Terakhir diperbarui: 22 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 22 January). Financial Distress: Konsep, Indikator Kesulitan Keuangan, dan Dampak. SumberAjar. Retrieved 22 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/financial-distress-konsep-indikator-kesulitan-keuangan-dan-dampak  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Financial Distress: Konsep, Indikator Kesulitan Keuangan, dan Dampak - SumberAjar.com

Financial Distress: Konsep, Indikator Kesulitan Keuangan, dan Dampak

Pendahuluan

Financial distress merupakan salah satu fenomena yang paling ditakuti oleh perusahaan karena menjadi sinyal awal kondisi keuangan yang tidak sehat dan berpotensi menuju kebangkrutan bila tidak ditangani dengan tepat. Kondisi ini sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, namun berkembang secara bertahap seiring memburuknya kinerja keuangan dan berkurangnya kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Pemahaman yang mendalam terhadap konsep, indikator, penyebab, proses, serta dampak financial distress sangat penting bagi manajemen perusahaan, investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengantisipasi dan mengambil langkah strategis yang tepat dalam menjaga keberlanjutan operasional perusahaan serta melindungi nilai pemegang saham. Menurut sejumlah penelitian, financial distress tidak hanya memengaruhi kondisi finansial internal perusahaan, tetapi juga dapat berdampak pada ekosistem eksternal seperti pasar modal dan kepercayaan investor. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Definisi Financial Distress

Definisi Financial Distress Secara Umum

Secara umum, financial distress merujuk pada kondisi di mana sebuah perusahaan berada dalam situasi kesulitan keuangan yang signifikan, sehingga mengalami penurunan keadaan finansial dan kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dalam literatur akademik dan praktis, financial distress sering dikaitkan dengan fase sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi, yang merupakan fase paling akhir dari kegagalan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])

Definisi Financial Distress dalam KBBI

Menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia yang memuat istilah tersebut, financial distress adalah kondisi atau “kesulitan keuangan” yang dialami suatu badan usaha ketika mengalami krisis modal kerja atau kekurangan dana untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Secara literal, istilah ini diterjemahkan sebagai “kesulitan finansial atau tekanan keuangan yang serius pada perusahaan”. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])

Definisi Financial Distress Menurut Para Ahli

Banyak ahli di bidang keuangan yang mendeskripsikan financial distress dengan berbagai sudut pandang, berikut di antaranya:

  1. Platt & Platt mendefinisikan financial distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum kebangkrutan atau likuidasi, menunjukkan adanya masalah serius dalam kemampuan keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - eprints.untirta.ac.id])

  2. Curry & Banjarnahor menyatakan bahwa financial distress adalah suatu keadaan di mana keuangan perusahaan tidak sehat atau mengalami penurunan drastis, sehingga arus kas operasi dan kemampuan membayar kewajiban menurun. ([Lihat sumber Disini - repository.stie-mce.ac.id])

  3. Dalam perspektif lain, kondisi financial distress dikaitkan dengan ketidakmampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau arus kas yang cukup guna memenuhi kewajiban kewajiban finansialnya, serta menjadi indikasi awal terjadinya gagal bayar atau default. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  4. Definisi lain menunjukkan financial distress sebagai kemungkinan terjadinya kebangkrutan yang sangat bergantung pada likuiditas dan kemampuan kredit perusahaan; semakin rendah likuiditas, semakin tinggi risiko terjadinya distres. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])


Tahapan dan Karakteristik Financial Distress

Dalam perjalanan hidup perusahaan, financial distress bukan hanya satu kejadian tunggal, tetapi merupakan sebuah proses yang berkembang secara bertahap dan ditandai oleh gejala keuangan negatif yang semakin memburuk.

Tahapan umum financial distress yang sering dijelaskan dalam literatur meliputi:

  1. Awal Penurunan Kinerja Keuangan
    Pada tahap pertama, perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan kinerja finansial, seperti menurunnya profitabilitas, arus kas operasi negatif, atau rasio likuiditas yang berada di bawah standar industri. Ini sering diasosiasikan dengan gagal mempertahankan stabilitas biaya dan pendapatan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

  2. Kesulitan Memenuhi Kewajiban Jangka Pendek
    Seiring perkembangan waktu, perusahaan mengalami masalah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, seperti pembayaran utang dagang, gaji, dan beban operasional lainnya. Penurunan kemampuan ini semakin terlihat pada laporan arus kas yang memperlihatkan defisit terus-menerus dan likuiditas yang menyusut. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])

  3. Tekanan Utang dan Biaya Bunga
    Pembayaran bunga utang dan beban bunga yang terus meningkat akan semakin menekan posisi finansial perusahaan. Ketika perusahaan tidak mampu membiayai kewajiban bunga, ini menjadi tanda bahwa financial distress sudah mencapai level yang lebih serius dan memerlukan restrukturisasi. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

  4. Estimasi Insolvabilitas dan Risiko Kebangkrutan
    Pada tahap akhir sebelum kebangkrutan, perusahaan bisa menjadi insolvent, yakni tidak mampu lagi memenuhi seluruh kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang biasanya memaksa perusahaan untuk merevaluasi strategi, mencari pendanaan darurat, atau bahkan mengajukan perlindungan hukum seperti administrasi perusahaan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Karakteristik dari tahapan-tahapan ini biasanya mencakup turunnya rasio keuangan utama seperti current ratio, return on assets, debt to assets ratio yang meningkat tajam, serta penurunan signifikan pada arus kas operasi. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Indikator Kesulitan Keuangan Perusahaan

Indikator financial distress sering kali berfokus pada parameter-parameter keuangan yang bisa menunjukkan adanya tekanan finansial sebelum masalah tersebut berlanjut menjadi kebangkrutan.

Beberapa indikator yang paling sering dijadikan acuan antara lain:

1. Likuiditas yang Melemah

Likuiditas perusahaan mencerminkan kemampuannya untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Penurunan rasio likuiditas seperti current ratio atau cash ratio sering kali menjadi tanda awal bahwa perusahaan tidak memiliki cukup aset lancar untuk menutup kewajiban jangka pendeknya. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

2. Profitabilitas Menurun

Ketika profit perusahaan menurun signifikan bahkan menjadi negatif, ini menunjukkan bahwa perusahaan gagal menciptakan keuntungan yang cukup untuk menutupi biaya operasional, bunga utang, dan kebutuhan modal kerja. Penurunan profitabilitas ini merupakan salah satu indikator utama financial distress. ([Lihat sumber Disini - journal.stie-mce.ac.id])

3. Rasio Solvabilitas Meningkat

Rasio seperti debt to assets ratio atau debt to equity ratio yang tinggi menandakan proporsi utang perusahaan meningkat dibandingkan modal, sehingga perusahaan lebih berisiko terhadap kewajiban finansialnya. Nilai rasio solvabilitas yang memburuk mengindikasikan ketergantungan tinggi pada utang. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

4. Arus Kas Negatif

Arus kas operasi yang negatif dalam beberapa periode berturut-turut menunjukkan tidak adanya kas dari aktivitas inti perusahaan untuk menutup biaya operasional, bunga, dan kewajiban lainnya, yang mempercepat terjadinya financial distress. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

5. Penurunan Nilai Aktiva Produktif

Penurunan produktivitas aktiva, misalnya dalam turnover aktiva, memperlihatkan kemampuan aset perusahaan dalam menghasilkan pendapatan semakin menurun. Hal ini berkaitan erat dengan efektivitas operasi dan kesehatan finansial secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - journal.stie-mce.ac.id])

Indikator-indikator ini sering dianalisis melalui model-model prediksi seperti Altman Z-score dan regresi logistik untuk memperkirakan risiko terjadinya financial distress atau kebangkrutan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Financial Distress

Penyebab financial distress dapat berasal dari faktor eksternal maupun internal perusahaan. Beberapa faktor yang umum diidentifikasi oleh studi-studi akademik antara lain:

1. Faktor Internal Perusahaan

a. Manajemen Keuangan yang Lemah
Praktik perencanaan anggaran yang buruk dan pengendalian biaya yang tidak efektif dapat menyebabkan arus kas negatif dan ketidakseimbangan modal kerja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

b. Struktur Modal Tidak Sehat
Ketergantungan tinggi pada utang, terutama utang jangka panjang dengan biaya bunga tinggi, dapat memperburuk tekanan finansial bila pendapatan perusahaan menurun. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

c. Kinerja Operasional yang Buruk
Produktivitas rendah, kegagalan inovasi produk, dan strategi pemasaran yang tidak efektif akan menurunkan pendapatan sehingga memperbesar kemungkinan financial distress. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

2. Faktor Eksternal

a. Kondisi Ekonomi Makro
Resesi, kenaikan suku bunga, dan inflasi tinggi dapat memberikan tekanan signifikan terhadap pendapatan dan likuiditas perusahaan, serta meningkatkan biaya utang. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

b. Persaingan Pasar yang Ketat
Tekanan kompetitif yang tinggi dapat memaksa perusahaan menurunkan harga dan margin keuntungan, sehingga berdampak negatif terhadap profitabilitas. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

c. Perubahan Regulasi Keuangan
Perubahan regulasi pajak, kebijakan moneter, atau standar akuntansi dapat mempengaruhi biaya operasional dan kewajiban keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa financial distress sering kali merupakan hasil interaksi kompleks antara dinamika internal perusahaan dengan tekanan eksternal yang saling memperkuat satu sama lain. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Dampak Financial Distress terhadap Kinerja Perusahaan

Financial distress berdampak luas terhadap seluruh aspek operasional dan kinerja perusahaan:

1. Penurunan Profitabilitas dan Nilai Perusahaan

Perusahaan yang mengalami distres sering kali menunjukkan penurunan laba bersih akibat biaya bunga tinggi, penurunan penjualan, serta tekanan biaya operasional. Kondisi ini juga menyebabkan penurunan nilai perusahaan di pasar modal karena persepsi risiko yang meningkat di kalangan investor. ([Lihat sumber Disini - journal.stie-mce.ac.id])

2. Gangguan Arus Kas dan Pembiayaan

Arus kas operasi yang negatif membuat perusahaan kesulitan membiayai kegiatan inti dan memenuhi kewajiban finansial. Hal ini sering memaksa perusahaan untuk mencari pendanaan eksternal dengan biaya tinggi atau menjual aset produktif. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

3. Risiko Kebangkrutan

Jika financial distress tidak diatasi, perusahaan berisiko mengalami default yang kemudian berujung pada kebangkrutan atau likuidasi. Kebangkrutan ini merupakan konsekuensi paling ekstrem dari distres yang berkepanjangan. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])

4. Gangguan terhadap Hubungan dengan Kreditor

Perusahaan dalam distres biasanya mengalami penurunan tingkat kepercayaan oleh kreditor dan lembaga pembiayaan, yang dapat menyebabkan tingginya biaya pinjaman atau bahkan penolakan kredit tambahan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Implikasi Financial Distress bagi Stakeholder

Financial distress tidak hanya berdampak internal pada perusahaan, tetapi juga memiliki konsekuensi bagi berbagai pemangku kepentingan:

1. Pemegang Saham

Pemegang saham menghadapi risiko kerugian investasi karena penurunan harga saham dan potensi pembagian dividen yang menurun atau bahkan dibatalkan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

2. Karyawan

Karyawan bisa menghadapi pengurangan upah, PHK, atau pemotongan tunjangan karena perusahaan berupaya mengurangi biaya operasional untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

3. Kreditor

Kreditor berisiko terhadap gagal bayar (default) yang bisa menyebabkan kerugian finansial jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

4. Pemasok dan Pelanggan

Pemasok dapat menghadapi penurunan pesanan atau keterlambatan pembayaran, sementara pelanggan mungkin menghadapi gangguan pasokan barang/jasa jika perusahaan mengalami gangguan operasional akibat financial distress. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Kesimpulan

Financial distress adalah kondisi kesulitan keuangan yang serius yang dialami perusahaan ketika mengalami penurunan kinerja finansial dan kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya. Definisi ini mencakup aspek umum, KBBI, dan perspektif para ahli yang menekankan bahwa kondisi ini sering menjadi fase sebelum kebangkrutan. Tahapan financial distress mencerminkan progresi dari penurunan kinerja awal hingga kemungkinan kebangkrutan. Indikator-indikator seperti melemahnya likuiditas, penurunan profitabilitas, rasio solvabilitas yang buruk, dan arus kas negatif menjadi sinyal penting bagi manajemen untuk mengantisipasi risiko. Penyebab financial distress bersifat internal maupun eksternal, termasuk manajemen keuangan yang lemah, struktur modal berisiko, dan tekanan ekonomi makro. Dampak financial distress terasa secara luas, memengaruhi kemampuan operasional dan nilai perusahaan, serta memberikan implikasi yang signifikan bagi seluruh pemangku kepentingan seperti investor, kreditor, karyawan, dan pelanggan. Dengan memahami seluruh aspek ini, perusahaan dapat merumuskan strategi mitigasi risiko lebih efektif dan melindungi keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Financial distress adalah kondisi kesulitan keuangan yang dialami perusahaan ketika kinerja keuangan menurun dan perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban finansialnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kondisi ini sering menjadi tahap awal sebelum kebangkrutan.

Indikator financial distress antara lain melemahnya likuiditas, penurunan profitabilitas, meningkatnya rasio utang, arus kas operasi yang negatif, serta menurunnya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang dimiliki.

Financial distress dapat disebabkan oleh faktor internal seperti manajemen keuangan yang lemah, struktur modal yang tidak sehat, dan kinerja operasional yang buruk, serta faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro, persaingan bisnis yang ketat, dan perubahan regulasi.

Tahapan financial distress dimulai dari penurunan kinerja keuangan, kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek, meningkatnya tekanan utang dan biaya bunga, hingga risiko insolvensi dan kebangkrutan apabila kondisi tidak segera ditangani.

Financial distress berdampak pada penurunan profitabilitas, terganggunya arus kas, menurunnya nilai perusahaan, meningkatnya risiko kebangkrutan, serta memburuknya hubungan perusahaan dengan kreditor, investor, dan pihak terkait lainnya.

Analisis financial distress penting untuk mendeteksi dini potensi masalah keuangan sehingga manajemen dapat mengambil langkah strategis dalam pengendalian risiko, perbaikan kinerja keuangan, dan menjaga keberlanjutan usaha perusahaan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Financial Literacy: Konsep, Tingkat Literasi, dan Pengambilan Keputusan Financial Literacy: Konsep, Tingkat Literasi, dan Pengambilan Keputusan Laporan Keuangan: Konsep, Struktur, dan Fungsi Pelaporan Laporan Keuangan: Konsep, Struktur, dan Fungsi Pelaporan Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Aplikasi Mobile Manajemen Keuangan Siswa Aplikasi Mobile Manajemen Keuangan Siswa Financial Technology (FinTech): Konsep, Inovasi Keuangan, dan Layanan Financial Technology (FinTech): Konsep, Inovasi Keuangan, dan Layanan Perilaku Keuangan: Konsep, Psikologi Keuangan, dan Keputusan Individu Perilaku Keuangan: Konsep, Psikologi Keuangan, dan Keputusan Individu Persepsi Investor terhadap Laporan Keuangan: Konsep dan Respons Pasar Persepsi Investor terhadap Laporan Keuangan: Konsep dan Respons Pasar Literasi Keuangan: Konsep, Pemahaman Finansial, dan Keputusan Literasi Keuangan: Konsep, Pemahaman Finansial, dan Keputusan Sistem Informasi Laporan Keuangan Sekolah Sistem Informasi Laporan Keuangan Sekolah Risiko Keuangan: Konsep, Jenis Risiko, dan Pengendalian Risiko Keuangan: Konsep, Jenis Risiko, dan Pengendalian Manajemen Risiko Keuangan: Konsep, Identifikasi Risiko, dan Pengendalian Manajemen Risiko Keuangan: Konsep, Identifikasi Risiko, dan Pengendalian Kinerja Keuangan Perusahaan: Konsep, Indikator, dan Evaluasi Kinerja Keuangan Perusahaan: Konsep, Indikator, dan Evaluasi Etika Keuangan: Konsep, Prinsip Etis, dan Transparansi Etika Keuangan: Konsep, Prinsip Etis, dan Transparansi Sistem Informasi Keuangan Pendidikan: Konsep dan Model Sistem Informasi Keuangan Pendidikan: Konsep dan Model Kinerja Keuangan: Konsep, Rasio Keuangan, dan Profitabilitas Kinerja Keuangan: Konsep, Rasio Keuangan, dan Profitabilitas Transparansi Laporan Keuangan: Konsep dan Keterbukaan Informasi Transparansi Laporan Keuangan: Konsep dan Keterbukaan Informasi Kapasitas Keuangan Perusahaan: Konsep dan Kemampuan Pendanaan Kapasitas Keuangan Perusahaan: Konsep dan Kemampuan Pendanaan Akuntabilitas Keuangan: Konsep, Tanggung Jawab, dan Transparansi Akuntabilitas Keuangan: Konsep, Tanggung Jawab, dan Transparansi Sistem Web Pembukuan UMKM Sistem Web Pembukuan UMKM
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…