuangan yang signifikan dan berpotensi menuju kebangkrutan jika tidak segera diatasi. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan finansial perusahaan, tetapi juga menimbulkan implikasi serius bagi berbagai pemangku kepentingan seperti investor, kreditur, manajer, dan pemerintah. Financial distress sering kali merupakan sinyal awal sebelum terjadinya kebangkrutan, sehingga memahami konsep, tahapan, faktor penyebab, serta model prediksi kebangkrutan menjadi penting untuk pencegahan dan pengambilan keputusan strategis. Penelitian dan literatur akademik telah mengkaji financial distress dari berbagai pendekatan, termasuk teori rasio keuangan, sistem peringatan dini, dan penerapan model statistik untuk mengevaluasi risiko kebangkrutan. Dengan demikian, ulasan komprehensif mengenai financial distress akan memberikan wawasan teoritis dan praktis yang berguna bagi stakeholders dalam mengelola risiko perusahaan. Sumber-sumber akademik ini akan dijadikan dasar dalam pembahasan berikut agar artikel ini memiliki landasan ilmiah yang kuat dan relevan terhadap perkembangan riset terbaru.


Definisi Financial Distress

Definisi Financial Distress Secara Umum

Financial distress secara umum didefinisikan sebagai suatu kondisi perusahaan yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban finansialnya. Financial distress mencerminkan turunnya kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum fase kebangkrutan atau likuidasi, di mana perusahaan tidak mampu lagi membayar kewajiban kepada kreditor dan mengalami penurunan kinerja keuangan yang signifikan. Kondisi ini sering terlihat dari kinerja rasio keuangan seperti profitabilitas negatif, likuiditas yang buruk, dan nilai ekuitas yang menurun. Semakin parah kondisi ini, semakin tinggi kemungkinan perusahaan berada di zona distress yang berujung pada kebangkrutan bila tidak ditangani dengan langkah perbaikan yang efektif. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Definisi Financial Distress dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah financial distress tidak ditemukan sebagai istilah tunggal karena merupakan istilah teknis dalam bahasa Inggris. Namun jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, istilah ini merujuk pada kondisi “kesulitan keuangan” yang dialami oleh perusahaan, di mana perusahaan mengalami hambatan dalam memenuhi kewajiban finansialnya seperti pembayaran hutang jangka pendek dan jangka panjang, atau kesulitan mendapatkan likuiditas. Penerapan istilah ini secara teknis dihimpun dari berbagai kajian manajemen keuangan yang mendefinisikan financial distress sebagai kondisi tekanan finansial yang serius yang mempengaruhi keberlanjutan operasional perusahaan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Definisi Financial Distress Menurut Para Ahli

Menurut Platt dan Platt (2002), financial distress adalah bentuk penurunan kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum kebangkrutan atau likuidasi, di mana perusahaan berada dalam fase tekanan finansial yang signifikan sebelum akhirnya mengalami kegagalan operasional. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Damodaran (1997) menyatakan bahwa kondisi financial distress terjadi ketika perusahaan gagal dalam mengelola arus kasnya sehingga penerimaan tidak mencukupi untuk menutupi beban operasi serta kewajiban pembayaran hutang, sehingga ini menjadi tanda penting bahwa perusahaan berada dalam situasi rentan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Menurut penelitian Rejimon & Usha (2024), financial distress merupakan suatu keadaan di mana perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya serta mengalami defisit likuiditas dan profitabilitas yang berkepanjangan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kebangkrutan. ([Lihat sumber Disini - dialnet.unirioja.es])

Lau (2021) juga menjelaskan financial distress sebagai alat evaluasi penting terutama oleh auditor dan pemangku kepentingan untuk menilai apakah suatu perusahaan dalam risiko keuangan tinggi dan mungkin tidak dapat melanjutkan operasinya (“going concern”). ([Lihat sumber Disini - jurnal.publikasi-untagcirebon.ac.id])


Tahapan Terjadinya Financial Distress

Tahapan terjadinya financial distress bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah perjalanan progresif dari perusahaan yang awalnya sehat hingga menuju kondisi krisis keuangan serius. Tahapan ini sering digambarkan sebagai berikut:

Tahap Normal / Sehat

Pada tahap awal, perusahaan beroperasi secara finansial sehat dengan rasio-rasio keuangan yang positif, likuiditas yang memadai, dan profitabilitas stabil. Perusahaan dapat memenuhi kewajiban dalam jangka pendek maupun jangka panjang secara normal.

Tahap Awal Tekanan Keuangan

Kemudian, perusahaan mulai mengalami tekanan keuangan yang ditandai dengan menurunnya rasio profitabilitas dan likuiditas, di mana hasil operasi perusahaan mulai tidak cukup menutupi biaya operasional atau kewajiban finansial tertentu. Pada tahap ini perusahaan masih dapat melakukan langkah perbaikan internal seperti efisiensi biaya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Tahap Distress Moderat

Pada tahapan ini, tekanan keuangan semakin nyata dan berkelanjutan. Perusahaan mungkin mengalami kerugian operasional berulang, likuiditas yang semakin menipis, atau kesulitan membayar sebagian kewajiban. Indikator seperti negatifnya laba operasi serta nilai buku ekuitas yang menurun sering digunakan untuk mengukur kondisi ini. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Tahap Distress Parah atau Pre-Kebangkrutan

Jika dalam tahap distress moderat tidak diatasi, perusahaan akan memasuki fase tekanan keuangan yang berat, di mana kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban sangat terganggu dan risiko default atau gagal bayar menjadi tinggi. Pada fase ini, perusahaan berada di ambang kebangkrutan dan perlu tindakan drastis seperti restrukturisasi utang atau merombak strategi operasi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])


Faktor-Faktor Penyebab Financial Distress

Financial distress tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal di lingkungan perusahaan. Beberapa faktor utama penyebab financial distress antara lain:

1. Arus Kas yang Tidak Memadai

Arus kas operasi yang kurang kuat akan menyebabkan perusahaan tidak mampu menutupi biaya operasional dan kewajiban finansialnya. Hal ini sering terjadi ketika pendapatan turun atau terjadi penurunan volume penjualan secara signifikan tanpa diimbangi dengan pengendalian biaya yang tepat. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

2. Tingginya Struktur Hutang

Perusahaan dengan struktur hutang yang tinggi lebih rentan terhadap tekanan keuangan jika terjadi kenaikan biaya bunga atau kondisi ekonomi yang memburuk karena beban hutang yang besar harus dibayar secara teratur. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

3. Profitabilitas Negatif

Kerugian yang berkelanjutan membuat modal perusahaan semakin tergerus dan mengurangi kemampuan perusahaan untuk membiayai aktivitas operasional maupun investasi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

4. Tekanan Eksternal

Perubahan regulasi, fluktuasi suku bunga, krisis ekonomi, atau perubahan teknologi pasar dapat menekan performa perusahaan dan berdampak pada likuiditas serta profitabilitasnya. ([Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id])

5. Manajemen yang Buruk

Pengambilan keputusan yang tidak efektif, kurangnya perencanaan strategis, dan kelemahan dalam pengendalian internal dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan dan mempercepat terjadinya financial distress. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])


Model Prediksi Kebangkrutan

Model prediksi kebangkrutan merupakan alat penting untuk memperkirakan kemungkinan perusahaan mengalami financial distress yang berat dan akhirnya bangkrut. Beberapa model prediksi yang telah banyak digunakan dalam penelitian ilmiah antara lain:

Altman Z-Score

Model ini merupakan salah satu pendekatan paling populer dalam memprediksi kebangkrutan berdasarkan kombinasi rasio keuangan tertentu. Altman Z-Score menggabungkan rasio likuiditas, profitabilitas, leverage, dan aktivitas untuk menghasilkan skor yang menunjukkan tingkat risiko kebangkrutan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Springate dan Zmijewski

Model Springate menggunakan kombinasi rasio keuangan yang berbeda untuk memperkirakan risiko gagal bayar, sementara model Zmijewski mengkombinasikan indikator profitabilitas dan leverage. Kedua model ini sering dibandingkan dengan model Altman dalam akurasi prediksi. ([Lihat sumber Disini - ejournal.utmj.ac.id])

Ohlson O-Score dan CA-Score

Ohlson O-Score dan CA-Score adalah model statistik lain yang memberikan prediksi tentang kemungkinan kebangkrutan berdasarkan berbagai faktor keuangan perusahaan. CA-Score dalam beberapa penelitian menunjukkan tingkat akurasi tinggi dalam memprediksi financial distress dibandingkan model lainnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id])

Model Logit dan Probability-Based

Dalam literatur terbaru ditemukan penggunaan model probabilitas seperti logit model yang digunakan bersama model statistik untuk mengevaluasi kemungkinan perusahaan jatuh dalam kondisi distress berdasarkan variabel rasio keuangan tertentu. ([Lihat sumber Disini - dialnet.unirioja.es])


Dampak Financial Distress terhadap Perusahaan

Financial distress memiliki dampak luas bagi organisasi dan stakeholders-nya. Beberapa dampak utama meliputi:

Penurunan Kepercayaan Investor

Investor semakin berhati-hati melakukan investasi pada perusahaan yang menunjukkan tanda-tanda financial distress karena potensi kerugian yang tinggi.

Kesulitan Mendapatkan Pembiayaan

Bank dan kreditur mungkin enggan memberikan pinjaman baru atau memperketat persyaratan kredit jika perusahaan menunjukkan risiko gagal bayar yang tinggi.

Pengurangan Daya Saing

Ketika perusahaan terfokus pada penyelesaian masalah keuangan, alokasi sumber daya kepada inovasi dan ekspansi pasar bisa berkurang yang berdampak pada daya saing jangka panjang.

Risiko Kebangkrutan

Jika kondisi financial distress tidak diatasi, risiko kebangkrutan menjadi sangat tinggi, yang mengakhiri operasional perusahaan dan mempengaruhi karyawan, pemasok, serta komunitas bisnis secara keseluruhan.


Financial Distress dan Keputusan Manajemen

Manajemen perusahaan memainkan peran penting dalam mengatasi financial distress. Keputusan strategis seperti restrukturisasi utang, pengendalian biaya, diversifikasi produk, dan peningkatan efisiensi operasional dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Selain itu, penggunaan sistem peringatan dini berbasis model prediksi financial distress dapat memberikan manajemen waktu untuk mengambil tindakan korektif sebelum kondisi semakin memburuk.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, financial distress adalah kondisi tekanan keuangan yang serius yang dapat menempatkan perusahaan di ambang kebangkrutan jika tidak segera ditangani. Financial distress bukan hanya masalah internal tetapi dipengaruhi juga oleh faktor eksternal yang kompleks. Dengan memahami definisi, tahapan, penyebab, dampak, dan model prediksi kebangkrutan secara sistematis, pemangku kepentingan dapat membuat keputusan yang lebih informatif untuk mengantisipasi risiko dan mengambil langkah strategis yang tepat. Model prediksi seperti Altman Z-score, Springate, Ohlson, dan CA-Score terbukti bermanfaat sebagai sistem peringatan dini yang dapat membantu manajemen memperbaiki kinerja keuangan sebelum kondisi menjadi tidak terkendali. Pemahaman menyeluruh mengenai financial distress dan prediksi kebangkrutan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan dan stabilitas perusahaan di tengah dinamika ekonomi global.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Financial distress adalah kondisi kesulitan keuangan yang dialami perusahaan ketika tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan menjadi tahap awal sebelum terjadinya kebangkrutan.

Financial distress merupakan tahap awal tekanan keuangan yang masih memungkinkan perusahaan melakukan perbaikan, sedangkan kebangkrutan adalah kondisi akhir ketika perusahaan secara hukum atau ekonomi tidak mampu melanjutkan operasinya.

Penyebab financial distress meliputi arus kas yang tidak memadai, tingginya beban utang, profitabilitas negatif, lemahnya manajemen, serta tekanan eksternal seperti krisis ekonomi dan perubahan regulasi.

Prediksi kebangkrutan dapat dilakukan menggunakan model prediksi seperti Altman Z-Score, Springate, Zmijewski, Ohlson O-Score, dan CA-Score yang menganalisis rasio keuangan perusahaan.

Analisis financial distress penting sebagai sistem peringatan dini bagi manajemen, investor, dan kreditur untuk mengantisipasi risiko kebangkrutan serta mengambil keputusan strategis yang tepat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Financial Distress: Konsep, Indikator Kesulitan Keuangan, dan Dampak Financial Distress: Konsep, Indikator Kesulitan Keuangan, dan Dampak Kepatuhan Pelaporan Keuangan: Konsep dan Regulasi Kepatuhan Pelaporan Keuangan: Konsep dan Regulasi Financial Literacy: Konsep, Tingkat Literasi, dan Pengambilan Keputusan Financial Literacy: Konsep, Tingkat Literasi, dan Pengambilan Keputusan Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Capital Structure: Konsep, Komposisi Modal, dan Nilai Perusahaan Capital Structure: Konsep, Komposisi Modal, dan Nilai Perusahaan Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Financial Technology (FinTech): Konsep, Inovasi Keuangan, dan Layanan Financial Technology (FinTech): Konsep, Inovasi Keuangan, dan Layanan Struktur Modal: Konsep, Komposisi Modal, dan Nilai Perusahaan Struktur Modal: Konsep, Komposisi Modal, dan Nilai Perusahaan Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Analisis Residual: Pengertian dan Interpretasi Analisis Residual: Pengertian dan Interpretasi Laporan Keuangan: Konsep, Struktur, dan Fungsi Pelaporan Laporan Keuangan: Konsep, Struktur, dan Fungsi Pelaporan Ekstrapolasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Penelitian beserta sumber [PDF] Ekstrapolasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Penelitian beserta sumber [PDF] Analisis Laporan Keuangan: Konsep dan Interpretasi Analisis Laporan Keuangan: Konsep dan Interpretasi Komparabilitas Laporan Keuangan: Konsep dan Analisis Komparabilitas Laporan Keuangan: Konsep dan Analisis Penelitian Prediktif: Pengertian dan Aplikasinya Penelitian Prediktif: Pengertian dan Aplikasinya Fraud Akuntansi: Konsep, Bentuk, dan Dampak Fraud Akuntansi: Konsep, Bentuk, dan Dampak Risiko Keuangan: Konsep, Jenis Risiko, dan Pengendalian Risiko Keuangan: Konsep, Jenis Risiko, dan Pengendalian Analisis Time Series: Langkah dan Contohnya Analisis Time Series: Langkah dan Contohnya Insentif Karyawan: Konsep, Bentuk Insentif, dan Dorongan Kinerja Insentif Karyawan: Konsep, Bentuk Insentif, dan Dorongan Kinerja Persepsi Investor terhadap Laporan Keuangan: Konsep dan Respons Pasar Persepsi Investor terhadap Laporan Keuangan: Konsep dan Respons Pasar
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…