Terakhir diperbarui: 25 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 25 January). Fraud Akuntansi: Konsep, Bentuk, dan Dampak. SumberAjar. Retrieved 25 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/fraud-akuntansi-konsep-bentuk-dan-dampak  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Fraud Akuntansi: Konsep, Bentuk, dan Dampak - SumberAjar.com

Fraud Akuntansi: Konsep, Bentuk, dan Dampak

Pendahuluan

Fraud akuntansi adalah isu yang menjadi perhatian utama dalam dunia bisnis dan organisasi modern karena mampu mengguncang kepercayaan investor, mengancam kelangsungan usaha, serta merusak integritas pasar keuangan. Fraud ini dilakukan melalui manipulasi laporan keuangan atau tindakan tidak sah lainnya yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan secara tidak jujur dan menyesatkan pihak yang membaca informasi keuangan perusahaan. Peristiwa fraud semacam ini bukan sekadar kesalahan teknis dalam pembukuan, tetapi merupakan suatu tindakan yang disengaja dan berpotensi melanggar hukum, etika, serta prinsip akuntansi itu sendiri. Misalnya, dalam penelitian yang meninjau fraudulent financial reporting pada laporan keuangan perusahaan, fraud ditemukan memiliki efek merugikan besar baik secara internal maupun eksternal perusahaan. Penelitian tersebut menekankan bahwa praktek fraud memanipulasi data keuangan sehingga menimbulkan kesalahan persepsi pemangku kepentingan terhadap kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya dan sangat memengaruhi kredibilitas informasi laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])

Fraud akuntansi seringkali tersembunyi di balik proses akuntansi yang seharusnya transparan dan terkontrol dengan baik. Perusahaan yang mengalami fraud bisa saja tampak baik dari luar, tetapi praktik manipulasi neraca atau perilaku kecurangan akuntansi lainnya dapat merugikan perusahaan dalam jangka panjang. Karena dampaknya yang begitu luas, mulai dari kerugian finansial hingga rusaknya reputasi organisasi, penting bagi para profesional akuntansi, auditor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memahami secara mendalam konsep fraud akuntansi: apa itu fraud, bagaimana ciri-cirinya, apa saja bentuknya, faktor-faktor yang mendorong fraud terjadi, serta dampak nyata yang ditimbulkannya terhadap perusahaan dan keandalan laporan keuangan. Semua itu akan dibahas secara komprehensif dalam artikel ini.


Definisi Fraud Akuntansi

Definisi Fraud Akuntansi Secara Umum

Fraud akuntansi pada dasarnya adalah tindakan manipulasi atau rekayasa terhadap catatan keuangan yang dilakukan secara sengaja oleh individu atau kelompok dalam organisasi. Tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk menampilkan kondisi keuangan perusahaan yang lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Ini dapat dilakukan dengan memperbesar pendapatan, menyembunyikan liabilitas, mengurangi beban, atau cara lain yang menyimpangkan laporan dari keadaan sebenarnya. Definisi ini tidak hanya ditemukan dalam literatur akuntansi, tetapi juga sangat relevan dengan istilah fraud yang lebih umum yaitu kecurangan atau tindakan curang dalam konteks keuangan. ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com])

Menurut literatur yang menelaah fenomena fraudulent financial reporting, fraud akuntansi didefinisikan sebagai tindakan disengaja yang menghasilkan penyajian laporan keuangan yang tidak wajar yang dilakukan oleh manajemen, staf organisasi, atau pihak lain yang memiliki peran dalam penyusunan laporan. Tindakan ini mencakup berbagai bentuk manipulasi serta disinformasi yang pada akhirnya merugikan pihak-pihak berkepentingan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])

Definisi Fraud Akuntansi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah yang sangat relevan dengan fraud akuntansi adalah “curang”, yang diartikan sebagai sifat atau keadaan tidak jujur, tidak lurus hati, atau tidak adil. Kata “kecurangan” mencakup perbuatan yang curang, ketidakjujuran, atau keculasan. Arti ini digunakan sebagai dasar umum untuk memahami fraud dalam konteks akuntansi, yaitu perbuatan tidak jujur berkaitan dengan laporan dan angka-angka yang seharusnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. ([Lihat sumber Disini - kbbi.web.id])

Definisi Fraud Akuntansi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli memberikan definisi fraud akuntansi yang lebih operasional dan menggambarkan karakteristik serta tujuannya dengan jelas:

  1. Menurut International Auditing Standard (NIA 240) fraud akuntansi adalah tindakan disengaja yang dilakukan oleh manajemen, anggota dewan, staf perusahaan, atau pihak ketiga yang melibatkan penggunaan tipu daya untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atau ilegal dengan memanipulasi laporan keuangan atau mencuri aset perusahaan. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

  2. Menurut penelitian literatur akuntansi profesional, fraud akuntansi merupakan manipulasi laporan keuangan yang sengaja dilakukan untuk memberikan gambaran palsu kepada pemangku kepentingan tentang kondisi kinerja dan posisi keuangan suatu entitas, mencakup kesalahan besar atau penipuan yang menyesatkan pengguna laporan. ([Lihat sumber Disini - virtusinterpress.org])

  3. Para peneliti fraud akuntansi juga mengaitkannya dengan konsep “fraud triangle”, yang menekankan tiga elemen utama yang harus ada dalam suatu tindakan fraud, yakni tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization) oleh pelaku. Ketiga elemen ini menunjukkan bahwa fraud bukan sekadar hasil manipulasi angka, tetapi juga melibatkan motivasi psikologis dan kelemahan dalam sistem pengendalian internal. ([Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com])

  4. Definisi lain oleh National Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyatakan bahwa fraud adalah tindakan kriminal yang direncanakan dengan maksud memperoleh manfaat finansial secara tidak sah melalui kebohongan atau manipulasi informasi, termasuk dalam laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

  5. Dalam perspektif penelitian empiris, fraud akuntansi juga dipahami sebagai perilaku yang dilakukan oleh manajemen untuk memenuhi target tertentu, mendapatkan bonus, atau menjaga citra perusahaan di mata publik dengan cara memanipulasi angka dan transaksi yang dilaporkan. ([Lihat sumber Disini - virtusinterpress.org])

Definisi-definisi di atas menunjukkan bahwa fraud akuntansi bukan hanya sekadar kesalahan teknis, tetapi merupakan tindakan tidak etis dan disengaja yang memiliki dampak besar terhadap kepercayaan pemangku kepentingan terhadap laporan keuangan.


Faktor-Faktor Penyebab Fraud Akuntansi

Faktor-Faktor Internal dan Eksternal yang Mendorong Fraud

Fraud akuntansi tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada sejumlah faktor internal dan eksternal yang saling bersinergi sehingga memicu individu atau kelompok melakukan tindakan fraud. Berdasarkan penelitian tentang faktor pendorong fraudulent financial reporting, beberapa elemen kunci yang sering dirujuk adalah tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization), elemen yang berasal dari teori Fraud Triangle dan telah dibahas luas dalam literatur fraud akuntansi. ([Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com])

  1. Pressure (Tekanan)
    Pressure adalah dorongan internal yang membuat individu merasa perlu melakukan fraud. Dalam konteks perusahaan, tekanan bisa muncul dari kebutuhan untuk mencapai target keuangan tertentu, memenuhi ekspektasi pasar atau pemegang saham, serta menjaga citra kinerja organisasi. Tekanan eksternal seperti kontrak bonus yang bergantung pada hasil laporan keuangan juga dapat memicu manajemen untuk memanipulasi angka. ([Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com])

  2. Opportunity (Kesempatan)
    Kesempatan adalah kondisi di mana sistem pengendalian internal perusahaan lemah sehingga memungkinkan tindakan fraud terjadi tanpa deteksi yang cepat. Ketika kontrol internal tidak memadai, terdapat celah bagi pelaku untuk menyembunyikan manipulasi laporan keuangan atau pencurian aset. Penelitian menunjukkan bahwa rentannya kontrol internal dan kurangnya pengawasan efektif merupakan faktor utama yang menciptakan peluang terjadinya fraud akuntansi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  3. Rationalization (Rasionalisasi)
    Rasionalisasi adalah proses mental yang digunakan pelaku untuk membenarkan tindakan fraud mereka. Individu yang melakukan fraud cenderung mencoba membenarkan perbuatannya dengan alasan-alasan seperti “itu hanya sementara sampai perusahaan baik kembali”, “manajemen lain juga melakukan hal yang sama”, atau “ini demi kepentingan bersama”. Tanpa kerangka etika yang kuat, rasionalisasi semacam ini dapat memperlemah integritas pelaku. ([Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com])

  4. Kelemahan Pengawasan Internal
    Kontrol internal yang lemah memberikan kesempatan bagi individu untuk mengeksploitasi sistem tanpa terdeteksi. Ketidakselarasan antara fungsi audit internal dan manajemen puncak, serta kurangnya independensi tim audit, juga meningkatkan risiko fraud. ([Lihat sumber Disini - ejurnalqarnain.stisnq.ac.id])

  5. Budaya Organisasi dan Etika Kerja
    Budaya organisasi yang tidak menekankan etika profesional dapat berkontribusi terhadap terjadinya fraud. Ketika integritas tidak dihargai atau ketika kegagalan memenuhi target dilihat sebagai ancaman karier, individu mungkin merasa terdorong untuk melakukan manipulasi laporan keuangan demi mempertahankan posisi mereka. ([Lihat sumber Disini - ejurnalqarnain.stisnq.ac.id])

  6. Tekanan Ekonomi dan Target Kinerja
    Kondisi ekonomi yang sulit, persaingan ketat di pasar, serta target kinerja yang tidak realistis dapat memperbesar tekanan internal pada manajemen untuk mempertahankan citra finansial perusahaan melalui cara-cara yang tidak sah. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])

  7. Ketergantungan pada Insentif Finansial
    Bonus, kompensasi, atau penghargaan yang terkait secara langsung dengan hasil laporan keuangan dapat menciptakan motivasi untuk mengejar hasil jangka pendek dengan cara yang tidak etis. Ketergantungan ini sering kali menjadi pendorong utama manipulasi angka. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])

Secara keseluruhan, kombinasi tekanan internal dari manajemen, kesempatan yang tersedia akibat lemahnya pengendalian, dan rasionalisasi perilaku merupakan faktor utama yang mendorong terjadinya fraud akuntansi. Faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam konteks budaya organisasi dan sistem pengendalian perusahaan yang lebih luas. ([Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com])


Bentuk-Bentuk Fraud Akuntansi

1. Fraudulent Financial Reporting
Salah satu bentuk utama fraud akuntansi adalah laporan keuangan fraud (fraudulent financial reporting), yaitu manipulasi atau penyajian laporan keuangan secara tidak wajar dengan niat menyesatkan para pengguna laporan. Pihak manajemen atau individu dalam organisasi sengaja mengubah angka pendapatan, mengurangi beban, menyembunyikan liabilitas, atau menggelembungkan aset perusahaan agar kondisi keuangan tampak lebih baik dari kenyataan. Penelitian empiris menunjukkan bahwa fraudulent financial reporting sering dikaitkan dengan ketidakpatuhan terhadap prinsip akuntansi dan lemahnya pengendalian internal. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

2. Misappropriation of Assets
Bentuk fraud lainnya adalah penyalahgunaan aset perusahaan (misappropriation of assets), yang terjadi ketika individu, entah itu karyawan atau manajemen, menggunakan atau mencuri aset organisasi demi keuntungan pribadi. Contohnya termasuk pencurian kas, penggelapan persediaan, atau penggunaan sumber daya perusahaan di luar fungsi resmi. Jenis ini merupakan bentuk fraud yang lebih mudah terdeteksi secara fisik karena melibatkan kehilangan aset nyata. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

3. Manipulasi Transaksi
Manipulasi transaksi adalah alterasi atau rekayasa transaksi akuntansi tertentu untuk menciptakan hasil yang diinginkan oleh pelaku. Ini bisa berupa penciptaan faktur palsu, pengakuan pendapatan yang tidak tepat waktu, atau penghilangan catatan transaksi. Praktik semacam ini biasanya dilakukan untuk mengubah hasil akhir laporan agar lebih menguntungkan pihak internal. ([Lihat sumber Disini - tax.thomsonreuters.com])

4. Pengakuan Pendapatan yang Tidak Tepat
Bentuk lain dari fraud akuntansi adalah pengakuan pendapatan yang salah atau tidak sesuai waktu yang seharusnya (misstated revenue recognition), seperti mencatat penjualan sebelum sebenarnya terjadi atau mencatat pendapatan yang tidak pernah terjadi hanya untuk meningkatkan angka penjualan. ([Lihat sumber Disini - tax.thomsonreuters.com])

5. Penyembunyian Liabilitas dan Aset
Dalam beberapa kasus fraud, manajemen sengaja menyembunyikan liabilitas atau menggelembungkan aset agar neraca perusahaan tampak lebih sehat dari yang sebenarnya. Ini dapat mencakup pencatatan aset yang tidak ada, pengakui jabatan atas utang yang tidak dimasukkan, atau manipulasi nilai aset tetap. ([Lihat sumber Disini - tax.thomsonreuters.com])

6. Overstating Aset dan Understating Expense
Perusahaan terkadang meningkatkan nilai aset atau menahan pengakuan biaya untuk mengurangi beban dan meningkatkan laba. Praktek semacam ini secara langsung memengaruhi rasio keuangan dan persepsi terhadap profitabilitas perusahaan. ([Lihat sumber Disini - tax.thomsonreuters.com])

Bentuk-bentuk fraud ini mencerminkan berbagai cara di mana kecenderungan tidak etis dalam praktik akuntansi dapat muncul, baik melalui manipulasi angka yang disengaja maupun melalui penyalahgunaan aset.


Dampak Fraud Akuntansi terhadap Perusahaan

Fraud akuntansi menimbulkan dampak yang sangat serius dan luas bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya:

Kerugian Finansial Langsung

Fraud akuntansi dapat mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan karena nilai aset yang direkayasa atau jumlah pendapatan yang dilaporkan palsu tidak mencerminkan kondisi aktual. Hal ini dapat menyebabkan keputusan investasi yang salah, pengambilan kredit yang tidak layak, serta kerugian berpindah dari waktu ke waktu jika fraud baru terungkap di kemudian hari dan harus dikoreksi. ([Lihat sumber Disini - international.areai.or.id])

Reputasi dan Kepercayaan Investasi yang Terganggu

Ketika fraud terhadap laporan keuangan terungkap, reputasi organisasi akan rusak di mata publik, investor, dan regulator. Kepercayaan pemangku kepentingan merupakan salah satu aset paling berharga bagi perusahaan; hilangnya kepercayaan ini dapat menyebabkan penurunan nilai saham, hilangnya peluang kerja sama, serta penurunan kepercayaan pasar secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - international.areai.or.id])

Gangguan Operasional dan Sumber Daya Manusia

Fraud sering kali mengakibatkan evaluasi ulang terhadap proses bisnis dan sistem pengendalian internal, yang kemudian memerlukan sumber daya tambahan untuk audit forensik, investigasi internal dan eksternal, serta redisain sistem akuntansi. Hal ini juga berdampak pada moral karyawan dan budaya organisasi, karena situasi semacam ini menciptakan ketidakpastian dan potensi konflik internal. ([Lihat sumber Disini - international.areai.or.id])

Dampak Hukum dan Regulasi

Fraud akuntansi sering kali melibatkan pelanggaran hukum dan etika. Ketika terungkap, perusahaan serta individu yang terlibat dapat menghadapi sanksi hukum termasuk denda, tuntutan perdata atau pidana, serta kewajiban restitusi kepada pihak yang dirugikan. Regulasi yang lebih ketat mungkin juga diterapkan oleh otoritas pengatur, meningkatkan biaya kepatuhan di masa depan. ([Lihat sumber Disini - international.areai.or.id])

Penurunan Keandalan dan Kredibilitas Laporan Keuangan

Fraud akuntansi secara langsung merusak keandalan laporan keuangan yang merupakan sarana komunikasi utama antara perusahaan dan pemangku kepentingan. Ketika informasi ini tidak lagi dipercaya, pentingnya transparansi dan integritas laporan menjadi dipertanyakan, sehingga mengurangi kualitas pengambilan keputusan dan menimbulkan risiko sistemik dalam pasar keuangan. ([Lihat sumber Disini - international.areai.or.id])


Fraud Akuntansi dan Keandalan Laporan Keuangan

Keandalan laporan keuangan merupakan fondasi dalam pengambilan keputusan oleh investor, kreditor, dan pihak lain yang berkepentingan. Keandalan ini tergantung pada validitas, objektivitas, dan representasi yang tepat dari aktivitas perusahaan. Fraud akuntansi merusak aspek-aspek ini dengan cara menyajikan informasi yang tidak benar atau menyesatkan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Keandalan laporan keuangan melibatkan keterbukaan dalam pengungkapan, konsistensi metodologi akuntansi, serta kepatuhan pada standar akuntansi yang berlaku. Fraud merusak semua elemen ini karena melibatkan sengaja menyembunyikan informasi penting, mengubah data transaksi, dan memanipulasi laporan akhir. Ketika laporan keuangan tidak dapat dipercaya, keputusan investasi menjadi tidak tepat, risiko pasar meningkat, dan stabilitas ekonomi perusahaan dapat terancam. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Upaya Pencegahan Fraud Akuntansi

Upaya pencegahan fraud akuntansi harus menyentuh banyak level organisasi:

Penguatan Pengendalian Internal

Sistem pengendalian internal harus dirancang sedemikian rupa untuk meminimalkan peluang fraud. Hal ini termasuk pemisahan tugas, audit internal dan eksternal yang independen, serta monitoring berkala atas laporan keuangan dan prosedur akuntansi. ([Lihat sumber Disini - ejurnalqarnain.stisnq.ac.id])

Pendidikan Etika dan Budaya Organisasi

Membangun budaya organisasi yang menghargai integritas dan etika sangat penting untuk mengurangi rasionalisasi pelaku fraud. Pelatihan etika serta program kesadaran fraud dapat menanamkan nilai-nilai yang menentang praktik manipulatif. ([Lihat sumber Disini - ejurnalqarnain.stisnq.ac.id])

Peran Teknologi dan Audit Forensik

Implementasi teknologi seperti analytic tools dan forensic accounting dapat membantu mendeteksi pola-pola yang mencurigakan dalam laporan keuangan sebelum fraud berkembang lebih besar. Audit forensik juga dapat digunakan untuk menyelidiki potensi manipulasi dengan cara yang lebih mendalam. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])

Kepatuhan Regulasi dan Pengawasan Eksternal

Pengawasan dan kepatuhan terhadap standar akuntansi serta aturan regulator secara ketat membantu menekan praktik fraud. Otoritas seperti lembaga pengatur pasar modal dan auditor eksternal memainkan peran penting dalam memastikan bahwa laporan keuangan disusun dengan akurat. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])


Kesimpulan

Fraud akuntansi merupakan tindakan tidak etis dan disengaja yang mencakup manipulasi laporan keuangan atau penyalahgunaan aset demi keuntungan yang tidak adil. Fraud ini merusak keandalan laporan keuangan, kepercayaan investor, dan stabilitas perusahaan. Faktor pendorong utamanya meliputi tekanan internal dan eksternal, kesempatan yang tercipta akibat lemahnya pengendalian, serta rasionalisasi oleh pelaku.

Bentuk-bentuk fraud termasuk fraudulent financial reporting, misappropriation aset, manipulasi transaksi, dan pengakuan pendapatan yang tidak tepat. Dampaknya sangat luas, mencakup kerugian finansial, rusaknya reputasi, serta konsekuensi hukum dan operasional. Oleh karena itu, pencegahan fraud akuntansi membutuhkan penguatan kontrol internal, budaya etika, penggunaan teknologi audit dan forensic accounting, serta kepatuhan regulasi yang ketat.

Pemahaman yang mendalam tentang konsep ini dari berbagai sudut pandang akan membantu para profesional akuntansi, manajemen, auditor, serta regulator untuk mengidentifikasi dan mencegah praktik fraud sehingga menjaga integritas laporan keuangan dan kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Fraud akuntansi adalah tindakan kecurangan yang dilakukan secara sengaja melalui manipulasi laporan keuangan atau penyalahgunaan aset perusahaan dengan tujuan menyesatkan pihak yang berkepentingan dan memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok.

Faktor penyebab fraud akuntansi meliputi tekanan untuk mencapai target keuangan, lemahnya pengendalian internal, adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan, rasionalisasi pelaku, budaya organisasi yang buruk, serta sistem insentif yang tidak sehat.

Bentuk fraud akuntansi antara lain fraudulent financial reporting, penyalahgunaan aset perusahaan, manipulasi transaksi akuntansi, pengakuan pendapatan yang tidak tepat, serta penyembunyian liabilitas atau penggelembungan aset.

Fraud akuntansi berdampak pada kerugian finansial, rusaknya reputasi perusahaan, hilangnya kepercayaan investor, gangguan operasional, meningkatnya risiko hukum, serta menurunnya keandalan laporan keuangan.

Fraud akuntansi secara langsung menurunkan keandalan laporan keuangan karena informasi yang disajikan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga dapat menyesatkan pengambilan keputusan oleh investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya.

Upaya pencegahan fraud akuntansi meliputi penguatan sistem pengendalian internal, peningkatan peran audit internal dan eksternal, penanaman budaya etika, penerapan akuntansi forensik, serta kepatuhan terhadap standar dan regulasi akuntansi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
SPK Deteksi Kecurangan Transaksi SPK Deteksi Kecurangan Transaksi Sistem Pengendalian Internal: Konsep dan Pencegahan Fraud Sistem Pengendalian Internal: Konsep dan Pencegahan Fraud Siklus Akuntansi: Konsep, Tahapan, dan Pencatatan Siklus Akuntansi: Konsep, Tahapan, dan Pencatatan Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Prinsip Akuntansi: Konsep, Asumsi Dasar, dan Penerapan Prinsip Akuntansi: Konsep, Asumsi Dasar, dan Penerapan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Nilai Residu: Konsep dan Estimasi Akuntansi Nilai Residu: Konsep dan Estimasi Akuntansi Jurnal Umum: Konsep, Fungsi, dan Pencatatan Transaksi Jurnal Umum: Konsep, Fungsi, dan Pencatatan Transaksi Umur Manfaat Aset: Konsep dan Pertimbangan Akuntansi Umur Manfaat Aset: Konsep dan Pertimbangan Akuntansi Neraca Saldo: Konsep dan Pengendalian Pencatatan Neraca Saldo: Konsep dan Pengendalian Pencatatan Pengendalian Internal: Konsep, Sistem Kontrol, dan Pencegahan Risiko Pengendalian Internal: Konsep, Sistem Kontrol, dan Pencegahan Risiko SPK Pemilihan Software Akuntansi SPK Pemilihan Software Akuntansi Buku Besar: Konsep, Klasifikasi Akun, dan Pelaporan Buku Besar: Konsep, Klasifikasi Akun, dan Pelaporan Pengendalian Internal: Konsep, Unsur, dan Fungsi Pengendalian Internal: Konsep, Unsur, dan Fungsi Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Basis Akrual: Konsep, Pencatatan, dan Implikasi Keuangan Basis Akrual: Konsep, Pencatatan, dan Implikasi Keuangan Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Pendapatan: Konsep, Pengakuan, dan Pengukuran Pendapatan: Konsep, Pengakuan, dan Pengukuran
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…