
Intoleransi Aktivitas: Konsep, Indikator Klinis, dan Penanganan
Pendahuluan
Intoleransi aktivitas merupakan masalah keperawatan yang sering ditemukan pada beragam kondisi medis, mulai dari pasien lansia dengan komorbid kronis hingga individu dengan penyakit kardiovaskular atau gangguan pernapasan. Masalah ini tidak hanya berdampak pada kemampuan fisik pasien dalam menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman, kelelahan yang berlebihan, serta meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lain jika tidak ditangani secara komprehensif. Diagnosis keperawatan tentang intoleransi aktivitas menjadi penting karena menjadi dasar perencanaan intervensi yang tepat guna memulihkan toleransi aktivitas serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Intoleransi aktivitas sering dikaitkan dengan ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diharapkan. Kondisi ini juga berkorelasi dengan respon abnormal sistem kardiovaskular atau pernapasan terhadap aktivitas fisik, seperti peningkatan denyut jantung yang tidak sesuai, sesak nafas, atau kelemahan umum yang dirasakan pasien. Pemahaman yang mendalam tentang konsep, faktor penyebab, indikator klinis, serta strategi penanganan menjadi penting untuk praktik keperawatan yang efektif dan berbasis bukti.
Definisi Intoleransi Aktivitas
Definisi Intoleransi Aktivitas Secara Umum
Intoleransi aktivitas secara umum didefinisikan sebagai kondisi di mana individu memiliki energi fisiologis atau psikologis yang tidak cukup untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang diinginkan atau harus dilakukan. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan aktivitas dan kemampuan tubuh untuk memenuhinya, sehingga individu mengalami keterbatasan dalam melakukan tugas fisik yang biasanya dilakukan tanpa kesulitan. Konsep ini menekankan pentingnya kemampuan tubuh dalam menghasilkan, memelihara, serta memulihkan energi yang dibutuhkan selama aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Definisi Intoleransi Aktivitas dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah intoleransi aktivitas tidak secara eksplisit dicantumkan sebagai satu entri tersendiri. Namun, jika merujuk pada istilah “intoleransi” yang berarti ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menerima sesuatu, dan “aktivitas” sebagai tindakan fisik atau kegiatan, maka intoleransi aktivitas dapat diartikan sebagai ketidakmampuan atau keterbatasan tubuh untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas fisik atau kegiatan yang diharapkan dilakukan. Definisi ini konsisten dengan pemaknaan klinis yang menunjukkan keterbatasan toleransi tubuh terhadap aktivitas. (Catatan: istilah ini tidak ditemukan sebagai entri khusus dalam KBBI daring, sehingga interpretasi dilakukan berdasarkan makna umum kata-kata dasarnya).
Definisi Intoleransi Aktivitas Menurut Para Ahli
-
Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2016) menjelaskan intoleransi aktivitas sebagai ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan seseorang, suatu konsep yang menekankan pada keterbatasan energi dalam konteks kebutuhan aktivitas kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Curran (Nursestudy) mendefinisikan intoleransi aktivitas sebagai keadaan di mana individu memiliki energi fisiologis atau psikologis yang tidak memadai untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas yang diperlukan atau diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - nursestudy.net]
-
Osmosis (2025) mendefinisikan intoleransi aktivitas sebagai ketidakmampuan untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari karena kelelahan yang meningkat, sesak napas, atau nyeri, yang menunjukkan hubungan dengan respons fisiologis terhadap aktivitas yang meningkat. [Lihat sumber Disini - osmosis.org]
-
Perawat.org menyatakan intoleransi aktivitas sebagai diagnosis keperawatan yang menggambarkan ketidakcukupan energi untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari, dan diagnosis ini diklasifikasikan dalam standar diagnosis keperawatan Indonesia (SDKI). [Lihat sumber Disini - perawat.org]
Konsep Intoleransi Aktivitas
Intoleransi aktivitas merupakan diagnosis keperawatan yang mencerminkan respons tubuh yang tidak memadai terhadap kebutuhan energi untuk menjalankan aktivitas fisik. Kondisi ini tidak berdiri sendiri; sering menjadi manifestasi dari masalah medis lain seperti penyakit jantung, gangguan pernapasan kronis, anemia, hingga kondisi psikis seperti depresi kronis. Ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan jaringan menjadi salah satu penyebab utama intoleransi aktivitas, yang kemudian berdampak pada respon fisiologis tubuh saat aktivitas seperti peningkatan denyut jantung, sesak napas, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem.
Diagnosis ini secara resmi telah diakui dalam terminologi keperawatan internasional (misalnya NANDA-I) sebagai “Activity Intolerance” dengan fokus pada ketidakcukupan energi fisik atau psikologis. Konsep inti dari intoleransi aktivitas adalah bahwa tubuh tidak mampu menghasilkan, mempertahankan, atau memulihkan energi yang diperlukan untuk aktivitas yang diharapkan, sehingga respon terhadap aktivitas menjadi tidak adekuat dan mengganggu fungsi normal sehari-hari. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com]
Faktor Penyebab Intoleransi Aktivitas
Intoleransi aktivitas dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik fisiologis maupun psikologis. Secara fisiologis, salah satu pemicu yang umum adalah ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen di jaringan tubuh. Misalnya pada penyakit jantung kongestif, kemampuan jantung untuk memompa darah yang cukup ke jaringan berkurang sehingga suplai oksigen tidak mencukupi kebutuhan saat melakukan aktivitas. Faktor lain termasuk kelemahan otot, imobilitas yang lama, serta gangguan pernapasan yang memengaruhi pertukaran oksigen dan karbon dioksida. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), sesak napas yang berkelanjutan mengurangi kemampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik yang membutuhkan peningkatan demand oksigen sehingga pasien cepat lelah. Gangguan hematologis seperti anemia juga menyebabkan pasokan oksigen ke jaringan berkurang sehingga pasien mengalami penurunan toleransi terhadap aktivitas. [Lihat sumber Disini - repository.unimugo.ac.id]
Faktor psikologis juga memainkan peran, seperti kondisi kecemasan atau depresi yang dapat menurunkan motivasi dan energi psikologis untuk melakukan aktivitas, sehingga meskipun secara fisik pasien mungkin tidak memiliki batasan besar, respon subjektif terhadap aktivitas tetap mengalami intoleransi. [Lihat sumber Disini - osmosis.org]
Indikator Klinis Intoleransi Aktivitas
Indikator klinis intoleransi aktivitas meliputi tanda dan gejala yang muncul selama atau setelah aktivitas fisik yang menunjukkan bahwa tubuh tidak mampu memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas tersebut. Secara objektif, respon kardiovaskular seperti denyut jantung yang meningkat secara tak proporsional terhadap tingkat aktivitas, tekanan darah yang abnormal, dan adanya perubahan pada elektrokardiogram (EKG) merupakan indikator penting. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, pasien mungkin menunjukkan kelelahan berlebihan, kelemahan umum, sensasi tidak nyaman atau nyeri saat melakukan aktivitas, dan sesak napas. Kelelahan subjektif yang dilaporkan pasien sering menjadi indikator awal intoleransi aktivitas dan memengaruhi kemampuan mereka dalam menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - simplenursing.com]
Dampak Intoleransi Aktivitas terhadap Pasien
Intoleransi aktivitas berdampak signifikan pada pasien dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Pada tingkat fungsi fisik, pasien menjadi kurang mampu melakukan aktivitas personal seperti mandi, berpakaian, atau berjalan tanpa bantuan. Hal ini tidak hanya mengurangi kemandirian pasien tetapi juga meningkatkan ketergantungan pada bantuan orang lain.
Dampak fisiologis lainnya termasuk risiko komplikasi kesehatan seperti kekakuan otot akibat imobilisasi lama, resiko atelectasis (kolaps sebagian paru-paru) karena pernapasan dangkal saat aktivitas, konstipasi akibat kurangnya mobilisasi, serta penurunan perfusi jaringan yang dapat memperlambat penyembuhan luka atau pemulihan kondisi medis lainnya. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
Dampak psikologis juga sering muncul, termasuk frustrasi, kecemasan, hingga depresi akibat keterbatasan fungsional yang dialami, serta penurunan kualitas hidup yang dirasakan pasien ketika tidak lagi mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
Penilaian Keperawatan Intoleransi Aktivitas
Penilaian keperawatan terhadap intoleransi aktivitas harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup riwayat kesehatan pasien, evaluasi fungsi kardiovaskular dan pernapasan, serta respon pasien terhadap aktivitas fisik. Pengkajian mencakup mengukur tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas untuk mengevaluasi respons tubuh terhadap beban aktivitas, termasuk perubahan denyut jantung, tekanan darah, respirasi, serta adanya sesak napas atau nyeri. [Lihat sumber Disini - academy.nursing.com]
Metode penilaian lain mencakup observasi langsung selama aktivitas dan pencatatan subjektif pasien tentang kelelahan atau ketidaknyamanan yang dirasakan. Perawat dapat menggunakan alat penilaian seperti skala persepsi kelelahan atau Borg Rating of Perceived Exertion untuk menilai tingkat kelelahan pasien selama aktivitas.
Penanganan Keperawatan pada Intoleransi Aktivitas
Penanganan keperawatan terhadap intoleransi aktivitas melibatkan perencanaan intervensi yang bertujuan meningkatkan toleransi pasien terhadap aktivitas fisik dan meminimalkan dampak negatif dari ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas.
Strategi awal termasuk manajemen energi yang efektif, yakni merencanakan aktivitas yang realistis dengan jeda istirahat yang cukup antara periode aktivitas guna mencegah kelelahan berlebihan dan menjaga keseimbangan energi pasien. Intervensi ini juga mencakup latihan fisik bertahap yang disesuaikan dengan kapasitas pasien untuk meningkatkan kekuatan otot dan daya tahan secara bertahap. [Lihat sumber Disini - jurnal-d3per.uwhs.ac.id]
Perawat juga melakukan pemantauan tanda vital secara berkala dan menyesuaikan intensitas aktivitas berdasarkan respon fisiologis pasien, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pentingnya konservasi energi, teknik pernapasan yang efisien, serta pengaturan aktivitas harian agar sesuai dengan kemampuan pasien.
Kesimpulan
Intoleransi aktivitas adalah masalah keperawatan yang kompleks dan sering terjadi pada pasien dengan berbagai kondisi medis. Diagnosis ini mencerminkan ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari. Faktor penyebabnya meliputi gangguan kardiovaskular, pernapasan, hematologis, serta faktor psikologis. Indikator klinis mencakup respon fisiologis yang tidak adekuat terhadap aktivitas, seperti denyut jantung abnormal, kelelahan ekstrem, dan sesak napas. Penilaian keperawatan yang komprehensif dan penanganan yang tepat, termasuk manajemen energi, latihan bertahap, dan edukasi pasien, menjadi kunci dalam meningkatkan toleransi aktivitas dan kualitas hidup pasien. Peran perawat sangat penting dalam mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan intervensi yang efektif guna mengatasi masalah ini dalam praktik klinis sehari-hari.