
Pengetahuan Ibu tentang Tanda Persalinan Sungsang
Pendahuluan
Persalinan merupakan fase krusial dalam kehidupan seorang ibu dan bayi. Agar proses persalinan berlangsung aman, pengetahuan ibu mengenai posisi janin, khususnya posisi normal maupun posisi malpresentasi seperti sungsang, sangat penting. Posisi janin yang tidak normal dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan baik bagi ibu maupun bayi. Oleh karena itu, edukasi dan deteksi dini terhadap kondisi seperti presentasi sungsang menjadi bagian penting dalam asuhan kehamilan. Artikel ini membahas pengetahuan ibu tentang tanda-tanda persalinan sungsang, faktor risiko, deteksi, pilihan penanganan, serta dampak pengetahuan terhadap kesiapan dan keputusan ibu.
Definisi Persalinan Sungsang
Definisi Persalinan Sungsang Secara Umum
Persalinan sungsang, atau kehamilan dengan letak sungsang, merujuk pada kondisi janin di dalam rahim di mana bagian bokong atau kaki berada di bawah (mendekati jalan lahir), sedangkan kepala janin berada di bagian atas uterus menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Definisi Persalinan Sungsang dalam KBBI
Menurut kamus resmi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “sungsang” merujuk pada posisi tubuh janin atau bayi yang terbalik atau tidak sesuai posisi normal saat akan lahir, yaitu bukan dengan kepala lebih dulu. Kendati demikian, definisi operasional dalam praktik kebidanan lebih spesifik terkait letak janin dalam rahim.
Definisi Persalinan Sungsang Menurut Para Ahli
Beberapa definisi menurut peneliti dan praktisi kebidanan/kedokteran:
-
Menurut penelitian di Stikes Abdurahman Palembang: “Letak sungsang adalah kondisi di mana janin berada dalam posisi bokong atau kaki di bawah, bukan kepala, menjelang persalinan.” [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Menurut literatur kebidanan, letak sungsang didefinisikan bila janin dalam posisi membujur dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
-
Dalam pedoman asuhan kebidanan, kehamilan dengan “presentasi bokong” (breech presentation) dikategorikan sebagai malpresentasi janin yang paling umum selain presentasi kepala. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
-
Sebuah kajian terbaru menyebut bahwa presentasi sungsang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas perinatal, sehingga penanganan dan deteksi yang tepat sangat penting. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
Dengan demikian, secara umum posisi sungsang, di mana bokong atau kaki janin di bawah, diakui oleh literatur kedokteran dan kebidanan sebagai bentuk malpresentasi janin yang memerlukan perhatian khusus.
Jenis-Jenis Presentasi Sungsang
Dalam kehamilan dengan letak sungsang, terdapat beberapa varian presentasi, di antaranya:
-
Presentasi bokong sempurna (complete breech): bokong berada paling bawah, kedua kaki terlipat di depan tubuh janin. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
-
Presentasi bokong-kaki tidak sempurna (incomplete breech): bokong di bawah, satu atau kedua kaki berada di dekat bokong atau melewati jalan lahir. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
-
Presentasi kaki (footling breech): salah satu atau kedua kaki berada paling bawah dan akan keluar lebih dulu. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
Jenis presentasi ini penting untuk dikenali karena akan mempengaruhi keputusan penanganan persalinan, apakah bisa dilakukan pervaginam atau lebih aman melalui operasi sesar. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
Penyebab dan Faktor Risiko Bayi Sungsang
Beberapa penyebab dan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian letak sungsang menurut penelitian dan literatur kebidanan:
-
Prematuritas: kehamilan dengan usia kehamilan kurang dari cukup bulan lebih berisiko letak sungsang. [Lihat sumber Disini - jurnal.polkesban.ac.id]
-
Kehamilan kembar (gemelli), kehamilan ganda meningkatkan peluang janin mengambil posisi sungsang. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Kelainan bentuk rahim atau kompartemen uterus abnormal, misalnya rahim dengan bentuk tidak normal yang menghambat janin untuk mengambil posisi kepala ke bawah. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Jumlah cairan ketuban tidak sesuai normal, oligohidramnion (cairan ketuban terlalu sedikit) atau hidramnion (terlalu banyak) bisa mempengaruhi posisi janin. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Riwayat multiparitas / relaksasi uterus, pada ibu dengan kehamilan lebih dari satu kali atau usia kehamilan lanjut, relaksasi otot rahim bisa membuat janin lebih mudah berubah posisi ke sungsang. [Lihat sumber Disini - jurnal.polkesban.ac.id]
-
Letak plasenta, misalnya plasenta previa atau anterior/posterior abnormal, bisa menjadi faktor risiko. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Sebuah penelitian terbaru (2025) menganalisis faktor risiko pada ibu hamil trimester III dan menyimpulkan bahwa usia ibu, paritas, hidramnion (cairan ketuban berlebih/kurang), tinggi badan ibu, serta plasenta previa memiliki hubungan dengan kejadian letak sungsang. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Dengan demikian, banyak faktor, baik dari kondisi ibu, janin, maupun lingkungan rahim, yang berperan dalam terjadinya presentasi sungsang. Oleh karena itu penting bagi ibu hamil untuk memahami faktor-faktor risiko ini.
Tanda-Tanda Persalinan Sungsang yang Harus Diketahui
Mengingat posisi sungsang terjadi sebelum persalinan, ada beberapa tanda atau indikasi yang bisa dideteksi oleh bidan atau tenaga kesehatan, dan idealnya diinformasikan kepada ibu secara dini. Tanda-tanda tersebut antara lain:
-
Saat pemeriksaan palpasi (perabaan abdomen), bagian fundus terasa bulat dan keras (kepala janin), sedangkan bagian bawah rahim terasa lembut dan tidak melenting (bokong/kaki). [Lihat sumber Disini - ejournal.annurpurwodadi.ac.id]
-
Janin terasa lebih mudah bergerak, terutama pergerakan anggota badan bawah (kaki) mendekati panggul ketika ibu hamil memasuki trimester akhir, walaupun ini bukan tanda yang selalu konsisten. (dari literatur umum malpresentasi)
-
Keluhan atau kekhawatiran dari ibu atau tenaga kesehatan jika posisi janin tidak kembali ke kepala ke bawah menjelang waktu persalinan (setelah usia kehamilan 34 minggu), terutama jika sebelumnya sudah dicatat sungsang. Hal ini penting karena sebagian janin bisa “berubah posisi” menjadi presentasi kepala sebelum lahir. [Lihat sumber Disini - jurnal.polkesban.ac.id]
Deteksi dini terhadap kemungkinan sungsang bisa membantu perencanaan persalinan yang aman, seperti menentukan apakah perlu versi, persalinan sesar, atau persalinan normal dengan persiapan khusus. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
Peran Pemeriksaan Kehamilan dalam Deteksi Sungsang
Pemeriksaan antenatal secara rutin oleh tenaga kesehatan/bidan memainkan peran penting dalam mendeteksi letak janin dan mengidentifikasi risiko sungsang sejak dini. Beberapa poin peran pemeriksaan kehamilan:
-
Dengan pemeriksaan fisik (palpasi abdomen) secara berkala, tenaga kesehatan dapat mendeteksi posisi janin, apakah kepala berada di fundus ataukah bokong/kaki di bawah. [Lihat sumber Disini - ejournal.annurpurwodadi.ac.id]
-
Pemeriksaan USG (ultrasonografi) pada usia kehamilan tertentu juga membantu memastikan presentasi janin. Hal ini penting terutama bila ada faktor risiko sungsang (seperti kehamilan kembar, bentuk rahim tidak normal, jumlah cairan ketuban abnormal). (Banyak praktik kebidanan mengandalkan USG sebagai penentu posisi janin)
-
Deteksi dini memungkinkan perencanaan penanganan, misalnya melakukan versi sefalik eksternal, memantau letak hingga dekat persalinan, atau merencanakan persalinan sesar, agar meminimalkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Pemeriksaan rutin juga memungkinkan edukasi kepada ibu tentang kondisi janin dan potensi risiko, sehingga ibu lebih siap dalam pengambilan keputusan persalinan. Banyak program antenatal care menekankan pentingnya deteksi letak janin untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
Dengan demikian, kehadiran ibu pada pemeriksaan kehamilan rutin sangat krusial dalam mendeteksi presentasi sungsang, terutama menjelang trimester akhir kehamilan.
Pengetahuan Ibu tentang Pilihan Penanganan
Saat letak sungsang terdeteksi, terdapat beberapa pilihan penanganan yang umumnya disampaikan tenaga kesehatan kepada ibu, dan tingkat pemahaman ibu terhadap pilihan ini sangat mempengaruhi keputusan persalinan. Pilihan tersebut meliputi:
-
Versi Sefalik Eksternal (External Cephalic Version / ECV), prosedur untuk memutar posisi janin dari sungsang menjadi kepala ke bawah menjelang persalinan, jika kondisi memungkinkan. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Persalinan pervaginam, dalam kasus sungsang ringan atau presentasi bokong sempurna dengan persiapan khusus, namun ini memiliki risiko komplikasi bagi ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Operasi sesar (Sectio Caesarea / SC), pilihan yang lebih aman dalam banyak kasus sungsang, terutama jika ada faktor risiko (presentasi kaki, plasenta previa, hipoksia janin, dsb). [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Metode konservatif/non-medis sebagai upaya mengubah posisi janin, beberapa penelitian dan praktik kebidanan merekomendasikan posisi ibu seperti kneechest, prenatal yoga, gym ball, atau akupresur untuk membantu janin berubah posisi. [Lihat sumber Disini - journal.stikesborneocendekiamedika.ac.id]
Tingkat pengetahuan ibu terhadap pilihan-pilihan ini sangat menentukan kesiapan dan keputusan saat persalinan. Sebuah program edukasi di RS Bhayangkara Palembang menunjukkan bahwa setelah penyuluhan, pengetahuan ibu tentang kelainan letak janin meningkat signifikan, dari hanya 38, 9% “baik” sebelum edukasi menjadi 77, 8% setelah edukasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
Pengaruh Informasi terhadap Kesiapan Ibu
Informasi yang baik dan tepat waktu mengenai posisi janin, risiko, serta pilihan penanganan ternyata berpengaruh besar terhadap kesiapan ibu menghadapi persalinan. Beberapa hal yang menjadi dampak positif dari peningkatan pengetahuan ibu:
-
Ibu menjadi lebih sadar akan potensi komplikasi dan pentingnya pemeriksaan rutin, sehingga lebih rajin menjalani antenatal care. (Menurut penelitian intervensi edukasi kelainan letak janin) [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
-
Ibu bisa terlibat aktif dalam keputusan persalinan: apakah memilih versi, menunggu spontan, atau merencanakan sesar, dengan pemahaman risiko dan manfaat dari tiap opsi.
-
Mengurangi kecemasan dan ketakutan yang tidak perlu, dengan penjelasan yang jelas tentang kondisi sungsang, tindakan yang tersedia, serta kemungkinan hasilnya.
-
Meningkatkan kemungkinan hasil persalinan yang aman bagi ibu dan bayi, karena penanganan sudah dipersiapkan sejak dini (tim medis + ibu siap).
Edukasi dan komunikasi antara tenaga kesehatan (bidan/dokter) dan ibu hamil menjadi kunci agar pengetahuan ini tersampaikan dengan baik.
Risiko Persalinan Normal pada Presentasi Sungsang
Meskipun persalinan normal (pervaginam) bisa menjadi opsi dalam beberapa kasus presentasi sungsang, ada sejumlah risiko serius yang harus diperhitungkan:
-
Risiko trauma jalan lahir pada ibu, misalnya robekan jalan lahir, perdarahan postpartum, infeksi. [Lihat sumber Disini - journal.stikesborneocendekiamedika.ac.id]
-
Risiko komplikasi pada bayi, seperti asfiksia, aspirasi cairan ketuban, cedera persalinan (fraktur, dislokasi, trauma intrakranial), hipoksia, dan komplikasi perinatal lainnya. [Lihat sumber Disini - archive.umsida.ac.id]
-
Jika persalinan tidak ditangani dengan baik, kemungkinan komplikasi meningkat, yang dapat berdampak pada kematian ibu atau bayi. Beberapa literatur menyebut bahwa sungsang merupakan salah satu penyebab kematian maternal/nekonatal jika tidak ditangani secara tepat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Karena itu, banyak persalinan sungsang akhirnya dilakukan sesar untuk mengurangi risiko. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Oleh karena itu, keputusan untuk persalinan normal perlu dipertimbangkan matang, dengan melibatkan tenaga kesehatan, evaluasi kondisi ibu-janin, dan kesiapan medis.
Peran Edukasi Bidan dalam Memberikan Informasi
Tenaga kesehatan, khususnya bidan, memiliki peran sentral dalam menyampaikan informasi kepada ibu hamil tentang letak janin, risiko sungsang, serta pilihan penanganan. Peran ini meliputi:
-
Memberikan penyuluhan dan edukasi kelainan letak janin sejak awal kehamilan, terutama bagi ibu dengan faktor risiko. Hal ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
-
Melakukan pemeriksaan antenatal rutin dan komunikasi terbuka, sehingga posisi janin dapat dipantau secara berkala dan ibu mendapat penjelasan setiap perubahan.
-
Menjelaskan risiko dan manfaat dari berbagai opsi penanganan (versi, persalinan normal, sesar), serta tuntutan medis dan persiapan yang diperlukan untuk tiap opsi.
-
Mendampingi ibu dalam pengambilan keputusan persalinan berdasarkan kondisi riil dan keinginan ibu, agar hasil persalinan sekaligus keselamatan ibu-bayi bisa dioptimalkan.
Perhatian dan komunikasi proaktif dari bidan dapat membantu ibu merasa lebih siap, tenang, dan informatif dalam menghadapi persalinan.
Hambatan Ibu dalam Memahami Informasi Sungsang
Meskipun edukasi disediakan, ada beberapa hambatan yang kerap dialami ibu dalam memahami informasi tentang sungsang:
-
Tingkat pendidikan dan literasi kesehatan rendah, ibu dengan pendidikan terbatas mungkin kesulitan memahami istilah medis atau konsep posisi janin. Beberapa literatur menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu sebelum edukasi rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
-
Kurangnya akses ke layanan prenatal / antenatal care rutin, sehingga tidak terdeteksi dini posisi janin, atau ibu tidak mendapat penjelasan memadai.
-
Keterbatasan komunikasi / edukasi dari tenaga kesehatan, jika penyuluhan hanya bersifat singkat atau tidak sistematis, informasi penting bisa terlewat atau tidak dipahami ibu sepenuhnya.
-
Ketakutan dan miskonsepsi, rasa takut melahirkan lewat SC, atau kekhawatiran bahaya persalinan normal bisa membuat ibu ragu atau menolak informasi tentang versi atau pilihan penanganan lain.
-
Budaya, mitos, dan kepercayaan lokal, kadang kehamilan dan persalinan dibungkus oleh kepercayaan atau mitos, sehingga informasi ilmiah sulit diterima atau diikuti.
Hambatan-hambatan ini menunjukkan perlunya pendekatan edukasi yang sensitif, komunikatif, dan adaptif terhadap kondisi ibu hamil.
Dampak Pengetahuan terhadap Pengambilan Keputusan
Pengetahuan yang cukup tentang presentasi sungsang, risikonya, serta pilihan penanganan memiliki dampak signifikan terhadap keputusan ibu:
-
Ibu yang teredukasi umumnya lebih proaktif memantau kehamilan dan mengikuti saran pemeriksaan rutin.
-
Ibu mampu berdiskusi dengan tenaga kesehatan untuk memilih opsi persalinan, baik itu versi, persalinan pervaginam (jika memungkinkan), atau SC, berdasarkan kondisi dan kesiapan.
-
Meminimalkan risiko kejutan atau keputusan mendadak saat persalinan, karena persiapan sudah dilakukan jauh hari sebelumnya.
-
Meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, mengurangi komplikasi, karena penanganan sudah direncanakan sesuai kebutuhan.
-
Menumbuhkan rasa percaya diri dan kesiapan emosional ibu dalam menghadapi persalinan, terutama bila sungsang tetap pada akhir kehamilan.
Secara keseluruhan, pengetahuan ibu adalah komponen krusial dalam manajemen kehamilan dan persalinan yang aman.
Kesimpulan
Kehamilan dengan presentasi sungsang, di mana janin berada dalam posisi bokong atau kaki di bawah, merupakan malpresentasi janin yang terjadi pada sebagian kecil kehamilan (sekitar 3-4% pada kehamilan aterm). [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com] Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan bagi ibu dan bayi, termasuk trauma jalan lahir, asfiksia, hipoksia, perdarahan, dan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan tepat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Deteksi dini melalui pemeriksaan antenatal rutin dan USG sangat penting agar posisi janin bisa dipantau dan penanganan bisa direncanakan. Edukasi dari tenaga kesehatan, terutama bidan, kepada ibu hamil tentang arti sungsang, faktor risiko, tanda-tanda, serta pilihan penanganan (versi, SC, persalinan normal bila memungkinkan) sangat berperan dalam kesiapan ibu.
Pengetahuan ibu tidak hanya meningkatkan kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan emosional dan pengambilan keputusan, yang pada akhirnya bisa menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Oleh karena itu, program edukasi dan komunikasi risiko harus menjadi bagian integral dari asuhan kehamilan.
Semoga artikel ini bisa membantu ibu hamil dan tenaga kesehatan untuk lebih peka terhadap risiko presentasi sungsang, serta mendorong deteksi dini dan penanganan yang tepat.